part 9

496 Kata
Langkah kaki itu semakin dekat. Reyna mundur perlahan, meraba meja untuk mengambil ponselnya—tapi ponsel itu hilang. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka perlahan. Cahaya samar dari luar menyorot siluet seseorang yang tinggi dan berbahu lebar. “D-david?” Reyna mencoba memanggil, tapi tidak ada jawaban. Orang itu melangkah masuk. Refleks, Reyna mengambil vas bunga di meja rias dan melemparkannya. Benda itu pecah, memberi jeda sesaat yang cukup untuknya berlari keluar kamar. --- Lorong rumah gelap gulita. Reyna berlari menuruni tangga, memeluk erat kotak kayu dan kunci emasnya. Di belakang, suara langkah kaki itu semakin cepat. Ketika hampir mencapai pintu depan, sebuah bayangan lain muncul dari arah berlawanan. Sekarang ada dua orang. Panik, Reyna berlari ke arah dapur, membuka pintu belakang, dan keluar ke halaman. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, tapi ia tak sempat peduli. --- Di gang sempit di belakang rumah, ia mendengar teriakan: “Tangkap dia! Jangan sampai lepas!” Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa di telinga. Kakinya terus berlari tanpa henti, menembus kegelapan, sampai akhirnya ia melihat lampu jalan di ujung gang. Begitu hampir sampai, sebuah mobil hitam melintas cepat dan berhenti di hadapannya. Pintu terbuka, dan suara familiar memanggil: “Cepat masuk, Reyna!” Itu suara Aditya Reyna ragu, tapi bayangan para pengejarnya semakin dekat. Tanpa pilihan lain, ia melompat masuk—dan mobil langsung melaju kencang, meninggalkan kegelapan dan suara langkah kaki di belakang. --- Aditya menatapnya dengan rahang tegang. “Kamu nggak tahu seberapa berbahayanya benda yang kamu pegang itu.” Reyna memeluk kotak kayu itu lebih erat. “Kalau begitu, jelaskan. Karena aku sudah muak dengan rahasia kalian.” Mobil terus melaju menembus jalanan malam. Lampu-lampu kota berganti cepat di kaca jendela. Reyna duduk di kursi penumpang, napasnya masih terengah. Kotak kayu itu ia genggam erat seolah nyawanya bergantung di sana. “Dari mana kamu dapat kunci itu?” tanya Aditya, tatapannya tajam. “Ada yang mengirimnya… tanpa nama. Di dalamnya ada pesan aneh: ‘Kunci ini hanya akan terbuka di tempat segalanya dimulai.’ Maksudnya apa?” Aditya terdiam lama, jemarinya mengetuk setir. “Itu… adalah kunci ke brankas yang disembunyikan ayah David. Isinya… bukti tentang pernikahan rahasia ayahnya.” Reyna menoleh cepat. “Pernikahan rahasia?” Aditya menatapnya sekilas. “Dan dari pernikahan itulah… kamu lahir, Reyna.” Reyna membeku. Kata-kata itu menamparnya keras. “Apa maksudmu…? Aku—” Aditya memotong, “Kamu adalah anak sah dari istri pertama ayah David. Tapi karena alasan yang rumit, pernikahan itu disembunyikan. Ibumu… dibuang dari keluarga besar mereka. Dan David tidak pernah tahu.” Reyna menatap jalan di depan, pikirannya kacau. Berarti… David bukan hanya suami pengganti baginya. Ia adalah… kakak tiri? --- Sementara itu, di kantor pusat, David menatap foto Reyna di mejanya. Telepon di tangannya berdering, dan suara dari seberang berkata: “Pak, kunci itu sudah ada di tangan Reyna. Jika dia membukanya, semua warisan dan kekuasaan Anda akan jatuh ke tangannya.” David mengepalkan tangan. “Kalau begitu, aku akan menemuinya… sebelum dia tahu segalanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN