part 2

481 Kata
Mobil hitam itu melaju pelan melewati gerbang besi tinggi. Di baliknya, terbentang halaman luas dengan taman yang rapi, air mancur di tengah, dan bangunan megah bergaya Eropa. Reyna menatap keluar jendela, merasa seperti terjebak di dalam dunia yang terlalu asing baginya. Begitu mobil berhenti, David turun lebih dulu. Tanpa menoleh, ia berjalan masuk. Reyna mengikutinya, hak sepatu yang baru ia kenakan hari ini membuat langkahnya terasa kikuk. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. David melepaskan jasnya dan menaruhnya di kursi, lalu berdiri membelakanginya. "Bicara," katanya datar. Reyna menelan ludah. "Bicara... apa?" Pria itu berbalik. Tatapannya tajam, membuat Reyna merasa telanjang meski masih mengenakan gaun pengantin. "Kamu bukan Julia Maurita. Aku tahu Julia sejak kecil. Dia tidak mungkin tiba-tiba berubah... menjadi kamu." Reyna mencoba mengalihkan pandangan. "Kita sudah menikah. Itu yang penting, kan?" David mendekat, jaraknya hanya tinggal beberapa langkah. "Jangan coba-coba memutar balik fakta. Aku tidak peduli apa tujuanmu. Tapi selama kamu di sini, kamu akan bermain sesuai aturanku." Reyna merasakan udara di sekitarnya seolah semakin tipis. "Maksud kamu...?" David tersenyum tipis - senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan. "Maksudku, mulai malam ini, kamu adalah istriku di mata semua orang... tapi jangan berharap aku akan menganggapmu seperti itu." Reyna terdiam. Kata-katanya seperti pisau yang menusuk pelan, tapi dalam. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar... permainan ini baru saja dimulai. *** Keesokan paginya, Reyna terbangun di kamar tidur yang luasnya dua kali lipat kos-kosan tempat ia biasa tinggal. Gaun pengantinnya sudah digantung di lemari, digantikan oleh kemeja satin yang entah siapa yang menaruhnya di sana. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya. Puluhan pesan dari sahabatnya, Silva, masuk sejak semalam. "Reyna, kamu ke mana? Aku lihat berita... kayaknya mirip kamu..." "Kok ada berita pernikahan CEO Sanjaya sama wanita cantik? Serius itu bukan kamu?" Reyna menggigit bibir. Ia mengetik balasan singkat: "Bukan aku. Mungkin kamu Salah lihat." lalu mematikan ponselnya. Hari ini ia tetap harus kuliah. Tidak ada yang boleh tahu ia sudah menjadi istri - apalagi istri pengganti. Saat ia keluar dari kamar, David sudah duduk di ruang makan, rapi dengan jas abu-abu. Kopi hitam mengepul di depannya. "Kuliah?" tanyanya tanpa menatap. Reyna hanya mengangguk. "Jangan buat masalah. Nama keluargaku terlalu besar untuk terlibat gosip murahan," lanjutnya sambil menyesap kopi. Reyna meremas jemarinya. "Aku tidak minta semua ini terjadi." David menatapnya sekilas, tatapan itu seperti peringatan. "Tapi kamu menerimanya." Di kampus, Reyna mencoba bersikap biasa. Tapi ia sadar beberapa teman menatapnya aneh, seakan mencoba mengingat di mana mereka pernah melihat wajahnya. Sampai seseorang mendekat - Aditya, senior yang diam-diam pernah ia sukai. "Reyna... itu di berita kemarin, wanita yang nikah sama David Prayoga... mirip banget sama kamu," ucapnya sambil tersenyum heran. Jantung Reyna berdegup kencang. Ia tertawa pelan, berusaha terdengar santai. "Ah, masa sih? CEO itu levelnya jauh banget dari aku." Aditya masih menatapnya lama. Tatapan itu membuat Reyna gelisah. Ia tidak tahu, di rumah David, pria itu mungkin sedang memantau semua geraknya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN