BAB 11 | PEMBUNUHAN

1400 Kata
"Apakah perkembangan wilayah pertanian Zenburg berjalan dengan baik, Den? Saya ingin tau." Raja Rhageo sedang duduk di tahtanya, membaca sebuah catatan yang dibawakan oleh seseorang dari wilayah yang dia sebutkan sebelumnya.  Sebagai seorang raja yang menjalankan kewajiban dan tugasnya, ia masih tetap memantau rakyat dan wilayahnya supaya tetap aman dan terkendali. Beberapa laporan mengenai apa yang dilakukan ilmuan di Leonword ini. Tidak ada yang boleh melakukan hal di luar batas kewajaran sampai mengancam kehidupan rakyat. Meskipun saat ini ilmuan masih bekerja keras dalam upaya menghentikan kutukan yang masih berlangsung, sekaligus menciptakan dan mengembangkan teknologi supaya lebih canggih lagi. Kalau dilihat dari badannya yang kian hari kian mengurus, jujur saja para pejabat kerajaan sempat khawatir mengenai kondisi kesehatan raja mereka. Raja Rhageo memang sedang dalam kondisi drop beberapa hari yang lalu akibat mengurusi setumpukan berkas yang ditinggalkan usai memberikan perhatian khusus lebih kepada sang anak, Pangeran Seo. Iya, bayi itu sering menangis. Hampir setiap hari nyaris saja raja tidak bisa tidur. Dia tidak tega jika harus menggunakan obat tidur untuk mengurangi kegelisahan putranya, semakin hari Pangeran Seo semakin sulit didiamkan dengan berbagai cara. "Oke, sudah k****a. Tolong tingkatkan irigasi dan penambahan bibit tanaman unggul kita di sana. Jangan lupa untuk mengawasi daerah utara dan selatan, sudah musim panen hasil laut. Pastikan di saja terjual hasil lautan yang segar, bukan dicampurkan dengan bahan kimia lagi. Aku tidak ingin rakyatku makan dengan racun." "Baik, Yang Mulia. Saya akan menyampaikannya kepasa pemimpin dan penanggung jawab daerah masing-masing secepatnya." "Bagus, saya perlu melihat laporan keuangan rutin dan laporan pajak. Tetap tidak ada kenaikan pajak untuk rakyat, jangan lupa bahwa dengan adanya program daur ulang plastik lingkungan kita pada akhirnya bisa mengurangi polusi tanah dan air." Den menerima permintaan rajanya dan membungkuk hormat apabila ia mengiyakan apa yang rajanya minta. Selain itu, ia juga menyampaikan apa yang diungkapkannya mengenai kondisi Raja Rhageo saat ini. “Raja, bukankah lebih baik anda untuk istirahat terlebih dahulu? Sepertinya anda kembali pucat, sakit anda bisa kambuh kalau begitu,” kata Den yang dengan cepat mendapat gelengan dari Raja Rhageo sebagai bentuk penolakan yang instan. “Yang Mulia, saya hanya memberikan saran terbaik untuk anda. Jika anda kembali sakit, pangeran juga akan sakit. Ikatan seorang ayah dengan seorang anak juga bisa terjalin seperti itu, tolong, jaga kesehatan anda. Saya memohon dengan sangat.” “Tidak bisa semudah itu, setelah ratu tiada, saya lah yang harus mengurus negeri ini sendirian disertai mencoba agar rakyat bisa sedikit menurunkan harapan mereka. Ada rencana saya bulan depan mendiskusikan penelitian mereka sudah sampai sejauh mana, lalu berkompromi pula dengan klan vampire serta werewolf. Dunia ini semakin aneh, Den. Yah, terima kasih telah memperhatikan saya dengan baik. Karena sudah sejauh ini, di ambang kehancuran manusia, mari kita melakukan yang terbaik untuk rakyat kita. Saya yakin, sekuat tenaga pasti ada jalan. Dewa sebagai Tuhan memberikan kutukan ini beserta Raja Shiewook dahulu, setiap ada kutukan pastinya akan ada sebuah pemecahan. Kemarin saya sudah mendengar terkait teka-teki mengenai jalan keluar permaslahan utama kaum manusia.” Pusing. Setiap orang pasti tidak mau mendapatkan beban seperti ini, kan? Begitu pun dengan Raja Rhageo yang mendapatkan jabatan sebagai raja tepat dengan menipisnya waktu yang ditentukan untuk umat manusia. Hah, jika ia bisa kembali ke masa lalu, ia ingin sekali berbicara dengan Raja Guan dan memintanya supaya tidak terlalu ambis dalam menguasai dunia. Tidak ada mesin waktu, kata peneliti jika ada mesin waktu maka sebagai gantinya akan ada konsekuensi berupa pengurangan umur karena memakan banyak energi untuk ke sana. Apalagi rentang waktu dari jaman sekarang sampai Leonoword dipimpin oleh Raja Guan sangatlah jauh. “Kita lanjutkan besok pagi, saya mau ke kamar Seo.” “Baik, Yang Mulia.” --OoO—   Malam hari yang larut, Suez sedang bertarung pada pikirannya sendiri. Di depan UT-XX, ia sedang melihat perkembangan bayinya. Sudah memasuki bulan ketiga, perkembangan bayi pada umur bulan tersebut umumnya sudah mendekati pada pembentukan alat kelamin. Hal ini membuat Suez berpikir kalau semisal percobaannya gagal, ia takut menggunakan stok dari sel ovum Mega sudah tidak terlalu bekerja karena umur simpannya yang sudah cukup lama. Maka, jika percobaannya gagal, ia akan memganggap dirinya tidak bisa mengalahkan kutukan ini atau menyelamatkan umat manusia dari sebuah kehancuran yang nyata.  “Apakah ini akan gagal atau… tidak, sepertinya berhasil. Kita tunggu besok untuk melihat perkembangannya lagi,” gumaman lelaki tua itu disertai hembusan napasnya yang mulai memendek. Suez sudah merasa dirinya semakin sakit-sakitan semenjak ditinggal oleh Mega. Ia tidak tahu mengapa dirinya menjadi sangat lemah, sumber kekuatannya hilang. Lenyap begitu saja. Tetapi hal yang ia rasakan lebih adalah tubuhnya yang juga serasa dicekik dari dalam. Sakit yang dideritanya bak memang sengaja dibuat lebih menyakitkan. Bahkan, untuk minum saja tenggorokannya sudah sakit sekali. Tangannya sering gemetar tidak karuan. Ada apa? Mengapa dirinya bisa merasakan seperti ini? Bertahun-tahun Suez hidup dengan pola hidup yang sehat, baru kali ini setelah Mega tiada semuanya terasa sakit sampai sakitnya begitu nyata terasa menyerang seluruh tubuhnya yang renta. Namun, tetap saja Suez selalu berpikir positif. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal; calon anaknya bersama Mega. Putrinya.. iya, ia hanya menginginkan seorang putri. Bila berhasil, ia akan membawa pememuannya ke kota dan kembali meninggalkan kota apabila penemuannya juga berhasil diuji coba oleh ilmuan lain, ia juga ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan sang anak setelahnya. Entah Clar juga akan ikut dengannya atau kembali ke kota, Suez membebaskan pilihan pada laki-laki tersebut. “Anda masih belum tidur, Prof?” Clar muncul di balik pintu laboratorium dengan dua cangkir kopi di tangannya. Nampak senyum yang terpatri di bibirnya membuat Suez ikut tersenyum⸺ tanpa mengerti bahwa senyum tersebut menyiratkan hal yang akan terjadi sebentar lagi. “Saya sedang melihat perkembangan janin di dalam UT-XX ini, cukup baik. Besok saya harus kembali menyetok ulang nutrisinya melalui ari-ari penghubung buatan.” “Apa anda berniat untuk membawanya ke kota besar setelah usia di dalam UT-XX semakin hari semakin besar? Karena saya yakin fasilitas di sana jauh lebih lengkap daripada di sini.” “Tidak.” Suez menolak, “Orang-orang kota bisa membawa anakku sebelum lahir, akan lebih baik jika menunggu lagi setelah beberapa bulan. Saya juga perlu kondisi badan yang fit supaya perjalanan ke kota dan pemaparan mengenai UT-XX dan serum X-of dapat diterima dengan baik oleh para ilmuan, raja, dan juga presiden di dunia.” Clar hanya mengangguk. Lagipula itu hanya sekadar basa basi belakanya saja, setelah itu ia menawarkan kopi pada Suez dan keduanya meminum kopi tersebut secara bersamaan. Ekor mata yang memandang dengan perasaan senang pun akhirnya menampakan wujud yang sebenarnya melalui ukiran tipis di bibir yang ditarik satu ke atas. Beberapa saat kemudian Suez merasakan tenggorokannya sangat panas dan napasnya menjadi berat. Ia melepaskan cangkir yang ia pegang dari tangan, jatuh bebas dan membentur lantai hingga pecah dan menghamburkan sisa kopi yang ada di sana. Mulutnya terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari sana serta memuntahkannya. Di depan mata Clar yang nampak santai melihat pemandangan itu, tubuh yang sudah jatuh lemas tersebut memandang Clar sambil memohon bantuan. Namun, Clar sama sekali tidak membantu, justru ia memundurkan langkah begitu tangan Suez mengulur padanya. “K-kau… Clar… bantu s-saya..” Dengan napas yang masih terengah-engah, Suezz masih saja memohon. “Clar… am.. bil.. kan.. obatku… di kamar…” “Maafkan saya, Prof. Tapi saya tidak bisa, silahkan menunggu nyawa anda berpisah dari raga anda beberapa saat lagi,” kata Clar membuat Suez terkejut mendengar hal itu dari bibir lelaki yang sudah ia tolong dan ia anggap sebagai keluarganya. Tubuh Suez sudah terbaring tak berdaya namun sisa napasnya masih ada. Clar mendekat dan berbicara lagi pada lelaki itu. “Setelah anda meninggal, rumah ini akan saya kuasai termasuk bayi anda. Oh, jangan khawatir, saya tidak akan membunuhnya karena dia akan menjadi sumber keuangan dan ketenaran saya. Saya akan merawatnya seperti anak saya sendiri. Dengarkan, semua manusia itu realistis dan egois, termasuk saya sendiri. Dengan membunuh anda akan membuat jalanku mencapai pengakuan dunia semakin mudah nantinya, saya juga berbaik hati supaya anda bisa bertemu istri anda di surga.” “K-kau… b******k…” Tawa kencang terdengar di seluruh isi rumah. “Iya, saya memang seperti itu. Ah, sebaiknya saya akan lebih memudahkan anda untuk bertemu malaikat maut. Selamat tinggal, Professor-ku.” Satu pisau yang tersembunyi di belakang tubuh akhirnya di keluarkan dan menusuk tepat di d**a sebelah kiri, yaitu tempat di mana jantung Suez berada. Darah memuncrat dan mengenai wajah Clar, mengalir di lantai yang semula bersih hingga menjadi kotor. Mati. Suez mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN