Tidak ada yang bisa menghilangkan raut wajah terkejut Raja Guan begitu mendengar yang dikatakan oleh putranya. Tenggorokan sang raja tercekat mendengar perkataan putranya sendiri.
Dikutuk?
Kenapa ia sendiri tak tahu mengenai hal itu? Tidak, ia pasti salah dengar, putranya ini tidak mungkin dikutuk seperti itu apalagi harus mati. Bagaimana pun, pemimpin kerajaan ini selanjutnya haruslah Axeryeo, bukan orang lain. Walaupun nanti akan ada anak barunya lagi, ia sudah membayangkan kerajaan Leonword akan dipimpin dengan hebat oleh Axeryeo dengan segala kecerdasannya.
Tangan itu mencengkram kedua lengan anak muda yang tidak takut melawan sang ayah. Sorot mata Axeryeo justru melambangkan kekecewaan mendalam dan juga sebuah bentuk keengganannya dalam membela kesalahan yang dibuat ayahnya. Raja Guan berseru kencang, "JANGAN BERCANDA! KAMU HARUS MEWARISI TAHTA ITU, AKU TIDAK MAU ANAK YANG LAIN! DEWA BERKATA BAHWA KEJAYAAN SESUNGGUHNYA ADA DI TANGAN RAJA AXERYEO KELAK. KERAJAAN KITA AKAN SEMAKIN BERJAYA, AXER! KAMU TIDAK BOLEH MATI!"
Axeryeo menggelengkan kepalanya, "Dewa tidak salah, Raja, tapi Dewa berkata seperti itu setelah kutukan itu diberikan padaku. Maafkan aku Yang Mulia Guan, aku pun merasa tidak pantas untuk bisa menjadi raja dari kerajaan yang tidak mengenal sisi kemanusiaan dan hanya ada rasa tamak di dalamnya. Sekarang, lebih baik aku tinggal menunggu waktu kematianku. Lebih menyenangkan menunggu Dewa akhirnya bisa membebaskanku dari beban dan penderitaan yang selama ini aku pendam. Kalau setelah ini Yang Mulia akan mengadakan perang, aku tidak akan mau membuat tanganku kotor dengan membunuh orang-orang tidak bersalah dan menjadi korban keegoisan anda," jelas Axeryeo sama sekali tidak getar berhadapan dengan orang tertinggi di kerajaannya.
Kemudian, kaki-kakinya melangkah kembali menyusul Putri Ryusin dan melepaskan jubah panjangnya yang dia kenakan sedari tadi untuk menutupi tubuh yang sudah bersusah payah menahan malu. Kini, Axeryeo hanya menatap dengan tatapan sama malu dan sama bersalahnya atas kejadian yang ia tidak harapkan sama sekali. Ia membawa sang putri pergi dari sana, meski setengah menyeret karena tidak mungkin membiarkan ia berada di tempat orang-orang berdosa itu lebih lama. Tidak mungkin lagi baginya untuk membiarkan Putri Ryusin merasa hancur kembali dan menangis dalam pilu, memikirkan masa depan yang diremukkan oleh malam itu.
Dengan kuda yang ia ambil, Axeryeo beserta Putri Ryusin pergi dari sana entah kemana. Hanya angin yang menjadi kompas dan petunjuk arah satu-satunya, menyusuri hutan yang gelap di atas kuda yang melaju kencang. Sementara, tatapan Raja Guan tidak lepas. Ia begitu marah, namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya senang juga karena mengetahui kelemahan musuh yang tidak bisa diajak kerja sama tersebut.
Matahari sudah turun, langit terang berganti menggelap disertai awan menutupi para bintang pada malam itu. Semua berubah, ketika salah satu pelayan yang setia dengan sang putri mengetahui tentang hal mengejutkan tersebut dan melaporkannya kepada rajanya. Melihat putrinya dinodai oleh kerajaan yang ia tolak, ia merah besar dan mengumumkan perang. Tidak peduli, pikirannya kalang kabut, apalagi Putri Ryusin dibawa pergi oleh Pangeran Axeryeo. Bukan lagi masalah harga dirinya sendiri, rakyat yang juga marah ikut setuju dalam mengumandangkan perang terhadap kerajaan besar.
Kumandang perang langsung disetujui oleh Raja Guan sendiri, ia bahkan yakin bisa mengalahkan Kerajaan Shiewook dengan mudah. Benar kata Pangeran Axeryeo, kesombongan akan mengubah segalanya, bahkan dengan mudah Raja Guan yakin kalau Axeryeo hanya bercanda dan akan kembali ke kerajaan untuk menjadi raja.
Kutukan? Huh, Raja Guan hanya tahu kalau Dewa sering memainkan kehidupannya dan tidak percaya akan kutukan-kutukan. Bahkan, ia tidak tahu bahwa Dewa saat ini sedang marah besar padanya. Seperti raja dari Kerajaan Shiewook. Menodai seorang putri yang tidak bersalah, bahkan masih bahagia di atas penderitaan tersebut merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni sampai kapanpun. Dewa mengutuk bahwa setiap keturunan dari Leonword akan menderita, dengan begitu Raja dari Shiewook lah yang akan menentukan penderitaan apa itu. Karena hanya memberikan kutukan setelah kutukannya dikatakan dengan jelas.
Setelah lama dalam menyusun strategi masing-masing untuk memenangkan dan menentukan tempat perang yang cocok, beberapa bulan kemudian, perang besar benar terjadi begitu dasyatnya. Dalam perang balas dendam dan pembuktian keangkuhan itu membuat ribuan prajurit hebat dari Shiewook mati, bahkan rakyat yang bersedia mengorbankan diri demi sang putri ikut tewas, semuanya menjadi lautan darah pekat dalam hitungan sekejap mata. Ada yang mati tertusuk, ada pula yang meninggal dengan leher terputus dari badannya, ada pula yang diinjak gajah. Semua benar-benar dimatikan secara brutal. Jumlah yang cukup kontras itu terlihat seperti ingin membuktikan bahwa kerajaan kecil tidak boleh menolak permintaan dari kerajaan besar.
Bahkan penyihir pun mati, mereka dibunuh dengan cara curang dan tipu muslihat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Diberi racun dalam makan malam sebelum puncak besar di mana mereka bersedia mengaktifkan kristal utama untuk memenangkan perang membawa kebenaran itu.
Sisa terakhir, raja dari Kerajaan Shiewook berada di ujung maut dengan ujung pedang milik Raja Guan berada di d**a sebelah kiri dan siap menembusnya kapan saja. Bahkan sedetik pun tangan itu bisa menekan ke bawah dan darah segar bisa mengalir, namun Raja Guan ingin mendengar kekalahan.
"Akui saja bahwa kerajaanmu kalah, dan segeralah bergabung dengan kerajaanku supaya rakyatmu makmur. Aku bisa memberi jaminan bahwa anak dan wanita di sana akan menjadi istri-istri dari bangsawan di wilayah Leonword," kata Raja Guan.
"Cih, bermimpilah! Sampai kapanpun, kerajaanku tidak akan pernah kuserahkan pada pemimpin yang tidak berguna sepertimu. Aku memilih kerajaanku tenggelam daripada bergabung dengan Leonword. Kau berkata akan menjamin para wanita? Tidak ingatkah yang kau lakukan pada putriku? Aku tidak akan rela, tidak akan sama sekali," kata sang raja dengan kesadaran yang mulai menipis setelah perutnya ditusuk berulang kali.
"Oh, jadi apa aku perlu membuat putrimu juga mati? Sekarang dia pasti tidak akan diminati oleh pangeran manapun karena tidak suci lagi. Sekalipun tunangannya sendiri," kata Raja Guan tertawa terbahak-bahak. "Pasti dia akan menjadi seorang Gisae‐--"
"RAJA GUAN! CUKUP!"
"Hahahaha, kau berteriak padaku? Silahkan saja. Sebentar lagi fakta dunia bahwa putrimu tidak akan bisa hidup lebih lama lagi."
"Atas nama Dewa Yang Agung, Aku mengutuk kerajaanmu dan seluruh keturunan Leonword!" Tepat ketika ia mengatakan bahwa kutukan akan terjadi, langit berubah mendung dan seluruh langit menyuarakan gemuruh hebat. Gelap sudah mendominasi langit, prajurit yang sedang beradu pedang dengan sisa prajurit dari Kerajaan Shiewook menghentikan adu pedang mereka. "Kau telah menodai seorang wanita berharga dari kami, kau terlalu membanggakan kerajaanmu, kau egois dan tidak pernah mau menerima kekalahan maka aku mengutuk kerajaan Leonword dan seluruh wilayah yang diakuisisinya. Setiap keturunan Leonword akan selalu laki-laki dan laki-laki, perempuan hanyalah hal yang langka di dunia ini. Segalanya menjadi jungkir balik, dan jika Leonword beserta keturunannya menguasai bumi maka disitulah bencana yang sebenar-benarnya akan dirasakan oleh umat manusiamu, tanpa pandang bulu. Aku, akan melindungi keturunan asli Shiewook. Tidak akan ada yang bisa menyentuh rakyatku oleh rakyatmu. KAU AKAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI!"
Detik itu juga pedang milik Raja Guan terhunus di d**a musuhnya, dan ia memandang sang musuh yang tewas seketika. Gemuruh semakin kencang, ia hanya tahu bahwa perang berakhir dengan kemenangannya. Berakhir pula kerajaan Shiewook.
Tiba-tiba, Axeryeo datang bersama dengan Putri Ryusin. Mereka tiba, dan d**a sang putri terasa sesak melihat sang ayah mati dengan cara mengenaskan. Bahkan pedang masih tertancap di dadanya. Ia menghampiri dengan perasaan kalut dan tidak bisa mengendalikan tangisnya. Ia hancur sehancur-hancurnya.
"Pangeran, anda berkata bahwa semua akan baik-baik saja, bukan? Ini yang anda maksud? Kehancuran ... kerajaanku, ayahku, rakyatku, dan bahkan harga diriku....," tenggorokan Putri Ryusin sudah tercekat, ia kehabisan suaranya. "Kalai begini, anda tidak perlu menolongku lagi," Kemudian ia mengambil pedang dari d**a ayahnya. Raja Guan sudah bersiap dengan pedang lain jika Putri Ryusin berani macam-macam dengan anaknya.
Tanpa disangka, Putri Ryusin menghunuskan pedangnya ke arah perut dan darah keluar baik dari perut maupun mulutnya.
"Kematian ... lebih baik begini ... selamat tinggal, Pangeran Axeryeo ... selamat menikmati segala beban dipundakmu sebagai ... Ra-ja," ucap Putri Ryusin sebagai kata-kata terakhirnya sebelum napasnya mulai melemah dan ia jatuh ambruk.
Sang putri yang sudah tidak bernapas lagi, mati secara tragis di depan orang yang sudah menolongnya. Lebih baik mati begini daripada mati dengan penghinaan. Ia pun hanya bisa berharap bahwa Raja Guan mati lebih mengenaskan daripada ayahnya, mati meninggalkan kepahitan yang mendalam. Pasti, gadis itu juga sudah tau akan ada sesuatu terjadi jika kemarahan sang ayah sudah dalam batas puncak; yaitu kutukan. Putri Ryusin hanya menerima kutukan ayahnya pada orang-orang yang menyakiti dirinya, ia tidak akan membela atau meminta Dewa mencabut kutukan itu. Ia sendiri sudah sangat lelah dengan tindakan Raja Guan.
Axeryeo yang terperanjat itu terlihat sangat shock dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia berlutut di depan dua jasad tersebut yang mulai terbujur kaku. Menangisi segala tindakan kejam yang dilakukan oleh ayahnya, yang sekarang terlihat berbanding terbalik jauh daripadanya. Padahal, menebus kesalahan yang diperbuat ayahnya sendiri, ia bahkan siap jika harus menikahi Putri Ryusin dan meninggalkan Leonword untuk menemukan kedamaian di tempat jauh daripada menetap di negeri besar tersebut. Ia menunduk dalam setiap bait penyesalan yang sama sekali sebetulnya ia tidak lakukan sebuah kesalahan. Tundukannya terlalu lama, menahan kesedihan yang mengisi ruang d**a.
BRUK!
"AXER!"
Axeryeo ambruk di samping sang putri, ia perlahan mulai menutup matanya lemas. Sudah ia duga, ternyata Dewa mendengarkan doa-doanya. Raja Guan tersentak langsung menghampiri putranya, memastikan bahwa Axeryeo hanyalah pingsan belaka, namun saat memegang nadi di tangan Axeryeo, itu sudah tidak terasa sama sekali.
Kutukan itu memang benar terjadi, dan Axeryeo meninggal tanpa disangka. Raja Guan dibalut kesedihan lantas meminta prajuritnya untuk membawa jasad Axeryeo untuk segera dikremasikan di kerajaan. Berita kematian putra mahkota mereka bahkan menyebar dengan cepat di telinga rakyat.
Fakta yang mengejutkan yang didengar oleh Raja Guan setelah kematian Axeryeo adalah bahwa selama ini lelaki itu bukan hanya belajar tentang ilmiah terus menerus namun belajar pedang juga selayaknya seorang raja dengan jiwa ksatria. Sang pangeran tercatat sebagai siswa pribadi dari seorang mantan komandan besar pasukan perang, yang berarti bahwa kemampuan Axeryeo tidak perlu diragukan lagi meski memang baru belajar selama beberapa bulan belakang.
"Karena pedang yang kuangkat adalah pedang kebenaran, bukan untuk membunuh musuh yang tidak bersalah sama sekali."
"Bagaimana bisa, Axer....,"
Sebait kalimat yang ditulis Axeryeo begitu menampar Raja Guan, namun dirinya tidak bisa berbuat apapun selain rasa penyesalan mendalam. Mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur menerima kutukan dari musuh setelah tahu bahwa memang kutukan yang diterima putranya sudah terjadi di depan matanya sendiri.
Kalau benar dunia akan hancur karenanya, ia tidak bisa mengubah. Takdir.. ia akan melihat apakah memang kelahiran bayi kedepannya akan terus laki-laki dari bangsa Leonword, atau bisa jadi tidak semuanya laki-laki.