Sebelum matahari muncul ke permukaan bumi, pagi-pagi sekali Lovaroz membangunkan Len untuk mengobrol dengannya empat mata saja untuk membahas sesuatu. Lelaki itu tidak mengajak sang putra karena pembicaraan ini begitu rahasia. Ada beberapa pertanyaan yang akan Lovaroz utarakan pada Len, terutama identitasnya yang membuat Lovaroz merasa ragu dengan apa yang diceritakan oleh Sean.
Secara tidak mungkin Len bisa tinggal di hutan yang menurutnya sangat angker. Dahulu sekali juga Lovaroz saat tersesat dengan Sean, mereka sulit menemukan jalan menuju perbukitan. Banyak fatamorgana yang terjadi di dalam sana yang bisa mengecoh banyak orang.
Ketika Len terbangun secara tiba-tiba, Lovaroz langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Len. Tanda menyuruhnya untuk diam dan tidak mengeluarkan sama sekali karena bisa membangunkan yang lain.
"Ikut aku, ada pembicaraan yang harus kita lakukan secara tertutup," kata Lovaroz saat itu.
Len menyikap selimut dan mulai mengenakan kembali tudungnya untuk menyembunyikan diri. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Setiap langkah ia pastikan tidak menginjak atau menyenggol sesuatu yang bisa membangunkan kumpulan orang-orang di sana.
Lovaroz membawanya menuju ke pesawahan terdekat karena di sana terbuka dan sepi sehingga Lovaroz tidak mungkin macam macam dengan Len.
"Untuk apa tuan Lovaroz ingin berbicara berdua denganku? Errrr, agak mencurigakan tapi aku harus bersikap tenang di depannya. Jangan sampai identitas asliku terbongkar setelah mengetahui rencana kerajaan."