BAB 34 | PIKIRAN

1135 Kata
Di dalam kamar yang begitu luas miliknya, Pangeran Seo— atau mari kita panggil saja dengan nama Seo, ia hanya menyandarkan punggungnya di salah satu sofa panjang berbalut emas di sepanjang sisi kayu yang diukir indah dan diimpir dari luar wilayah. Badannya pegal luar biasa, ia merasa tubuhnya panas walau keringat yang membanjiri kening dan tubuhnya sudah dilap. Latihan pedang di tengah cuaca yang tiba-tiba memanas lebih dari biasa adalah ide yang buruk, benar-benar buruk. Ujung salah satu jarinya mulai kapalan, terasa kaku dan tebal. Berapa lama ya tadi dirinya bermain pedang? Karena terlalu fokus, ia sampai lupa. Pikirannya dibuat kacau oleh seseorang selama berlatih pedang tadi. Harusnya, ia bisa lebih fokus lagi, namun semuanya terasa buyar. Kepalanya mendongak ke arah langit-langit kamar yang penuh dengan ukiran dan hiasan perak di sana, terbayangkan wajah seseorang yang membuat ia penasaran selama beberapa hari semenjak pertemuan tak disengaja oleh mereka di tepi sungai. Wajah itu memikat rasa penasaran yang mendalam baginya. Untuk pertama kali, orang tersebut kabur setelah melihat wajahnya dengan bola mata yang membulat, seperti terkejut melihat wajah Seo. Wajahnya baik-baik saja. Karena ekspresi orang itulah memang sempat terjadi kejar-kejaran selama beberapa waktu, sampai jejaknya menghilang di hutan. "Kenapa saya jadi memikirkan dia? Bukankah seharusnya tidak perlu? Apa dia terkejut karena ketahuan sebagai penjahat di depan seorang pangeran?" gumam Seo yang bertanya-tanya. Sebetulnya itu hal yang wajar bagi seseorang yang terkejut dan takut bila berhadapan dengan seseorang berasal dari kekaisaran dan bangsawan ternama— entah dirinya manusia ataupun vampire maupun werewolf bila ternyata memang penjahat. Namun, wajah yang dilihat oleh Seo menunjukan hal lain lagi, seperti sesuatu yang tak bisa terucapkan dengan kata-kata. Mengabaikan pikirannya yang seperti itu lantas Seo mengambil hologramnya, ia ingin melihat keadaan wilayahnya lagi menggunakan teknologi canggih tersebut. Dalam satu kali geser, hologramnya menampilkan gambar virtual yang metode seperti laser gambar yang bisa ia geser seperti gadget. Ini teknologi yang hanya bisa digunakan pada kaum tertentu saja. Dengan ditempilkannya salah satu wilayah yang ingin ia lihat, ditampilkannya di dekat sungai yang ia lewati tadi, sekarang keadaan kembali seperti semula. Karena sebelumnya agak kacau karena bebatuan jadi terletak di tempat yang tidak seharusnya. "Semua bagian aman. Saya rasa penjaga bagian hilir sudah bekerja dengan baik sesuai perintah saya. Tinggal memastikan kembali keamanan di sana ditambah perketatannya, supaya tidak sembarangan orang bisa keluar masuk hutan yang menyeramkan itu." Virtual dalam hologram ditutup, ia meletakkannya kembali ke tempat semula. Seo merasa bangga. Kalau boleh jujur, ia memang harus bangga akan perkembangannya sendiri sebagai seorang pangeran sekaligus putra mahkota kerajaan ini. Sebagai calon raja dan penerus kerajaan setelah ayahnya turun pangkat nanti, ia memang belajar dengan keras. Demi keselamatan umat, ia masih berupaya keras juga dalam menemukan solusi utama para penduduk bumi yang terancam punah. Yaitu, kutukan. Kutukan yang menimpa bangsanya. Saat kecil, Seo tidak percaya bahwa ternyata kutukan itu nyata dan benar-benar ada. Dirinya hanya percaya bahwa omongan orang dibuat bualan saja supaya mereka memiliki bahan gosip. Anak kecil yang cerdas sepertinya tidak akan termakan omongan palsu, apalagi ayahnya selalu berpesan bahwa memastikan kebenaran dari ucapan seseorang sebelum mempercayainya secara oenuh setelah adanya bukti yang valid. Tetapi, itu benar. Kutukan itu nyata dan terjadi di depan matanya setelah ia mempelajari teknologi yang memantau rakyat dan wilayahnya. Ia juga baru menyadari bahwa rata-rata pengawal di kerajaan yang merupakan manusia adalah laki-laki, sedangkan para perempuan menggunakan humanoid. Tiada satupun wanita manusia yang melayaninya. Bahkan yang hidup mengunjungi kerajaan saja adalah bangsa vampire dan werewolf. Kutukan ini mengecam ketentraman hidupnya. Lebih brengseknya lagi, semua kutukan ini berawal dari nenek moyangnya dulu yang membuat kesalahan fatal. Kutukan yang bukan hanya menimpa satu kerajaan, tetapi seluruh bagian bumi. "Kutukan ini ...," Seo menghela napasnya dan mulai mengusap wajahnya, lagi-lagi memikirkan kutukan saat ia tengah memantau dalam keadaan lelah. "Apa para ilmuan bisa berhasil menemukan solusinya? Saya hanya berharap mereka bisa menciptakan eksperimen mereka tanpa melawan hukum alam dan juga kuasa Dewa. Karena bagaimanapun, kutukan penduduk bumi juga atas kehendak Dewa sendiri." Seo masih memiliki akal sehat, daripada memaksa melawan hukum alam atau bahkan dengan mencoba melibatkan para hewan yang tidak berdosa, Seo memilih semuanya mati daripada bertambah buruk. Situasi yang tengah kacau ini jangan diperburuk oleh keserakahan manusia. Seo tidak senang melihatnya. Dalam dunia yang sudah serba canggih dalam era pemerintah kerajaannya ini, Seo berharap bahwa sifat egois dan keserakahan manusia bisa hilang. Fokuskan pada penyelesaian masalah kutukan yang terjadi. Mereka tidak akan hidup lama semua dalam kurun waktu yang sebentar lagi akan tiba. Ingatlah pada saat penemuan itu masih belum bisa ditemukan saat perempuan terakhir di muka bumi telah meninggal, hidup manusia dalam tepian jurang yang curam. Setitik kesalahan, semua akan fatal. Vas yang pecah sulit untuk digantikan, retakannya akan tertampak dengan sangat jelas. "Duke Albert berkata bahwa fraksi masih berkembang di kalangan bangsawan. Hmm, apakah mereka sudah berhasil juga dalam menemukan solusi untuk ini? Saya meminta ayah untuk mengurangi fokus mereka terhadap partai demi tujuan kemanusiaan dulu, harusnya sih sudah....," Ujung kalimatnya menggantung. Seo berpikir sejenak. Melibatkan fraksi bangsawan adalah idenya untuk menyokong kekuatan. Apakah ini akan berhasil sesuai ekspetasinya? Ada bagusnya iya. Jika para bangsawan dari kaum tersebut bisa memberikan solusi dan bantuan ke ilmuan, Seo sudah berjanji akan mendukung dan menyokong fraksi mereka. Namun, apabila mereka membentuk komunitas yang tidak sependapat dengan pemikiran kaisar, maka akan sulit penyatuan dua kubu tersebut karena bangsawan dan pihak kerajaan masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda. Seo tidak mau perpecahan terjadi di wilayahnya, sebisa mungkin ia akan membujuk kaum bangsawan pembentuk fraksi tersebut untuk berpihak dengannya. Kemudian, setelah dukungan dari fraksi bangsawan selesai barulah ia bisa mengirimkan surat dan juga delegasi kepada presiden Amerika untuk kerja sama dalam penyatuan dan dukungan kepada ilmuannya. "Hah, bisa mati muda saya sebenarnya kalau harus memikirkan hal berat seperti ini di saat masih menjabat sebagai putra mahkota. Ada kemungkinan pengangkatanku dari putra mahkota ke raja akan dipercepat. Waktuku juga tidak banyak, saya harus mendesak beberapa sisi supaya menekankan solusi yang pasti. Terutama dari dia yang katanya sangat percaya diri atas penemuannya." Kancing baju seragam keberasan Seo ditautkan kembali usai dilepaskan satu di atas, ia peegi ke luar dari kamarnya untuk berjalan-jalan di istana kerajaan. Salah satu pelayan wanita humanoid memberikannya secangkir minuman manis ketika dirinya kini duduk menghadap ke arah taman bunga indah milik istana. Beberapa tulip yang masih mekar begitu cantik untuk dilihat oleh mata. "Sedikit bisa merelaksasi pikiran saya. Minuman ini begitu nikmat, begitu juga pemandangan di depan saya saat ini." "Pangeran, ada beberapa bahan tanaman langka yang baru datang ke istana seperti Chivasde. Apakah Pangeran ingin mencicipi sedikit kue dari bahan tersebut?" tanya pelayan humanoid tersebut padanya. "Boleh. Ah . . . Bagikan juga ke beberapa prajurit terdekatku untuk mereka makan. Beritahu Candhisr untuk menyiapkan pejamuan nantì malam. Saya akan mengundang beberapa bangsawan untuk membicarakan masalah partai dan kerja sama dengan mereka." "Baik, Pangeran Seo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN