BAB 35 | PANIK

2000 Kata
Sungai tak berujung berada di dekat pedesaan asal dari Lovaroz, hanya sebuah istilah yang menunjukan sungai terpanjang di dunia. Tidak ada ujung kecuali pada tujuan akhir menuju para samudra-samudra terbesar di bumi raya ini. Bersih, tanpa kotoran. Sungai tersebut dijaga dengan baik, pengolahan limbah sungai yang bisa dikendalikan menggunakan penyaring handal sejak satu abad yang lalu menciptakan sebuah revolusi untuk bumi tercinta. Makanya tidak terlihat bahwa air dari sungai tersebut erlihat keruh, justru sebaliknya. Jernih dan banyak ikan yang hidup di sana dengan baik. Tangan Len terayun-ayun memegang sebuah batu kecil, ia melemparkan bebatuan kecil di pinggiran sungai yang tidak terdapat penjaganya di sana. Sekali lagi, ia merasakan bahwa nyawanya sedang beruntung dan selamat dari kejaran. Dirinya memang berhasil kabur, namun ia kehilangan jejak Sean karena terpisah saat pengejaran. Ayolah, ia tidak tahu di mana keberadaan Sean saat ini. Ia ingin segera bertemu namun sepertinya sulit jika kembali menggunakan jalur tadi, penjaga sungai dari kerajaan tidak akan membiarkannya lewat setelah mengetahui kalau Len masuk dalam salah satu komunitas Lovaroz. Ini barulah awal-awal Len hidup di ibu kota, apakah dia bisa bertahan? Ia harap begitu. Kini dua bola matanya menatap ke samping kanan dan kiri. Jauh sekali ia berhasil kabur masuk ke dalam hutan kemudian bisa kembali lagi ke sungai dengan arah yang sedikit berbeda dan kacau. "Cara melewati penjaga-penjaga sangat itu gimana sih? Mereka kayak gak mau lepas dari tempat sana, nanti yang ada aku malah ketangkep lagi gara-gara tadi ikut mencuri," gumam Len menopang dagunya di atas salah satu lutut yang terangkat. Ia tidak memegang gawai hologram yang seharusnya dimilikinya sebagai pegangan, tak membawa apapun yang berbau teknologi dari bangsa ini. Bagaimana cara ia kembali ke kota atau ke tempat Sean berada? Pastinya Sean juga panik mencarinya. Bahkan menginjakkan kaki di kota saja, tatapan Len hanya melihat setiap sudut kota yang ia rasa terlampau indah. Sementara jalan yang ia lewati hanya teringat dengan samar saja. Len merasa bodoh, ia tidak seharusnya mengingat yang membuatnya kagum saja, tapi juga yang terpenting dari yang membawanya ke sini. Jalan. "Demi nama bangsa, kenapa Len jadi bodoh banget sih? Ck, keburu panik jadinya malah lupa jalan beneran kan. Semoga aja ini terakhir kalinya ketemu orang berbaju rapi itu, malas liat mukanya." Welcome to Gaelen, sosoknya perlahan berubah mengikuti kebiasaan orang sekitarnya. Ia memang kesla juga pada penjaga itu, kakinya hampir tertancap duri tajam di dalam hutan saat bersembunyi tadi. Pada akhirnya kaki-kakinya berdiri, ia siap menopang demi kembali ke kota. Tangannya mengepal dengan erat, satu napas yang dihembuskan dalam tempo kecil. Mata yang ia pejamkan dalam 5 detik kemudian ia buka dan menatap seberang sungai. Ia menoleh sekali ke arah belakang, ke tempat hutan itu berada, tempat rumah aslinya berdiri, tempat di mana ia lahir. Kenapa ia jadi dilema?! Sudah cukup, ia harua fokus pada tujuannya yaitu menemukan kebebasan dan memenjarakan Clar yang sudah membunuh ayah kandungnya. Ia harus menemukan Sean untuk membantunya menjalankan misi. "Ayo, Len. Kamu pasti bisa!" Ia menyemangati dirinya sendiri. "Semangat! Ayo cepat temukan bukti dan memenjarakan pria badjingan itu ke penjara pemerintah." Len membuat ancang-ancang dengan memundurkan badannya. Ia harus melewati sungai dengan lebar sungai yang kecil namun aliran airnya tengah deras. Dalam hitungan ketiga ia akan melompat dari atas batu besar menuju ke seberang sungai. Satu... Dua... Tiga... "AAAAAAA!!!" Tubuh Len terlempar oleh dorongannya sendiri, jatuh dengan keadaan d**a yang membentur ke tanah dan terasa sakit bagi gadis itu. Ia meringis kemudian mencoba bersiei dengan kaki-kakinya. Oke, ia berhasil melewati sungai itu meskipun harus mengorbankan sedikit kesakitan di tubuhnya. Waktunya bagi dirinya, bagi Len untuk mencoba menuju ke arah kota. Ia hanya perlu mencari arah yang benar menuju ke markas Lovaroz berada. Len memperbaiki penampilannya. Ia tidak boleh terlihat mencolok dan berbeda, sebisa mungkin penampilannya harus terlihat seperti laki-laki. Ia teringat bahwa di dunia ini tidak ada lagi manusia perempuan, ia harus terhindar dari kejaran pengawal kerajaan agar tidak tertangkap. *** "KENAPA TEMANMU BISA HILANG?!" Lovaroz begitu marah, ia naik pitam. Mengetahui anaknya telah berpisah diperjalanan dengan Len membuat hati lelaki itu sedari tadi tidak merasa tenang. Ia takut kalau Len tertangkap dan membocorkan markasnya, maka semua rencana yang ia susun sedari awal akan lenyap. Sean sudah panik saat ayahnya marah kembali bernapas lega. Ia kira ayahnya akan tahu kebenaran yang sesungguhnya dari Len, ternyata bukan. Tapi, iya juga sih. Rencana yang disusun bisa gagal kalau Len membocorkan markas mereka. Secara, Sean lah yang membawa Len ke markas tersebut. Seisi markas masih panik, beberapa dari mereka coba mencari Len yang hilang dengan menyebutkan ciri-cirinya sebelum berpisah dengan Sean. "Hhhh, ayah tidak mau seperti ini. Kamu sangat tau bukan kalau ayah benar-benar akan mengincar mahkota langka tersebut, Sean. Ayah menjadi harapan terakhir di mending keluarga, Sean." Tatapan Lovaroz masih saja menatap ke arah luar bangunan tempat ia sekarang sedang berdiri. Dua tangan yang bertautan di belakang badannya, Sean bisa melihat bahwa ayahnya sudah seperti singa yang bersiap untuk menerkamnya kapan saja. Jangan menyalakan api kemarahan, akan menambah panas bila kau menyiramkan bensin di atasnya. Tidak, Sean tidak bermaksud membuat Lovaroz marah besar. Ini memang murni kebodohannya yang tidak bisa menjaga Len dengan baik di saat gadis itu masihlah asing dengam ibu kota. "Ayah, maafkan aku. Aku akan mencari Len sampai dapat kembali dan membawanya ke markas kita, ini memang kesalahan dan kebodohanku karena lalai hingga dikejar kembali oleh penjaga sampai kami berpisah dan masing-masing hilang jejak. Izinkan aku untuk mencarinya karena dia tidak mengenali kota ini dengan baik, apalagi dia sama sekali tidak membawa gawai hologram seperti yang kita gunakan sebagai media dalam berkomunikasi," pinta Sean yang menjelaskan juga kesalahan yang ia perbuat sekali lagi. Lovaroz menarik napasnya begitu dalam. Putranya mencoba bertanggung jawab, ia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya karena peepisahan ini bukan kejadian yang diinginkan oleh mereka. Pada akhirnya, Lovaroz menganggukkan kepala dan memberi izin pada sang putra. Ia memberikan waktu sampai matahari tenggelam esok hari. Jika pencarian terhadap Len masih belum bertemu juga, Lovaroz akan turut andil dalam membantu pencarian ini. Len harus dibawa hidup atau mati untuk memastikan informasi di dalam komplotam Lovaroz tidaklah bocor ke mana-mana apalagi hingga telinga orang dalam kerajaan. Dengan perizinan yang telah ditetapkan, Sean segera berangkat mencari Len kembali. Ia menggunakan earphone non-visual dalam berkomunikasi dengan anggota yang lain. Pencarian dibagi, namun Sean hanya mencari seorang diri ke arah hutan dan sungai, tempat terakhir di mana Len kabur sebelum menghilang. Sean mampir dulu ke sebuah toko dan membeli janggut palsu beserta cat merah. Tujuannya kali ini melakukan penyamaran total untuk bisa melewati perbatasan di sungai, penjagaan di sana pastinya lebih ketat daripada sebelumnya. Sean jamin itu. Toko yang ia datangi pun merupakan langganannya. Sang pemilik toko dengan wajah ramahnya melayani Sean dan memberikan barang dengan kualitas terbaik menurutnya. Dibantu dengan robot kiriman pemerintah kerajaan, cukup memudahkan pemilik toko bernama White itu dalam melayani pembeli maupun menata barang-barang di tokonya. "Eyyy, mau merampok di rumah bangsawan mana lagi kali ini, Sean? Apakah ada rumah dari kaum vampire atau werewolf yang cukup bagus untuk diambil emas atau permatanya?" tanya White yang sebenarnya serius namun ia membuatnya seperti bercanda. Ia hapal betul dengan Sean. Sean tertawa renyah. "Tidak, tidak. Aku tidak akan merampok kali ini, Tuan White. Hanya akan melakukan penyamaran supaya tidak dikejar oleh penjaga perbatasan. Aku harus mencari seseorang di hutan karena dia sangat penting untuk klan kami." "Wah wah, semoga saja bertemu ya. Eum, ke hutan ya . . . Hati-hati saja saat berada di sana ya, Sean. Saya cukup tahu kalau hutan di dekat kerajaan dan perbatasan merupakan hutan yang cukup mencekam. Jangan melewati garis batas yang seharusnya. Ya, meskipun saya tau dulu Lovaroz dan dirimu pernah ke sana dan tersesat, saya tidak mau ada korban lagi setelah terakhir kudengar ada lelaki berusia 100 tahun meninggal dua tahun yang lalu karena membusuk." Peringatan yang dilontarkan oleh White didengar dengan sangat baik oleh Sean. Nyatanya, White memang tidak tahu bahwa Sean sendiri sudah berhasil keluar dari hutan setelah tersesat dan bahkan sampai tinggal di rumah Len karena menghindari kejaran pengawal kerajaan. "Thank you, Tuan White. Nasihat anda sudah kudengarkan dengan dengan seksama. Namun, sebagai pencuri yang hebat, aku juga harus berani mengambil resiko jika suatu saat kembali terjerumus masuk ke dalam sana. Apalagi, aku ini laki-laki. Tidak ada yang perlu aku takuti. Jiwa keberanian ayah sudah diwariskan padaku." "Ahahaha iya, kamu benar. Meskipun berulang kali setiap aku melihat kamu dan Lovaroz berhadapan, rasanya memang tidak mempercayai kalau sifat kalian mirip walaupun dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukan hal serupa. Tapi, namanya anak dan orang tua tidak harus sedarah, bukan? Aku bersyukur mengenal Lovaroz meskipun dia pencuri kelas kakap. Dia baik dan banyak membantuku dulu di saat yanh sulit." "Terima kasih lagi atas pujiannya untuk ayah. Aku pergi dulu. Selamat tinggal, Tuan White. Dan asisten robotmu, Berta." "Jaga dirimu baik-baik, Sean." Pasca mengenakan penyamaran dan membayarnya, Sean pergi dari toko itu. Ia benar-benar sangat terbaik dari saat datang tadi, tidak ada yang mengenalinya. Ia masih menutupi sebagian wajahnya dengan tudung, dan melewati penjaga penjaga yang tengah berpatroli keliling ibu kota. Yah, penyamarannya cukup membuat lelaki itu senang bukan main. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke arah bahtera sungai. Betapa terkejutnya Sean melihat jumlah penjaga di sana naik menjadi tiga kali lipat serta mereka menjaganya lebih ketay daripada sebelumnya. Satu persatu orang yang hendak menyebrangi sungai— beberapa di antara mereka memiliki tujuan untuk bercocok tanam dipinggiran sungai seperti kangkung dam bayam air— diperiksa mulai dari atas hingga ke bawah. Bahkan janggut para lelaki diperiksa. "Sialan, mereka kayak udah nebak cara pikiran gue kek gimana," gumam Sean masih memandang jauh dari balik tembok perumahan salah seorang warga. "Ah . . . Bodo amat, langsung trabas aja deh. Ketahuan bisa kabur lagi, mana tau di dalam hutan masih ada Len. Semoga aja gak ketahuan." Ujung-ujungnya Sean tetap saja nekat. Berbekal penyamaran semi-totalnya, ia dengan santai ikut mengantri seperti warga yang lainnya. Ketika gilirannya sudah tiba, ia pun ditanyai oleh salah satu penjaga di sana mengenai maksud dan tujuannya pasca pemeriksaan tubuh hingga tudungnya ia buka. "Mau apa kamu?" tanya sang penjaga dengan sebuah tongkat di tangannya menepuk bahu Sean. "Oh, tuan." Sean mulai bersuara seperti bapak-bapak sudah tua. "Saya baru saja menyukai salah satu burung yang terbang meleeati saya. Ketika saya melihat dia terbang ke arah sini, saya ingin menangkapnya. Anda tahu sendiri kan kalau rakyat kecil seperti saya tidak semua memiliki flying egg untuk terbang menangkap burung tersebut, jadi saya berencana menangkapnya dengan tangan kosong saya sendiri." Mata petugas itu memicing, penjelasan Sean yang sangat panjang itu harus ditelaah baik-baik. Sementara Sean yang dari luar terlihat santai dalam dirinya sudah merasakan mampus setengah mati. Kemudian, seekor burung terbang melewati atas kepala mereka menuju ke hutan. Itu kesempatan yang sangat tepat bagi Sean karena alasannya itu menjadi kenyataan. "Lihatlah! Itu burung yang saya cari!" Ia berseru sambil menunjuknya. "Apakah saya diizinkan untuk ke sana?" "Hmmmm." Walaupun masih sedikit curiga, namun penjaga tersebut tetap memberikannya izin untuk melewati sungai tersebut. "Pak, anda jangan masuk ke hutan lebih dari 50 meter. Jika sudah menangkap burungnya, silahkan kembali lagi ke mari. Jika butuh bantuan dari kami, beritahu saja. Anda sudah tua, jangan sampai merepotkan kami. Bumi sudah mau musnah masih saja melakukan hal bodoh macam ini." Sean menganggukkan kepala, mengacuhkan perkataan menyebalkan dari penjaga tersebut di akhir kalimatnya. Ia segera berjalan melewati jembatan yang merupakan penghubung antara hutan dengan ibu kota yang terpisahkan oleh sungai. Berhasil. Saatnya bagi dirinya untuk menyisiri hutan mencari Len. Ia harus agak lebih menjauh agar tidak terlihat berjalan ke arah timur. Karena pastinya timur merupakan daerah yang menjauhi perbatasan yang terhubung itu. "Posisimu sekarang di mana, Sean?" Salah seorang rekan bertanya melalui earphone non-visualnya. "Sudah memasuki hutan, tadi aku harus melakukan penyamaran dan diintrogasi oleh penjaga perbatasan antara hutan dan ibu kota. Aku harus menyusuri sekitaran, mencari jejak kaki manusia yang kemungkinan adalah milik Len. Tetaplah mencari di ibu kota dan menghindari dari pengawal kerajaan. Aku pastikan bahwa Len masih ada di dekat kita, hanya tunggu waktunya tiba saja." "Baiklah. Hati-hati kau kalau begitu, jangan kembali melakukan kesalahan yang berujung imbas pada kita semua." "Pastinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN