BAB 21 | KAGUM

1100 Kata
Keramaian ibu kota menjadi daya tarik Len saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Memang betul apa yang diinginkannya selama ini terwujud, bayangan ibu kota jauh lebih indah daripada apa yang ia pikirkan. Ada dua sisi yang bisa ia lihat dengan jelas, bisa dibilang itu adalah sedikit kesenjangan di antara kaum bangsawan dengan rakyat biasanya. Karena perbedaan fasilitas yang ada di antara keduanya cukup kontras. Masyarakat masih ada yang menggunakan cara manual, tidak semuanya bisa menikmati fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah kerajaan. Sementara itu, di sisi laon para bangsawan bisa menikmati susunan kehidupan modern yang sangatlah terlihat mewahnya di sana. Contoh saja, bagian atas ibu kota cukup banyak kendaraan tanpa bensin yang bergerak dan berjalan sesuai jalur tanpa menggunakan roda dan rel di atas tanah lagi. Para kereta eksklusif bergerak di atas rumah warga, ada juga kendaraan yang bergerak mengapung di darat— khusus milik bangsawan yang sudah membelinya dari toko khusus kendaraan tersebut dengan harga jual yang sangat mahal. "Ikut aku, kita harus ke markas terlebih dahulu baru nanti kubawa jalan-jalan," ungkap Sean menggenggam tangan Len dan membawanya untuk pergi dari sana. Meskipun tangannya ditarik-tarik oleh Sean, tentu saja mata Len tetap berfokus melihat ke sekitaran. Sesekali ia menunduk dan menarik tudungnya ke bawah lagi ketika beberapa orang sekitar sedang melihatnya dengan tatapan aneh yang membuat dirinya tidak nyaman untuk dilihat. Setelah berjalan ke sebuah bangunan sepi yang di mana di sana terlihat tak pernah terawat, Sean dan Len masuk ke dalam. Pintu diketuk selama tiga kali, Sean menyebutkan sebuah kode yang membuat dirinya bisa masuk. Alhasil, sekarang ia dan Len sudah berada di dalam bangunan dengan hanya ada Lovaroz saja yang ada di dalam sana.  "Yah, kukira kamu menghilang karena memasuki hutan itu lagi, Nak. Ternyata sudah sampai saja di sini, aku berniat menyusul ke hutan kalau sampai dalam waktu tiga hari kamu belum pulang," ucap Lovaroz yang berjalan di depan dua remaja tersebut. Kemudian ia berbalik dan memandang Len. "Oh iya, Sean, siapa dia? Kenapa kamu membawanya ke sini?" "Ayah, dia ...," Sean melirik Len dengan perasaan gugup, "...temanku. Kebetulan sekali kami bertemu di dalam hutan dan sama-sama tersesat, selama tiga hari pencarian jalan sambil mengobrol bareng, akhirnya kami memutuskan untuk berteman. Kebetulan dia sebatang kara dan ingin ikut bersama kita dalam kelompok pencurian," katanya menjelaskan dengan kebohongan. Ia mengarang semuanya secara mendadak, untung saja perkataannya cukup masuk akal sehingga Sean mengangguk percaya.  Menyuruh keduanya membuka tudung yang menutupi kepala mereka, Lovaroz bisa melihat wajah Len secara utuh dengan rambut yang dipotong seperti laki-laki itu. Dirinya masih belum sadar kalau Len adalah seorang perempuan, mengingat ia sering melihat laki-laki berwajah cantik jadi ia tidak bergitu kaget melihatnya. Lovaroz mengajak mereka makan, menyajikan ayam bakar hasil buruannya di dekat hutan kemarin yang cukup untuk mereka bertiga. Ia tertawa dengan bangga karena menangkap ayam gemuk yang tidak pernah ia lihat dagingnya sebanyak ini. Hanya makanan ayam bakar beserta kecap saja yang bisa ia hidangkan, namun rasa makanannya tidak kalah enak. Padahal, ada beberapa orang sekitar memberikannya makanan kaleng dan instan, namun ia akan memakannya jika dalam keadaan mendesak. "Jadi.. namanya siapa?" Lovaroz bertanya. Sean menepuk dahinya, lupa memperkenalkan namanya. Ia hanya memperkenalkan Len dengan sebutan temannya saja tadi. "Namanya Len, Ayah." Sean memperkanlkannya. "Dia seumuranku, sepertinya begitu sih." Alis Lovaroz naik satu, "Seumuran?" Ia menatap Len dengan seksama, betul juga. "Ibumu siapa, Len? Apa kamu juga seperti Sean? Karena setahu saya hanya tersisa satu perempuan manusia di dunia ini, itu juga ada di pusat perawatan dan penelitian di Amerika. Dia sednag dijaga dengan sangat ketat karena menjadi aset berharga di dunia." Mata Len dan Sean sempat beradu, mereka melemparkan pertanyaan melalui sorot mata masing-masing. Seperti telepati, sebuah kesepakatan agar Len juga berbucara setengah jujur dan setengah bohong pada Lovaroz. Kebohongan yang utama adalah membeberkan seputar gendernya yang sekarang ini. "Entahlah, aku diadopsi sama orang. Kami tinggal jauh dari pusat ibu kota, daerah yang sepi sekali, berbanding terbaik dari kehidupan di sini yang terlihat sangat ramai. Dia memang merawatku dengan sangat baik, memberiku makan dan mengajarkanku banyak hal. Tapi ternyata dia pembunuh yang membunuh orang tua kandungku selama ini. Jadi, sekarang ini aku sedang kabur. Untung ada Sean, jadi kami bisa pergi dan membawaku jauh," jawab Len yang masih mengunyah ayam di dalam mulutnya. Ngomong-ngomong, Len baru tahu kalau perempuan di dunia bisa sangat berharga, berarti dirinya juga begitu? Ia memang harus menyembunyikan identitasnya sampai tujuannya menghukum Clar tercapai. Sebelum Len kemudian ditangkap oleh para peneliti yang ingin tahu bagaimana Len bisa ada, bisa hidup, dan nyata tanpa harus berburuk sangka bahwa dirinya bukanlah dari klam imortal. Mendengar jawaban Len membuat hati Lovaroz terasa teriris. Ini mirip kasusnya dengan Sean yang ia adopsi, hanya saja ia tidak tahu siapa orang tua Sean yang tega membuangnya dulu saat di tengah hutan angker. Syukurlah sekarang dua anak bernasib serupa tapi tak sama itu ternyata memiliki pemikiran yang sama setelah Lovaroz kemudian mendengarkan celotehan dari dua remaja yang sedang dalam tahap menuju dewasa tersebut. "Karena Len ada di sini, ayah harap kalian berdua bisa semakin akrab. Kalau memang Len serius ingin bergabung dalam kelompok pencurian, maka kelompok utamanya hanya kita bertiga saja," kata Lovaroz. "Sean, ingat kalau rencana besar kita akan dimulai sebentar lagi. Persiapkan segalanya, masalah penyamaran dengan metode kecanggihan hologram sudah ayah atur dengan kelompok lainnya. Lumayan kan, setelah berhasil mencuri mahkota itu, kita bisa melakukan apa yang kita mau." "Baik, Ayah," jawab Sean. "Untuk Len, betah-betahlah bersama kita. Semoga kamu memiliki keunggulan yang bisa kita gunakan dalam pencurian nanti, karena saya tidak akan segan membuang anggota yang tidak berguna. Paham?"  Len mengangguk mengerti tepat ia menyelesaikan makannya.  Kemampuan, kemampuan apa yang ia miliki? Ia cukup handal dalam menghafal sesuatu dalam waktu yang singkat, mampu menggunakan senjata dengan baik seperti panah dan juga pedang, ia juga bisa memanjat sesuatu karena ia suka kabur ke atas atap tanpa dibantu oleh tangga, juga ia cukup kebal jika tangannya terluka atau bisa tahan napas selama beberapa manit di dalam air. Hei, walaupun ia perempuan, begini-begini dirinya sudah dilatih langsung oleh Clar. Oke, kali ini ia berterima kasih pada penculik itu atas hal tersebut. Setelah Lovaroz keluar untuk urusan sesuatu, Sean mendekati Len dan bertanya, "Apa kamu mau berlatih untuk mengetahui kemampuan aslimu? Seperti mencoba memanjat bangunan sampai ke yang paling atas ini tanpa menggunakan tali ataupun tangga." Mata gadis itu melotot dan rautnya berubah dalam sekejap. Hal gila apa yang Sean sarankan padanya? Sean ingin Len mati muda saat ini juga? Ia hanya bisa memanjat paling tinggai 4 meter saja, dan sisanya ia masih cukup takut dilakukan karena takut cedera. Sementara bangunan yang direkomendasikan Sean memiliki tinggi 50 meter. Gila, Len bisa gila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN