BAB 20

1130 Kata
NOTE ; BAB BELUM SELESAI DIKETIK Tali sepatu sudah dikencangkan, sebuah hoodie yang dikenakan dengan pas sudah menutupi bagian belakang kepalanya, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang akan mengenalinya dengan mudah. Matahari sudah mulai merangkak naik, dilihat dari poros cahaya yang jatuh dan membentuk sebuah jam matahari, ia sudah tidak sabar lagi akan berpisah dari belengu penyiksaan dan kebohongan yang dilakukan oleh ayah— maksudnya, ayah bohongannya. Semua pintu rumah sudah Len kunci, ia dengan teliti memeriksakannya sampai dua kali. Halaman rumah sudah dipastikan bersih. Dan barang penting yang ia bawa adalah surat peninggalan Suez, ayahnya, yang sudah menuliskan catatan perkembangan alat yang sudah membuat dirinya hidup dan menjadi seorang wanita. Karena tulisan Suez dan Clar jauh berbeda, Len tak lupa membawa buku asli milik Clar yang bertuliskan nama lelaki tersebut. Bukunya masih baru, berkebalikan dengan buku milik Suez yang sudah mulai berumur dan warna tintanya meluber sedikit.  Dibantu dengan Sean yang berada di sampingnya, mereka mulai melangkahkan kaki bersama-sama keluar dari pagar utama. Len sekali lagi menoleh, berat hati meninggalkan rumah utama milik sang ayah dan memutuskan untuk pergi ke ibu kota sebagai bentuk menghilangkan rasa penasaran yang amat dalam serta mencoba mencari keberadaan bukti lain yang perlu dikumpulkannya segera. "Ayo kita berangkat," ucap Sean yang kembali mengingatkan dan menepuk bahu Len untuk menyadarkan gadis itu. "Oke." Akhirnya keduanya benar-benar meninggalkan rumah tersebut dan mulai berjalan kaki ke arah timur laut. Mereka memilih arah tersebut karena kerajaan berada di sebelah timur. Mengikuti timur akan berbahaya bagi Sean karena perbatasan timur dijaga ketat oleh para pengawal kerajaan. Sementara bagian timur yang mengikuti arah sungai lebih aman dan dekat dengan pedesaan. Setahu Sean begitu kalau ia tidak salah ingat saat masih kecil. Kompas yang agak rusak juga lumayan membantu. Karena kompas tersebut hanya berfungsi ketika jarum mengarah ke arah timur saja, jadi dengan membuat gambar empat arah dasar, mereka yakin tidak akan tersesat. Hal yang harus dilakukan pertama ketika mulai dalam perjalanan adalah mencari sungai yang dimaksud yang jaraknya juga tidaklah dekat. Paling tidak 45 menit lamanya mereka baru bisa sampai. "Katakan, apa tidak masalah kalau mencuri sedikit eksperimen ay— maksudku Clar? Walaupun mencuri, kurasa tidak masalah juga sih, kamu kan berhak melakukannya karena tindakan dia yang cukup kriminal." Sean memang sempat khawatir kalau Clar yang pulang dan sadar semua akan memarahi Len. Tapi, setelahnya ia juga langsung sadar bahwa lelaki yang 17 tahun dianggap sebagai ayah bagi Len lebih licik daripada seorang pencuri kelas kakap. Justru yang harus memarahi dan menghukum adalah Len kepada Clar.  "Apa mungkin suatu hari nanti identitas orang di samping gue bakal kebongkar? Cepat atau lambat, barang langka yang dicari-cari akan menjadi perebutan. Gue harap Len gak bakal jadi rebutan," gumam Sean yang kini berpikir mengenai bagaimana seandainya para ilmuan tau kalau Len adalah seorang perempuan? Cukup, jangan terlalu membuat dirinya terlalu pusing memikirkan hal tersebut. Penting sekarang adalah penjelajahan ke daerah mana saja yang harus Sean tunjukan kepada Len supaya membuat gadis itu terkesan? Ibu kota memiliki banyak tempat yang bagus untuk dikunjungi. "Ah, iya. Aku selalu bilang kalau kita harus berhati-hati di ibu kota kan sebelumnya? Karena aku juga adalah buronan prajurit kerajaan, pastinya kamu harus waspada juga. Tenang saja, aku juga akan melindungimu dari para makhluk imortal yang suka mengganggu dan seenaknya pada rakyat rendah. Dan menjelaskan pada ayahku bahwa membawamu ke ibu kota dan membuat kamu mendapatkan keadilan yang sepantasnya adalah tanggung jawabku," jelas Sean langsung menepuk-nepuk dad*anya dengan rasa percaya diri dan meyakinkan Len akan hal itu. "Aku percaya kok, tadinya juga takut. Karenanya hidup di sini dan di ibu kota sangatlah berbeda, perlu adanya penyesuaian diri di sana. Eum, kalau di laboratorium mendiang papaku sudah secanggih itu, apakah kerajaan juga serupa dengan hal tersebut?" "Tidak juga sih. Cuman di dunia ini sudah mulai penerapan teknologi selama 15 tahun terakhir, kata ayah begitu." Sean menatap langit yang masih saja tertutup dengan lebatnya dedaunan di pohon besar yang ia dan Len lewati. "Dulu, hanya orang-orang ber-uang saja yang bisa menggunakannya, tapi sekarang tidak. Sistem kerajaan ini masih tanda tanya, teknologi dibuat untuk memudahkan kami dalam menjalani keseharian. Karena kamu tahu sendiri kalau bangsa manusia sudah bercampur dengan klan vampire dan werewolf yang masih makan di restoran tanpa berburu liar, jadi kami manusia juga ada yang bekerja di restoran sana dengan teknologi mesin yang pasti otomatis menyajikan makanan sesuai menu yang diinginkan." Cara bicara Sean seperti sedang mendongeng, ia pelan berbicara dan tangannya tidak mau diam untuk itu. Len mengangguk-angguk. Kehidupan Kota sepertinya memang mnyenangkan dan menantang dirinya. Lalu, setelahnya Sean menjelaskan bagaimana status manusia di tengah krisis kutukan yang melanda dan mendekati akhir dari kehidupan manusia ini. "Kami banyak dijadikan b***k untuk sekarang ini, tapi sistem kerajaan masih harua dipegang oleh pewaris manusia. Kata hukum alam begitu sih, karena yang datang pertama kali ke bumi adalah manusia, jadi Tuhan sudah menerapkan bahwa merekalah yang akan memimpin bumi dan sistem di dalamnya walau kekuatan masih jauh dibawah makhluk-makhluk lainnya." "Banyak pertanyaan, banyak sekali, Sean. Tapi aku butuh orang yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan dalam benakku, terutama penjelasan masuk akal tentang kutukan ini. Bangsa asliku, tentang pengembangan rahim buatan yang dikembangkan oleh mendiang ayahku. Walaupun sudah dijelaskan di buku, aku masih butuh penjelasan lebih. Jadi, bantu aku menemukan orang yang tepat untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang ada di benakku ini ya, Sean?" "Apakah aku terlihat menolak?" Sean menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat lucu di mata Len. Len menggeleng sambil menahan tawa, namun Sean tidak mempermasalahkan kalau memang raut wajahnya saat ini bisa membuat Len tertawa. Ia tersenyum kemudian melanjutkan, "Tentu saja tidak, jika memang semuanya membuat kamu lebih baik, aku akan mendukung. Tetapi, jangan lepas dari peganganku, ya? Kita cari orang itu, namun kamu jangan terlalu kaget ya pas sampai di ibu kota. Anggap semuanya berjalan normal seperti yang ada di rumah kamu. Paham?" Dan Len mengangguk paham seketika. Mereka kembali berjalan sambil mengobrol. Tidak terasa bahwa perjalanan mereka menuju ke sungai membuahkan hasil meski lebih lama daripada perkiraan. Suara aliran sungai yang begitu deras mampu ditangkap baik oleh telinga mereka Tidak jauh dati sana memang ada sungai yang sesuai dikatakan oleh Sean. Mereka haruslah menyebrang, namun Len tidak melihat adanya jembatan di sana. "Ini namanya jembatan transparan, kita hanya perlu mencari dengan menginjakkan satu kaki ke depan dan kalau terasa padat maka itulah jembatannya. Ini ditemukan oleh salah satu ilmuan bernama Prof. Gladit, aslinya sih katanya pakai teknologi canggih bio-- bio apalah gitu, nanti diterapkan dan disetting dalam mode kayak gini. Fungsinya sih sebenernya karena ini sungai besar, dan hutan di sini itu bahaya, jadi dia bikin jembatan ini cuman khusus aja. Btw, aku tau ini karena ayah ada surat keluarannya saat dulu peluncuran sekitar 10 tahun yang lalu." "Kita harus menyusuri satu-satu?" "Kita berjalan berbeda arah dulu, injak dengan hati-hati. Jangan sampai juga kamu melepaskan tudungnya, oke?" "Baiklah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN