NOTE ; BAB BELUM SELESAI DIKETIK
Hal gila yang Len perbuat hari ini adalah mengizinkan orang asing bernama Sean untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Katanya, prajurit mungkin masih akan mencari lelaki tersebut sehingga berlindung dengan aman dan tepat adalah pilihan yang harus ia ambil serta mencari tempat perlindungan yang aman. Sean, walau cowok itu sendiri sebetulnya hanya mengingat sepintas tanpa memberitahu yang sejujurnya pada Len, ia ingin menikmati moment mereka yang kembali asing setelah lama berpisah selama 7 tahun lamanya.
Lihatlah bagaimana wajah Sean yang berbinar menemukan sebuah makanan nikmat dan segar. Makanan yang dibuat dengan menggunakan bahan segar seperti sayuran yang dipetik dari kebun dan ikan-ikan hasil budidaya di belakang rumah Len. Hanya daging saja yang harus dibeli di pusat kota karena tidak mungkin memelihara atau beternak hewan yang berisik.
Aroma masakan yang baru saja matang itu menggoda indera penciuman Sean. Kapan ya dirinya makan dengan enak dan lezat seperti ini? Ia, Lovaroz, dan komplotan lainnya harus makan makanan yang paling murah dan mengenyangkan yaitu roti gandum sisa dari toko roti di sekitaran rumah.
"Serius ini yang bikin kamu?" tanya Sean menatapnya tidak percaya. "Kayaknya beneran enak banget, belajar dari siapa?"
"Seseorang yang sudah membesarkanku, dan merawatku cukup keras beberapa tahun terakhir. Kayaknya karena ada trauma di kepala jadinya gak bisa ingat penyebabnya lagi sih, pokoknya gara-gara sesuatu akhirnya aku dilatih keras dan dijadikan seperti laki-lamu lainnya," jelas Len menyisir rambutnya ke belakang.
"Kalau dia kembali ke rumah, apa yang mau kamu lakukan? Kabur?" tanya Sean lagi.
Perkataannya membuat Len berpikir hal yang sama dalam otaknya. "Mungkin, tapi kayaknya sebelum aku kabur, malah bakal disekap lagi deh. Soalnya kalau ketahuan sesuatu, pria itu lasti akan membuat hukuman yang keras padaku." Len menghela napasnya dengan kasar, ia mengacak rambut frustasi setelah kenyataan pahit menghampirinya pagi ini.
Baru sehari Clar pergi dan satu buah kebenaran terungkap. Bayangkan kalau semua ini terlambat ia ketahui, pikiran Len pasti akan semakin dicuci otak oleh lelaki tersebut hari demi hari berikutnya.
"Kabur sebelum dia kembali, Len, itu opsi paling baik menurutku buatmu."
"Masalahnya, aku gak tau jalan keluar dari sini. Bertahun-tahun aku cuman hidup di dalam kawasan rumah aja. Bahkan paling jauh aku keluar, tidak lebih dari 10 meter pagar terkuar rumah."
Sean tersenyum tipis, ia menjentikkan tangannya. "Bagaimana kalau kabur bersama aku? Kita keluar dari sini sama-sama. Mencari jalan keluar. Katanya kamu belum pernah lihat ibu kota, kan? Nanti aku bisa bawa kamu ke sana dan kasih tahu bagaimana dunia luar yang cantik untuk diperlihatkan. Kamu harus tau." Sebuah usulan diberikan olehnya, karena daripada Len terlambat kabur, bukankah sekalian saja membantu Sean keluar dari hutan ini meskipun keduanya tidak tahu jalan keluar yang paling mudah?
Sean memang pernah masuk ke hutan tersebut, namun saat itu hanya sekali dan dikejar oleh prajurit sampai tidak sadar sudah berada di sebuah bukit bersama dengan Lovaroz.
Sangat asik juga kalau dipikir membawa seorang gadis bernama Len ini yang tidak tahu visual ibu kota untuk dikenalkan di sana. Len juga bisa mengenal klan lain selain manusia agar paham dan tidak menjadi korban para klan ganas. Len tidak akan diketahui sebagai perempuan juga, Sean akan menjamin hal itu. Penampilan Len jika diberi pakaian yang tepat dengan bertudung pastinya tidak akan diketahui gender sesungguhnya. Rambut pendek itu juga bisa menjadi bahan untuk meyakinkan orang lain.
Diam-diam Len sedang bertarung pada pikirannya yang sedang mempertimbangkan tawaran Sean. Tidak buruk, hanya saja ia sedikit takut untuk berinteraksi dengan banyak orang untuk pertama kalinya.
Apakah dunia luar sejahat yang pernah diceritakan oleh Clar? Apakah ia bisa menyesuaikan diri dengan mereka yang merupakan warga ibu kota serta klan lain?
Dan apakah identitasnya sebagai wanita tidak akan terbongkar?
"Len, tenang saja. Ada aku. Aku ini kan seorang pencuri, kami biasa melakukan penyamaran supaya tidak diketahui. Percayalah, kami melakukan penyamaran mati-matian bahkan sampai bisa mengecoh mesin identifikasi dengan Biometric Intellegence. Aman, jangan khawatir."
Kali ini Sean berusaha meyakinkan Len supaya benar-benar tidak perlu merasa khawatir akan hal itu. Ia hanya perlu mencarikan sesuatu yang bisa dijadikan tudung untuk menutupi sebagian wajah gadis itu. Yah, ia juga berpikir melakukan semua itu agar tidak ketahuan oleh Clar yang katanya sedang berada di ibu kota.
Tidak mau membuat Len harus menghantamkan otaknya dalam berbagai pikiran yang belum pasti terjadi, Sean menyuruhnya untuk segera makan agar mereka bisa memakan makanan buatan gadis itu bersama-sama.
Saat makan bersama, Sean mencoba membuat topik obrolan dengan memberi pertanyaan serta membebaskan Len juga untuk bertanya seputar apa yang belum pernah gadis itu lakukan selama di sini dan ingin dilakukan saat di ibu kota nanti.
Kata Len, "Aku ingin ke perpustakaan kota. Membaca buku yang belum pernah aku baca. Dan juga rasanya mengenal kehidupan kota yang serba modern dengan tatanan pemerintahan masih berpegang dengan sistem kerajaan. Kataku ini cukup unik, apalagi dunia yang dipenuhi banyak manusia, kemodernan seseorang akan menolak hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan dan sejarah. Tapi kerajaan ini cukup membuatku terkesan, padahal bisa saja sistem kerajaan diubah menjadi demokrasi atau sistem pemerintahan lain dengan pemimpin seorang presiden."
Decak kagum tidak bisa disembunyikan oleh Sean mendengar pemikiran kritis dari Len yang bahkan dirinya tidak pernah akan punya pemikiran seperti itu. Tentang tanda tanya sistem pemerintah yang baru disadari oleh Sean. Kerajaan dan kemodern-an. Hal-hal yang berbau teknologi akan lebih cocok pada pemerintahan berbasis demokrasi atau liberalisme. Tapi, kerajaan mereka lebih mengarah pada monarki.
"Dan, Sean, aku mau tanya satu. Kutukan dunia ini memangnya sudah sangat parah, ya?" tanya Len.
"Kutukan yang mana dulu? Dari sekian banyak yang aku dengar, kehidupan kita di kota dan wilayah tempat tinggalku ada banyak rumor kutukan, paling terkenal sih yang berhubungan dengan vampir," kata Sean. "Tapi kata ayahku itu akal-akalan saja, tapi memang yang banyak terdengar di telinga anak-anak hobi berkeliaran sepertiku adalah rumor vampir akan menguasai bumi setelah manusia dihabisi mereka."
"Bukan, kenapa pula ada rumor vampir. Aku penasaran yang terkait sama akhir dunia. Di luar sana, apakah benar kalau yang banyak hidup di jalanan dan menduduki seluruh hampir wilayah bumi adalah laki-laki? Khusus perempuan, kutukan tidak berlaku pada klan yang lain karena ini murni kesalahan seseorang yang dari bangsa manusia itu sendiri."
Ah, kutukan itu. Kutukan sekaligus aib yang tidak boleh dibicarakan oleh bangsawan maupun rakyat. Karena memang kutukan sialan ini masih berlaku, semua manusia yang ada di sekitar Sean berumur 3 kali lipat dari usia Sean sendiri. Katanya, mereka boleh membicarakan kutukan ini apabila sudah menemukan jalan keluar dan pemecah kutukan yang dicari-cari oleh raja dan para ilmuan pusat. Sean sendiri juga tidak bisa menjawabnya, ia jarang mendengar orang-orang membicarakan hal ini. Pantang bagi masyarakat membicarakan aib dari kaum mereka sendiri.
"Untuk pertanyaan itu, aku enggak bisa jawab sekarang, Len. Aku juga akan mencari jawaban yang tepat agar bisa menyampaikannya padamu."
Bibir Len membentuk senyuman tipis. "Terima kasih banyak, Sean."
***
Tidak hanya membicarakan seputar bagaimana kehidupan kota yang menurut Sean setengah menyenangkan dan setengah gila, ia juga memberitahu Len terkait siapa sosok dirinya tanpa menjatuhkan harga diri sebagai seorang pencuri. Maksudnya, coba pandang dari sisi Sean yang tidak selamanya mencuri karena untuk membuat yang lain akan rugi.
Toh, ia mencuri juga untuk mendapatkan uang karena ia tak cocok dengan pekerjaan lain selain menjadi pencuri. Uangnya juga digunakan untuk makan dan membantu tetangga yang kesulitan mendapatkan uang di tengah krisis pemerintah yang masih sibuk dalam pemecahan kutukan. Sementara para rakyat mereka mati-matian meraung untuk diberikan kemudahan supaya hidup mereka sejahtera. Mengembara ke desa lain atau luar negara bukanlah solusi yang tepat, liberalisme juga masih cukup mengakar.
Ternyata Len cukup menikmati semua cerita itu. Ketimbang film yang selalu ditampilkan padanya adalah kisah pada satu abad yang lalu, ia bisa membayangkan bagaimana cerahnya kehidupan di luar sana daripada ia yang selalu hanya melihat sedikit sisi matahari yang mengenai rumahnya.
"Kalau boleh aku akui, rumah ini seperti bisa memberikan apa pun kecuali makanan untuk manusia. Maksudnya, ya walau ada perkebunan di sini, kalian tidak bisa hanya makan tanaman saja. Tubuh kalian layaknya tubuh orang pada umumnya membutuhkan kandungan yang ada pada hewan dan produknya," kata Sean kemudian mengusap dagunya. "Kalau dipikir, di sini tak ada hewan ternak. Mungkin karena takut rumah ini akan terbongkar jika ada hewan biasa keluar hidup-hidup dari hutan ini?"
"Tidak bisa menebak-nebak, aku ini sudah ditipu selama belasan tahun dan yah gara-gara omongamu aku jadi setuju. Lelaki itu juga ingin menghindari hal-hal kecil yang bisa membuat rencananya bisa gagal," balas Len yang menatap ujung langit sebelah kiri.
"Mau bilang bodoh juga tapi karena dikurung dan dicuci otak jadinya aku enggak bisa bilang begitu,"