BAB 18 | KEMBALI BERTEMU

1640 Kata
  Hanya karena mencuri makanan dari restoran ternama di kotanya, Sean dikejar-kejar oleh prajurit yang kebetulan sedang berjaga di wilayah tempat Sean melakukan pencurian tersebut. Teriakan seorang wanita yang tengah asik memakan daging sapi dan kehilangan makananya setelah kembali dari toilet lah yang menjadikan para prajurit mendekat karena teriakan tersebut bukan hanya mendapat perhatian dari orang-orang sekitar, namun mereka juga. Wajah Sean yang biasa dalam poster buronan menjadi hal pertama yang dilihat dari prajurit-prajurit tersebut. Ah, ternyata wanita dari klan werewolf itu tidak terlalu mengenal Sean dan hanya berteriak 'pecuri' karena posisinya saat itu sedang kelaparan dan marah ketika makanannya diambil. Ditengah pelariannya yang cukup gesit melewati ramainya kota pada saat itu, ia tidak sengaja ia menabrak bahu seseorang ditengah-tengah dirinya sedang kabur dari kejaran prajurit. Bahu mereka yang saling bertumbuk itu terasa begitu sakit, ampai orang yang dia tabrak berteriak marah, Sean hanya meminta maaf dan kembali kabur lagi. Padahal ia juga tadi memekik pelan karena tabrakan di bahu mereka cukup keras dan sakit. Namun, ia tak memedulikannya dan terus menerus berlari. Kecepatan berlarinya tidak main-main, setara dengan atlit maraton yang biasa memenangkan juara utama. "Shitt! Mereka gak mau ngebiarin gue bisa kabur dengan tenang kalau kayak gini. Aelah, gue laper dan pengin makan daging doang sumpah. Mana sekarang mereka ngejar gue ada yang pake kuda lagi," gumam Sean di dalam hatinya, kakinya tetap bergerak dengan cepat. Dengan sangat terpaksa pula ia bahkan harus berpisah dengan Lovaroz karena seharusnya mereka bertemu hari ini di tempat perkumpulan, namun Sean justru yang tidak sengaja mencari-cari masalah tengah harusnya ia melakukan pertemuan penting tentang pencurian mahkota langka. Ternyata perut yang lapar ditengah uang yang tidak dimilikinya bisa membuat masalah. Masih dalam pengerjaran, Sean hanya berlari dan terus menerus lari. Melewati pedesaan yang ramai hingga sepi, sampai-sampai kakinya mulai terasa lelah berlari. Ia tidak ada pilihan lain selain kabur, mencari tempat persembunyian cukup sulit saat ini. Jalan terakhir dan sulit yang ia tolak adalah memasuki hutan tergelap yang berada di samping kerajaan. Awalnya hutan tidaklah terlalu gelap saat baru dilangkahi masuk, masih ada cahaya matahari yang melewati celah dedaunan. Bila semakin masuk, Sean bisa melihat ia mulai tidak mendapatkan sinar. Hal itu dimanfaatkan olehnya untuk mencoba mengecoh para prajurit dengan melewati celah pohon yang besar. Hingga prajurit akhirnya menghentikan pengejaran karena mereka kehilangan jejak Sean dan jika semakin memasuki hutan mereka sulit kembali keluar karena jalan terlihat gelap dan semua pohon berbentuk sama. Sean berlindung di balik pohon dan memastikan prajurit tidak ada lagi di sekitarnya. Sayangnya, ia melihat sekeliling dan menjadi bingung jalan mana yang tadi ia lewati karena semua terlihat sama. Karena tidak tahu jalan yang benar, Sean memutuskan untuk jalan lurus saja dengan langkah kaki yang begitu cepat. Walau langkahnya cepat, ia merasa sudah berjalan dengan sangat lama di sana. Hembusan angin yang entah berasal dari mana membuat tubuhnya bergidik ngeri. Ia terus menyusuri hutan, dedaunan yang banyak jatuh ke tanah serta patahan ranting yang berbunyi ketika dia injak. "Tapi sepertinya gue pernah ke sini," kata Sean yang merasa dejavu. Sebuah pohon besar yang ia lewati membuatnya terkejut begitu tahu fakta aslinya. Ternyata pohon yang ia sentuh hanyalah sebuah transkrip gambar yang ditunjukan seperti pohon asli. Padahal di balik itu hanyalah tanah yang mulai kosong namun daun dari pohon di samping masih menutupi sinar matahari. "Woah." Sean bergumam takjub. Ia menembus pohon itu, melihat di balik teknologi yang belum ia lihat sebelumnya ternyata adalah jalan menuju ke arah suatu tempat. Matanya menangkap jalanan mulai berubah. Lama ia berjalan kaki akhirnya melihat sebuah tempat yang mulai terang daripada sisi hutan yang ia injak. Benar adanya, ia tersenyum dan berlari kembali menuju tempat yang terang tersebut. Ia berhenti di tepian. Melihat apa yang ditangkap melalui pengelihatannya sendiri, sebuah rumah— berdiri sendirian di tengah hutan gelap itu, di atasnya ada kumpulan awan yang selalu ada di sana selama bertahun-tahun lamanya. Halaman depan yang berisikan kebun sayuran kecil dan taman indah berisi bunga-bunga indah. Ada pagar yang membatasi wilayahnya. Rumah tersebut terlihat luas, Sean melihat panjang rumah tersebut tiga kali lipat rumah aslinya di desa. Ia bertanya-tanya, siapakah pemilik rumah ini? Dan terlihat rumah ini berpenghuni karena ada mesin penyiram tanaman yang berjalan secara otomatis. "Siapa pemilik rumahnya, ya?" Monolog Sean. Tangan itu tanpa sadar membuka pagar dan masuk ke dalam halaman rumah tersebut dengan langkah kecil. Masih saja terkagum, Sean memilih berkeliling melihat bagian luar rumah itu dengan tangan bertautan di belakang tubuh. Mulai dari corak motif, tatanan bagian luar, hingga bagaimana nilai dari rumah tersebut yang diperkirakan bisa trilyunan. "Kalau dari bentuk rumahnya kayak bukan rumah manusia, biasanya bentuk kayak gini punya bangsawan vampire sih." Dinding yang dia sentuh dirasa mirip dengan rumah salah satu bangsawan vampire yang ia datangi. “Iya, sih. Tapi gue gak mau berburuk sangka. Aneh juga, rumahnya bagus, tapi kok bisa tinggal di dalam hutan ini ya? Makhluk macam apa yang mau tinggal di sini? Kata vampire sama werewolf aja mereka gak mau tinggal. Yah, maklum, mereka kan kaya raya sekarang.” Alangkah terkejutnya ia karena suara kenop pintu rumah yang diputar, Sean yang berada di samping dari rumah tersebut langsung menyembunyikan diri di belakang sebuah kotak besar dengan gerakan yang tidak akan menimbulakn suara, sedikit kotak tersebut ia buka untuk dia intip. Ia melihat seseorang keluar dari sana tengah terlihat menangis dan marah dalam satu waktu. Sebuah buku dilemparkan ke tanah, teriakannya pecah. Entah mengapa suaranya tidak seserak orang yang sering ia temui, orang ini terdengar lebih lembut bahkan hanya suara teriakannya saja. Namun, penampilannya masih sama dengan banyak orang. Rambut pendek dan penampilan yang cukup manly dengan gaya kasual. Apa benar kalau orang ini adakah vampire? Para vampire akan mengenakan tanda di lengan kanannya seperti membentuk pertanda kalau itu adalah mereka. Begitu pula para werewolf. Sean masih memperhatikan, orang tersebut masih marah-marah dan melampiaskan segala isi hatinya yang dibuat kecewa oleh sesuatu. Ia juga menyebutkan kata 'Papa' dan 'Clar' dalam ucapannya. "Brengsekk kau, Clar! Kamu membunuh Papa kandungku! Ugh," katanya. Setelah mempertimbangkan sejenak, Sean memutuskan untuk mendekatinya. Ia berjalan dengan sangat hati-hati dan berdiri tepat di belakang orang tersebut. Ia menengguk salivanya, satu tarikan napas kecil dan dihembuskan pelan, baru ia memberanikan diri untuk berbicara. "Nangis aja gak pa-pa, kalau emang kesal atau marah lampiasin aja semua isi hati daripada dipendam. Nanti lama-lama jadi penyakit kalau terlalu dipendam," kata Sean. Karena suaranya itu, orang yang di depannya samula berjongkok menjadi kaget dan ia menoleh serta refleks berdiri memundurkan badan. "Kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya. Orang itu, Len, langsung mengambil gunting rumput dan mengarahkannya pada Sean. "Jangan macam-macam di sini, aku bisa bikin kamu gak bisa berbuat macam padaku." "Wow, tenang dulu. Aku tersesat, oke? Dan gak sengaja nemu tempat ini, ternyata ada bumbu manipulasi dengan teknologi hebat makanya awalnya keliatan biasa aja," kata Sean ia mengulurkan tangannya pertama untuk menurunkan gunting rumput itu supaya tidak lagi mengarah ke arah dirinya— terutama leher. Ia melihat bagian leher Len saat menangkap sebuah kalung dengan liontin tak asing dilihatnya. Len langsung menutupi kalungnya dan membuat Sean tersadar bahwa tindakannya membuat Len merasa tidak nyaman. "Oke, sorry kalau bikin risih. Nama aku Sean Lovaroz, aku pencuri tapi posisi aku di sini adalah orang tersesat. Oke?" Sean memperkenalkan dirinya sendiri. kok malah jadi pake aku-kamu sih??? "Namaku Gaelen, panggil saja Len." Len? Nama yang tidak asing. “Okelah, Len. Kalau aku boleh tau, kenapa bisa kamu tinggal di sini?” tanya Sean, ia memperhatikan sekelilingnya lagi. “Hutan ini tidak cocok dihuni oleh manusia maupun para makhluk lain, karena hal ini, mereka bisa tersesat dan tak bisa keluar.” Dahi Len mengerut. Pertanyaan ini kenapa harus ditanyakan padanya yang juga sedang bertanya-tanya. Daripada tidak menjawabnya sama sekali, maka Len kemudian menjelaskan sesuai dengan yang ia katakan secara spontan. “Sederhana, aku juga tidak tahu.” Ia menghendikan bahunya. “Bukan urusanku sebetulnya tentang kenapa aku bisa tinggal di sini. Pertanyaannya, hutan ini kenapa begitu menyesatkan orang-orang? Tapi, pa⸺ maksudku ada orang gila yang  membesarkanku yang bisa melewati hutan ini sampai ke luar dengan selamat. Entah trik apa yang dia pakai sehingga sudah ratusan kali ia mondar mandir keluar dan kembali ke rumah ini.” “Papamu pasti bukan orag sembarangan di kota. Tadi, namanya siapa? Clar, ya? Tapi, aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Aku ini memang pencuri, tapi hobiku adalah membaca koran rakyat yang berisikan gosip dan perkara pemerintah, aku tahu siapa orang-orang di balik pemerintahan kerajaan ini,” kata Sean juga menjelaskan tanggapannya. “Sumpah, aku tidak peduli padanya apakah dia orang penting atau bukan, tapi aku ingin membunuhnya dan menghukumnya dengan tanganku sendiri. Dia sangat kotor dan begitu licik melakukan tipuan ini. Huh, rapi juga cara bermainnya.” “Dinginkan pikiranmu dulu, Len.” Sean menggigit bibirnya. Ingin mengajukan pertanyaan ini tapi ia tidak mau mati juga. “Eum, kalau kamu berkenan dan mengizinkan, boleh aku menginap di sini sementara waktu? Maksudnya, menumpang tidur dan makan. Aku lupa bagaimana jalan untuk kembali, tadi aku berjalan selama berjam-jam lamanya dan takut tersesat lagi.” Len berpikir sejenak. Izin menginap? Berdua dengan seseorang yang belum ia kenal sebelumnya. Apakah aman baginya jika mengizinkan Sean untuk tinggal bersamanya di sini? “Aku bakal bersihkan rumah dan melakukan pekerjaan di sini! Jadi, kumohon ya? Aku juga akan menuruti keinginanmu kalau kamu mau membiarkanku untuk tinggal di sini. Apapun, tapi ya tetap masuk akal bagiku untuk memenuhinya.” Tatapan Sean yang terlihat sangat memohon dan putus asa, Len akhirnya mengizinkan Sean untuk tinggal di sana. Namun, ia juga mengajukan syarat yang harus dipenuhi serta peraturan yang harus ditaati oleh Sean selama tinggal di sana. Syarat dan peraturan tersebut cukup banyak, namun Sean dengan yakinnya berkata bahwa dia akan menerima dan melakukan semua itu dengan baik. Dan Sean sangat senang bahwa kini ia tidak perlu lagi memikirkan nasibnya jika terpaksa melewati hutan itu lagi karena Len bersedia membiarkannya untuk tinggal bersama di rumah asli milik mendiang ayah kandungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN