Sudah pagi, alarm berbunyi kencang membangunkan Len yang masih terbaring di atas sofa semalam. Ia masih mengantuk dan membalikkan badan setelah mematikan alarm tersebut. Namun, mengantuk saja tidak akan membuat dirinya bisa tidur kembali setelah bunyi keras lain yang berasal dari perut serta rasa lapar yang menyerang membuat dirinya mau tidak mau harus bangun dari sofa dan berjalan ke arah kamar mandi terlebih dahulu.
Dirinya mencuci muka sampai kesadarannya mulai kembali, barulah ia berjalan menuju dapur untuk memasak sesuatu yang bisa dijadikannya sarapan pagi itu. Tidak mungkin ia akan makan roti walau sangat ingin memakannya pagi itu, roti di sana sudah berjamur karena melebihi tanggak kadaluwarsa— akibar Clar yang juga biasa makan nasi daripada roti.
Pilihan Len jatuh pada mie cup yang tinggal memasukan air panas dan memanaskan keju mozarella menggunakan microwave supaya lebih praktis. Aroma bumbu mie yang banyak mengandung micin itu sudah membuat perutnta semakin keras berbunyi.
Setelah makanannya matang, Len memakannya sambil berjalan untuk membuka satu persatu tirai dan mematikan lampus secara otomatis menggunakan suaranya. Rumah ini memang sebagian sudah canggih walau belum sepenuhnya, masih ada beberapa perabotan kuno juga yang disimpan dengan rapi di gudang.
Hari pertama tanpa Clar, Len mulai melakukan hal-hal yang disukainya. Dirinya kembali melakukan latihan panah ringan di area terbuka dan bukan lagi di dalam gudang yang pengap itu.
Ia terlihat lebih ceria daripada sebelumnya. Mata cantik itu juga membentuk eyesmile yang mempesona, walau ujung matanya ketika fokus terhadap titik tujuan yang akan dipanah seperti mata elang yang segera melahap mangsa terbesarnya.
Satu tangan melepas anak panah dan mengenainya tepat sasaran. Usai puas berlatih, ia beralih ke perkebunan kecil yang kini berada di sebuah rumah kaca dengan pencahayaaan buatan untuk pengembangan dan pertumbuhan tanaman di sana. Subur dan terlihat makmur, begitulah yang dilihat oleh Len. Beberapa tanaman sudah berbuah, kini Len memetik hasil yang telah matang untuk dibawanya ke dalam rumah dan memakannya.
Mencuci dengan bersih meskipun ia menggunakan bahan alami tanpa pestisida maupun obat-obatan pengusir hama lain, tetap saja dirinya ingin memastikan bahwa apa yang ia makan haruslah dalam keadaan bersih. Kotor akan membuatnya merasa takut karena ia takut terkena gangguan pencernaan bila makanannya kotor.
"Selesai, saatnya makan cemilan sebelum makan siang nanti."
Len membawa beberapa buah ke ruang tengah. Di sana sudah banyak buku yang dibawanya dari perpustakaan dalam rumah. Dikarenakan dilarang makan di dalam perpustakaan, maka membawanya ke ruang tengah adalah opsi yang menurutnya benar.
Ia makan dengan nikmat sambil membaca beberapa buku tentang sejarah peradaban dan kerajaan pada masa lampau yang menurutnya cukup menarik untuk dibaca.
Ada pula kisah mitologi yunani yang menjadi bacaan kesukaannya karena para dewa dewi yang hidup di Greek Place sangatlah menawan dengan peran masing-masing yang luar biasa. Kisah mereka juga tak kalah unik, apalagi anak beberapa dewa yang ada menjadu musuh ataupun manusia terkuat sekalipun keturunan asli dewa. Tentu saja, Dewi Athena adalah kesukaannya. Dewi kebijakan yang membawa keadilan bagi dunia. Ia ingin menjadikan dirinya juga sebagai Dewi Athena dalam hidupnya sendiri. Menurutnya, usianya sekarang harus dijadikan patokan untuk melakukan hal-hal yang bersifat bijak.
Apalagi Len adalah perempuan cerdas. Ia diyakini memiliki IQ lebih dari 120, dikatakan hampir setara dengan IQ Suez dan juga Clar. Ia gemar membaca dan menambah kegiatan baru. Clar saja sampai kagum dan takut dalam satu waktu, sebab kecerdasan Len ini takut membuat rencananya bisa gagal karena ketahauan. Keingin tahuan Len juga cukup tinggi, beberapa pertanyaan sengaja dialihkan topiknya karena menyangkut terkait program sains milik Clar.
Dug!
Suara benda jatuh berasal dari kamar Clar. Karena posisi ruang tengah dekat sekali dengan kamar Clar, Len otomatis menoleh ke arah sana. Ia jadi berhenti mengunyah dan berdiri untuk melihat benda apa yang jatuh.
Sudah berdiri di depan pintu, ia malah jadi takut dan ragu untuk melihatnya. Ayolah, bukan karena apa-apa, coba pikirkan kalau Clar tau bahwa Len sudah masuk ke kamarnya dan ada benda yang hilang. Siapa yang akan kena marah? Tentu saja, Gaelen. Tapi, kalau benda itu tidak diletakan di tempat yang seharusnya, Len juga akan tetap dicurigai. Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat apa yang jatuh.
Begitu membuka pintu menggunakan kunci cadangan rumah yang ia pegang, pandangannya tertuju pada sebuah buku yang jatuh tak jauh dari rak. Buku tipis itu sukses membuat suara yang seolah buku setebal 1000 halaman lah jatuh.
Len mendekat secara perlahan, matanya mulai melihat tulisan berawalan S yang besar dari kejauhan hingga begitu tubuhnya sudah berada di depan buku tersebut dan ia berjongkok, tulisan S dan z di akhirannya dan huruf tengah yang menghilang.
"Saoz? Gak mungkin, malah mirip kayak saos. Hmmm, ini bukunya papa atau bukan, ya? Belum pernah liat," gumam Len membolal balik halaman depan dan belakang buku tersebut. Hanya corak berwarna coklat lusuh saja yang ia lihat, tidak terlalu menarik baginya.
Jadi, ia memutuskan akan menaruhnya di tempat yang diperkirakan tempat aslinya.
Saat tangannya sudah terulur untuk menaruh, ia berhenti. Tiba-tiba pikirannya berubah dan ia jadi ingin membaca isi buku tersebut. Buku yang awalnya tidak menarik, namun karena ia sedang minat-minatnya menbaca semua bacaan, ia akhirnya memutuskan akan membacanya. Dan setelah membaca, baru ia akan mengembalikan buku milik Clar itu ke tempat asalnya yaitu kamar Clar.
Karena sedang membaca buku lain, Len berniat membaca buku Clar setelah ia menyelesaikan dua buku lain atau paling tidak nanti malam atau besok bila ia tidak lupa untuk membacanya. Karena sekarang ia sedang seru membaca tentang Lucifer dan beberapa mitologi yunani terkait kaum iblis yang menjadi musuh bebuyutan manusia.
Saat ini Len belum menyadarinya, buku yang dibawanya itu sesungguhnya adalah milik Suez yang dicuri oleh Clar. Buku itu adalah buku lain selain tentang bagaimana wanita dan apa yang terjadi dengan mereka. Buku tersebut adalah curahan hati seorang Suez dan Mega yang menantikan seorang anak. Seorang anak perempuan yang juga ia ingin menyelamatkan dunia tanpa perlu kedepannya akan diakui, ia tidak mau sombong dan merasa dirinya adalah Tuhan. Tidak, di dalam sana nanti akan ada sebuah catatan dan pengakuan Suez yang akan membuat Len berubah. Pikirannya yang semula mengagumi seorang Clar sebagai ayah yang baik selama ini, berubah drastis.
***
Sarapan bersama antara Clar dengan Calr cukup hikmat tanpa banyak pembicaraan. Hanya beberapa pertanyaan dilontarkan oleh Calr pada Clar mengenai kondisi rumah Clar sekarang yang sedang ditinggalkan. Dan juga mengenai makam atah Clar yang sudah dipindahkan akibat lahan sebelumnya sudah diratakan untuk dibangun gedung lain dan pemakaman elit tengah dibangun di dekat kerajaan untuk beberapa pahlawan dan para bangsawan ternama serta sedikit rakyat.
Selesai melahap makanannya hingga habis tanpa sisa, Clar menengguk minumannya sembar menatap Calr yang masih memasukan beberapa suap sarapan.
Suara deheman berasal dari Clar sukses membuat sang lawan bicara di hadapannya menoleh karenanya. Clar mengecek suaranya yang agak serak hingga menjadi biasa. "By the way, ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo, Calr," kata Clar.
"Mau ngomongin apa emangnya, Bro? Bentar, gue beresin dulu meja makannya baru kita bahas apa yang bakal lo mau omongin sama gue," kata Calr.
Calr mempercepat gerakan tangannya dan membereskan meja makan yang semula berisikan piring kotor ke wastafel, ia juga mencuci perlengkapan makan tersebut kemudian meletakannya ke tempat semula dengan rapi. Selesai melakukannya, baru ia kembali ke meja makan dan duduk di hadapan Clar yang sudah dari tadi tak sabar menunggu dirinya.
"Apa yang mau lo omongin sama gue?"
Dua tangan milik Clar dia taruh di atas meja sambil ditautkan satu sama lain. "Tentang tujuan asli gue ke sini, ada kaitannya sama penemuan sains yang dicari-cari oleh para ilmuan di kota. Apa lo bisa minta akses gue buat bisa ketemu sama mereka?" tanyanya.
Seketika Calr bingung. "Lo mau ketemu sama para ilmuan di pusat laboratorium? Agak susah kalau mau ketemu sama mereka karena lo tau kan mereka masih sibuk sama kegialaan eksperimen di tengah-tengah situasi kayak gini. Perintah raja bikin para ilmuan kerja rodi tiap malam," timpal Calr yang menjelaskan keadaan.
"Iya, gue tau itu. Makanya, tujuan gue ke mereka juga bukan semata-mata mau ngobrol ringan doang. Ini masalah serius, dan gue yakin para ilmuan bakalan tertarik sama apa yang nanti gue presentasikan dan demonstrasikan modelnya," Kembali Clar yang paham kondisi ikut menjelaskan maksudnya walau masih belum secara eksplisit. "Bantu gue, ya? Kalau gue bisa berhasil ngelakuin ini, lo bakalan dapet imbalan yang besar karena udah bantu gue. Termasuk dalam biaya pengobatan ayah lo agr bisa sembuh total di rumah sakit pusat yang berkelas khusus bangsawan Duke dan lainnya, Calr. Please, bantu gue ya?"
"Kalau mau ada akses sama para ilmuan sebenernya gampang-gampang susah. Gampangnya, mereka biasanya tertarik sama hal-hal yang dirasa menarik untuk dibahas. Tapi, susahnya karena waktu mereka yang diperas demi memenuhi ekspetasi raja. Jadi, gue bakal bantu sebisa mungkin. Besok karena gue udah berangkat kerja, lo bakal gue kabarin begitu gue bisa dapet izin orang luar yang mau ketemu sama mereka. Izinnya juga agak susah, harus ketemu kepala bagian laboratorium dan kepala pengawasan pusat. Ribet, tapi karena kayaknya lo dalam keadaan mendesak, gue bakal coba pastiin kalau lo bisa masuk ke sana dan ketemu sama mereka."
Clar senang mendengar bahwa sang kawan akan membantu dirinya. Ia tidak akan melupkan janji jika dirinya sudah berhasil mendapatkan pengakuan dari para ilmuan pusat. Melihat memang Calr juga hampir putus asa karena kondisi sang ayah yang tidak kunjung membaik akibat kecanduan alkohol yang semakin parah.
Dalam pikirannya saat ini, Clar melupakan sejenak mengenai keadaan Len di rumah di dalam hutan sana. Dirinya yakin kalau Len yang penurut akan baik-baik saja seperti biasa saat ditinggal sendirian di dalam rumah. Kunci laboratorium rumah sudah diamankan dengan baik di tempat yang mungkin tidak akan Len sentuh.
"Kayaknya gue mau jalan-jalan dulu ke sekitaran sini. Gue jalan sendirian aja, kalau mau nitip sesuatu hubungin gue lewat gadget ya," kata Clar. "Pamit dulu, nanti siangan gue baru balik ke sini. Sekalian mau cari penginapan terdekat."
"Oke, hati-hati di jalan, Bro."
Setelah berpamitan akan keluar, Clar mengambil ponsel dan gadget lainnya terlebih dahulu. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali ke sekitaran tempat tinggal Calr yang dekat dengan pusat kota yang sesungguhnya.
Kawasan kota yang sekarang ini merupakan bagian dari pusat perdagangan antar wilayah lokal saja. Untuk perdagangan internasional, ada di dekat pusat kerajaan karena perlu pengawasan yang cukup ketat untuk menghindari sindikat perdagangan ilegal dan juga kecurangan dari negara lain.
Sistem kerajaan yang ditata dengan baik ini cukup membuat Clar terkesan. Meskipun ia tahu masih banyak memprotes karena kembarin kenaikan pajak yang dirasa tidak adil bagi rakyat. Terutama para kaum manusia yang tengah mengalami krisis.
Clar tidak bisa meyakini hal lain selain melihat kesenjangan antara rakyat biasa dengan para bangsawan. Belum lagi kaum elit untuk klan vampire dan werewolf dengan bangunna rumah megah berdiri kokoh di samping wilayah pemukiman agak kumuh. Padahal Clar bisa menyimpulkan raja masih bersikeras pada urusan tertentu hingga mengabaikan kritikan rakyat mengengah bawah yang diambang kepunahan.
Intinya, Clar masih belum bisa mengatakan bahwa kerajaan sudah sangat baik. Hanya baik. Yah, memang menyelamatkan umat manusia lebih penting daripada memperhatikan ekonomi rakyat menengah bawah yang sudah hampir tercekik.
"Hmm, para pedagang di sini kebanyakan adalah para bapak-bapak yang sudah berumur sekitar 60 tahun. Mereka memang seharusnya sudah beristirahat, mau bagaimana lagi, keadaan mendesak. Di sini, yang paling muda umurnya hanya sekitar 45 tahunan sepertiku." Gumam Clar yang melihat samping kanan kirinya berisi para pedagang berbagai barang. Mulai dari pakaian, makanan, barang antik hingga oleh-oleh kerajaan.
Di tengah dirinya sedang memperhatikan keadaan sekitar, bahunya ditabrak oleh seseorang yang sedang berlari tanpa memperhatikan ke arah depan.
"Heh! Siapa yang menabrak gue?!" Ia menggeram kesal karena ditabrak cukup kencang.
"MAAF OM! SAYA PERGI DULU! HATI-HATI DI BELAKANGNYA ADA LAGI!"
Seseorang kembali berteriak dan ia masih kembali berlari karena sedang dikejar-kejar. Benar saja, di belakangnya ada kumpulan prajurit yang tengah mengejar orang itu. Clar langsung menepi karena tidak mau ditabrak lagi karena cukup sakit sekali saja.
Ia kembali berjalan sambil memegangi sebelah bahunya yang sakit itu. Ketika di tengah perjalanannya menyusuri daerah sekitar, ia berhenti sejenak dan melihat kembali ke arah belakang. Sesuatu yang mengganjal masuk ke dalam pikirannya tanpa dia minta mengenai orang tadi.
Setelah dipikir cukup lama, ia membelalak matanya karena menyadari satu hal.
"Dia seperti seumuran dengan Len. Kalau dipikir tidak mungkin dari wikayah lain merantau ke pusat kota karena pelarangan transmigrasi untuk menghindari kota padat penduduk saat ini dikarenakan kebiajakan dari kerajaan. Kalau begitu.. anak siapa dia, ya? Kerajaan ini hanya tersisa dua orang pada tahun kelahiran Len. Nyonya Mega dan sang permaisuri."
Kembali, Clar berpikir hingga memegangi dagunya dan sebelah tangan berkacak pinggang. "Masa iya dia pangeran kerajaan? AH, tidak mungkin. Raja bilang pangeran belum pernah keluar menemui rakyat sampai detik ini. Gue aja belum tau wujud pangerannya kayak gimana."
Daripada memikirkan hal yang bisa membuat kepalanya semakin pusing, Clar melanjutkan perjalanannya.
Tanpa dia tahu bahwa memang tebakan tersebut yang digumamkannya memang benar. Seseorang yang menabraknya tadi adalah Sean, pangeran dan anak Raja Rhageo— yang dibuang 18 tahun yang lalu karena ia tak diinginkan.