BAB 16 | CLAR PERGI

1400 Kata
Sore hari menjelang matahari tenggelam dari balik gunung yang pemandangannya sama sekali tak bisa terlihat karena tingginya pohon yang begitu menjulang, dan sebentar lagi akan berganti malam, Len mengantarkan Clar yang sudah akan pergi ke kota dalam waktu yang cukup lama tersebut. Gadis remaja itu mengucapkan selamat tinggal untuk sementara waktu dan meminta Clar pulang dengan selamat saat kembali, ia juga berjanji bahwa keadaan rumah akan kembali sama saat Clar pergi maupun sudah pulang. Tidak akan ada kehancuran atau kerusakan barang milik sang ayah, ia sudah bersumpah di depan lelaki tersebut. Fakta bahwa dirinya sebetulnya sangat ingin ikut pergi ke kota dan ingin melihat bagaimana sebenarnya kota itu melalui mata kepalanya sendiri namun sudah pasti Clar tidak akan mengizinkannya dan menolak hal itu secara mentah-mentah. Pasrah adalah jalan yang ia pilih, selalu. Ia penasaran juga maksud  Clar pergi untuk urusan yang sangat penting dan bertemu teman lama membuat Len bertanya-tanya. Jadi, ayahnya juga memiliki seorang teman? Namun, memang diam dan memendam keinginan itu adalah jalan terbaik baginya. Setelah Clar sudah menghilang dari pandangannya, lampu rumah dinyalakan agar kegelapan tak memeluk diri Len saat matahari sudah berada di sisi lain bumi untuk melanjutkan tugasnya. Pintu rumah dikunci rapat, penghalau dan pengecoh sinyal sudah diaktifkan. Sudah dipastikan bahwa rumah tersebut aman bagi Len, tidak akan ada makhluk lain yang akan mengganggunya. Saat tidak ada Clar, rumah akan dikuasai penuh oleh Len. Ia bermain-main sepuasnya tanpa peduli lagi sebuah latihan. Entah apa dia harus bersyukur atau masih merasa tetap sedih, tapi kebebasan  ini jarang ia dapatkan. Hari dan hadiah ulang tahun terbaik. Menjelang Clar kembali, ia akan menata rumah ini supaya kembali seperti semula. Ia langsung merebahkan diri di atas sofa, mengambil satu layar monitor dan menonton sebuah film yang langsung ditampakan dengan sekali usap saat sudah menentukan judul film yang akan dia tonton malam itu. Tidak ketinggalan cemilan dan minuman ringan yang akan menemaninya dalam menonton sebuah film bergenre romantis. “AAAAAA GRACE JANGAN TINGGALIN BRIAN!” Ia memekik di pucak konflik, mengigit bantal ketika salah satu karakter utama meninggalkan tokoh utama lainnya. Sungguh, bagi Len film romansa sering membuat perasaannya campur aduk meskipun film yang ia tonton ini adalah film yang sangat lawas. Ayolah, bahkan jarak perilisan film ini dengan kelahiran Len hampir berusia satu abad lamanya. Karena saat itu wanita masih mencukupi bermain film, jadi masih ada yang memproduksinya. Sementara di jaman sekarang, para vampire dan werewolf lah yang menguasai perfilm-an dengan genre supranatural dan masih berkaitan dengan bangsa mereka tanpa ada unsur menyinggung pihak lain. Film berdurasi 120 menit itu telah selesai, di akhiri tangis Len yang pecah karena dua karakter yang tidak dapat bersatu. Ah, mengapa film romansa yang ia tonton semuanya sad ending? Sangat curang kalau Clar hanya menyimpan semua film yang serupa padanya. Sejujurnya, film romansa bukanlah yang ia kagumi. Justru genre action yang ia sukai karena melihat aksi para tokoh-tokoh di dalamnya dalam beradu fisik sampai Len mempelajari gerakan tersebut untuk dipraktekan dalam latihannya. Film denga tema dark selalu memiliki plot yang menarik, terlebih mereka menunjukan bagaimana kehidupan kota yang di mana Len sangat ingin tahu lebih banyak tentang itu. Mengingat ia juga hidup tanpa berinteraksi dengan laki-laki lain selain Clar sebagai ayahnya, maka ia memang tidak begitu tau bagaimana jatuh cinta atau kehidupan romantis yang sesungguhnya. Apalagi umur legal, katanya umur yang diperbolehkan melakukan hal-hal yang sudah cukup pantas menjelang masa dewasa. “Beneran penasaran gimana kehidupan asli di perkotaan. Kayaknya papa enak banget kalau udah pergi ke sana. Kalau di kota isinya orang-orang jahat, kenapa papa masih suka pergi ke kota, ya? Aneh,” gumam Len memeluk bantal sambil menekuk kedua lututnya. Semakin dipikir, kenapa ia sering sekali berpikir seperti ini. Lebih mirip pikiran lelah dan ada rasa ingin memberontak untuk bisa kabur dan melihat kota. Apalagi kalau ia sedang sangat lelah jika usai melakukan latihan ketat bersama Clar. Dipikir juga tidak masuk dalam otaknya, kalau Len terus menerus hidup di dalam rumah di tengah hutan ini, sama saja Clar hanya mengurungnya dan menunggu nyawanya dicabut oleh sang malaikat bukan? “Kalau misal kabur sehari ke kota, papa gak akan tau kan?” Ia kembali bergumam pelan. Sebuah senym tipis terukir di bibirnya. “Kayaknya bukan hal yang buruk.” Gadis itu tersenyum tipis, ia membayangkan hal memberontak dengan kabur dari rumah untuk pergi ke kota. Pasti akan sangat seru dan menantang, dan yang ia tonton juga bisa diterapkan dalam dunia nyata. Len menyisir rambutnya kebelakang dan membaringkan tubuhnya hingga kini tatapan matanya hanya tertuju pada langit-langit rumah.   --OOO—   Perjalanan melewati hutan memerlukan waktu tiga jam berjalan kaki. Untungnya Clar tau rute aman yang bisa dia lalui tanpa harus repot takut berjalan dalam hutan yang gelap karena lebatnya dedaunan hingga tak mampu menembus sinar matahari di sana. Apalagi dirinya pergi saat menjelang matahari akan tenggelam. Bahkan tidak ada orang yang akan tau bahwa itu juga disebut jalan pintas terbaik. Dengan tas berisikan baju seadanya dan beberapa uang yang akan digunakannya untuk membeli makanan dan menyewa penginapan di sana, Clar berharap tujuannya bisa mudah tercapai sesuai dengan rencana yang ia susun selama tujuh belas tahun lamanya. Ada seseorang yang kebetulan namanya agak mirip dengannya bernama Calr, ia adalah mantan atlit terjun paying sama dengan dirinya dan juga menjadi asistem para ilmuan pusat kota saat ini. Dia cukup terampil dan sering memiliki ide yang jenius walau sering malu untuk mengungkapkannya. Clar suka dengan cara penyampaian Calr saat berkaitan dengan dunia sains. Banyak hal baru yang bisa membuat tercengang berasa dari otaknya, hanya masih belum bisa secemerlang mendiang Suez. Clar mampir ke rumah Calr yang letaknya di dekat hutan. Berjumpa lagi dengan sang kawan yang selalunya sibuk membantu para ilmuan, kali ini Clar benar-benar ingin mengobrol banyak mumpung Calr sedang mendapatkan jadwal cuti. Ia juga bisa menanyakan terkait bagaimana cara agar bisa bertemu dengan ilmuan pusat ketika kondisi di kota semakin kacau. “Apa kabar, Bro? Udah lama banget akhirnya balik ke sini, beneran lo kayak ilang setengah tahunan semenjak kita ngobrol hari itu,” sapa Calr langsung memeluk kawannya dengan erat karena ia rindu dengannya. Clar ini dulu memang sangat dekat ketika masih bersama di komunitas terjun payung. “Baik, gimana kabar ayah lo? Masih suka mabuk?” Calr menghela napas kasar. “Hhhh, ya gitu deh. Tuh orang tua batu banget kalau dibilangin sama gua. Udah tau kesehatannya tambah buruk, masih aja demen sama alkohol. Kalau gue sembunyiin tuh minuman masih aja percuma rasanya.” Clar menggeleng-geleng mendengar penuturan kawannya. Yah, orang yang sudah keras kepala akan sulit diberi tau sesuatu yang benar karena menurut mereka sendiri apa yang dilakukan adalah hal yang paling benar. Tetapi, ayah Calr memang memiliki kondisi kesehatan yang cukup buruk dengan komplikasi jantung, paru-paru serta ginjal yang sudah mulai rusak secara perlahan akibat minuman yang rutin diminumnya setiap hari. Kalau sudah rusak, bahkan operasi terbaik belum dapat menyembuhkannya. Setelah menyajikan teh untuk mereka berdua, Calr kembali duduk sementara Clar mengambil cangkir teh untuknya dan menyesap pelan. “Menurut gue sih, akan lebih baik kalau dia dirawat aja di rumah sakit. Pecandu alkohol biasanya susah buat berhenti kecuali ada terapinya. Walau gue tau dia minum itu karena masih gak terima ibu lo meninggal, tapi jalan terbaiknya itu sih. Daripada lo juga tambah repot ngurusin dia, ditambah kerjaan lo tambah padat, kan? Kalau dia memberontak, panggil petugasnya ke sini,” jelas Clar yang memberikan saran-saran terbaiknya. Calr mempertimbangkan saran tersebut dan mengucapkan terima kasih pada Clar, kemudian topik obrolan mereka berganti pada hal-hal yang lebih ringan. Clar tidak mau langsung membicarakan soal keinginannya bertemu dengan para ilmuan dalam waktu dekat, ia ingin semua mengalir dulu sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Mereka mengobrol cukup lama, sampai tak terasa tengah malam datang dan untuk satu malam Clar akan menginap di sana di sebuah kamar kosong yang tersedia. Pembicaraan seputar penemuan Clar yang sebenarnya adalah milik Suez akan dibicarakan besok saja, dan memang lusanya Calr akan kembali bekerja selepas cutinya selesai. UT-XX yang ia manifestasikan dalam bentuk yang lebih sederhana untuk menjadi objek mini dalam presentasinya tidak boleh mengalami kerusakan. Karena biar pun itu adalah sebuah model, masih ada fungsi yang disesuaikan dengan bentuk aslinya. Tidak seratus persen sama, tapi benar-benar dimodelkan dengan sangat mirip. Tidak lupa, ramuan itu juga menjadi kunci penting dalam perkenalannya selain dengan UT-XX. Tanpa ramuan itu, UT-XX akan menjadi sebuah barang sia-sia karena tidak memiliki alat pelengkap yang menyertainya. “Bersiaplah, dengan menggunakan ini sebagai penyelamat umat manusia yang terancam, maka dunia akan menjadi milikku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN