“Sean, sedang memikirkan apa kamu?”
Duduk di tepi bukit, lelaki hampir tua bernama Lovaroz mendekati putranya dan menempelkan bokongnya di salah satu batu sebagai kursi. Setelah berhasil keluar dari hutan dalam aksi pemburuan, mereka berlari menuju ke bukit terdekat dengan mengendarai kuda. Beruntungnya mereka memang segera lolos dari kejaran prajurit penjagaan wilayah dan membawa beberapa makanan yang mereka curi juga dari tempat semula. Keduanya menikmati makanan tersebut sambil melihat cahaya matahari yang mulai perlahan-lahan turun.
Lihatlah wajah Sean saat ini, pipinya bersemu merah seperti tomat. Lovaroz dibuat heran karenanya karena tingkah sang putra yang tak biasa, ia malah curiga kalau Sean terbentur kepalanya oleh sesuatu sehingga agak gila tersenyum sendirian seperti ini.
Barulah setelah bahu Sean digoncangkan pelan, anak laki-laki tersebut langsung sadar. “A-ah.. ada apa ayah? Apa ayah memanggilku tadi?”
“Kamu ini dari tadi melamun, sedang memikirkan apa sih? Semenjadi keluar dari hutan malah senyum-senyum sendiri. Kamu kan tau kalau hutan tadi cukup gelap, apa jangan-jangan kamu kesurupan hantu di sana ya? Atau malah terkena gigitan werewolf gila?” Lovaroz malah jadi menuduh makhluk lain, padahal jaman sekarang tidak ada werewolf gila. Kalau pun ada, langsung dikirim ke pulau lain dengan penjagaan super ketat.
“Ayah, aku baik-baik saja. Cuman.. ada sesuatu tadi, tapi aku tidak bisa cerita. Ini rahasia! Tapi ayah tidak boleh kepo,” kata Sean membuat kening Lovaroz mengernyit heran.
“Sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan dengan ayah? Atau.. ekhem, kamu bertemu wanita vampire penggoda yang cantik ya? Yah, karena saat ayah seusiamu, banyak teman ayah yang menaksir dengan mereka. Tapi kayaknya gak mungkin kamu naksir sama mereka sih, ayah kurang percaya,” balas Lovaroz.
Kalau pemikiran Lovaroz seperti itu, Sean tidak akan menanggapi. Bisa gawat kalau dia berkata yang sebenarnya padanya, Sean hanya mau menjaga rahasia sesuai apa yang ia diminta oleh Len karena dirinya yakin kalau Len memang ingin rahasia itu tetap dijaga.
“Bukan, pokoknya ada deh, Yah.”
Bocah itu tidak mau lebih membuat sang ayah mengetahui lanjut pun memilih mengalihkan perhatian lelaki tersebut dengan menanyakan rencana mereka dalam aksi pencurian berikutnya.
Lovaroz bukanlah pencuri yang ditakuti di wilayahnya, ia hanya mencuri di rumah-rumah bangsawan kaya untuk dijual lagi barang berharga yang berhasil dirinya curi dan akan dibagikan uangnya ke para masyarakat miskin di wilayah terdekat. Wilayah kerajaan yang merupakan bekas dari Leonword dan diubah namanya menjadi Kerajaan Lezghro ini sudah rata-rata makmur, apalagi daerah pinggiran yang menjadi sumber kekayaan alam yang berlimpah. Hanya saja anehnya penduduk miskin tersebar banyak di pusat ibukota, di daerah bawah jembatan maupun dibalik restoran mewah.
Hati Lovaroz tergerak untuk membantu sejak ia masih muda. Karena berasal dari latar belakang keluarga pencuri, ia sudah dilatih oleh sang ayah untuk mencuri. Kakek buyutnya sudah lama mengincar mahkota langka kerajaan, samapai detik ini belum jua berhasil mendapatkan mahkota tersebut dari anak cucunya.
Ini menjadi beban tersendiri bagi Lovaroz yang diprediksi menjadi keturunan terakhir dari keluarganya. Ia paham kalau dunia sebentar lagi akan berakhir, ini akhir dunia manusia karena tak ada lagi yang bisa membuat mereka memiliki keturunan. Sungguh sebuah ironi yang begitu mendalam, Lovaroz masih meminta keajaiban dari Tuhan. Berharap kutukan ini segera berakhir, bagaimana pun ia ingin juga menikah dengan perempuan sesama manusia. Tidak mungkin baginya menikahi vampire ataupun werewolf. Sangat menentang dengan hukum alam.
Dan sekarang dia memiliki anak walau tanpa menikah. Seorang anak yang ia temukan di tengah hutan. Ia tidak mengerti siapa yang membuangnya, dan siapa keluarganya, lebih heran lagi kenapa bisa ada kelahiran bayi di wilayahnya sementara wanita-wanita tersisa tersebar jauh antar ratusan dan ribuan kilo meter jaraknya. Awalnya sempat dikira anak vampire, werewolf, atau bahkan iblis tapi dia menangis dengan normal tanpa mengigit atau mempengaruhi pikiran Lovaroz. Apalagi sesepuh sesama pencuri yang hidup lebih lama daripadanya berkata bahwa itu adalah anak manusia.
Sean, memiliki nama berarti lautan. Lovaroz ingin Sean menjadi anak yang tenang namun diam-diam memiliki pengetahuan dan kelicikan sedalam lautan. Ada juga yang mengartikannya berarti diberkati oleh Tuhan. Buktinya, jika Tuhan tidak memberkati anak tersebut, sejak bayi Sean sudah pasti meninggal karena kelaparan atau diburu oleh makhluk haus darah.
Maka dari itu, Sean yang sudah tumbuh sebesar ini dirawat baik oleh Lovaroz dan diberi cinta selayaknya seorang ayah pada anaknya. Ia juga selalu bangga karena Sean selalu melakukan apa yang ia perintahkan dengan baik.
“Sean, kamu serius kalau sudah besar nanti mau ikut rencana ayah untuk mencuri mahkota raja? Berkali-kali ayah sudah sering hampir tertangkap sama penjaga sana lho,” kata Lovaroz yang memastikan perkataan sang anak beberapa hari yang lalu yang berkata ingin ikut dalam aksi pencurian terbesar.
“Menurut Sean, daripada ayah tertangkap sendiri akan lebih baik kita tertangkap bersama-sama. Lagipula, aku kan belum pernah masuk ke dalam wilayah kerajaan. Kita bisa menyamar menjadi penjaga atau malah mencuri dulu alat ilmuan untuk aksi pencurian nanti. Ideku brillian kan, Yah? Selama ini aku hanya punya ayah dan gak mau kehilangan orang yang aku sayangi, di dalam diriku sudah melekat jika pencuri seperti yang ayah turunkan.”
Jawaban Sean entah mengapa membuat Lovaroz merasa terharu. Ia bersyukur memiliki Sean yang memang mau diajak hidup seperti ini, kerasnya seseorang yang sudah menjadi buronan dan selalu mencuri di mana pun ia berada.
“Ayah jangan menangis.. ini tulus kok. Harusnya anak kecil sepertiku gak berkata kayak gini, ya? Tapi, hidup ditengah-tengah orang dewasa nyatanya bisa bikin aku kayak gini. Masih ada paman Glen dan paman Jho yang berada di sisiku, kalian pasti menjagaku. Entah siapa orang tuaku yang asli, ayah bilang kalau ayah tidak pernah menikah dan aku tidak mungkin lahir tanpa dari seorang ibu. Kalau suatu saat pun aku bertemu kedua orang tuaku, aku bakal tetap memilih ayah sebagai keluargaku satu-satunya. Sean janji.”
Tanpa berpikir panjang Lovaroz langsung memeluknya, ia tidak menangis. Sungguh. Hanya saja air matanya masih tertahan di ujung mata tanpa terjatuh setetes pun. Memang harta yang berharga adalah keluarga. Yang pertama adalah mendiang ayah Lovaroz, dan yang kedua adalah Sean. Anak angkat satu-satunya.
-*-*-*
Tidak mudah bagi Clar yang berusaha mendidik keras seorang Len selama tujuh tahun terakhir semenjak peristiwa yang membuat hatinya bergetar takut. Ketahuan oleh satu orang, bahkan yang usianya hampir sepadan dengan Len saja bisa membuat Clar tidak tidur satu bulanan sejak hari itu. Dan setelahnya, ia lebih keras melarang Len untuk tidak keluar dari wilayah perbatasan, mengajarinya panahan di dalam gudang luas dan melakukan penyamaran yang lebih dengan memotong sangat pendek rambut indah gadis itu setiap sudah mendekati sebahu.
Tindakannya ini melebihi seorang ayah yang protektif dan lebih dikenal sebagai obsesi. Namun, Len masih saja belum paham. Ia hanya menurut dan menurut saja tanpa ada perlawanan sekalipun. Clar masih baik, dan membuatnya jadi paham dunia tanpa harus keluar dari wilayah tersebut. Ia juga dididik menjadi anak yang cerdas dan berwawasan.
Hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya. Seperti biasa, Clar memberikannya kue ulang tahun dan hadiah berupa buku baru. Len sangat senang walau hanya diberi demikian, ulang tahun sejatinya adalah moment dimana Clar akan bersikap lembut tanpa menyuruhnya berlatih keras selayaknya anak laki-laki. Didikan Clar sungguh kadang tidak berotak. Saat terjatuh, Len disuruh untuk tidak menangis, ia dipaksa tahan racun, dan banyak hal gila lain yang dilakukan.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Len. Usia kamu sudah legal saat ini juga."
"Terima kasih, Papa. Len senang bisa hidup selama tujuh belas tahun bersama dengan Papa, Len senang sekali. Papa selalu menjaga Len dengan sangat baik."
"Tentu saja, karena kamu adalah anak Papa."
Clar mengusap surai hitam putrinya dan tersenyum tipis. Kali ini Clar menyadari bahwa wajah yang ada di hadapannya benar-benar seperti salinan Mega dan Suez. Untungnya Clar benar-benar menghapus namanya rasa bersalah dalam dirinya, ia sudah termakan oleh ambisi dan keegoisan dalam pengakuan oleh dunia.
Alat Suez sudah berhasil ia kembangkan dan sempurnakan. Sudah saatnya ia kembali ke kota dan melaporkan hasil yang ia tulis dan foto sebagai bukti untuk ditunjukan kepada para ilmuan yang sampai detik ini masih belum mendapatkan titik terang untuk mendapatkan kepuasan Raja Rhageo. Semua pengembangan eksperimen selalu gagal dan berujung banyak alat rusak dan kerugian yang ditimbulkan oleh karenanya.
Saat ini, saat yang tepat bagi Clar untuk meminta izin pada Len untuk pergi kembali ke kota.
"Len, Papa mau membicarakan sesuatu dengan kamu," kata Clar berubah menjadi serius.
Baru saja menikmati moment yang menyenangkan, Len tidak mau jika saat saat seperti ini dimanfaatkan Clar untuk menjalani hari seperti hari yang lain. Namun, pada akhirnya gadis itu pun merespons. "Iya, kenapa, Pa? Apa yang mau Papa bicarakan sama aku?" tanya Len.
"Hari ini, tepatnya sore nanti, Papa mau kembali ke kota, Len. Kali ini Papa mau pergi dalam waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar dua minggu, kamu tahu kan perjalanan ke kota cukup jauh dan Papa ada urusan yang sangat penting di kota. Sekaligus bertemu dengan.. yah, kawan lama. Persediaan makanan masih cukup sampai Papa pulan. Papa harap, selama Papa meninggalkan kamu di sini, rumah akan aman dan kamu jangan berbuat macam-macam pada ruang kerja Papa. Ingat hal itu," jelas Clar mengenai hal penting yang ia maksud.
Pergi lagi? Tunggu, kenapa Clar pergi lebih lama dari sebelumnya hanya hal penting dan bertemu teman? Paling lama Clar pergi tidak sampai seminggu karena takut Len berbuat sesuatu seperti yang dilakukannya tujuh tahun yang lalu. Lalu, mengapa sekarang sorot matanya hanya nampak sesuatu yang berambisi dan bukan ketakutan yang ia alami selama ini?
Len merasa ada sesuatu yang salah, namun ia tidak bisa mengatakannya pada Clar karena takut salah bicara.
"B-baik, Papa. Len akan menjaga rumah dan belajar saja di perpustakaan," jawab gadis itu.
"Bagus." Clar mengusap surainya lagi dan mengangguk-angguk bangga memiliki anak yang penurut seperti Len. "Ya sudah, Papa istirahat dulu ya di kamar sekaligus menyiapkan barang. Nanti sore kira bakal berpisah sementara waktu saja."