“Shhh, pelan-pelan.” Len mendesah karena tak kuat menahan sakit pada luka ketika anak laki-laki tersebut sedang mencoba mengobatinya. Setelah berusaha mati-matian untuk tidak menjerit karena tadi, ia merasa tenggorokannya begitu sakit karena menahan suara yang ingin ia keluarkan dengan kencang. Panah itu menembus cukup dalam ke dalam dagingnya, ia juga merasakan bahwa panahnya mengenai tulang namun tidak sampai membuatnya menjadi patah. Jadi, kondisinya sekarang hanya luka sedang ke berat.
Keduanya masih sama-sama terdiam, Len hanya bisa berulang kali mengerjapkan mata karena tidak boleh pingsan sekaligus tak boleh bersuara keras karena bisa memancing ayah dari anak laki-laki tersebut.
“Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan.” Anak tersebut dengan tangan masih sibuk berkata demikian. “Namaku Sean Lovaroz, panggil saja Sean. Dan aku sebenarnya seorang pemburu bayaran sekaligus pencuri, karena ayahku juga seperti itu. Kami diincar oleh pihak keamanan kerajaan dan sedang menyembunyikan diri di pinggiran hutan. Ah, iya, nama kamu siapa? Dan kamu tinggal di mana?”
“Len, panggil saja Len. A-aku.. tinggal di hutan ini juga, tapi aku tidak bisa menyebutkan di mana letaknya, papaku akan marah kalau tempat tinggal kami diketahui,” jawab Len dengan suara kecil dan agak serak.
Sean akhirnya tau nama lawan bicaranya itu, responnya baru mengangguk-angguk kecil ketika Len dengan singkat hanya menyebut nama panggilan dan tidak mau membagikan letak rumahnya berada. “Jadi, namamu Len ya. Gak masalah kalau misal memang papamu melarang. Nah, sudah selesai. Pundakmu sudah kuobati dan sedikit ku perban. Hanya ini yang bisa kubantu sebagai tanda permintaan maafku tadi.”
“Eum, bisakah kamu membantuku mencari sebuah anak panah? Bentuknya tidak biasa dan karena ini hutan, dia bisa bersinar sedikit karena cahaya di sini hanya meredup,” Len mengajukan sebuah permintaan dan karena tidak sulit melakukannya akhirnya Sean mengangguk setuju untuk mencarikannya. “Baiklah, kamu duduk di sini dulu. Pohon ini cukup besar sehingga tidak ada yang melihatmu dari balik pohon ini. Jangan kemana-mana, ya? Begitu aku mendapatkan anak panahmu, pasti aku akan langsung menyerahkannya.”
Kemudia Sean menyenderkan di bagian sebelah yang tidak ada lukanya Len ke pohon tersebut. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan memastikan Len tidak terlalu merasakan sakit sekarang. Ia juga melepaskan wig yang dikenakan Len dan menaruhnya di saku baju Len. Kini, rambut panjang Len tergerai dengan indahnya. Pergerakan Sean harus cepat karena jika terlalu lama pergi, ayahnya pasti akan mencarinya dan tidak mungkin menunjukan Len yang terluka di hadapan lelaki tersebut.
Berkeliling ke sekitaran meskipun awalnya sedikit sulit, namun Sean menemukan anak panah tersebut dan membawanya ke tempat Len. Memang agak lama juga tadi karena anak panahnya jatuh ke semak-semak dan sedikit tertutup oleh dedaunan. Len mengucapkan terima kasih kemudian ia hendak pergi. Namun, merasa Len masih lemas, Sean menawarkan punggungnya sebagai tempat untuk bersandar sementara sampai mereka tiba di tempat terdekat Len ke arah jalan rumahnya. Pada awalnya Len menolak dengan keras, dan ia keras kepala untuk berjalan sendirian ke rumah. Tetapi, gadis berusia 10 tahun tersebut kehilangan keseimbangannya sampai ia menerima tawaran Sean yang usianya 1 tahun di atasnya.
Saat menggendong Len, Sean entah mengapa merasa sangat senang. Ia hanyalah bocah 11 tahun yang tiba-tiba merasakan degub jantungnya berdebar hebat dan wajahnya memanas. Ia tidak tahu perasaan apakah ini, yang ia tahu perasaan ini muncul ketika sedang menggendong Len dan mengingat wajahnya tadi.
“Sampai di sini saja.”
Len memberitahu Sean untuk berhenti di tempat mereka berdiri sekarang ini karena sisa perjalanan bisa dilanjutkannya sendirian saja. Usai menurunkan tubuh Len dari tubuhnya, Sean memberikan sebuah gantungan kunci pada Len hingga membuat gadis itu dibuat bingung.
“Ini untuk apa, Sean?”
“Kenang-kenangan. Karena sepertinya kita tidak akan bertemu lagi, jadi lebih baik aku memberikannya dulu padamu. Ambillah, Len.”
Mendengar bahwa mereka tidak akan bertemu lagi, Len menerima gantungan kunci berbentuk bunga itu dan menyimpannya ke kantongnya. “Terima kasih. Kita berpisah di sini, sampai jumpa lagi ya, Sean. Jika mungkin suatu saat nanti kita bertemu, tolong jangan lupakan aku ya. Kalau aku lupa, ingatkan saja. Selamat tinggal.”
“Iya, selamat tinggal juga, Len.”
Dua anak manusia itu berpisah, Len berjalan ke utara sementara Sean masih berdiri di tempat yang sama memandangi Len sampai gadis itu menghilang ketika melewati pepohonan lain yang tiba-tiba menjadi lebat. Sean akhirnya berbalik untuk kembali ke ayahnya karena lama menghilang. Ia menutupi bekas darah Len di bajunya dengan kain cukup lebar yang di ikat di lehernya.
***
Clar memiliki perasaan yang cukup gelisah, ia yang baru saja menyelesaikan laporannya bergegas melepaskan jas laboratoriumnya dan kaki-kakinya itu menapak, berjalan di atas lantai yang begitu dingin menuju ke luar rumah. Ia mencari sosok Len yang tidak ada di sana, ia begitu khawatir. Apa jangan-jangan Len kabur karena ia menolak diajak belajar dan malah menyuruh anak itu untuk bermain saja? Sungguh, jika itu benar, ia menjadi sangat gelisah karenanya.
Tidak lama kemudian ia menangkap sosok Len yang tengah menyeret kakinya dengan paksa sedang berjalan dengan lemah memasuki halaman rumah mereka. Ia dikejutkan dengan darah yang merembas di sisi kanan Len yang membuat dirinya menjadi tercengang.
Kenapa bisa bahu Len terluka? Apa yang terjadi sebenarnya?
"Papa, sakit...," rintih Len masih memegangi bahunya. Sean sudah mengobati lukanya, tapi darah ternyata masih saja keluar tanpa dia minta. "Papa... ugh... aku dipanah sama seseorang."
"Dipanah?" Mata Clar membulat sempurna. Kalau dipanah itu artinya.. ada manusia di sekitar sini, bukan? Clar menengguk salivanya dengan susah payah. "Len, katakan pada papa, apakah kamu bertemu dengan siapa yang telah memanah kamu tadi?"
"Tidak, aku hanya dipanah saja, Pa. Aku langsung bersembunyi."
Sekarang, Clar sudah sedikit merasa lega. "Bagus, ayo masu. Papa akan obati lukamu."
Clar membawa tubuh putrinya menggunakan kedua tangannya sendiri, ia melirik ke arah belakang dan setelah dirasa cukup aman barulah ia menutup pintu utama dengan rapat. Sebelum benar-benar mengobati Len, ia mengaktifkan keamanan ganda kali ini. Wajah dengan air muka cemas itu ia usap secara kasar. Kalau ada manusia melakukan panah memanah, itu berarti mereka sudah pernah menjajakan kaki di sekitaran sini? Jangan sampai rumah ini ketahuan oleh mereka.
Lamunan Clar buyar ketika Len menyerukan namanya dengan suara yang begitu lemah. Tersadar sesegera mungkin, Clar langsung mengambil kotak obat dan mengobati Len.
Rasa perih yang sama bercampur aduk. Lagi-lagi Clar harus mengernyitkan dahinya karena terlihat bahwa luka Len sudah diobati sebelumnya. "Len.."
"Pa, sakit.."
"Iya, ini Papa sedang obati."
Mungkin nanti saja Clar menanyakan luka ini pada Len.