Di luar sangat cerah tetapi tidak nampak dengan jelas bagaimana sinar matahari masuk ke dalam halaman rumah, tertutup dengan rapat oleh awan tebal di atas hutan yang sudah ada di sana selama bertahun-tahun lamanya. Namun, sesekali Len bisa merasakan apabila di antara celah awan tebal tersebut, matahari tepat berada di atas kepala sehingga sinarrnya bisa dilihat secara langsung. Meskipun tidak atau bahkan jarang terkena sinar matahari secara langsung, perkebunan kecil di depan rumah tetap menumbuhkan sayuran dan buah yang ditanam karena sudah ada yang diubah varietasnya menjadi tanaman yang berfotosintesis dengan minim cahaya matahari.
Len hanya melemparkan batu-batuan kecil ke kolam kecil di depan rumah, wajah kusut yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan tentang apa yang ia inginkan harus kembali disimpan di dalam benaknya. Ia menghela napas pendek, menopang dagu dengan salah satu tangannya.
Apa yang harus ia lakukan selain bermain? Kalau pun bermain lagi, lagi-lagi dirinya hanya bermain dengan boneka beruang yang sudah sedikit kucel. Well, ia tidak menjelek-jelekkan, hanya mengungkapkan sedikit fakta saja. Namanya Fillow, boneka beruang berwarna lilac yang diberikan oleh Clar kepadanya saat usianya masih sangat muda.
“Papa tidak mau bermain, terus aku harus ngapain ya?” Ia bertanya pada dirinya sendiri, masih memandang ke arah yang sama. “Eum, Can I play the drone? Papa bilang aku boleh bermain apapun kecuali di laboratoriumnya, pasti boleh bermain drone jarak pendek punya dia karena memang tidak terpakai saat ini. Aku ambil di gudang ah, habis itu coba main panah lagi. Terakhir kali belajar panah bersama papa, sasaranku hampir mengenai pusat.”
Keputusan yang ia buat telah bulat. Setelah hanya memandang dan bermain lempar batu, Len melangkahkan kakinya menuju ke gudang. Gudang berada di samping yang sedikit menjorok ke belakang rumah, di sana berbagai barang yang biasanya jarang digunakan atau perlengkapan untuk di luar rumah tersimpan dengan apik. Drone disimpan di depan bagian atas, sementara anak panah dan busur diletakkan menggantung di dinding bagian samping dalam gudang tersebut. Len mengambil semuanya menggunakan kedua tangannya saja. Ia tersenyum tipis melihat mainannya ini bisa sedikit menghibur kesepian yang melanda di rumah tersebut.
Saat menerbangkan drone ke atas, ia berpikir ingin menjadi sebuah drone saja yang bisa terbang. Namun, ia ingin lebih menjadi seekor burung karena burung bisa terbang dengan bebas, tidak seperti drone yang terbang dengan dikendalikan.
Berbagai pertanyaan sering kali dan kerap muncul di pikirannya.
Bagaimana kehidupan di dunia luar hutan sana? Apakah indah sekali atau justru menyeramkan seperti yang dikatakan oleh Clar?
Namun, sekalipun ia bisa memotret melalui drone, yang terlihat pasti hanyalah hutan saja. Hutan di sekitar rumahnya cukuplah luas dan lebat. Kata Clar tidak ada yang bisa menembusnya kecuali Clar saja yang sering keluar masuk hutan untuk membeli bahan makanan ketika stok sudah mulai menipis. Rasa penasaran kembali muncul, adakah orang yang mungkin bisa menembus hutan ini sampai di dekat rumahnya selain Clar?
“Udah ah, main drone juga bosen. Coba main panahan dulu⸺ eum, pakai rambut palsu sesuai perintah ayah. Katanya bahaya kalau ada yang tau tinggal di sini.”
Wig atau rambut palsu.
Clar juga membuatnya untuk Len, ia memang membesarkan dan mendidik Len sewajarnya sebagai seorang perempuan. Namun, ia tak lupa selalu mengajarkan penyamaran untuk gadis itu karena ia takut ketahuan lebih awal dan menginginkan keberadaan Len dikenal sebagai seorang anak laki-laki, bukan perempuan. Makanya ia mengajarkan bela diri, memanah, penyamaran, dan juga basic dasar lain yang harus dilakukan.
Wig itu juga cocok, bentuk rambutnya cukup sesuai dengan wajah Len. Tidak akan ada yang akan tahu kalau Len perempuan, mengenakan Wig itu bisa memperlihatkan dan memanipulasi orang.
Selesai mengenakan penyamarannya dengan baik, Len meletakkan roda sasaran untuk anak panahnya menanvap nanti digantung di sebuah pohon. Selesai digantung dengan view yang tepat menurutnya kemudian mundur menjauh untuk bersiap melakukan panahan. Dari jarak jauh, ia mampu melesatkan anak panah hingga mengenai roda sasaran walau tidak pernah tepat ke titik tengahnya. Len akan mendesis bila tak berada di dekat lingkaran paling tengah. Sudah banyak panah yang habis, tersisa tiga anak panah terbaik yang dimilikinya.
Len menarik napasnya dalam dalam sambil menarik senar di busurnya, satu anak panah ia tarik ke belakang dan sebelah matanya ia tutup untuk bisa memfokuskan targetnya. Saat sudah mantap, ia melepaskan tangan namun sasarannya kembali meleset. Namun, sangat meleset karena anak panah terbaiknya mengarah lebih dalam ke hutan. Ia berlari mendekati roda sasaran dan memperhatikan hutan yang minim cahaya namun lebih gelap daripada halaman rumahnya. Susah payah Len menegguk salivanya yang berat di tenggorokan, ia menimbang lagi apakah dirinya harus mengambil anak panah terbaiknya atau tidak.
Jika hilang, cukup susah untuk mendapatkan yang baru lagi karena anak panah ini buatan Clar dari bahan-bahan terbaik sementara Clar sudah lebih sibuk dari sebelumnya.
Keputusan akhir membuat dirinya memilih untuk masuk ke dalam hutan dan mencari anak panahnya yang hilang. Ia berjalan dengan langkah kecil disertai bulu kuduk merinding. Hutan semaki gelap saja, ia beruntung memiliki mata yang tajam. Dalam pikiran Len, hewan buas sekalipun tidak bisa tinggal di sini. Ia juga mendengar makhluk seperti vampire atau werewolf jaman sekarang lebih suka tinggal di tempat yang terang dan berbaur dengan manusia, tentu saja Clar menceritakannya dengan sedikit bumbu yang dilebih-lebihkan supaya Len tidak tertarik pada dunia di luar sana.
“Kenapa anak panahnya gak keliatan? Perasaan bisa mengeluarkan cahaya karena papa suka memainkannya saat malam hari,” gumam Len yang bingung sambil terus menerus berjalan.
Len memasuki hutan yang semakin dalam, ia takut tersesat namun ia masih mengingat beberapa pohon yang dijadikannya sebagai patokan jalan.
Begitu ia menoleh untuk kembali mencari anak panahnya, sebuah panah dari arah belakangnya mengenai pundak kanan hingga dirinya memekik tertahan menahan sakit luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan. Ia memegangi bagian yang terkena panah⸺ pundak ke bawah sedikit yang dekat dengan d**a kanan, panah yang menancap tajam. Ia langsung terjatuh di tempat dengan darah yang mulai keluar dan membasahi baju sekitaran.
Suara ranting patah karena diinjak semakin jelas, seseorang telah mendekatinya. Len ingin kabur namun panah sialann tersebut membuat dirinya tidak mau meninggalkan jejak darah yang menetes di dedaunan yang berjatuhan di atas tanah. “Sakit.. shh, baru pertama kali aku dipanah, memang seharusnya aku berhati-hati saja tadi.” Sekuat tenaga Len akhirnya berusaha duduk, ia menyeret tubuhnya untuk bersandar di sebuah pohon.
Wig yang dikenakannya longgar dan hampir terlepas, ia tidak terlalu memperdulikan itu. Yang dirinya inginkan hanyalah cara agar bisa melepaskan anak panah ini dan kembali ke rumah. Kalau terlalu lama di luar rumah, Clar akan curiga dan bisa melarangnya untuk keluar rumah. Tidak, Len tidak mau itu terjadi.
"Astaga, ternyata aku memanah seseorang" Pandangannya ke arah Len seperti memanah ke sasaran yang salah— walau memang benar adanya. Ia menaruh busurnya ke punggung dan kembali memperhatikan wajah Len yang ia rasa wajah dan tubuhnya hampir setara dengan dirinya. ".. eh, kenapa kita seumuran? Apa kamu werewolf? Kenapa kita terlihat sedikit berbeda?"
Len membuka matanya yang sempat menyipit, ia berusaha melihat seseorang yang kini ada di hadapannya itu yang merupakan orang yang telah melesatkan anak panah hingga mengenai pundaknya. Pandangan awal yang cukup buram, ditambah dengan minimnya cahaya matahari di sana membuat ia harus mempertajam indera pengelihatannya. Seorang anak laki-laki yang menggendong tas dan busurnya, memandang dengan heran ke arah Len. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan tanpa sadar bahwa Len sudah mulai kehabisan banyak darah karena ulah anak laki-laki tersebut.
"Eung.." Len menggelung pelan, ia kembali hampir menutup matanya dan sekuat tenaga supaya kesadarannya tetap terjaga. "Aku..."
"Ah, aku harus menolongmu. Tunggu sebentar!" Anak laki-laki tersebut tersadar karena kecerobohannya, ia tak langsung menolong tadi dan malah bertanya banyak. Dengan sesegera mungkin ia membantu memposisikan Len dengan benar terlebih dahulu.
"J-jangan.. beritahu.. kalau kamu telah memanahku, aku manusia..," kata Len menjawab pertanyaan kedua. "A..aku bukan were— wolf. Aku.. manu.. sia.."
"Oke-oek aku paham," balas anak laki-laki tersebut. "sebelumnya balikkan badanmu karena aku akan mencabut panah yang menancap di pundak. Ini akan sangat sakit, tahan rasa sakitnya, jangan berteriak karena ada ayahku yang sedang berburu juga. Satu lagi, jangan sampai kesadaranmu menghilang. Oke?"
"Oke."
Len membalikkan badannya sesuai perintah dari anak laki-laki tersebut. Dalam satu tarikan napas yang panjang, anak laki-laki itu mencabut panah yang menancap di tubuh Len dengan kencang. Len sampai menggigit lidahnya sendiri karena rasanya begitu remuk ketika dicabut dalam satu tarikan kencang.
Begitu merinding ketika anak laki-laki itu memandang panah dengan darah di sana, darah seorang manusia. Bukan makhluk hidup lain seperti hewan yang biasa ia buru.
"Ku obati dulu luka yang ada."
Alkohol dibalur di kapas itu mulai diusapkan ke lukanya, dan jeritan yang pelan dari Len pun tidak sengaja lolos.