Bab 25

2050 Kata
Hari ini mereka semua pulang dari villa tempat mereka berlibur, padahal Nadia masih ingin berlibur tapi ketiga temannya harus masuk sekolah karena sudah tiga hari izin dengan berbagai alasan, yang padahal para guru mungkin tahu mereka sedang berbohong. Saat kembali ke kota Nabila, Ernest dan Robby satu mobil, sedangkan Nadia bersama dengan Revan berdua di dalam mobil, Revan meminta hal itu karena agar ia tak kesempian selama perjalanan hampir tiga jam itu. Mereka pulang cukup pagi agar tak sampai di kota saat begitu siang, karena biasanya siang mendekati waktu istirahat keadaan bisa sangat macet. Jika itu terjadi bisa lebih lama sampai di rumah. Ketika berada di dalam mobil keduanya tak banyak bicara, hanya suara musik yang terdengar jelas dari radio. Bukan mereka sedang terlibat masalah yang entah apa, tapi mereka sedang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Revan sibuk dengan kendaraannya, sedangkan Nadia sibuk dengan ponsel dan pikirannya tentang apa yang terjadi tadi malam. Ia masih memikirkan siapa orang yang menghubungi Revan tengah malam yang membuat laki-laki yang dikenalnya nampak sibuk dan harus berbisik agar tak banyak orang tahu. Apa yang dihubungi Revan itu seorang perempuan? Jika benar perempuan mana, kenapa selama ini ia tak tahu bahwa Revan punya teman seorang perempuan? Nadia berhak cemburu, bukan? Meskipun ia orang yang dianggap adik oleh Revan, tapi Nadia memiliki perasaan yang berbeda, ia benar-benar jatuh cinta hingga merasa bahwa hanya Revan yang cocok dengannya. Jadi wajar saja ia akan merasa terganggu jika ada perempuan lain yang dekat dengan Revan. Jika perempuan jadi-jadian seperti Robby si Incess itu tak akan merasa masalah sama sekali. "Kenapa? Kok bengong aja," tanya Revan pada Nadia yang terlihat diam saja sejak tadi. "Lagi mikirin kakak ya? Segitunya." "Ngaco' aja, aku lagi lihatin sosmed dari tadi. Ada cewek-cewek cantik dan bohai gini," jawab Nadia ngasal padahal ia tak tahu apa yang ia buka sejak tadi. "Ngapain lihatin cewek bohai?" Revan tanya lagi. "Gak sengaja lewat beranda." Nadia berlagak sibuk dengan ponselnya kini. "Kakak suka gak cewek-cewek bohai dan montok gitu gak, yang sering muncul di sosmed?" Revan mendehem seolah sedang berpikir. "Ya kalau boleh jujur sebagai seorang perempuan pastilah kakak suka, tapi bukan berarti tertarik. Cowok mana sih yang gak suka cewek seksi, tapi balik lagi seksi atau enggak bukan masalah asal ceweknya baik." "Kalau misalnya aku yang begitu, kakak tertarik gak?" tanya Nadia kemudian. "Eh tumben kamu tanya begitu, kenapa?" "Enggak apa-apa, cuma tanya aja. Pengen tahu kakak mau cewek yang seperti apa." "Gak ada pengen atau kriteria yang pasti dia baik dan mau sama kakak." "Halah, omongan bullshit seekor buaya jangan yang suka nebar gombalan." "Eh beneran, kakak bukan buaya ya tapi aligator." Revan tertawa sambil mengatakan hal itu. Sementara Nadia yang melihat hal itu pengen memukul kepala Revan dengan ponselnya agar laki-laki itu sedikit serius, tapi mungkin begitulah sifat yang dimilikinya. Revan kadang memang begitu kaku hingga rasanya kanebo kalah, tapi juga kadang bisa begitu lucu dan care terhadap Nadia. Hal itu yang membuat Nadia suka dan merasa nyaman dengan yang terjadi pada Revan. Di sisi lain perasaan itu kembali padanya, Revan sampai saat ini sepertinya belum menaruh perasaan apapun padanya. Revan menganggapnya hanya sebatas adik saja ia sudah senang agar ia bisa bersama dengan Revan. Jika diingat mereka sudah bersama sejak Sekolah Dasar. Saat itu Nadia baru saja dipanggil guru karena bertengkar dengan seorang siswa, tak tanggung-tanggung Nadia membuat tulang hidung siswa itu hampir patah, padahal saat itu Nadia masih kelas dua. Saat ditanya Nadia menjawab, "dia membully saya, Bu. Dia bilang saya kayak anak cowok. Makanya saya pukul." Jawaban itu membuat beberapa guru heran dan mereka pun memberi Nadia teguran karena itu. Begitu keluar dari ruang guru Revan sudah menunggu di luar dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi temannya. Revan kagum dengan kenakalan Nadia. Nadia tak memiliki alasan untuk menolak, sejak saat itu mereka berteman dan kemudian bersahabat. Namun kemudian Revan pergi keluar kota untuk ikut pindah orangtuanya, mereka masih saling berhubungan lewat smartphone dan kemudian bertemu lagi ketika Revan kembali ke kota untuk kuliah. Dari pertemuan itu banyak hal yang terjadi dan timbulah perasaan itu. "Kamu ngantuk gak?" tanya Revan lagi menganggu Nadia. "Ngantuk dikit sih, kenapa?" tanya balik Nadia. "Tidur gih." "Enggak ah. Kakak lagi bawa mobil masa aku tinggal sendirian, kasihan." "Halah gak masalah, orang biasanya juga sendiri kok." "Baiklah kalau dipaksa." "Gak ada yang masak yak, cuma nyuruh." "Sama aja. Udah lah aku mau tidur." Setelah mengucapkan hal itu Nadia pun tertidur begitu saja. Ia memang benar-benar mengantuk akibat overthinking yang terjadi padanya setelah melihat Revan menelpon seseorang. Tak berapa lama Nadia tak bersuara, Revan mengecilkan suara radionya agar tak mengganggu Nadia yang tertidur. Revan kadang sedikit menggeleng mengingat tingkah sahabatnya itu yang kadang memang sedikit menyebalkan, tapi ia sendiri yang meminta Nadia untuk menjadi temannya dan sahabatnya. Kemudian ia mengetahui bahwa Nadia memiliki perasaan padanya, itu Nadia sering katakan beberapa kali, tapi ia menganggap Nadia hanya bercanda. Meskipun sebenarnya Nadia bersungguh-sungguh, tapi Revan belum memiliki perasaan apapun. Apalagi saat ini ia tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang satu kampus dengannya, perempuan itu ia kenal saat sama-sama dengan ikut organisasi. Setelah perkenal yang cukup singkat mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Sejak saat itu Nadia belum tahu bahwa Revan sudah memiliki kekasih, karena Revan tak ingin Nadia pergi meninggalkannya. Nadia adalah orang yang begitu berarti untuknya, sahabat satu-satunya yang ia miliki yang selama ada untuknya. Revan masih ingin terus bersama dengan Nadia apapun yang terjadi dan menjaga gadis itu dari masalah. Namun, di satu sisi ia tak bisa memilih antara Nadia atau kekasihnya karena keduanya sangat berat, jika ia memilih kekasihnya pasti akan kehilangan Nadia, sebaliknya jika ia memilih Nadia pasti kekasihnya akan meninggalkannya. Sebab dirinya seorang laki-laki muda, wajar saja memiliki seorang kekasih. Revan tak mau memikir itu lebih jauh, ia tak akan menutupinya dari Nadia tapi biarkan berjalan sesuai dengan semestinya, jika memang nanti Nadia mengetahui bahwa ia memiliki kekasih maka memang harus ia mengatakan yang sebenarnya. Nadia pasti paham dengan apa yang terjadi. Ia memang tak berpikir Nadia mensupportnya karena ia tahu bahwa Nadia memiliki perasaan yang lain padanya. Bagaimana ia mentakan hal itu. Menjelang siang, setelah perjalanan panjang hampir tiga jam akhirnya mereka pun sampai di kota. Revan langsung mengantarkan Nadia pulang ke rumahnya setelah ia berpamitan dengan ketiga temannya. "Nad, bangun," ucap Revan membangunkan Nadia dari tidur pulsanya. Nadia sedikit menggerakkan kemudian lanjut tidur, hingga membuat Revan membangunkannya berulang kali sampai Nadia benar-benar bangun. "Sudah sampai ya?" Itu pertanyaan pertama kali saat Nadia sudah bangun. "Bentar lagi sampai di rumah paling lima menit lagi," kata Revan. "Masih lama kak, aku tidur lagi ya, nanti kalau sudah sampai rumah bangunin aku." Nadia hampir saja tidur tapi Revan menegurnya. "Heh, jangan tidur lagi, bentar lagi sampai." Nadia mengucek matanya dan kemudian ia pun berusaha untuk bangun meskipun masih begitu mengantuk. Tak berapa lama mereka pun akhirnya sampai juga di rumah Nadia. Nadia keluar dari mobil dengan membawa dua tas berisi baju dan lainnya. "Kakak gak masuk dulu?" tanya Nadia. "Enggak deh kayaknya, lain kali aja ya," jawab Revan atas tawaran Nadia. "Yaudah kalau gitu, Hati-hati ya kak di jalan." Revan menangguk kemudian membawa mobilnya berlalu dari sana. Setelah mobil Revan menghilang dari pandangannya, Nadia pun masuk ke dalam setelah pagar dibukakan sang supirnya. "Pak, Papa sama Mama ada di rumah?" tanya Nadia pada supirnya. "Ada, Non. Bapak sama Ibu belum berangkat kerja," jawab si supir. "Oh gitu, yaudah Nadia masuk dulu, Pak." "Perlu bantuan, Non?" "Gak usah, tasnya ringan kok." Kemudian Nadia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh orangtuanya. Begitu masuk ia melihat papanya sedang berada di ruang tamu menonton televisi sedangkan Mamanya sepertinya di dapur. Menurut Nadia tumben sekali mereka tak berangkat kerja, atau mereka tahu bahwa dirinya hari itu pulang ke rumah, makanya ada di rumah untuk mengomelinya. Namun, Nadia tak peduli, ia malah hanya berlalu pergi dari sana menuju kamarnya tanpa mengucapkan apapun. Papanya yang melihat hal itu pun juga tak menegurnya atau menyakan dirinya dari mana. Beberapa saat kemudian ia pun sampai di kamarnya, meletakkan tasnya di sembarang tempat dan kemudian berbaring di tempat tidurnya. Nadia kembali membuka ponselnya dan melihat banyak chat serta panggilan masuk dari orangtuanya, ia pikir mereka tak memikirkannya, tapi nyatanya semua itu terhalang oleh jaringan saat berada di puncak. Selain itu ada juga pesan dan panggilan dari Gery yang menanyakan ia berada di mana, Nadia sedikit heran dengan pertanyaan itu karena tak biasanya seorang guru begitu sibuk dengan muridnya. Apa Gery masih merasa bersalah karena membuat Nadia diskros dari sekolah? Padahal itu tak membuat Nadia merasa sakit hati, hanya saja caranya diskors bukan menjadi hal yang ia mau. Nadia hanya membuka pesan itu tanpa sedikit pun berniat ingin membalasnya, karena baginya tak penting, ia bukan tak sopan, tapi menurutnya kapasitas menghormati guru adalah jika membahas tentang sekolah bukan hal pribadi. Nadia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena setelah itu ia ingin cepat-cepat tidur dengan nyenyak. Sementara itu di ruang tamu sang mama keluar dari dapur. "Nadia sudah pulang," ujar sang papa pada mamanya. "Oh ya, kapan? Kok Mama gak denger suaranya." "Barusan, Ma. Dia aja gak bersuara gimana Papa mau denger suaranya. Jangan kan bersuara negur sama aku dan mengatakan salam aja enggak," ujar sang papa. "Emang kurang ajar." "Jangan bilang gitu sama anak sendiri, dia melakukan hal itu kan ada alasannya, ini juga kesalahan kita dulu," kata mamanya. Sang papa tak bisa bersuara apapun, tak membela dirinya karena salah, sang papa tahu bahwa tabiat Nadia itu timbul karena diri mereka sendiri yang sejak kecil kurang memberikan kasih sayang, maka dari itu tingkah laku Nadia menjadi begitu keras dan sangat tempramen. Jika saya neneknya masih ada mungkin Nadia tak akan seperti saat ini, tapi jika pun ada pasti orangtuanya juga akan jauh lebih sibuk bekerja karena mereka tahu ada yang mengurus Nadia. Kini saat neneknya tak ada, orangtuanya kembali menjadi orangtua yang sesungguhnya, tapi rasanya Nadia tak menginginkan hal itu. Rasanya keinginannya hanya satu, yakni neneknya hidup kembali dan bersama dengannya seperti saat dulu, tanpa peduli orangtuanya sendiri. "Sudah jangan dipikirkan, yang penting Nadia saat ini pulang dengan keadaan sehat dan tak kekurangan apapun," sambung sang mama. Papanya hanya bisa mengangguk mendengar hal itu, karena tak bisa melakukan hal apapun lagi. Saat Nadia sibuk membersihkan dirinya, Orangtuanya sibuk memikirkannya, ketiga sahabatnya masih dalam perjalanan pulang ke rumah di dalam mobil mereka saat ini tengah ngobrol tentang apapun, hingga pada satu obrolan membahas tentang Nadia. "Eh Nest, lu kenal kan si kak Revan itu?" tanya Nabila kemudian. "Lumayan kenal sih, soalnya aku kan satu sekolah dulu sama kak Revan, dia lebih deket sih sama Nadia," jawab Ernest. "Kenapa emangnya?" "Kak Revan itu orangnya gimana sih?" tanya Robby. "Ganteng," kata Ernest. "Bukan itu, maksudnya sifat dia," ucap Robby. "Baik aja kok, sewajarnya manusia pada umumnya," ujar Ernest. "Tadi malam gue gak sengaja denger kak Revan telponan sama seseorang kayaknya cewek deh," kata Robby. "Serius lu?" tanya Nabila. "Seriusan gue denger gak bohong, makanya gue sedikit heran kalau dia udah punya pacar kenapa masih begitu dekat sama Nadia, ya emang sih sahabatnya, tapi kan rasanya aneh. Apalagi pas dia datang sendirian gak bawa pacarnya, kesananya seolah Nadia ini selingkuhannya," ujar Robby panjang lebar. "Gue gak tau kalau soal pacarnya kak Revan, tapi jangan mikir lah begitu. Kayaknya Nadia seneng banget bisa bersahabat sama Kaj Revan," kata Ernest kedua sahabatnya mengangguk. "Gue sih awalnya mikir gitu setelah denger ucapan kalian tadi, tapi gak mau mikir terlalu jauh sih," ucap Nabila. "Eh gimana si Raya?" "Dia mau kuliah di kota katanya, sekarang lagi nyari perdaftaran beasiswa," kata Ernest. "Mau ngambil Teknik kayak gue juga." "Wah keren tuh, nanti biar gue bantuin nyari tempat tinggal. Nenek pasti setuju, apalagi Raya anak penjaga villa kepercayaan nenek," ujar Nabila. Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai satu persatu dari mereka sampai di rumah, yang pertama Ernest, kemudian Robby dan yang terakhir Nabila, karena sebenarnya mobil yang mereka pakai pun milik Nabila, lebih tepatnya milik orangtua Nabila. Liburan di villa itu pun fasilitas yang sengaja diberikan neneknya untuk Nabila, karena nanti villa dan perkebunan itu akan menjadi hak milik Nabila jika sudah besar. Maka dari itu neneknya mengatakan bahwa mulai sejak saat ini Nabila harus tahu dan ia diminta untuk masuk kuliah management agar pengelolaan nanti berjalan lebih baik, seperti apa yang dulu dilakukan oleh nenek dan juga ayahnya untuk mengurus semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN