Menjelang sore Revan dengan mobil mahalnya sudah terparkir di depan villa milik keluarga Nabila, setelah ia mengatakan sudah ada di sana, tak berapa lama kemudian Nadia pun keluar di barengi dengan Nabila dan Robby, tanpa Ernest, sepertinya anak itu sedang bersama dengan Raya kini.
"Cepatnya kak Revan sampai ke sini?" Begitu tanya Nadia saat melihat Revan keluar dari mobil mahalnya.
"Ngebut, tadi balapan sama Rossi, untung kalah kalau menang bisa pensiun Rossi," kata Revan berkelakar. Tumben.
"Lucu, ha-ha," ujar Nadia mengejek.
"Ada cowok ganteng kok gak cepet bawa masuk sih, Nad," ucap Robby dengan centilnya karena tahu bahwa ada lelaki tampan di depannya.
"Tuh temenmu yang cantik tahu kalau kakak ganteng." Revan menoel dagu Robby, seolah Revan tak merasa geli dengan tingkah Robby yang kecentilan seperti perempuan padahal dia lelaki.
"Ih tahu aja kalau aku cantik, jadi malu." Tingkah Robby semakin centil dan terlihat bahwa ia begitu bahagia. "Puji aku terus dong, puji."
"Apaan sih lu, Ncess, diem aja deh," kata Nabila.
"Gue kan cuma lagi seneng aja, emang gak boleh?"
"Boleh kok, yuk mending lu ikut gue biar Nadia sama Kak Revan bisa ngobrol." Nabila menarik tubuh Robby menjauh dari sana meskipun Robby seolah tak ingin pergi.
"Bawa yang jauh ya, Bil. Kalau bisa sampai tengah kebun teh!" Seru Nadia pada Nabila saat temannya itu sudah sedikit menjauh.
"Kakak gak diajak masuk?" tanya Revan kemudian.
"Enggak usah mending kita keliling bentar, mobil taruh sini aja jangan lupa dikunci," ujar Nadia. Revan mengangguk.
Mereka pun berjalan perlahan melewati villa dan jalanan di sana. Padahal Nadia sendiri bosan karena sejak datang terus saja melihatnya. Tempat itu memang indah tapi bukan berarti ia akan terus memperhatikan, malah ia rasanya ingin cepat pulang ke kota.
"Tugas kakak sudah selesai?" tanya Nadia kemudian.
"Belum sih tinggal sedikit lagi, tapi kakak stress makanya mau nenangin diri bentar, niatnya ngajak kamu jalan-jalan, eh kamunya gak ada," kata Revan.
"Gitu ya nyari aku pas ada maunya, nyebelin memang," ujar Nadia.
"Bukan ada maunya, tapi karena kemarin kakak kan sibuk, buktinya pas gak sibuk satu-satunya orang yang kakak cari ya kamu," ucap Revan.
"Heleh alasan aja," ejek Nadia.
"Kapan pulang kota?" tanya Revan.
"Niatnya sih besok pagi. Kalau kakak masih mau healing di sini gak apa-apa aja, tapi aku tinggal," kata Nadia.
"Enggak mau lah ngapain juga kakak di sini sendirian, mending ikut kamu pulang. Malam ini boleh kan nginep di sini?" ujar Revan sambil bertanya.
"Boleh aja nanti paling kakak tidur sekarang sama yang cowok," kata Nadia lagi.
"Sama yang tadi juga?"
"Iya sama yang tadi juga, kenapa? Suka? Pantesan gak tertarik sama aku, sukanya sama model begituan."
"Heh, ngawur aja, mana mungkin kakak suka sama model begituan. Kakak masih normal yak, gak tertarik sama kamu bukan berarti homo, kan."
"Bisa aja sih homo, buktinya udah kugoda juga gak mau."
"Terus kalau kakak mau, kita berhubungan, kamu hamil gimana?"
"Nikah dong kita, kakak tanggungjawab, kan."
Mendengar ucapan itu Revan menjitak kepala Nadia dengan sedikit keras, membuat gadis itu meringis sambil mengaduh.
"Sakit," rengeknya.
"Lagian pikirannya. Nikah bukan hal yang gampang, dikira nikah itu cuma sehari atau dua hari. Lulus dulu, pendidikan yang bener, kalau emang jodoh kita pasti nikah," kata Revan.
Saat mereka berjalan sedikit menjauh dari sana mereka melihat Ernest dan Raya yang tengah berduaan di bawah sebuah pohon besar, sepertinya mereka pacaran.
"Woy! Kalian berdua ngapain?!" teriak Nadia pada Ernest dan Raya. "Mau ena-ena jangan di bawah pohon! Diganggu jin nanti lu pada!"
Ernest dan Raya menyadari kedatangan Nadia serta Revan.
"Apaan sih lu, Nad! Kita lagi membahas hal penting ini!" kata Ernest ikut berteriak.
Nadia dan Revan berjalan mendekat keduanya.
"Penting apaan? Gue lihat lu berdua gak ngapa-ngapain, apa jangan-jangan lagi nonton film anu-anu ya?" tanya Nadia begitu sampai di dekat Ernest dan Raya.
"Fitnah aja lu, kami lagi bahas soal kuliah," jawab Ernest.
"Bener gitu, Ray?" Kini Nadia bertanya pada Raya.
"Iya, Neng. Kami lagi bahas soal kuliah, soalnya Raya niatnya pengen kuliah di kota nanti," kata Raya.
"Oh gitu, ya maap, gue kira kalian melakukan hal yang iya-iya," ujar Nadia.
"Udah fitnah, overthinking pula," ucap Ernest. "Eh bentar, ini kak Revan, kan?"
"Iya, kok lu kenal?" tanya Nadia lagi.
"Heh, lu sama gue satu SD sampai SMA, ya kenal lah, kan dulu pas SD kak Revan keren dan ganteng gitu," jawab Ernest.
"Eh gitu ya, gue lupa." Nadia nyengir.
"Kalian mau ngapain?" tanya Ernest.
"Gak ada, cuma ngajak Revan jalan-jalan," kata Nadia. "Yaudah lah, nanti lagi. Kalian jangan macam-macam, lu Ray hati-hati ini berandal kalau berduaan suka khilaf."
Raya tertawa kecil mendengar hal itu sedangkan Ernest memasang wajah jengkel. Setelah itu Nadia dan Revan pun berlalu pergi dari sana mendingan Ernest dan Raya lagi.
Kemudian Nadia dan Revan pun kembali berjalan sambil mengobrol seperti biasanya. Setelah cukup lama mengobrol mereka pun kembali ke villa untuk mengistirahatkan diri, karena hari itu mereka tak akan melakukan apapun.
Malam menjelang begitu saja, mereka pun tertidur. Saat semuanya sudah tidur termasuk Revan, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Revan menatap layar ponsel yang berdering itu cukup lama sampai suaranya mati, kemudian berdering lagi untuk kedua kalinya, setelah itu Revan bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar sambil mengangkat telepon.
"Hallo," kata Revan pada seseorang di ujung telepon sana.
"Kok lama banget sih kamu ngangkat teleponnya?" tanya seseorang di ujung telepon sana.
"Aku sudah tidur tadi," ujar Revan.
"Alasan, chatku juga gak kamu balas dari sore, kamu kemana sih," ujar seseorang yang tak lain perempuan.
"Aku lagi di luar kota, di sini susah jaringan.. Bukan aku gak balas, tapi chatmu gak masuk, lihat deh," ucap Revan. Perempuan itu hanya mendehem yang terdengar Revan.
"Kapan pulang?"
"Besok pagi."
Kemudian mereka terlibat pembicaraan cukup lama hingga akhirnya terputus dan Revan pun kembali ke kamar untuk tidur.
Tanpa Revan sadari ternyata Nadia melihat hal itu karena tadi Nadia sempat keluar ke kamar mandi. Saat Nadia mengetahui hal itu Nadia ingin menegur tapi sepertinya Revan sedang begitu serius. Dari kejauhan Nadia memang tak mendengar suara siapa yang berbicara dengan Revan, tapi suara Revan terdengar seperti sedang memberitahu keadaanya pada seseorang.
Entah mengapa Nadia tiba-tiba saja penasaran dengan siapa Revan berbicara, tak mungkin dengan orangtuanya semalam ini karena mereka saja berada di luar kota, atau temannya? Untuk apa mereka menghubungi begitu malam, apa yang mereka bahas? Tak mungkin hanya tentang tugas.
Nadia menjadi overthinking, padahal ia hanya sahabat dari Revan, tak lebih, tapi ia menyukai Revan sebuah perasaan yang sulit sekali ia dapatkan kembali. Revan begitu indah di matanya.
Jika Revan menghubungi seseorang perempuan tadi, pasti ia akan begitu cemburu, karena ia tak ingin Revan jadi kepelukan perempuan lain selain dirinya, nampak egois memang tapi ia tak peduli dengan itu.
Nadia kini juga masuk ke dalam kamarnya. Bersamaan dengan itu orangtua Nadia tengah berada di rumah, mereka belum tidur karena tak lama baru pulang dari bekerja.
"Nadia belum pulang juga, Ma?" tanya sang papa pada mamanya.
"Belum, Pa. Nomornya gak aktif, nomor teman-temannya juga gak aktif," kata Mamanya.
"Ke villa mana anak itu, mentang-mentang ia diskors malah keluyuran bukannya mikir membenahi diri," kata sang papa.
"Papa udah tanya Gery?"
"Sudah, tadi Papa telpon. Gery juga gak tau, katanya dia di luar kota," kata Papanya.
"Semoga aja Nadia gak kenapa-kenapa, Pa. Nadia selama ini juga nakal, tapi dia tetap pulang kok. Dia juga sama Nabila, Ernest dan Robby kan, gak mungkin mereka pergi jauh banget," ujar sang mama.
Sang papa mengangguk. Memamg selama ini Nadia juga nakal tapi ia selalu pulang ke rumah setiap hari, meskipun kadang pulang malam dalam keadaan yang tak baik. Nadia begitu nakal sampai orangtuanya pusing dengan tingkah lakunya.
Maka dari itu mereka memutuskan untuk menjodohkan Nadia dengan Gery, orang yang pasti bisa menjaga Nadia. Menjodohkan keduanya bukan karena paksaan, Gery menerima itu dengan lapang d**a, padahal jika Gery menolak itu tak masalah, nyatanya Gery tak menolaknya dan mengatakan bahwa ia menerima semua tentang perjodohan itu.