Bab 23

1260 Kata
Keesokan paginya mereka pun terbangun saat kabut masih menyelimuti, daerah puncak begitu dingin rasanya sampai embun masih berjatuhan saat seperti ini. “Kita mau kemana sih ini?” tanya Nadia begitu Nabila mengajaknya keluar, padahal kabut masih tebal. “Kita mau jalan-jalan lihat kebun stroberi sama the,” jawab Nabila. “Emang di sini ada tumbuhan stroberi?” tanya Nadia lagi. “Kata Raya sih ada, gue juga gak tahu. Makanya udah cepetan ayo kesana keburu makin dingin,” kata Nabila. Saat mereka berjalan menuju kebun stroberi mereka bertemu dengan Robby yang seorang diri. “Ncess, kok lu sendirian? Kemana Ernest?” Begitu tanya Nadia saat melihat Robby yang berjalan berungut-ungut seorang diri seperti anak gadis yang baru saja diperlakukan tidak baik oleh seorang laki-laki yang entah dari mana, tapi sepertinya jika benar Robby pasti akan merasa senang dengan itu. “Kami tadi dibangunin sama Raya katanya buat lihat kebun stroberi, eh kampret banget masa gue ditinggal seorang diri, Raya sama Ernerst malah pacaran,” kata Robby merungut sambil mengatakan apa yang terjadi padanya, ia ditinggal Ernest seorang diri, padahal ia tak tahu di mana letak kebun stroberi itu. “Yaudah gih gak usah manyun, muka lu itu udah jelek, makin jelek aja nanti,” kata Nabil sambil menarik tangan Robby agar ikut Nadia dan Nabila. “Eh penghinaan banget lu, gini-gini gue cocok masuk Miss Universe kali,” celoteh Robby. “Enggak, lu cocoknya jadi Miss call,” kata Nadia. “Ada nada deringnya lagi.” Mereka bertiga pun akhirnya berjalan bersama menuju kebun stroberi itu, tak berapa lama mereka pun sampai di sana, kebun stroberi itu cukup luas dan beberapa petani dari desa setempat berada di sana untuk bekerja, baik yang membersihkan maupun yang melakukan lahan. Nabila akhirnya mengetahui sumber kekayaan neneknya dari mana, ia kira neneknya melakukan pesugihan karena selama ini tak bekerja tapi selalu memiliki banyak sekali uang. “Akhirnya gue tahu dari mana duit Nenek gue,” kata Nabila pada Robby dan Nadia. “Dari mana?” tanya Robby. “Ya dari bisnis beginianlah, gue kira selama ini Nenek gue pesugihan, habis gak kerja tapi emasnya berenteng di tangan, brangkas ada banyak di rumah katanya,” ucap Nabila. “Uangnya gak disimpan di bank?” tanya Robby lagi. “Nenek gue gak percaya bank, katanya ngerepotin,” ujar Nabila. “Padahal Nenek lu bisa jadi nasabah prioritas,” kata Nadila. Belum sempat Nabila menyahuti ucapan Nabila, Bapak penjaga Villa datang dan menegur mereka. “Neng sama teman-temannya mau manen buah stroberi?” tawar penjaga Villa pada mereka. “Emang boleh, Pak?” tanya Nadia memastikan. “Boleh, Neng.” Setelah mengatakan hal itu penjaga villa pun memberikan sarung tangan, gunting dan juga tempat untuk menampung buah stroberi nanti. “Pilihnya yang ranum merah saja.” Ketiganya mengambil barang-barang itu kemudian berjalan menuju bagian kebun stoberi yang memang sudah panen saat itu, mereka terlihat begitu asyik dengan kegiatan memanen buah. Mereka anak kota yang hampir tak tahu bagaimana kehidupan desa dan kampung, yang mereka tahu hanya bagaimana caranya hidup dengan gaya yang mewah dari hasil uang orangtua mereka, namanya orangtua wajar ngasih anaknya, masa ngasih tetangga. Saat ketiganya masih sibuk dengan kegiatan mereka, Ernest bersama dengan Raya datang. “Weh panen gak ngajak-ngajak ya kalian!” teriak Ernest. Mendengar terikan itu teman-temannya seolah tak peduli dan tuli. “Gitu, pura-pura budek, baru juga gue tinggal sebentar, gue udah gak dianggap.” Nadia tak menanggapi celotehan Ernest karena ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Nadia mengambilnya ponselnya dan melihat bahwa Revan yang menghubunginya. Sudah seminggu laki-laki itu tak menghubunginya, sepertinya ia sedang luang karena tak seperti biasanya dalam seminggu ini. Senyum Nadia sedikit terbuka lebar kemudian ia mengangkatnya, tapi belum berucap ‘halo’ Revan sudah lebih dulu bertanya. "Kamu di mana? Kok pas kakak ke rumah tadi cuma ada supir sama pembantumu, Om sama Tante juga gak ada," tanya Revan di ujung sambungan telepon pada Nadia. "Tumben kakak nyariin aku? Katanya lagi sibuk," ujar Nadia. "Sibuknya udah selesai dan kakak butuh healing, mau ketemu kamu malah gak ada," kata Revan. "Aku lagi ke villa sama temen-temen, jalan-jalan." "Gak sekolah?" "Enggak, aku diskros, gak usah tanya kenapa, nanti aku ceritain." "Kamu lagi di villa mana sekarang? Kakak mau ke sana." "Nanti aku sherlock, lumayan jauh dari kota." "Gampang bisa pakai helikopter, aku kan kaya." "Kaya monyet maksudnya?” “Itu kayak ya.” “Udah lah aku mau jalan-jalan dulu metik daun karet," kata Nadia tanpa mendengar ucapan Revan ia pun menutup teleponnya dan menaruhnya di saku. Setelah Nadia menutup percakapan itu Nabila pun mendekati Nadia dengan menyungging senyum. “Siapa? Kak Revan ya?” “Dih kok lu kepo,” kata Nadia menolak menjawab pertanyaan Nabila. “Ngomong gak lu, gue lempar pisau stroberi nih,” paksa Nabila pada Nadia. “Enggak, gue gak mau cerita pokoknya sebelum lu bagi lima hektar tanah warisan keluarga lu sama gue,” ujar Nadia berkelakar. “Keluarga gue masih pada hidup woi, lu nyumpahin biar pada mati terus gue dapat warisan gitu?” “Enggak sih, Cuma ngomong doang.” Mereka pun kembali memanen buah itu, setelah cukup lama dan hari beranja siang mereka menyelesaikannya. “Laper nih gue,” kata Robby. “Sam ague juga,” ujar Ernest. “Gue kagak tanya dan kagak peduli.” Robby mengatakan itu sambil manyun karena mengingat bahwa ia ditinggal seorang diri di tengah kabut. “Kok lu ngomong gitu sama gue, Ncess?” “Dia ngomong gitu karena marah sama lu, Bambang. Lu tinggalin dia di tengah kabut setelah lu pakai, kan?” ujar Nabila sambil bertanya. “Idih Najis, gue gak pernah makai dia ya, yang ada dia makai gue. Tidur tadi malam gue digrepe-grepe,” papar Ernest. “Heh, lu memutar balikkan fakta, jelas-jelas lu yang peluk-peluk gue sambil nyebut-nyebut nama Raya, mana tugu monas lu bangun lagi, gue ngerasa ya, perlu mandi junub gue,” ujar Robby mengatakan hal itu sambil mengingat apa yang terjadi tadi malam. Benar saja sebenarnya Ernest yang melakukan hal itu padanya. “Mimpi ena-ena pasti lu sama Raya, kan tadi malam.” “Fitnah!” seru Ernest. “Sudahlah rumah tangga kalian gak usah dibawa ke sini,” ujar Nadia sambil menegur kedua temannya yang berkelahi karena satu hal yang tak jelas. Namun, Nadia menyukai ketidak jelasan itu, sebab selama ini mereka lah yang menemani hari-hari suram, jika tidak ada mereka entah bagaimana kehidupannya, pasti akan sangat menyebalkan. Mengingat ia hidup bersama dengan orangtua yang tak pernah peduli padanya, yang selau terlihat sibuk dengan semua urusannya, seolah hidup mereka hanya untuk bekerja dan terus bekerja, tak mempedulikan dirinya. Nadia tak ingin mengingat itu terlalu jauh karena saat ini ia ingin liburan, saat seperti ini pun mereka tak menanyakan kemana dirinya pergi atau sedang apa untuk hanya basa-basi biasa meskipun mereka tahu Nadia tak akan membalas pesan itu. Padahal sudah dua hari Nadia tak ada di rumah. Atau mereka juga sedang pergi ke luar kota? Bisanya jika benar keluar kota pasti mereka akan mengirimnya pesan, tapi sekarang tidak. Apa mereka sudah tak menganggapnya anak lagi? Jika benar seperti itu ia malah bersyukur, Nadia tak lagi merasa tertekan dan harus terus menganggap mereka orangtua. Nadia merasa itu tak egois, karena menurutnya itu wajar, hal yang diminta seorang anak kepada orangtuanya, jika bukan meminta kepada mereka kepada siapa lagi? Neneknya sudah tak ada lagi kini, bukan pembantu atau supir yang harus terus bersama dengannya, tapi orangtua. Jauh di lubuk hatinya ia begitu ingin mereka menyanyanginya seperti anak pada umumnya. Berbincang dan bertegur sapa, tersenyum seolah memperlihatkan mereka memiliki ikatan batin dan kekeluargaan yang cukup erat, bukan seperti orang asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN