Bab 22

1157 Kata
"Gue baru tahu kalau keluarga lu punya villa," kata Nadia saat berada di kamar dan memandangi sebuah foto yang ada di dalam sana. Jika dilihat sepertinya kamar itu yang paling besar dan khususkan untuk tamu istimewa. Memang begitu istimewa mengingat bahwa Villa itu milik keluarga Nabila, lebih tepatnya nenek kandungnya. "Gue juga baru tahu kalau keluarga gue punya villa," ujar Nabila. "Btw ini keluarga lu semua? Yang mana nenek, Ibu sama lu? Banyak banget lagi orangnya dalam satu frame," tanya Nadia, kemudian Nabila berdiri sambil memandangi foto itu seolah ia lupa kalau pernah mengambil foto bersama. Meskipun nabila tak mengingat semua anggota keluarganya, yang pasti ia ingat mana dirinya, ibunya serta kakek dan neneknya. "Ini gue pas masih TK." Nabila menunjuk dirinya yang saat itu masih kecil sekitar lima tahun. "Samping gue Ibu, terus duduk di sofa ada kakek, istri lainnya dan nenek gue, istri ketiga dan keempatnya saat itu belum dinikahi." Setelah itu Nabila menceritakan pohon keturunannya yang begitu luas hingga mencapai akar, hingga Nadia mengantuk dibuatnya. Seolah Nabila menceritakan bahwa ia benar anak cucu Adam dari nenek moyang yang menyebrangi lautan menuju Indonesia. "Nah gitu, ribet banget emang keturunan gue," kata Nabila mengakhiri ceritanya. Nadia tersadar. "Ah gitu ya, keluarga lu besar juga ternyata ya." "Itu masih keturunan dari kakek sih, belum dari nenek, mau gue ceritain juga?" tawar Nabila. "Hah? Enggak usah deh, makasih, gimana kalau kita persiapan buat makan," ucap Nadia langsung menahan Nabila untuk bercerita, bisa-bisa makin panjang nanti kalau Nabila cerita nanti. "Oiya gue lupa gak bilang Bapaknya tadi, kalau gue bawa perlengkapan barbequean buat nanti malam, kita bilangin Ernest sama Incess aja nanti," kata Nabila yang langsung mendapatkan dia jempol dari Nadia. Sepertinya acara malam ini akan begitu ramai. Nadia sudah tak sabar untuk menikmati liburannya. Karena masih ada seminggu lagi sampai ia masuk sekolah, tak masuk sekolah pun tak apa-apa baginya, ia malah senang karena hal itu. Siapa juga yang mau terus berada di tempat membosankan yang semua orang sebut sekolah, jika bukan karena teman-temannya banyak di sana, tak mungkin ia mau terus sekolah, lagi pula sekolah hanya membuang waktunya, menyita waktu bermainnya dan membuat waktu bersama dengan Revan jadi berkurang. Tiba-tiba entah bagaimana ia teringat dengan Revan, sudah beberapa hari ia tak bertemu atau bermain ke apartemen laki-laki itu. Revan mengatakan tak ingin diganggu untuk beberapa hari karena sedang mengadakan ujian persemester yang menurutnya menguras banyak tenaga dan waktu, meskipun Nadia tak tahu semenyita waktu apa. Bahkan saat pergi berlibur saat itu pun ia tak mengatakannya pada Revan, karena berhubungan lewat chat saja untuk beberapa hari ini tidak ada. Nadia bukan tipikal perempuan gatal yang terus mendekati seorang laki-laki meskipun ia tahu bahwa ia sangat menyukai laki-laki itu sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Namun, sepertinya laki-laki itu sampai saat ini belum menaruh perasaan apapun padanya, meskipun berulang kali Nadia mengatakan bahwa ia menyukainya, mungkin Revan masih menganggap bahwa Nadia bercanda, apalagi pernah beberapa kali Revan mengatakan bahwa ia menganggap Nadia seorang adik biasa, tak lebih. Sayangnya, Nadia tak ingin hanya sekedar adik. “Lu mau mandi dulu gak?” tanya Nabila kemudian pada Nadia. “Kayaknya butuh mandi deh gue, di jalanan banyak debu,” kata Nadia. “Gue mandi duluan yak.” Setelah mengatakan hal itu Nadia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, sementara itu Nabila pun keluar dari kamar itu untuk menemui Ernest dan Robby. Nabila mengetuk pintu kamar Ernest dan Robby berulang kali dengan sangat kencang, hingga mungkin rasanya bisa terdengar sampai pintu depan gapura selamat datang villa. Tak berapa lama kemudian pintu itu terbuka, memperlihatkan Ernest dengan rambut basah dan berantakannya, sepertinya ia baru saja mandi karena di lehernya juga menggantung sebuah handuk. “Apaan?” tanya Ernest. “Bantuin gue angkatin barang di bagasi buat bakar-bakar nanti malam,” kata Nabila. “Iya, bentar gue panggil Incess,” ujar Ernest. “Ncess, bantuin kita angkat barang di bagasi mobil!” Setelah mendengar teriakan itu Robby pun akhirnya menampakkan dirinya dengan lilitan handuk sampai menutupi dadanya seolah ia perempuan dengan p******a yang akan terlihat jika tak tertutup. “Lu habis ngapain pakai kemben segala?” tanya Nabila melihat Robby yang berpenampilan begitu. “Incess habis mandi dong, habis ngapain lagi,” jawab Robby. “Kalian berdua mandi bareng?” tanya Nabila lagi. “Enggak lah, gila aja gue mandi sama Incess, yang ada gue diperkosa lagi.” Setelah mengatakan hal itu Ernest menarik kasar handuk yang Robby pakai hingga jatuh ke bawah, untung saja bagian vitalnya tertutupi celana pendek. “Ernest! Aurat gue kelihatan!” pekik Robby dengan kencang dan menutupi bagian dadanya. “Cepet ganti baju, gue tunggu di mobil,” kata Nabila. “Tapi, Bil, gue dilecehin lho ini,” ujar Robby. “Bodo amat, Ncess!” teriak Nabila menjauh dari Robby sambil mengacungkan jari tengahnya. Robby dan Ernest bersiap dengan pakaian mereka, setelah itu mereka pun keluar kamar menuju tempat yang Nabila katakan tadi untuk membantu mengambil barang-barang yang akan mereka gunakan untuk kegiatan malam nanti. Tak berapa lama Nadia pun ikut membantu begitu juga dengan penjaga Villa. Mereka semua membawa barang itu kebelakang villa untuk digunakan nanti malam. Beberapa jam berlalu acara bakar-bakar itu pun mereka lakukan, selain mereka bertiga ada penjaga villa, istrinya dan anak mereka yang perempuan seusia Nadia dan teman-temannya yang lain. Mereka pun menikmatinya, Ernest sesekali mencuri waktu untuk menggoda anak penjaga villa yang bernama Raya itu. Nadia menikmati semua itu sampai ia benar-benar lupa dengan semua yang terjadi dalam hidupnya, ini lebih indah dari pada dugem dan juga party yang sering ia lakukan biasanya. Bersama dengan teman-temannya ia bisa lupa tentang kesedihannya, tentang orangtuanya juga tentang banyak hal yang terjadi. Mungkin ia harus sering-sering melakukan hal ini untuk sekedar healing, begitu kata anak muda jaman sekarang. Ia biasanya hanya melampiaskan pada minuman dan juga rokok jika sedang dalam kondisi tak stabil, tapi ia sadar jika semua itu tak baik, neneknya juga pernah melarang Papanya untuk berhenti merokok karena bisa membawa penyakit. Dulu ia begitu patuh, tapi entah mengapa ia malah nakal dan malah melakukannya. Nadia mengambil piring makan yang berisi daging dan beberapa bakaran lain, kemudian mengambil bangku dan duduk sedikit menjauh dari kerumunan beberapa orang itu, sedangkan yang lain sibuk bakar-bakar sambil menyalakan kembang api seolah tengah tahun baru, padahal tahun baru sudah lewat beberapa waktu. “Kenapa? Lu ngantuk, ya?” tanya Nabila kemudian begitu mengetahui bahwa Nadia tak berada di sana. “Enggak kok, gue Cuma capek berdiri aja,” kata Nadia menjawab, ia tak berbohong karena ia memang lelah berdiri sejak tadi. “Yaudah duduk gih sambil makan, kalau lu ngantuk langsung masuk kamar aja, kamarnya gak dikunci kok,” kata Nabila kemudian. Nadia hanya bisa menunjukkan jari jempol kirinya karena yang kanan sedang memegang piring. Nabila pun berlalu dari sana dan kembali menikmati bakar-bakaran itu bersama dengan yang lain. Acara itu begitu ramah meskipun hanya enam orang saja. Lalu pada dinihari saat makanan sudah habis semua, acara itu pun selesai dan satu persatu masuk kedalam kamar termasuk Nabila dan Nabila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN