Nadia sampai di rumah setelah perjalanan sekitar hampir satu jam dari kuburan, begitu sampai di rumah matanya melihat tiga onggok manusia yang sedang berada di depan pintu. Tumben sekali mereka sepagi ini sudah datang, apa tidak sekolah? Mungkin begitu batin Nadia saat melihat Robby, Nabil dan Ernest.
"Ngapain lu pada ke sini, gak sekolah?" Begitu tanya Nadia saat ia sudah berada di depan ketiga temannya.
"Nadnad...!" Robby berlari kecil menuju Nadia yang tak jauh darinya, kemudian ia memeluknya seolah sudah lama sekali tak bertemu.
"Lu kemana aja sih, Inces kan kangen banget," kata Robby dengan gayanya yang centil.
"Apa sih, Nces, gue kan di skors, lagian tiap hari kita chatan yak. Gak usah mendramatisir deh." Nadia melepaskan pelukan Robby. "Gue tanya kalian ngapain ke sini pagi-pagi begini?"
"Kami bolos sekolah buat jenguk lu." Ernest dengan mudahnya mengatakan hal itu.
"Dih, gue jenguk gue? Gue kagak sakit, lagian alasan banget, pasti emang mau bolos kan lu pada," kata Nadia.
"Bawel, cepetan gih buka pintu, kaki gue udah kram nunggu di depan sini dari tadi. Lagian dari mana sih lu?" kata Nabil sambil bertanya.
"Bokap sama Nyokap gue kayaknya udah pergi kantor jadi gak bukain pintu dan gue habis dari kuburan nenek gue." Nadia mengatakan itu sambil membuka pintu rumahnya.
Begitu rumah sudah terbuka, ketiga teman Nadia itu langsung berhamburan dan duduk dengan santainya seolah mereka adalah tamu, tapi tak diundang.
"Minum dong, haus nih," ujar Ernest.
"Iya, Inces juga haus," kata Robby.
"Gak usah manja deh kalian, ambil sendiri di dapur noh, gue mau salin baju dulu di kamar," ucap Nadia dengan santainya kemudian ia meninggalkan.
Setelah mendengar hal itu Robby berjalan menuju dapur sementara Nabila melihat sekeliling ruang tamu Nadia itu, ia jarang sekali ke sana, karena mungkin satu dan dua hal, lagi pula selama ia kenal Nadia sejak SMP, Nadia jarang sekali mengajak berkumpul teman-temannya di rumah, seolah Nadia tak memperbolehkan mereka datang, padahal rumah Nadia bagus bahkan jika dibandingkan rumah milik teman-temannya.
Tetapi hal itu mungkin wajar karena memang Nadia sendiri adalah tipikal orang yang tak betah, apalagi ketiga temannya tahu bahwa Nadia tak akrab dengan kedua orangtuanya. Hal itu membuat semakin jelas masalah itu.
Beberapa menit kemudian Ernest dan Robby datang dari dapur dengan minuman sirup serta cemilan, begitu juga Nadia yang keluar dari kamarnya.
"Eh Nad, sebenarnya kita ke sini mau ngajak lu nginep di Vila puncak," kata Ernest.
"Vila di puncak? Kapan?" tanya Nadia.
"Sekarang," jawab Ernest.
"Kenapa kalian gak ngomong? Berapa hari kita ke sana?" Nadia bertanya lagi.
"Esok kita balik, kita nginep di sana semalam. Vilanya punya keluarga Nabil," kata Robby.
"Woke, gue siapin perlengkapan dulu. Kalian tunggu di sini," ucap Nadia.
Nadia terlihat bahagia saat teman-temannya mengajaknya ke Vila di puncak, tumben sekali mereka mengajaknya berlibur di saat bukan musimnya tidak libur, tapi ia sedang berlibur juga sih dan bisa bebas.
Tak lama kemudian Nadia selesai membawa tas besar yang cukup diisi dengan perlengkapannya. Kemudian bersama dengan ketiga temannya Nadia berjalan menuju mobil milik Ernest.
Nadia berpamitan dengan si supir dan mengatakan jika orangtuanya bertanya kemana dirinya, bilang saja lagi berlibur ke Vila di puncak. Meskipun ia tak akrab dengan orangtuanya, tapi ia tak mau jika mereka terus menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya.
Begitu masuk mobil, ternyata di dalam sudah tersusun barang perlengkapan mereka bahkan ada cemilan juga, entah kapan mereka mempersiapkan hal itu.
"Lu pada kagak sekolah gini, gak alpa?" tanya Nadia.
"Gue izin kakek gue ada acara nikah, kalau Robby sakit, Inces keluar kota," kata Nabil mengatakan bahwa mereka membuat rencana kebohongan itu hanya akan bisa liburan bersama.
Nadia menggeleng. Pantas saja mereka menjadi temannya karena mereka memang memiliki sifat yang sama dengannya bahkan seolah mereka itu saudara.
Ernest membawa mobil itu keluar dari area rumah Nadia dan melaju dengan kecepatan sedikit sedang agar mereka tak sampai di Vila saat siang hari.
Perjalanan ke arah Vila di puncak memakan waktu lebih dari tiga jam dengan medan yang sebenarnya cukup nyaman. Namun, karena tempatnya jauh, terpaksa mereka menganggap hal itu lama.
Robby sampai mabuk perjalanan dan setelah menginjakkan kakinya di daerah puncak ia mengeluarkan hampir semua yang sudah ia makan hari itu, termasuk jus jeruk yang baru ia minum di rumah Nadia, juga cemilan-cemilan yang ia makan di mobil.
“Muntah lu banyak banget,” ucap Nadia, saat Nabil mengurut leher belakang Robby.
“Lama banget sih lu Nest bawa mobil. Gue sampai gak tahan," kata Robby, sesekali ia muntah lagi.
Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan kearah vila yang cukup besar, dengan pemandangan yang begitu indah.
Di depan pintu vila putih itu, terlihat ada seorang lelaki paruh baya yang sudah menunggu. Ia tersenyum ramah yang tertutupi keruput tua diwajahnya.
“Selamat sore, Selamat datang di Vila kami,” ucap ramah penjaga vila itu.
“Iya, Pak. Selamat sore. Saya Nabila, cucunya nenek Indri dari anak keduanya dan ini teman-teman saya," kata Nabil pada siang penjaga vila milik neneknya.
“Iya, Mbak. Nyonya Indri sudah bilang sama saya. Mari masuk.” Penjaga Vila mempersilahkan ketiganya masih. Saat hendak mengambil tas milik Nadia, Nadia menggeleng.
“Biar saya saja yang membawa, Pak. Bapak tunjukin jalannya saja.”
Penjaga Vila mengangguk dan menunjukkan apapun yang ada di vila itu. Mulai dari kamar yang akan mereka tinggali untuk tempat tidur, halaman luas yang bisa mereka gunakan dan banyak hal lainnya.
Setelah dirasa cukup, Penjaga Vila itu berlalu pergi meninggalkan ketiganya di sana.
"Vila lu gede banget, Bil. Gue gak tau kalau lu punya Vila," kata Ernest.
"Ya ini Vila gue dari nenek kandung gue, istri pertama kakek dari Bapak gue. Satu-satunya nenek yang masih hidup," jawab Nabil.
"Keren juga nenek lu, yang pertama masih hidup yang tiga lainnya udah meninggal. Pasti nenek lu suka ngebully istri kakek lu yang lain, kan," ujar Robby.
"Nenek gue kan strong woman. Dah lah gue mau mau bersihkan diri dan istirahat, yuk Nadia." Nabila merangkul tangan Nadia dan berjalan menuju salah satu kamar yang tadi sudah dikatakan oleh penjaga Vila.
"Gue ikut," kata Robby.
Namun, dengan cepat Ernest menarik tubuh Robby. "Lu sama gue."
"Tidak. Tolong. Gue mau diperkosa sama Ernest plis, tolong. Otongnya si Ernest gede banget gue takut gak perawan lagi." Robby meronta manja dengan mendramatisir keadaan dengan saat ini Ernest yang sudah menariknya ke kamar yang lainnya. Begitu sampai di kamar Ernest melepaskannya.