Nadia menumpahkan semua perasaanya di kuburan sang nenek, hanya di sana tempat di mana ia bisa berbagi cerita dengan mudahnya, tanpa harus peduli omongan orang atau anggapan orang bahwa ia berlebihan tentang sesuatu yang ada.
Di sana tidak ada yang melarangnya untuk banyak berbicara, bahkan saat neneknya masih hidup dulu pun begitu. Sang nenek akan mendengarkan semua hal yang keluar dari mulut Nadia apapun itu sampai Nadia lelah sendiri dengan apa yang ia ucapkan, lalu diam dan kemudian tertidur.
Namun, hal itu sudah jauh berbeda tak bisa lagi ia melakukannya, tak ada yang menanggapinya berbicara, ia hanya berbicara sendiri saat ini, tapi hal itu tak menjadi masalah selama yang diajaknya berbicara adalah neneknya tersayang.
Dulu saat ia masih SD ada juga kakeknya, tapi ia meninggal saat Nadia naik kelas dua karena usia yang memang sudah tua. Kesedihan ada diantara dirinya dan sang nenek tapi perlahan kesedihan itu hilang dengan sendirinya, karena ada hal yang lebih penting dari itu semua.
"Sudah dulu ya, Nek. Nadia capek, besok lagi Nadia ke sini, tenang aja Nadia pasti bawakan bunga yang banyak nanti beli yang sepuluh warna," kata Nadia kemudian ia bangkit berdiri sambil membersihkan debu yang menempel di celana yang ia pakai.
Nadia berjalan sambil membawa plastik dan botol bekas tempat bunga serta air, saat hendak membuang di tempat sampah matanya tiba-tiba tertuju pada satu orang, menurutnya begitu. Anak kecil yang sedang duduk menghadap sebuah kuburan, meskipun jauh tapi terlihat jelas bahwa ia sedang menangis.
Nadia meneguk ludahnya, ia berharap itu bukan hantu karena rasanya aneh jika anak kecil sepagi ini sudah berada di kuburan apalagi seorang diri.
Nadia memberanikan diri mendekati anak kecil itu malah seolah meyakinkan jika itu benar hantu. Jika benar maka ia tak akan datang lagi sepagi ini. Begitu sampai di dekat anak kecil itu, Nadia menepuk pundaknya, masih berasa. Nadia menghembus napas leganya, manusia ternyata, pikirannya menjadi tenang kini karena anak kecil itu bukan hantu.
Anak kecil perempuan berambut panjang agak kemerahan kusam tak terawat itu menoleh, melihat Nadia yang menyentuh pundaknya.
"Ada apa, Kak?" tanya anak kecil itu dengan sedikit cadel.
"Adek ngapain di sini? Kok sendirian? Mama sama Papanya kemana?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Nadia secara tiba-tiba, entah mengapa ia begitu penasaran.
"Selena lagi ziarah kuburan teman kak, orangtua Selena ada di rumah."
Nadia terdiam tapi mulutnya ber-oh tanpa suara setelah mendengar jawaban anak yang mengaku bernama Selena itu.
"Kok Selena pagi-pagi begini Ziarah, emang gak takut?" tanya Nadia lagi.
"Selena sudah sering ke sini, kak," jawab Selena.
"Ini sudah selesai belum? Kalau sudah ikut kakak yuk keluar dari sini, temenin kakak cari makan buat sarapan, Selena pasti belum sarapan, kan." Mengendengar ucapan itu Selena hanya mengangguk kemudian meraih tangan Nadia dan mereka pun berjalan bersama keluar dari area kuburan itu.
Selena anak kecil yang berusia sekitar tujuh tahun, masih sangat kecil tapi sudah begitu pandai pergi ke kuburan seorang diri, entah di mana orangtuanya sampai membiarkan anak sekecil itu keluyuran sendiri. Kasihan jika nanti diculik. Begitu pikiran Nadia yang entah mengapa seolah khawatir pada Selena kecil nan mungil. Menggemaskan.
Nadia memutuskan membawa Selena untuk makan bubur tak jauh dari perkuburan itu. Selena terlihat tak takut orang asing yang baru saja dikenalnya, harusnya anak sekecil itu merasa khawatir akan keselamatannya, tapi ini tidak sama sekali.
Apa orangtua Selena tak pernah mengajari bahwa orang asing berbahaya dan bisa saja menculiknya? Karena dilihat dari mana pun Selena begitu polos dan baik, saking baiknya dengan mudah diajak.
"Selena tinggal di mana? Ayah sama Ibu masih ada?" tanya Nadia.
"Ayah sama Ibu masih ada, tapi Selena tinggal di rumah singgah sama, Kak," jawab Selena.
Rumah singgah? Untuk apa Selena tinggal di rumah singgah? Memangnya orangtuanya tak memiliki rumah untuk tempat tinggal sampai Selena harus tinggal di rumah singgah?
"Selena sudah selesai makan, Kak. Selena pergi dulu, terima kasih," sambung Selena, kemudian turun dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja tanpa menunggu ucapan apapun dari Nadia.
Nadia hanya mengangguk tanpa berucap apapun.
"Anak itu sering sekali ke kuburan, kalau gak pagi-pagi begini pasti agak sorean," kata penjual bubur tiba-tiba.
"Memang dia tinggal di sekitar sini, Pak?" tanya Nadia.
"Saya kurang tahu tempat tinggalnya, Neng. Tapi kalau rumah singgah, memang tak jauh dari sini. Namanya memang rumah singgah seperti panti asuhan, khusus menerima anak-anak penderita penyakit kanker," papar tukang bubur.
"Penyakit kanker. Apa Selena salah satu dari mereka?"
"Bisa jasi, Neng. Bisa juga yang sering dia ziarahi anak-anak yang sudah meninggal akibat kanker. Saya lihat ayah ibunya masih ada kok, pernah nganterin dia ke sini."
"Begitu ya, Pak. Makasih ya Pak," kata Nadia.
"Sama-sama, Neng. Kalau boleh tahu neng ke sini ngunjungi siapa?"
"Nenek saya, Pak. Beliau dimakamkan di sini," ucap Nadia menjawab pertanyaan tukang bubur.
"Oh iya, Neng."
Setelah pembicaraan singkat dengan tukang bubur yang memberitahu bahwa Selena tinggal di sebuah rumah singgah yang khusus untuk tempat tinggal anak-anak penderita kanker. Nadia berpikir apa Nadia salah satu dari bagian penderita kanker itu? Jika benar ia merasa kasihan karena anak sekecil itu sudah begitu menderita.
Nadia malah ingin mengenal anak itu lebih jauh, sepertinya nanti bisa saja ia pergi ke rumah singgah itu untuk mencari tahu siapa sebenarnya Selena dan apa yang terjadi pada anak itu. Meskipun Nadia baru beberapa menit mengenal Selena tapi ia merasa ada ikatan batin yang cocok dengannya. Sepertinya ikatan antar keluarga bisa saja terjalin dengan Selena. Nadia rasanya ingin memiliki adik kecil yang menggemaskan.
Kemudian Nadia selesai dengan makannya, setelah selesai membayar ia pun berlalu pergi dari sana untuk pulang. Hari itu ia diantar supir yang biasanya mengantar orangtuanya bekerja.
Sepagi itu orangtuanya memang belum pergi bekerja, saat mereka tahu bahwa Nadia hendak ke kuburan, maka sang mama meminta supir untuk mengantarkannya. Nadia tak menolak karena ia memang malas mencari taksi atau ojek online, sepagi itu belum banyak yang beroperasi.
"Langsung pulang ya, Mang."
"Baik, Non."
Setelah itu si supir membawa mobil itu pergi, mengendarainya dengan kecepatan sedang karena jalanan sudah mulai macet.
Nadia menarik napas. Sudah dua hari ia tak masuk sekolah, ada perasaan senang, ada juga sedih. Senangnya ia tak harus belajar, sedihnya karena ia tak melihat teman-temannya dan tak bisa duduk di lantai atas.