"Apa kamu merasa keberatan dengan perjodohan ini?" Begitu tanya sang Mama saat Gery masih berada di rumah sakit.
"Kenapa Mama bilang gitu?" tanya balik Gery.
"Mama hanya bertanya, dan sudah sewajarnya seorang laki-laki muda, sehat dan normal merasa keberatan dengan sebuah perjodohan," ujar sang Mama.
Gery sedikit mengulas senyum hingga hampir tak nampak. "Gery sama sekali gak merasa keberatan atau pun sakit hati dengan perjodohan ini, Ma. Lagi pula mungkin ini cara terbaik Gery untuk mendapatkan pasangan, tapi Ma boleh Gery meminta sesuatu?"
Sang Mama mengangguk. "Apa itu?"
"Boleh Gery menikahi Nadia saat ia sudah berusia dua puluh satu tahun. Mungkin masih terlalu lama, tapi bagi Gery itu saat terbaik karena saat itu Nadia sudah tumbuh dewasa," papar Gery.
Memang sejak awal Gery sudah memiliki niat untuk menikahi Nadia saat sudah berusia dua puluh satu tahun, bukan tanpa alasan. Gery melakukannya karena saat itu Nadia pasti sudah tumbuh dewasa dan punya pikiran luas tentang hidup tidak seperti saat ini.
Ketika lulus nanti pun belum tentu Nadia lagsung bisa membedakan mana yang pantas atau tidak, maka dari itu semakin bertambahnya usia Nadia pasti mengerti.
"Apa itu tak terlalu lama?" Mendengar pertanyaan sang Mama yang begitu kemudian Gery menjelaskan seperti apa yang ada dalam pikirannya. "Kalau memang itu maumu, Mama yakin itu juga yang terbaik."
Saat Gery dan sang mama mengorbol datang Rio dan Dinda sang istri, sepertinya Rio baru saja pulang bekerja. Sebagai seorang pemilik perusahaan ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan berkutat dengan pekerjaan, hal itu wajar saja mengingat Rio tulang punggung bagi istri dan sang Mama.
"Udah balik, Yo," sapa Gery pada Rio.
"Udah, Bang," jawab Rio. "Ma, kami mau makan malam dulu sambil ada yang mau dibicarakan. Mama ditinggal bentar gak apa-apa, kan?"
Sang mama mengangguk. "Kalian pergi saja, Mama juga mau tidur. Dari tadi sudah ngobrol sama Gery panjang lebar."
Gery kini mengelus tangan kanan sang mama dengan sangat pelan. "Yaudah Mama tidur ya. Gery pergi bentar aja kok, cari makan di depan rumah sakit situ."
"Iya."
Setelah satu kata itu keluar dari mulut sang Mama, Rio, Gery dan Dinda pun pergi dari sana dan keluar dari rumah sakit.
Gery dan kedua saudaranya sudah keluar dari rumah sakit menggunakan mobil milik Rio, sedangkan mobil Gery masih berada di rumah sakit. Tak sampai sepuluh menit kemudian mereka pun sampai di sebuah tempat makan, bukan restoran atau kafe, tetapi hanya tempat makan biasa.
Mereka pun memilih tempat duduk dan memesan beberapa makanan yang mereka inginkan.
"Jadi, Abang kapan jadi nikah? tanya Rio pada Gery setelah mereka memesan makanan.
"Abang sudah bilang sama Ibu, kemungkinan dua sampai tiga tahun lagi," kata Gery.
"Kenapa sampai selama itu? Apa gak bisa langsung saja setelah bocah itu lulus SMA?"
"Gak secepat itu, Yo. Kamu sudah tahu kan gimana sifatnya Nadia, kalau terburu-buru nanti dia bingung dan kaget, bisa saja ia menolak perjodohan ini, lagi pula dia tak sebegitu akrab dengan orangtuanya saat ini," papar Gery.
"Tapi gimana sama Mama? Mama pasti sudah pengen banget Abang menikah," kata Rio.
"Tenang saja, masalah Mama sudah Abang urus, Abang sudah ngomong sama Mama soal itu dan Mama ngerti kok," ucap Gery.
"Kalau emang sudah begitu mau Abang, aku mau gimana lagi," ujar Rio.
Setelah itu makanan yang mereka pesan datang dan mereka pun menikmati makanan itu sambil sekali-sekali Gery melihat kemesraan yang dilakukan Rio dan Dinda.
Padahal usia pernikahan mereka sudah masuk dua tahun, tapi mereka masih begitu mesra seperti pasangan baru, apa mungkin karna mereka belum memiliki seorang anak?
Selama dua tahun pernikahan mereka memang belum dikaruniai anak, meskipun negitu mereka seolah tak mempermasalahkan hal itu, karena keduanya sudah konsultasi ke dokter spesialis dan mengatakan bahwa keduanya sehat hanya belum waktunya saja untuk diberi momongan.
Rio dan Dinda juga sudah berusaha program kehamilan sejak setengah tahun lalu, tapi Dinda belum kunjung hamil. Baik Rio maupun sang Mama tak mempermasalahkan hal itu karena mereka tahu bahwa anak adalah rezeki dari Tuhan, siapa pun tak bisa memaksakan kehendak.
"Berapa lama Abang mau di sini?" tanya Rio setelah selesai makan.
"Setengah bulan lah," kata Gery.
Rio mengernyitkan dahi.
"Emang Abang gak ngajar?" Kini Dinda yang ikut bersuara.
"Kalian jangan bilang Mama ya, Abang di istirahatkan kerja selama sebulan dari sekolah karena ketahun jalan sama Nadia. Sebenarnya hal itu seharusnya wajar, tapi tidak bagi sekolah," kata Gery lagi.
"Maksudnya?" Rio ingin minta diperjelas.
Kemudian Gery mengatakan semuanya tentang keadaan yang saat ini ia dan Nadia alami. Mendengar hal itu Rio menanyakan Kenapa tidak sekalian membawa Nadia ke sini Bukankah posisinya mereka sedang sama-sama tidak bisa bekerja dan masuk sekolah.
Gery menjawab bahwa itu mungkin terlalu dini untuk membawa Nadia ke sini, ia akan terkejut dan bingung dengan semua yang mendadak lagi pula belum saatnya dan dia tahu tentang perjodohan ini.
"Terus Nadia di skors selama selama juga?" tanya Rio lagi.
"Enggak, dia cuma di skors satu minggu aja," kata Gery.
Kemudian pembicaraan mereka berlangsung cukup panjang hingga mereka memutuskan untuk pergi dari sana. Rio dan Dinda kembali kerumah sakit, tapi sebelumnya mereka mengantarkan Gery dulu pulang untuk membersihkan diri dan mandi.
Keesokan harinya.
Saat pagi masih begitu buka sekitar pukul setengah enam, Nadia pergi untuk berziarah ke makam neneknya. Entah kenapa tadi malam ia begitu rindu dan ingin sekali berziarah, ia ingin mengataka semua yang terjadi pada sang nenek apa yang sudah ia alami, karena hanya sang nenek yang bisa mengerti keadaannya.
Nadia menaburkan bunga dan air di tanah yang saat ini masih basah, gundukan makam itu sudah mulai disemai rumput-rumput yang sengaja dipasang menjalan agar kuburan terlihat asri dan tak menyeramkan.
Setelah itu Nadia pun banyak berbicara, mengatakan banyak hal pada nisan dan gundukan tanah di kuburan sang nenek, Nadia hampir saja menangis tapi ia mampu menahannya. Ia tak boleh cengeng karena sudah tak lagi orang yang mampu menghapus air matanya, ia tak kuat jika harus menghapusnya sendiri.
"Nek, Nadia di skors selama seminggu, jadi nanti setiap pagi Nadia pasti ke sini bawa bunga sama air, ya." Begitu penggalan kalimat curhatan Nadia untuk sang nenek.
Sudah dua hari ini Nadia tak masuk sekolah karena mendapat skors dan sejak saat itu ia tak bertemu dengan Gery apalagi sekedar mendapatkan permintaan maaf lewat pesan. Gery tak melakukannya, Nadia sedikit kesal, tapi ia tak bisa melakukan apapun jadi karena itulah ia hanya bisa diam.