….
Nadia terbangun saat hari sudah petang, bahkan tubuhnya sedikit menggigil karena kedinginan, belum lagi.. ia belum sempat memakan sesuap nasipun dari pagi.
Hanya roti yang masuk ke dalam perutnya.
"Ah, sial… bisa-bisa gue ketemu mba Dini sama mas Wowo lagi kalau kemalaman pulang," gumam Nadia sambil membersihkan lengan dan kakinya yang kotor karena tanah makam.
Nadia pun menatap sekeliling dan hanya kegelapan yang ada.
Nadia mengambil ponselnya dari dalam tas, beruntung tas miliknya tak tembus air dan bisa melindungi ponselnya. Jangan tanyakan buku, Nadia tidak membawa buku sama sekali ke sekolah.
Ia hanya membawa ponsel dan kebutuhannya.
Nadia mulai menyalakan senter dan kemudian ia pergi ke tempat dimana motornya berada.
Nadia pun mulai merinding saat angin menerpa kulit wajahnya.
Nadia segera memakai helm kesayangannya dan kemudian pergi dari sana.
Nadia berniat untuk membeli nasi goreng di tikungan dekat komplek perumahannya.
Nasi goreng mang Ucup adalah langganannya.
Nadia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Lalu, ia pun segera berhenti di toilet umum, ia sudah tak sanggup dengan tangan dan kakinya yang kotor karena tanah.ia pun langsung membersihkannya.
Setelah itu, ia langsung pergi ke tujuan.
Hingga sampai di nasi goreng mang Ucup.
"Mang," panggil Nadia saat mang Ucup sedang melayani pembeli lainnya.
"Eh, Neng Nadia… mau nasi goreng, Neng?" tanya mang Ucup pada Nadia.
"Nggak, Mang. Nadia mau beli bakso disini," jawab Nadia dengan muka datar.
"Yah, Neng… mang Ucup nggak jual bakso, mang Ucup cuma jual nasi goreng."
"Lagian, Mang Ucup ngapain tanya. Udah jelas-jelas kesini ya berarti mau beli nasi goreng, gimana sih!" jawab Nadia sewot.
"Hei, nggak sopan kamu ngomel ke orang tua!" tegur salah satu pembeli pada Nadia.
Nadia pun menoleh dan ia menatap datar muka orang itu, ia tak merespon ucapan orang itu. Nadia sudah terlanjur malas. Dan kembali menatap mang Ucup yang sedang membuat nasi goreng.
"Nadia, saya bicara sama kamu!"
"Terus, respon saya harus gimana, Pak?" jawab Nadia malas.
"Minta maaf ke mang Ucup sekarang!"
"Udah, nak Gery.. nggak apa-apa, saya sama neng Nadia sudah biasa bercanda seperti ini. Neng Nadia langganan nasi goreng saya,"
"Tuh dengerin," sambung Nadia.
"Baiklah, lalu kenapa kamu jam segini baru pulang? Kamu masih pakai seragam sekolah? Basah kuyup terus kotor lagi, darimana saja kamu?"
"Ini bukan urusan Bapak, tolong jangan ikut campur urusan saya. Dan, jangan banyak kepo!"
"Wajar saya kepo, saya guru kamu, Nadia!" Jawab Gery pada Nadia.
"Kalau anda guru saya, lalu anda mau mengeluarkan saya dari sekolah, begitu?" tanya Nadia dengan mata memicing.
"Itu bukan wewenang saya, saya hanya ingin membimbing kamu sebagai murid saya. Agar kamu tidak terjerumus dalam hal-hal yang dapat membuatmu rugi di masa depan!"
"Ini nasi gorengnya, Nak Gery." Ujar mang Ucup memberikan dua bungkus nasi goreng pada Gery.
"Berapa, Mang?"
"Tiga puluh ribu aja, Nak."
"Sekalian punya Nadia, Mang."
"Empat puluh lima, Nak Gery."
"Ini, Mang… ambil aja kembaliannya,"
"Wah, Alhamdulillah… terimakasih, Nak Gery."
"Sama-sama, Nak Gery."
"Nadia, kamu pahami perkataan saya. Saya tidak ingin kamu menyesali perbuatanmu di masa mendatang. Jadi hargai waktu kamu sekarang. Saya duluan," ujar Gery lalu pergi dari sana menggunakan mobil yang biasa dipakai untuk pergi ke sekolah.
Nadia hanya memutar bola mata jengah, ia benar-benar sangat malas dengan pak Gery.
Setelah itu, Nadia pun bergegas pulang ke rumah.
Ia pun mengernyit heran saat melihat sebuah mobil yang ia kenal ada disana, mobil sang papa.
Nadia pun menggidikkan kedua bahunya, baginya sudah terasa aneh jika kedua orang tuanya pulang.
Nadia sudah terbiasa hidup sendiri sejak sang nenek pergi.
Ah, dan lagi… sejak saat itu, Nadia pun hanya menghabiskan waktu bersama sang nenek. Ia tak kenal dekat dengan kedua orang tuanya. Nadia sudah lelah memohon, itu sudah sangat mengecewakan.
Dia selalu ditinggalkan, meskipun ia meminta kedua orangtuanya untuk tetap tinggal. Tetapi tetap saja, kedua orang tuanya hanya mementingkan pekerjaan.
Nadia pun bergegas masuk, dan benar saja kedatangannya di sambut oleh sang mama.
"Sayang, kamu dari mana saja? Mama sangat mengkhawatirkan mu, nak" ujar sang mama memeluk Nadia, Nadia hanya menanggapi dengan wajah datar
"Tumben pulang, masih inget anak?" Tanya Nadia dengan nada menusuk hati sang mama.
"Kamu kenapa ngomongnya gitu sih? Mama jelas ingat kamu, Nadia."
"Oh, Nadia nggak ngerasa tuh. Mama kan cuma sibuk sama kerjaan aja, sama papa. Nadia kan udah kaya anak pungut,"
"Nadia, jangan bicara seperti itu, Nak. Mama dan papa begini untuk kamu,"
"Huh, ya udah… Nadia ke kamar, mau mandi. Kayaknya makan nasi goreng di kamar jauh lebih nyaman," Nadia pun menunjukkan nasi goreng dan ia segera berjalan masuk ke dalam kamar.
Nadia benar-benar sudah sangat kecewa, jadi ia pun tak ingin berharap lebih. Ia sudah sangat yakin, jika mereka berdua pasti akan pergi lagi esok hari.
"Nggak ada yang perlu di harapkan," gumam Nadia, lalu menutup pintu kamarnya.
Sedangkan sang mama hanya menunduk sedih, ia tak ingin melakukan ini. Tetapi ini harus, ini demi Nadia dan kebahagiaannya.
"Bersabarlah, Nak… Mama dan Papa sedang berjuang untukmu, terutama Mama." Ujar sang mama bergumam, dan air matanya pun menetes membasahi pipinya.
"Sayang," sang papa pun menyentuh bahu sang mama, dan ia langsung menarik sang mama ke dalam pelukan.
"Pa, Nadia udah benci banget sama kita,"
"Tenang ya, Ma… Nadia butuh waktu. Nggak apa-apa, dia nggak benci kita. Tapi dia kecewa aja sama kita," ujar sang papa menenangkan sang mama.
Lalu, ponsel sang papa pun berdering. Ia mendapatkan telepon dari seseorang.
"Halo, Pa…"
"Ya, Nak…"
"Nadia sudah sampai rumah kan?"
"Sudah, Nak. Terimakasih sudah terus mengawasinya."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pa."
"Ya, kau harus terus menjaganya. Dia sangat berarti buat Mama dan Papa,"
"Ya, kalian bersabarlah. Dan tetap semangat," ujar seseorang di seberang sana.
"Ya terimakasih, Nak."
"Jangan lupa istirahat, Pa, salam buat Mama. Selamat malam,"
Lalu sambungan mereka pun terputus.
Kemudian sang papa mengajak sang istri ke kamar untuk beristirahat.
Sedangkan Nadia, ia memakan nasi goreng dengan berderai air mata. Rasa sakit dan kecewanya sudah terlalu dalam pada mereka.
Saat pemakaman sang nenek pun mereka tak hadir, bahkan mereka dengan tega terus meninggalkan Nadia seorang diri.
"Untuk apa aku dilahirkan, jika aku disia-siakan disini," ucap Nadia di sela isak tangis.
…
Bersambung...