….
…
Nadia kini sudah bersama dengan ketiga temannya.
Mereka bertiga sedang berada di markas, yaitu rumah kosong dekat gedung sekolah mereka.
Nadia menatap jengkel pada Inces yang sedang berkaca dan merapikan rambutnya dengan bando berwarna pink.
"Eh, Roby! Lo nggak bisa apa sehari aja nggak usah ngaca terus!" Ucap Nadia pada Inces.
"Nama eyke Ruby lah cyin, jangan panggil eyke Roby, tapi Ruby atau Inces!" Jawab Roby dengan logat perempuan.
"Udah gini aja deh, nama lo kan di KTP Roby nih," sambung Ernes, yang di angguki Inces.
"Nah, kalau malem lo di panggil Ruby, kalau siang lo di panggil Roby. Gimana?"
"Eh, cukup orang tua eyke yang manggil eyke Roby ya, yey, yey nggak boleh manggil eyke Roby." Sambung Roby dengan gaya bicara banci.
"Udahlah, panggil dia Inces aja. Nggak usah ribet, terserah dia aja mau di panggil siapa, bentukannya aja udah gitu." Ejek Nabila pada Inces.
"Gue curiga, punya si Inces bentukannya oval bukan panjang," sambung Nadia yang lalu di balas gelak tawa oleh mereka.
Roby atau Inces adalah salah satu sahabat mereka, berjenis kelamin laki-laki tetapi entah karena sumpah serapah siapa saat sang ibunya hamil, kini ia berubah menjadi lekong.
Roby kini dipanggil Inces oleh mereka bertiga.
"Eh, Nad… semalam lo pulang sama siapa dong? Kan nggak ada kita-kita tuh," ujar Nabila pada Nadia.
"Gue aja nggak tau siapa yang bawa gue pulang. Tau-tau gue udah ada di kamar sih,"
"Hum, curiga cowok ganteng yang bawa lo pulang," sambung Ernes.
"Paling Johan yang antar dia pulang,"
"Ah, nggak mungkin Johan bawa Nadnad pulang, yang ada Johan bawa Nadnad ke hotel, iyuhh… Inces nggak bisa bayangin itu," ujar Inces sambil memegang kepalanya, berbicara ala banci.
"Bener sih yang dibilang Inces, nggak mungkin tuh si Johan bawa Nadia ke hotel," ujar Ernes lagi.
"Gue nunggu dia, gue mau hajar dia." Jawab Nadia dengan santai Nadia mulai menghisap rokok di sela jarinya.
"Eh, Nad… tadi pagi lo nggak ketemu pak Gery?"
"Ya jelas ketemulah, guru ngeselin kaya gitu kok!" Jawab Nadia mendengus kesal.
"Hooh, ganteng sih tapi galaknya bikin emosi, eykeh nggak suka." Sambung Inces dengan nada menolak.
"Alah, paling lo mah doyan di senggol guru ganteng kaya gitu," sambung Nabila, dan itu membuat Inces senyum malu-malu.
Jujur saja sebenarnya Nadia ingin sekali menimpuk wajah Inces dengan adukan semen, tetapi ia rasa itu tidak mungkin.
"Gue cabut deh, gue mau cari Johan."
"Ayo, kita bantuin…" sambung Ernes,
"Ayo,"
"Lagian di grup kita ada cowok, tapi cowoknya nggak guna gini." Ucap Nadia menatap sinis pada Inces.
"Eh, Yey jangan seperti itu sama eyke. Eyke tidak mau merusak kuku warna warni eykeh yang sexy badas, awww!" Nadia, dan yang lain hanya mual dan bergidik geli melihat Inces.
Bagi mereka, Inces itu sangat menggelikan. Tetapi, mereka tetap menganggap Inces adalah bagian dari mereka.
Setelah itu mereka bertiga pun pergi ke parkiran kendaraan mereka, Ernes menggunakan mobilnya, dan Nabila ikut menumpang bersama Ernes, sedangkan Inces… ia lebih suka menggunakan motor scoopy kesayangannya berwarna pink, lalu Nadia… dia lebih suka menggunakan motor Sport.
Mereka bertiga pun pergi dengan Nadia yang mengawali perjalanan mereka, rencananya… Nadia akan pergi menuju markas Johan. Ia masih sangat marah karena ulahnya tadi malam.
Saat mereka menuju markas Johan, ternyata Nadia melihat Johan berada di pinggir jalan bersama dengan dua temannya, Kenzo dan Daniel.
Nadia menghentikan motornya di dekat tempat tongkrongan mereka bertiga, Nadia langsung melepas helemnya, lalu menendang motor Sport milik Johan hingga roboh.
“He, apaan sih lo?” bentak Johan pada Nadia, Nadia benar-benar merasa sangat marah.
“Lo tanya kenapa sama gue?”
…
Johan pun terdiam sesaat lalu ia pun tersenyum manis.
"Sayang, maaf ya… semalam gue pulang duluan,"
"Cih, banyak bacot… Lo pikir gue nggak tau otak m***m lo, hah!" Bentak Nadia pada Johan.
"Sayang, itu semua nggak seperti yang lo pikirin, maaf ya?"
Nadia mendekati Johan, dan Plakk!
Nadia menampar pipi Johan, ia masih ingat jelas saat semalam Johan dengan berani ingin mencoba mencium Nadia.
Hanya saja, ia tidak ingat siapa seseorang yang membawanya pulang.
Setelah itu, Nadia pun pergi. Karena ia ingat jelas, ayah Johan sangat marah.
Dan lagi, ia merasa bingung, mood ingin menghajar Johan hingga pingsan pun menghilang.
Kini ia tersadar, siapa orang yang membawanya pulang.
Nadia yakin, orang yang membawanya pulang adalah orang baik. Buktinya, saat Nadia benar-benar kehilangan kesadarannya, orang itu tak memanfaatkan kesempatan.
Bahkan, orang itu tahu alamat tinggal Nadia, selama ini… Nadia tak pernah terbuka kepada orang lain tentang tempat tinggalnya, hanya kepada ketiga sahabatnya ia memberitahu alamat tinggal.
Nadia pun menatap kedua kendaraan temannya, lalu mengajaknya untuk pulang
Nadia memerintahkan mereka untuk pulang, karena Nadia ingin mengunjungi suatu tempat.
…
Nadia berjongkok di dekat makam seorang wanita, Nadia menaruh sebuket bunga mawar putih.
“Halo, Oma… Nadia datang lagi,” Nadia mengusap batu nisan, dan tersenyum.
“Oma, Nadia kangen… Nadia kesepian, Nadia nggak di pedulikan sama papa dan mama. Nadia ingin bersama Oma” Nadia enunduk sedih, ia benar-benar merasa sangat kesepian.
Ia meneteskan air matanya, ia teringat kenangan saat bersama sang nenek.
“Oma, Nadia bawa bunga mawar putih lagi. Nadia suka mawar putih, karena Oma mengatakan jika warna putih itu suci, dan bersih. Sama seperti Oma yang selalu memiliki hati yang lembut, berbeda sama Nadia yang kasar ini,” Nadia pun terkekeh menatap batu nisan sang nenek.
Dulu, saat sang nenek masih hidup, Nadia selalu di manjakan olehnya, bahkan Nadia pun tak mempermasalahkan jika kedua orang tuanya terus pergi dan hanya bekerja mencari uang, namun sekarang… saat sang nenek sudah tidak ada, Nadia pun membutuhkan kedua orang tuanya. Ia ingin kedua orangtuanya terus bersama dengannya.
“Oma… papa dan mama sangat sibuk dengan pekerjaannya. Nadia di nomor terakhirkan oleh mereka. Uang adalah kepentingan mereka, Nadia… seperti bukan anak mereka. Kenapa oma? Kenapa Nadia berbeda, Nadia lihat semua teman-teman Nadia sangat di pedulikan oleh kedua orang tuanya. Nadia ingin seperti mereka, selalu di perhatikan dan selalu di marahin kalau membuat masalah,”
Nadia menghela napas dalam, ia menatap batu nisan lagi dan mengusapnya dengan lembut.
“Nadia ingin di marahin seperti mereka, Nadia ingin di perhatikan, Oma.” Lalu hujan pun turun sangat deras, Nadia enggan beranjak dari tempatnya. Justru, ia merebahkan kepalanya di batu nisan sang nenek, ia tak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup. Nadia hanya ingin disana saat ini, toh jika ia pulang, dirumah dan di pemakaman pun suasananya terlihat sama. “Sepi” hanya itu yang ada di mata Nadia.
Ia sangat kesepian…
…
Bersambung…