…
Nadia terbangun dari tidurnya, ia meringis pelan saat merasakan pusing dikepalanya.
"Duh kampret bener, ini kenapa kepala minta di lepas sih!" ucapnya pada diri sendiri.
Nadia pun mengambil jam Wekernya, ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Lalu, ia pun teringat saat malam tadi, ia menatap tajam kearah luar jendela.
Ia akan menghajar Johan, ia sudah berani berusaha untuk melecehkannya.
"Gue bakal bales lo, nggak bakal gue kasih kendor!" Nadia pun segera turun dari ranjang, ia meraih handuknya.
Ia segera mandi cepat, mandi dengan waktu yang sangat singkat, hanya membutuhkan dua menit saja dia sudah selesai mandi.
Nadia pun memakai seragam sekolahnya, lalu tak lupa ia berdandan dengan mengikat kuda rambutnya.
Nadia hanya memoles lipbalm di bibirnya agar tidak kering, dan juga memoles wajah dengan cream yang akan melindunginya dari sinar matahari dan juga debu.
"Kalau gue nggak pake ini cream, di jamin muka gue udah persis Mak Erot, duh jangan deh! Gue nggak mau dibilang Mak Erot, apa lagi Mak lampir, Mak Jenab, dan emak emak lainnya," gumam Nadia sambil terkekeh. Ia pun sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, ia meraih helm kesayangannya.
Setelah itu, ia terlihat keren, ia mengambil motor sport miliknya dan langsung menancapkan gas mengendarai motornya dengan cepat.
Nadia mengendarai motornya dengan ugal-ugalan, banyak mobil dan pengguna jalan lainnya meng-klakson nya, namun Nadia justru melayangkan jari tengah pada mereka.
Nadia sama sekali tidak takut dengan mereka, ia malah dengan senang hati ingin terus membuat onar.
Hingga, lampu merah pun menghentikannya.
Namun, ia tak peduli… ia dengan menambah kecepatan motornya, menerobos lampu merah.
Ia pun tertawa bahagia, selang beberapa menit, ia sudah sampai di markas dekat gedung sekolahnya.
Jika melewati pintu gerbang, Nadia sudah sangat paham, pasti sudah tertutup dan ia tak akan boleh masuk.
Ia pun pergi menuju belakang gedung sekolah, lalu memanjat dinding, dan…
Happp
Nadia pun melompat dan menoleh ke kanan kiri, tidak ada guru yang sedang mengawasi disana.
Nadia dengan langkah mengendap, berjalan menuju kantin.
Nadia pun duduk di kantin, ia menghampiri bi Minah dan pak Bejo.
"Bi, saya mau nasi gorengnya dong, sama es jeruknya!" Ujar Nadia pada bi Minah.
"Loh, neng… nggak masuk kelas?"
"Udah telat, Mang. Lagian nggak nggak ada yang peduli juga kalau saya sekolah,"
Jawab Nadia dengan tawa hambar.
"Duh, Neng… nggak boleh gitu, orang tua Neng Nadia pasti mau neng jadi yang terbaik," ujar bi Minah lagi.
"Nggak, Bi… mereka aja nggak peduli kok sama saya, kalau bi Minah sama mang Bejo mau ceramah mah mending nggak jadi makan deh," ujar Nadia yang berdiri, lalu pergi meninggalkan kantin.
Nadia pun pergi menuju rooftop. Ia duduk di sofa yang sedikit rusak, namun bisa membuatnya merasa nyaman.
Nadia duduk disana, sambil menikmati udara pagi.
Ia pun mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Ernest, ia mengirim chat pada Ernest, mengabarinya kalau ia sudah berada di rooftop.
Nadia mengatakan jika mereka harus menyusulnya. Nadia pun memejamkan matanya.
Ia benar-benar merasa sangat pusing.
"Sial, mau makan aja semua banyak omong! Bikin gue makin males sekolah!" Gumam Nadia
Lalu terdengar suara langkah kaki seseorang disana, Nadia pun menoleh dan ia mendapati guru itu lagi.
"Nadia!" Panggil guru itu sedikit menaikkan suaranya, dan Nadia pun menatap malas pada gurunya.
"Nggak usah teriak juga kali, Pak. Aku denger tuh, nggak tuli!" jawab Nadia dengan santai.
"Nadia, kenapa kamu tidak masuk kelas?"
"Lah, terus kenapa Bapak nggak masuk kantor?"
"Sudah berani mulai menjawab kamu, Nadia?"
"Memangnya sejak kapan saya jadi bisu, Pak?"
"Nadia! Kamu saya hukum!" Ujar guru itu pada Nadia lagi.
"Oh," respon Nadia benar-benar sangat santai, dan membuat guru itu menatapnya tak percaya.
"Just oh?" tanya guru itu memastikan.
"Terus, saya harus jingkrak-jingkrak gitu, bilang 'hore, saya dihukum' gitu?"
"Ya, nggak gitu juga sih," jawab guru itu dengan mengusap tengkuknya.
"Udahlah, Pak. Nggak usah merusak pemandangan, nggak usah bikin pikiran saya tambah mumet. Bapak pergi aja deh dari hadapan saya," ujar Nadia pada sang guru.
"Heh, Nadia! Dimana sopan santun kamu, saya ini guru kamu!" Lagi-lagi, guru itu menaikkan nada bicaranya pada Nadia.
"Yang bilang Bapak pemulung siapa, Pak?"
Sang guru hanya menatap Nadia tak percaya, ia butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya sadar diri. Awalnya, Gery pikir… Nadia hanya murid nakal seperti murid perempuan pada umumnya. Ternyata, dia jauh lebih Nakal dari itu.
Gery(guru)
"Dasar murid Nackal!" Ucap Gery dengan nada lebay.
Gery melotot saat melihat Nadia mulai mengeluarkan korek api dari saku kemejanya, lalu mengorek isi tasnya.
Nadia mengeluarkan sekotak rokok dan bersiap akan menyalakannya, namun dengan cepat Gery merebutnya.
Dan hal itu membuat Nadia Sangat marah.
"Apaan sih, balikin nggak!" Teriak Nadia sangat marah pada Gery.
"Kamu itu perempuan, Nadia. Itu nggak baik buat kesehatan kamu!"
"Nggak usah rese deh, Pak. Buruan balikin rokok saya!" ujar Nadia lagi dengan geram
"Tidak! Tidak akan, Nadia!"
"Fine, uang orang tua saya masih banyak. Saya bisa beli lagi, kalau Bapak mau, ambil aja itu untuk anda!" ujar Nadia dengan senyum miring, ia tak ingin membuat runyam.
Ia tak ingin berdebat, ia sangat malas jika harus berurusan tentang hal yang menurutnya tidak penting.
"Ssssst," Nadia pun meringis sambil memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing.
"Nadia, kamu tidak apa-apa?"
"Bukan urusan anda!" Nadia pun bergegas untuk turun dari sana, ia pun terkejut saat rasa pusing semakin menyerang di kepalanya.
Nadia memutuskan untuk menghentikan langkahnya, ia duduk di tangga.
Ia akan membiarkan diri hingga kondisi sudah membaik.
"Nadia, apa kamu sakit?" Tanya Gery lagi.
"Pak, tolong… jangan terus muncul di hadapan saya. Kepala saya makin sakit liat bapak terus-terusan!" Ujar Nadia asal sambil memegang kepalanya.
"Sebaiknya kamu ke uks saja, Nadia! Ini perintah!"
Nadia pun menaikkan pandangan, dan menatap gurunya.
"Anda tidak berhak memberi perintah terhadap saya!" Ucap Nadia dengan tajam, Gery baru tahu, jika saat ini ada murid seperti Nadia, yang tak ada rasa takut dengan gurunya.
Jika saja Gery bukan guru konseling, mungkin dia tidak akan ikut campur.
Ia sudah diberikan tugas oleh pemilik sekolah untuk memantau semua siswa dan siswinya
"Baiklah, saya akan ikut duduk disini." Ujar Gery pada Nadia.
"Terserah anda saja, Pak. Saya tidak mau berdebat dengan guru seperti anda!" Jawab Nadia lagi
"Memangnya, saya guru seperti apa?"
"Ribet!"
….
Bersambung...