Bab 15

1119 Kata
Nadia berada di dalam kamarnya sambil bermain ponsel, malam itu ia tak ingin pergi kemana pun bukan karena ia malas untuk pergi, tapi tak ada yang mengajaknya, baik Revan maupun geng agak sintingnya tak ada yang menghubunginya untuk sekedar hangout. Nadia sebenarnya ingin keluar karena di dalam rumah terasa begitu panas, apalagi akhir-akhir ini orangtuanya berada di rumah. Seharusnya ia bahagia karena orangtuanya tak terlalu sibuk lagi, tapi entah kenapa ia tak menyukainya. Sudah bertahun-tahun ia tak mendapatkan kasih sayang, ada atau pun tidak mereka sebenarnya tak banyak pengaruhnya, ia lebih berharap neneknya hadir kembali dalam hidupnya. Nadia sangat merindukannya, karena hanya sang nenek orang yang begitu sayang dengannya, yang selalu menjaganya saat orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka yang menyita banyak waktu. Ketika ia protes mereka selalu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan itu juga untuk dirinya, Nadia harusnya mengerti itu, tapi ia sudah kehilangan banyak kasihan sayang, hingga membuat dirinya sekarang orang yang suka memberontak dan berjiwa bebas. Saat dia melamun itu ponselnya berdering, satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ia memang jarang menyimpan nomor orang lain jika tak begitu kenal. Tak ada gunanya juga menyimpan nomor tanpa ada tujuan, seperti halnya Revan dan gangnya. Nadia mengintip notifikasi pesan yang muncul di layar atas saat ponsel masih terkunci itu. Kira-kira sekelebat yang ia lihat begini tulisannya, "cepat keluar saya di depan pagar sejak tadi." Nadia sedikit cengok. Ia bangun dari duduknya di atas ranjang dan membuka tirai yang menutupi jendela kaca. Nampak di matanya seorang laki-laki yang berdiri di depan pagar sambil bersandar di mobil berwarna hitamnya. Ia mengerutkan kening, mencoba menarik napas. Mau ngapain lagi sih guru itu? Nadia berucap dalam hatinya sambil kembali menutup tirai yang membatasi jendela kaca dengan dunia luar. Nadia keluar dari kamarnya, menuju pintu ruang utama. Kemudian keluar membuka pintu pagar. "Ngapain Bapak ke sini?" tanya Nadia dengan ketus. "Saya gak lagi minta les privat, jadi tolong biarkan hidup tenang saya sebentar saja." "Saya lagi gabut dan gak ada kerjaan. Mau jalan gak?" kata Gery diakhiri dengan pertanyaan dan ajakan. "Mau jalan kemana? Panti asuhan lagi? Enggak ah, males banget." "Hus itu bukan panti asuhan, tapi rumah singgah. Lagian saya gak ajak kamu ke sana, saya bilang saya lagi gabut butuh teman buat ngobrol dan jalan-jalan," ujar Gery. Nadia tak berespon, ia menatap Gery dengan sedikit curiga, tapi juga bingung. Ia bukan curiga kepada Gery dengan pikiran negatif jika laki-laki yang menjadi gurunya itu akan melakukan hal yang tak senonoh, tapi sedikit lebih dari itu. "Kemana? Jangan malem-malem, males kalau besok bangun pagi masih ngantuk." "Keliling saja, kita cari angin, sambil ngabisin bensin." "Ogah kalau sampai aku dorong," kata Nadia. "Saya ganti baju dulu." Gery mencegah Nadia untuk masuk dan mengganti pakaiannya. "Udah gak usah, saya gak ngajak kamu ke pertemuan presiden, jadi gak usah terlalu rapi." "Ta.. Tapi." Nadia tak bisa melanjutkan kata-katanya saat Gery sudah lebih dulu menarik tangannya dan membimbingnya untuk masuk kedalam dari salah satu pintu mobil. "Saya cuma pakai kaos sama celana pendek gini, Pak." "Saya sudah bilang kita gak ketemu Presiden, lagi pula kamu gak perlu seragam sekolah." "Ah sudahlah terserah Bapak saja." Mendengar ucapan Nadia yang berarti persetujuan itu, Gery menancap gasnya membawa mobil itu pergi berkeliling kota dengan asyiknya. Sebenarnya Gery melakukan itu bukan karena ia gabut atau tak ada pekerjaan yang harus ia lakukan, tapi ia melakukannya karena itu keinginan dari Papa dari Nadia. Papa Nadia mengatakan bahwa Nadia tak ada keluar kamar sejak sore, maka dari itu Papa Nadia menginginkan Gery untuk mengajaknya pergi. Gery tak mempermasalahkan hal itu karena ia juga tak ada pekerjaan mendesak yang harus ia lakukan. Itu juga salah satu cara agar ia lebih dekat dengan Nadia, meskipun Nadia sampai saat ini masih terus bersikap dingin padanya, bahkan meskipun dirinya seorang guru. "Kita mau kemana sih, Pak?" tanya Nadia kemudian. "Enggak tahu, kan tadi saya bilang kita keliling saja, biarkan mobil ini yang membawa kita pergi menjelajahi malam sampai dini hari," ucap Gery. "Gak perlu sampai dini hari juga kali, Pak." "Perlu, kalau bisa sampai subuh. Kita party nanti kalau capek," jawab Gery sekenanya. "Bapak gila ya. Kan saya sudah bilang, saya gak mau bangun pagi besok dengan ngantuk," kata Nadia. "Tenang saja, besok kelasmu jam pelajaran saya, kamu boleh telat dua jam itu," ucap Gery. "Beneran ya?" tanya Nadia memastikan. Gery hanya bisa mendeham sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan Nadia itu. Gery sepertinya bisa melihat bahwa Nadia terlihat bahagia. Apa yang dipikirkan Gery benar, Nadia memang bahagia karena besok ia tak tahun menahan kantuk saat berada di sekolah. Padahal biasanya ia terlambat juga hal yang wajar, bolos adalah hal yang tak bisa ia hindari. Apalagi jika pelajaran itu sangat membosankan. "Kamu sudah makan?" tanya Gery. "Kalau makan berat, belum, tapi kalau nyemil sudah," kata Nadia. "Mau makan berat? Di depan ada toko bangunan tuh," ucap Nadia. "Dih ngelucu, Bapak. Garing, Pak." "Apaan sih, di depan toko bangunan itu ada orang jualan sate, kita beli makanan di situ aja." Mendengar hal itu Nadia hanya bisa ber-oh saja, karena ia pikir Gery sedang mengajaknya bercanda, ternyata tidak. Lagi pula mana mungkin laki-laki sedingin Gery bisa bercanda. Meskipun begitu ia terkenal tampan dan menjadi primadona bagi para siswi dan siswa melambai. Jika diibaratkan sebuah cerita, Gery cocok dengan judul novel remaja cool boy. Karena dirinya yang sedingin es salju di kulkas yang membeku. Kemudian Gery menepikan mobilnya tak jauh dari orang yang berjualan sate, asap mengepul dari pembakaran arang yang terus dikipas. Semakin mendekat aroma satenya tercium menggugah selera, Gery bersyukur karena Nadia tak menolak saat diajak makan dipinggir jalan, padahal biasanya anak seusianya dari keluarga kaya raya akan merasa gengsi jika makan dari makanan pedagang kaki lima. "Gak apa-apa kamu makan di pinggiran jalan gini?" tanya Gery pada Nadia saat mereka sudah duduk dikursi. "Gak masalah, kecuali Bapak ngajak saya makan di tengah jalan. Baru itu saya gak mau," kata Nadia. "Saya juga gak mau ngajak kamu makan di tengah jalan, bukannya makan sate malah mabar di akhirat kita." "Hus, ngeri ya omongan, Bapak. Tadi Bapak udah pesen belum?" "Udah kan tadi sebelum duduk, kamu gak memperhatikan, sibuk main hape," kata Gery. "Dari pada saya main gaple," ucap Nadia. "Bisa-bisa, kamu bisa ngelawak juga." "Nanti saya bicara kasar Bapak marah, mendingan saya ngelawak kalau gitu. Sekali-sekali khusus buat Bapak, biar Bapak senang," ujar Nadia. "Lihat kamu masih hidup saja saya udah senang," ucap Gery. "Kampret." Nadia mengumpat. Belum sempat Gery menegur ucapan Nadia itu, sate yang mereka pesan itu datang dan keduanya menikmati makanan itu bersama. Makan di pinggir jalan seperti itu bukan hal yang baru bagi Nadia, biasanya ia juga makan di pinggir jalan. Tak ada yang membuatnya harus risau dan risih karena di mana pun makanan asal tidak menjijikkan ataupun berancun itu pasti enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN