Bab 14

1022 Kata
Pagi ini Nadia berangkat sekolah seperti biasanya, tak berpamitan dengan orangtuanya, padahal mereka ada di meja makan tapi ia tak mengindahkannya, seolah ia benar-benar membenci mereka. Begitu keluar dari gerbang rumah, ia berniat mencari taksi dari aplikasi antar-jemput, tapi seseorang sudah berada di depan dirinya berada dengan membawa motor matic merahnya, senada dengan helm yang ia gunakan. "Hai, Bestie. Mau berangkat sekolah bareng sama incess gak?" kata si Roby begitu berada di depan Nadia. Entah dari mana asalnya lelaki setengah tulang lunak itu datang, tiba-tiba sudah ada begitu saja dan tahu bahwa Nadia sedang bersiap berangkat sekolah. "Males lah, Ncess. Panas banget, entah gosong lagi kulit gue," ujar Nadia menolak. "Banyak omong deh, nih pake." Roby menyerahkan helm pada Nadia tak peduli apa yang Nadia katakan. "Lagian ini pagi ya, sinar UV bagus buat kulit kita yang gemoy dan manjah ini." "Oke, itung-itung gak bayar ojek juga." Setelah Nadia mengatakan itu dan mengambil helm pemberian Roby, Roby pun membawa motor itu melaju dengan kecepatan yang sudah sangat ia stabil kan agar tak terjadi hal yang tak diinginkan. Lagi pula di jalanan banyak kendaraan berlalu lalang tak mungkin ia membawa motor itu dengan ngebut. "Ncess, gue lapar. Sarapan dulu, yok!" teriak Nadia, karena suara bising angin dan kendaraan. "Udah, gue udah dandan tadi!" Mendengar jawaban dari Roby seketika Nadia lansung memukul kepala Roby yang tertutup helm. "Kok lo mukul gue sih." "Gue mau sarapan! Gue lapar!" Nadia berteriak lagi kini suaranya benar-benar kencang sampai orang-orang yang berkendara di sampingnya bisa mendengar itu. "Woy, berisik anjg. Yaudah mau makan apa? Masih ada masih nih buat makan, tapi lo bayarin yak!" ucap Roby ikut berteriak. "Terserah apapun yang penting gue makan!" Setelah mendengar hal itu, Roby mencari tempat untuk mereka berdua sarapan, tak jauh dari sana ada bubur ayam bandung yang terlihat begitu lezat. Roby menepi untuk mereka makan di sana. Tak sampai lima menit dua mangkok pesanan mereka pun akhirnya datang, keduanya menikmatinya dengan sedikit terburu, sebenarnya Nadia tidak karena telat pun ia tak peduli sama seperti halnya Roby yang sejak berteman dengan Nadia suka sekali telat. "Eh Nad, lo kemarin jalan sama lekong, siapa? Ganteng deh," tanya Roby di sela-sela mereka makan. "Owh itu, lah lo kagak tau, itu Kak Revan sahat gue dari SD, sekarang kuliah dia," Jawab Nadia. "Oh iya, kok gue gak tau, apa gue lupa," kata Roby. "Lo udah pikun. Harusnya yang gue pertanyakan, lo kemarin jalan sama siapa? Om-om itu maksud gue. Anuan lo ya," ujar Nadia teringat pria berumur yang keluar dari bioskop bersama dengan Roby. "Ih, kanua sok tau deh, dese itu om akika, Om asli kandung, adik Mama nomor empat, umurnya 30 tahunan, baru pindah ke Ibukota. Jadi gue ajak jalan deh," papar Roby menjelaskan pria yang bersamanya malam itu. Sedangkan Nadia menyipitkan matanya seolah tak percaya dengan ucapan Roby. "Sumpeh, gue jujur, lagian gue masih mampu ye meskipun cuma buat beli seblak." Nadia mengangguk seadanya, kemudian mereka pun menyelesaikan makanan dan pergi menuju sekolah. Setelah sampai di sekolah benar saja mereka telat, dengan sedikit bujuk rayu pada satpam akhrinya mereka berhasil masuk, Roby masuk ke dalam kelas sedangkan Nadia malah naik ke atap sekolah. Ia tak berminat belajar, apalagi mata pelajaran matematika. Sangat membosankan dan membuatnya tak paham. Meskipun banyak sekali guru sudah menegurnya karena ia jarang belajar, apalagi sebentar lagi akan ujian kelulusan. Jika begini terus maka bisa dipastikan ia tak akan lulus sekolah. Nadia tak peduli dengan semua itu karena yang ia pikirkan saat ini hanya kebebasan dirinya saja, ia bahkan tak peduli akan jadi apa dirinya nanti. "Ternyata bener kamu di sini," ujar sebuah suara mendekati Nadia. Nadia yang hapal suara itu tak bergeming sedikit pun untuk menoleh. Lagi pula bisa dipastikan ia akan dapat omelan lagi. "Bapak ngapain ke sini lagi," kata Nadia. "Kamu sendiri ngapain di sini, ini kan waktunya belajar harusnya kamu di kelas sekarang, bukannya ngerokok di atap," ucap Gery yang saat ini sudah duduk di samping kanan Nadia. Sedangkan Nadia masih sibuk mengisap barang rokok dan mengembuskan asapnya ke udara. "Bapak sendiri harusnya kan ngajar. Lagian bapak gak perlu ngurusin saja, mau belajar atau tidak," ujar Nadia. "Urusan saya dong, kan kamu murid saya, ya harus saya urus saya gak mau jadi guru yang lepas tanggungjawab." "Selain ngelesin banyak juga banyak omong ya, mending Bapak temenin saya merokok." Nadia memberikan bungkus rokok dengan korek mancis di atasnya pada Gery. Gery memandang Nadia sesaat lalu mengambil bungkus rokok dan korek itu. Mengeluarkan sebatang dan menyalakannya, kemudian mengisapnya. Nadia kini memandang Gery dengan tatapan seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan gurunya itu, ia kira gurunya tak bisa merokok, karena selalu melarangnya untuk merokok, tapi saat ini berbeda ternyata gurunya itu bisa merokok bahkan dengan sampainya terus mengepulnya asap ke udara. "Bapak kok merokok?" tanya Nadia kaget. "Loh kenapa? Ada masalah? Kamu saja merokok kok saya gak boleh," kata Gery menjawab ucapan Nadia. "Terserah lah," ujar Nadia. Setelah mengatakan hal itu keduanya pun merokok bersama meskipun tanpa berbicara sedikit pun, selesai rokok Gery habis ia pun bergegas pergi dari sana dan menuju kantor para guru. Namun sebelum itu ia pergi ke kamar mandi untuk berkumur membuang sisa-sisa bau rokok di mulutnya sambil mengisap permen. Sudah lama sekali rasanya ia tak merokok dan untung saja ia masih ingat bagaimana caranya merokok, jika tidak mungkin Nadia akan mengejeknya lemah dan kurang gentle, seperti Nadia mengejeknya sebagai lelaki yang menyebalkan dan banyak omong. Setelah itu Gery keluar dari kamar mandi untuk menuju ke kantor karena sebentar lagi jam pelajarannya akan dimulai. Sementara itu Nadia masih berada di sana, kini ia tak merokok lagi hanya sibuk bermain dengan ponselnya sambil duduk dengan santainya, beberapa puluh menit lagi istirahat, anggota gengnya pasti akan datang dan mengajaknya berkumpul, ia tak tadi sempat melihat ada mereka di kelas. Namun, karena bosan bermain ponsel akhirnya ia pun tertidur. Beberapa puluh menit kemudian ia dibangunkan anggota gengnya yakni Ernest dan juga Roby, mereka datang membawa makanan yang dibeli Roby dari kantin. Setelah jam istirahat selesai, Nadia pun memutuskan untuk kembali ke kelas, pelajaran bahasa Indonesia kali ini bisa membuatnya tidur di dalam kelas, lagi pula gurunya tak akan peduli jika ia tidur di belakang selama tidak mengganggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN