…
Saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, Revan dan Nadia pun pergi ke Ceres Cafe.
"Kak, ini cafe isinya Ceres semua ya?" tanya Nadia dengan wajah oon.
"Ya nggak dong, Oneng. Itu namanya doang, isinya mah banyak…"
"Oh gitu, gue pikir … ah, sudahlah. Males lanjut,"
"Udah, buruan masuk…" ucap Revan yang ternyata masuk ke dalam Ceres Cafe.
"Kak, gue pesen jus semangka ya?" Ucap Nadia pada Revan.
"Lo kok ngomong ke gue sih?"
"Ya kan nanti lo pesen juga, jadi gue sekalian gitu…"
"Nyebelin lo,"
"Hehe," Nadia hanya terkekeh kecil.
Revan memutar bola mata malas.
"Tuh, temen gue di pojokan,"
"Setan?"
"Ck,"
Karena sudah tidak sabar, Revan pun menyeret tubuh Nadia ke kursi pojok dimana teman Revan berada.
"Wah, bawa cewek nih…" ucap salah satu teman Revan.
"Iya, anak orang ngintil mulu,"
"Ya, nggak apa-apa kan, Kak. Dari pada gue Ngon --- hmpttt," Revan membekap mulut Nadia dan hal itu membuat kedua teman Revan yang melihatnya terkekeh.
"Ish, tangan lo bau, Kak!" teriak Nadia pada Revan.
"Buset! Lo nggak usah teriak, Nadia… semua orang liat ke arah sini," ucap Revan yang kesal karena semua pengunjung menatap mereka akibat teriakan Nadia.
"Ya lo sih, tangannya bau --- bau tai, arghhhh!" Nadia sangat kesal dan merasa ingin menangis sekarang.
"Ya ampun, ini bau terasi kan, gue masak nasi goreng buat lo, Nadia…"
"Oh, emang iya?"
"Terserah lo, deh…" ucap Revan lalu duduk karena ia merasa sudah sangat lelah.
"Kenalan dong,"
Nadia pun mengangguk dan menatap satu persatu wajah teman Revan.
"Nama gue Nadia, lo ganteng banget," ucap Nadia pada salah satu teman Revan.
"Nama gue Randy, salam kenal Nadia…" jawabnya.
Nadia pun mengangguk.
"Pacaran yuk?" ucapan itu membuat Revan dan kedua teman Revan terkejut bukan main.
"Nadia, jangan Songong deh…" ucap Revan pada Nadia.
"Gue bercanda kali," jawab Nadia dengan santai.
"Lo juga manis banget, ada gingsulnya lagi…" ucap Nadia lagi pada teman Revan yang satunya.
"Thanks, gue Gilang…" ucap Gilang mengulurkan tangan pada Nadia.
Nadia pun tersenyum, menerima uluran tangan Gilang.
Revan mendengus kesal, ia langsung memisahkan tangan mereka.
"Jangan kelamaan salaman lo pada,"
"Dih, kok lo nggak bisa liat gue seneng kak?" ucap Nadia kesal pada Revan.
Revan hanya memutar bola mata malas.
"Kak, lo nggak pernah bilang, temen lo ganteng dan semanis mereka," bisik Nadia pada Revan.
"Gue sama mereka ganteng mana?" tanya Revan dengan mata memicing.
Nadia pun terdiam sejenak, terlihat memikirkan sesuatu.
"Pak Gery," lirih Nadia saat melihat orang yang ia kenal.
Berbeda dengan Revan, Randy dan Gilang.
"Siapa pak Gery?" tanya Revan pada Nadia. Nadia pun tersadar.
"Lo ngomong apa barusan, kak?"
"Astaga… lupain aja deh," jawab Revan kesal.
"Nadia…" panggil Randy.
"Iya, Kak…" jawab Nadia dengan suara anggun. Revan pun hampir muntah mendengar suara Nadia yang di buat halus.
"Kamu nggak sekolah?"
"Anu…" Nadia menggaruk alisnya yng tidak gatal.
"Tukang bolos mana bisa jawab,"
"Loh, kamu suka bolos?" tanya Randy lagi.
"Hehe, ya gimana ya…."
"Jadi kamu disini, Nadia?" Mereka berempat menolah, dan paling terkejut adalah Nadia.
Ia melihat sosok menyebalkan di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di d**a.
"Loh, siapa?" tanya Randy pada Revan.
Belum sempat Revan menjawab, Gilang lebih dulu nyeletuk.
"Bokapnya kali," celetuk Gilang yang membuat Nadia tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Gery menatap tajam Gilang, dan Gilang hanya tersenyum kikuk.
"Salah ya?"
"Sialan ini, bocah!" Batin Gery berkata.
"Cepat ikut saya, Nadia!"
"Loh, ngapain saya harus ikut Bapak? Malesin banget," jawab Nadia malas.
"Saya itu guru kamu, Nadia!"
"Haish, cuma guru kan, Pak?" Jawab Nadia lagi.
"Nadia, kamu ikut saya atau kamu saya skors satu Minggu?" ancam Gery pada Nadia.
"Wah, itu malah rejeki buat saya, Pak." Jawab Nadia masih dengan santai.
"Kamu ini, benar-benar menjengkelkan,"
"Udah, Pak. Biarin aja sih, anaknya juga nggak mau," celetuk Revan pada Gery.
"Hei, siapa anda? Saya punya wewenang atas Nadia, karena saya diberi amanat sama orang tuanya, saya gurunya. Sudah sewajarnya, saya harus memberi bimbingan yang bagus untuk murid saya," jawab Gery dengan kesal.
"Udahlah, gue malas ribut. Gue cabut dulu kak, bayarin minuman gue ya?" ucap Nadia berdiri.
"Sudah, biar saya yang bayar," ucap Gery sambil memberikan tiga lembar uang merah di meja dimana Revan dan dua temannya berada.
Gery pun menggiring Nadia ikut dengannya, Nadia pergi dengan wajah kesal.
"Wah, itu guru kok baik banget ya?"
"Gue juga nggak tau, kalau di sekolah dia ada guru yang begitu," jawab Revan pada Gilang.
"Udah sih, lumayan kan… kita nggak keluarin uang sekarang," sambung Randy yang terlihat lebih santai.
"Ngomong-ngomong, dia cantik juga…" ucap Gilang pada Revan.
"Awas lo macam-macam!" ucap Revan dengan wajah penuh ancaman.
"Oh, lo naksir dia?"
"Ya kagak lah, gue anggap dia adek gitu kok," jawab Revan pada tebakan Randy.
"Udah sih, ngaku aja…"
"Ck, terserah lo pada deh,"
…
Sedangkan di sisi lain, Nadia masuk ke dalam mobil Gery dengan duduk di kursi belakang.
"Pindah ke depan, Nadia!" ucapnya pada Nadia.
"Ck, banyak maunya sih, Pak!"
"Saya bukan supir,"
"Nggak ada yang ngatain bapak supir tuh," jawab Nadia, lalu pindah ke kursi depan, samping kemudi.
Gery pun masuk ke dalam mobil, setelah memastikan Nadia tidak kabur.
"Pak, bapak mau bawa saya kemana?"
"Ke apartemen saya,"
Nadia terbelalak mendengar jawaban Gery, ia pun panik. Takut, jika Gery akan melakukan tindakan asusila.
"P-pak, jangan… saya masih perawan, Pak!" Ucap Nadia panik.
"Lah, apa hubungannya, Nadia!" jawab Gery dengan kesal.
"Lah, bapak bawa saya ke apartemen bapak mau di apain?"
"Kamu pikir, saya mau apain kamu?" tanya Gery dengan mata memicing.
"S-saya … "
"Otak kamu m***m, Nadia!"
"Eh, enak aja!"
Gery pun tersenyum miring, ia membawa Nadia ke apartemen miliknya.
"Lah, ini kan gedung apartemen Revan?"
"Lah, memangnya kenapa?"
"Kok bapak tinggal disini sih?"
"Loh, ya terserah saya, apa masalahnya sama kamu?"
"Eh,"
"Iya juga ya, kok gue bego sih!" Batin Nadia.
"Cepat turun," ucap Gery yang lalu, Nadia pun ikut turun.
"Pak, nanti istri bapak marah gimana?"
"Sembarangan kamu!"
"Lah, kan bapak udah punya istri?"
"Saya masih bujangan ting ting, Nadia!"
Nadia memicing, menatap mimik wajah Gery yang sedang berjalan.
"Jangan melihat saya terus menerus atau kamu akan terpesona dengan ketampanan saya, Nadia!"
Nadia hampir muntah mendengar ucapan Gery. Terdengar sangat menyebalkan karena memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi.
…
Bersambung...