…
Nadia tercengang, kala ia melihat betapa rapi dan bersih apartemen Gery. Ia pikir, hanya apartemen Revan saja yang bersih, tetapi apartemen Gery jauh lebih bersih.
"Masuk, Nadia…" ucap Gery menyadarkan Nadia. Nadia pun mengikuti langkah kaki Gery.
"Duduk," tidak Gery lagi; Nadia pun duduk.
"Pak, ini kenapa saya disuruh ikut kesini?" tanya Nadia bingung.
Ia bergidik ngeri kalah melihat Gery menyeringai jahat padanya.
"P-pak, jangan lakukan apapun. Saya benar-benar masih perawan," jawab Nadia dengan terbata.
"Astaga, Nadia! Saya juga masih waras!" sewot Gery pada Nadia.
"Oh, syukurlah. Saya pikir, Bapak ada nganu sama saya, Pak."
"Apa? Nganu sama kamu? Yang benar aja? Kamu masih kecil, dadamu kecil dan --- " Gery tersenyum mengejek melihat ke arah tubuh Nadia.
Nadia pun melotot, gurunya itu bukan hanya selalu menjengkelkan tapi juga sangat kurang ajar.
"Pak, saya bawa garpu, saya bisa colok mata anda sekarang!" ancam Nadia pada Gery.
Gery mengernyitkan dahinya, ia tak menaruh garpu di meja ataupun meninggalkan garpu saat ia selesai makan tadi pagi.
"Itu garpu kau dapat dari mana, Nadia?" tanya Gery pada Nadia karena penasaran.
"Astaga, Pak … ini garpu yang tak sengaja terbawa dari cafe tadi,"
Gery speechless, benar-benar gadis langka dan aneh. Ia pergi ke cafe dan tanpa sadar membawa pulang garpu milik cafe itu.
"Pak, ini gimana dong?"
"Bukan urusan saya," jawab Gery acuh.
"Loh, kan Bapak yang maksa saya buru-buru pergi, gimana sih?"
"Lah, kamu pikir, saya yang nyuruh kamu sekalian ambil garpu itu?"
"Ya… ya… nggak sih, tapi kan --- "
"Udah, udah… nggak usah alasan,"
"Dih, Pak…"
"Sebaiknya, kamu bantuin saya sekarang,"
"Hah? Bantuin apa, Pak?"
"Ya, bantuin saya bawa hadiah buat anak panti,"
"Eh?"
"Nggak usah eh, cepat!"
"Ya ampun, Pak… kalau tau bakal ketemu Bapak begini, mending saya tadi ke sekolah aja,"
"Ya tapi udah terlanjur begini kan?"
"Iya dan arghhh, sialan!"
"Apa?" Gery menatap tajam wajah Nadia.
"Sialan, Pak!"
"Mulut kamu harus banyak belajar bicara kata-kata yang baik, Nadia…"
"Kalau nggak suka nggak usah di dengar, Pak. Saya mau pulang ya,"
"Kan sudah saya bilang, kamu bantuin saya antar hadiah itu untuk anak-anak panti,"
"Ya udah cepetan, Pak…"
"Kita harus minta tolong satpam, suruh bawain ini,"
"Hm,"
Tak lama kemudian, setelah Gery menghubungi seseorang bel apartemen pun berbunyi dan Gery bergegas membukakan pintu.
"Masuk, Dan…"
"Iya, Kak… dimana barangnya?"
"Itu, minta tolong dibawakan ya,"
"Loh, Mas Dana?" Ucap Nadia pada Dana.
"Lah, kamu kok disini?"
"Iya, Mas…"
"Kamu adiknya Kak Gery?"
"Bukan, dia guru aku kok,"
"Owalah ngono," ucap Dana dengan logat jawa.
"Udah, ayo bantuin saya…"
"Ah, iya, maaf, kak… lupa hehe,"
"Ayo, Nadia… bantuin kita,"
"Iya, Pak…"
…
Nadia dan Gery sudah dalam perjalanan menuju panti asuhan, Gery mendapatkan sumbangan lebih yang diberikan oleh seseorang untuk disampaikan pada yang membutuhkan.
Gery berinisiatif sebagian yang digunakan untuk membelikannya dalam bentuk barang dan dan uang utuh.
"Pak, pantinya masih jauh?"
"Lumayan, kenapa?"
"Lumayan apa, Pak?"
"Maumu?"
"Kok ngeselin, Pak?"
"Ya terserah saya, kamu juga susah diatur. Sekolah yang benar, Nadia. Jangan bolos, jangan merokok dan jangan pergi ke club malam,"
"Itu bukan urusan anda, Pak…"
"Jelas itu urusan saya, saya ini guru kamu,"
"Pak, saya turun di sini aja. Hentikan mobilnya,"
"Tidak, Nadia…"
"Saya muak dengan semua orang yang seperti anda, Pak."
"Muak kamu bilang? Saya itu memberikan arahan yang baik untuk kamu,"
"Anda tidak akan mengerti bagaimana kehidupan saya, Pak. Jangan ikut campur,"
"Saya tidak ikut campur, tapi saya wajib memberikan arahan, karena saya itu guru kamu, Nadia!"
"Terserah, saya malas untuk berdebat dengan manusia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya,"
Gery terlihat menghela napas dalam, butuh kesabaran panjang untuk membawa Nadia ke jalan yang benar.
Dia benar-benar murid yang Nackal kata Inces.
"Nadia," panggil Gery lagi.
" … "
"Kamu itu perempuan, kamu cantik, itu tidak baik untuk kesehatanmu dan bagaimana jika ada laki-laki yang berani menggodamu?"
"Nanti malam, anda boleh ikut saya, dan anda akan tau bagaimana caranya saya berlindung dari para hidung belang," jawab Nadia dengan senyum sinis.
"Oke,"
…
Hingga malam pun tiba, Nadia mendapatkan secarik kertas di atas meja yang bertuliskan, jika kedua orang tuanya sudah pergi ke Negara lain.
Nadia tersenyum miring, ia mengumpulkan semua kertas yang biasa mereka tinggalkan.
Nadia pun sudah terbiasa dengan hal ini, ia pun segera mandi dan menghubungi ketiga sahabatnya untuk segera pergi ke club malam.
Bahkan, Gery pun sudah siap, bukan hal aneh baginya untuk pergi ke dunia malam. Sebenarnya, ia pun sering pergi kesana jika ia merasa suntuk ataupun hanya sekedar berkumpul bersama teman-temannya.
"Aku harus pastikan, dan harus kawal mereka. Terutama Nadia," ucap Gery yang kemudian menyambar kunci mobilnya.
Ia pun pergi ke club malam yang disebutkan Nadia.
Ia pergi lebih dulu dengan tampilan berbeda. Bergaya seperti anak muda pada umumnya.
Ia duduk di
Saat ia sampai di sana, ia hanya menatap datar para gadis malam yang mulai merayu dan menggodanya dengan sentuhan gemulai jari jemari mereka.
Bukan karena tak normal, ia hanya menyimpan harga dirinya agar tidak kotor oleh sentuhan mereka.
Ada hati kedua orangtuanya yang harus ia jaga, dan juga calon istrinya kelak.
Ia sudah duduk di bar mini, tempat khusus memesan minum non alkohol.
Ia memesan jus jeruk disana.
Tak lama kemudian, ia menatap ke arah pintu masuk, ia melihat sosok yang ia kenal dengan tampilan berbeda.
Bibirnya berwarna merah, mengenakan dress mini di atas lutut.
Gery terpesona ketika melihat muridnya memakai pakaian itu, terlihat dewasa.
Hanya saja, itu tak seharusnya ia pakai disana.
"Ces, lo ganteng banget malam ini," puji Nabila pada Inces atau Roby.
"Kok lo mencurigakan gitu, Bil… Lo suka sama Inces?"
"Hah? Ya enggak lah! Punya dia nggak bisa berdiri kalau liat gue telanjang," jawab Nabila yang membuat Inces memandangnya sinis. Berbeda dengan Nadia dan Nabila, mereka berdua hanya tertawa bersama.
Sedangkan Ernes, ia masih belum bisa ikut karena sedang bersama keluarganya.
"Hai," sapa seorang laki-laki dengan suara berat.
Mereka bertiga menoleh,
"Ada apa ya, Om?" Jawab Nabila pada orang itu.
"Berapa sejam?" tanyanya langsung tanpa basa basi.
Nadia dan Nabila pun terkekeh, mereka sudah paham apa yang dimaksud oleh orang itu..
"Ces, maju lo…" ucap Nabila pada Inces.
"Hai, Om… mereka memiliki penyakit HIV, apa Om masih mau? Atau Om mau bermain dengan saya, saya bisa memuaskan om depan belakang , aww… " tawar Inces atau Roby pada om-om tadi dengan nada gemulai nan genit.
Om-om itu hanya bergidik ngeri melihat Inces, laki-laki berkedok perempuan.
Orang itu pun pergi, Nadia dan Nabila tergelak mendengar jawaban Inces. Begitu juga dengan Gery, ia pun ikut terkekeh melihat dan mendengar hal itu.
..
Bersambung...