Bab 9

1123 Kata
… Pagi ini, Nadia berniat berangkat ke sekolah, tetapi ia melihat seorang gadis kecil di taman. Duduk seorang diri sambil menatap kolam ikan. Nadia berniat memesan taksi, tetapi ia batalkan. Sepertinya, anak itu jauh lebih membuatnya tertarik. Nadia ingin menghampirinya, tapi ia urungkan kala Inces datang dengan motor Scoopy berwarna pink. "Nadia," Nadia berdecak kesal, menatap Inces yang terlalu letoy untuk dilihat. "Ces, tumbenan lo kesini," "Harusnya yey bersyukur, memiliki eyke yang baik," "Ces, bahasanya yang bener. Gue pusing dengernya, bahasa lo gitu banget," "Ih, Nadia gitu deh…" "Ces, ngomong yang bener atau gue tendang?" ancam Nadia pada Inces. "Harusnya lo bersyukur punya gue yang baik hati!" jawab Inces ngegas. Nadia pun terkekeh "Iya, iya, ih… buruan," ucap Nadia naik ke motor Inces. "Iya, Nadia. Hari ini kita ulangan matematika," "Oke," jawab Nadia singkat. "Anak cerdas mah bebas, tidak seperti eyke yang hanya bisa pasrah kepada Allah," "Buruan, Ces… lo bawa motor kaya siput tau nggak!" Inces pun terkekeh, "Pelan asal sampai, Nadia." "Lama, biar gue yang bawa deh …" "No, big No! Lo bawa udah kayak mau ajak gue mati, gue nggak mau sebelum gue taubat!" tolak Inces tegas. "Lah, Lo mau tobat apaan?" "Ya, biar gue bisa ngacengan," "Anjir bahasa lo," Nadia memukul gelem belakang Inces. "Ya, gue kan mau jadi laki-laki sejati, Cyint…" ucap Inces dengan nada kemayu. "Ngotak, lo ngomong aja kemayu begitu. Gimana bisa lo jadi laki-laki sejati!" "Pokoknya gue harus, Lakik!" Nadia tergelak mendengar Inces dengan suara kemayu. "Gas, Ces… buruan," "Cus, Ah…" Mereka berdua pun sampai di gedung sekolahan tepat saat bel masuk berbunyi. Mereka berlari, melewati Gery guru yang menurut Nadia sangat menyebalkan itu. "Nadia," Langkah Nadia terhenti dan menoleh padanya. "Bagus, hari ini kamu nggak telat," "Gaje banget, Pak…" ucap Nadia; ia dan Inces pergi menuju kelasnya. Ternyata, saat mereka sampai di depan kelas. Guru yang mengajar di jam pertama pun baru saja masuk. "Nadia, Roby …. Bagus, kalian datang tepat waktu." Puji guru itu pada mereka. "Iya, Bu. Terimakasih," jawab Roby. "Bu Janda, makin cantik aja, Bu…" puji Nadia pada Bu Jandawati. "Ah, Nadia… bisa aja." Jawab Bu Janda dengan senyum malu-malu. Ia pun membagikan soal ulangan pada muridnya. "Lo berdua hampir telat," ucap Nabila pada mereka. Nadia dan Roby pun terkekeh. "Nih, si Banci lambat bawa motornya," jawab Nadia menunjuk Roby. "Ssst, kerjakan tugas kalian dengan tenang," ucap Bu Jandawati pada mereka. Mereka pun mulai fokus mengerjakan soal ulangan, Bu Janda mendekati Nadia. "Nadia," panggil Bu Jandawati berbisik. "Iya, Bu. Ada apa?" "Yang kamu bilang tadi, beneran kan?" tanya Bu Jandawati dengan wajah ragu pada Nadia. "Hah? Apa ya, Bu?" Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak ingat dengan apa yang ia katakan tadi pada Bu Jandawati. "Hum, yang kamu bilang saya makin cantik?" ucap Bu Jandawati dengan wajah malu-malu. Nadia hampir menyemburkan tawanya, wajah gurunya ini terlihat sangat lucu. "Iya, Bu. Buat apa saya berbohong, Bu Janda makin cantik," jawab Nadia yang malah membuat Bu Jandawati semakin tersipu. "Berarti, usaha saya tidak sia-sia, Nadia." Ucap Bu Jandawati malah justru mengajak Nadia ngerumpi. "Maksudnya, Bu?" "Saya berusaha glow up untuk pak Gery," Nadia kembali ingin menyemburkan tawanya, ternyata Pak Gery adalah calon mangsa Bu Jandawati. "Semangat, Bu. Saya dukung deh," ucap Nadia membuat Bu Jandawati semakin tersipu. "Kamu ini, malah bikin saya malu-malu," Nadia pun terkekeh, "Saya kerjakan ulangan dulu, Bu…" ucap Nadia memutus acara rumpi mereka berdua. "Iya, kamu semangat ya…" Bu Jandawati pun duduk di kursi miliknya, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Nadia terkekeh, saat melihat gurunya itu ternyata mengambil cermin kecil dari dalam tasnya. Ia berkaca disana, merapikan make up-nya yang padahal sangat tebal. "Buset, itu guru ngapa jadi centil amat," ucap Nabila yang baru saja melihat gurunya itu berdandan. "Puber kedua noh," "Wah, iya ya… kan dia ini janda udah lama," "Eh, dia itu selamanya bakal jadi janda keleks," sambung Inces dari depan mereka. Nadia dan Nabila pun terkekeh, benar yang di katakan oleh Inces. Bu Jandawati selamanya akan tetap menjadi Janda karena namanya itu memang Jandawati. "Ada-ada aja yang kasih dia nama," "Ya udah sih, kan itu karena Mamanya melahirkan dia saat dia jadi Janda, ya udah deh namanya Jandawati…" Nadia kembali tergelak mendengar ucapan Nabila, benar-benar sangat absurd menurutnya. "Buruan, kerjain tuh soal… awas nilai kalian jeblok," kata Nadia pada Inces dan Nabila. "Eh, Ernest gimana nanti?" "Resiko nggak masuk, ulangan susulan," jawab Nadia enteng. "Ya udah, iya deh…" Waktu istirahat pun tiba, Nadia berniat untuk pergi ke roftoop sekolah. Ia biasa menghabiskan waktu di sana saat jam istirahat. Disana sangat tenang dan nyaman. Saat ia berjalan ke sana, ia tak sengaja melihat Bu Jandawati yang sedang mendekati Pak Gery. Bahkan, ia bertemu tatap dengan guru menyebalkan itu. Nadia pun acuh, ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju roftoop. "Akhirnya, sampai juga di tempat nyaman ini," Nadia pun duduk di sofa yang hampir rusak. Entah sejak kapan sofa itu ada disana. Nadia mengambil sebungkus rokok dari belakang sofa dan korek. Ia mengambil sebatang rokok dan menyelipkan di bibirnya. Saat Nadia akan menyalakan rokok itu, seseorang merebutnya dan langsung menginjak batang rokok itu. Nadia mendesah kesal. "Sudah saya duga, anda akan membuyarkan niat saya," ucap Nadia sinis pada orang itu, siapa lagi jika bukan gurunya Gery. "Nadia, kamu itu perempuan. Jangan di biasakan menghisap rokok, itu nggak baik buat kesehatanmu," "Nggak usah peduli saya, Pak. Saya biasa sendirian," "Nadia, kasian orang tua kamu --- " Nadia terkekeh kecil mendengar ucapan Gery "Mereka nggak kasian saya, Pak. Sebaiknya, Bapak urusi pacar Bapak…" "Hah? Pacar?" ulang Gery pada Nadia. "Bu Jandawati," Gery mendengus kesal mendengar namanya. "Saya kabur dari sana, saya tidak ada hubungan apapun dengannya," ucap Gery bergidik ngeri. "Dia Janda loh, Pak…" "Saya tau, dia Jandawati…" "Janda lebih menggoda," "Maaf, saya lebih suka gadis single…" "Saya tidak peduli dengan kesukaan anda, Pak." "Saya meluruskan apa yang kamu katakan," "Ya, terserah Bapak saja," "Dimana kau simpan rokoknya, Nadia?" "Bukan urusan anda, Pak…" "Tentu jadi urusan saya, karena saya guru kamu." Jawab Gery pada Nadia. "Cari sendiri, Pak. Saya capek, ngantuk…" "Kamu begadang semalam?" "Saya menonton Drakor," "Cih, pasti selalu itu yang di utamakan pada perempuan," "Laki-laki Korea sangat romantis," "Saya pun bisa romantis," "Lakukan saja dengan pasangan anda," "Tentu, tunggu saja…" "Sudah, Pak. Jangan banyak ngoceh, saya mau tidur." "Akan saya bangunkan, jika sudah waktunya masuk kelas," "Tidak perlu," "Saya tetap disini," "Terserah!" Nadia menutup wajahnya dengan topi miliknya yang ada di sana. Membiarkan gurunya itu berdiri sambil menatapnya. Nadia tak sadar itu dan tak peduli padanya. Karena sejak awal, ia lebih suka menyendiri disana. … Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN