…
Saat pulang sekolah, Nadia mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal. Ia menjawab panggilan tersebut, ternyata itu panggilan dari Randy --- teman Revan.
Nadia pun berjalan dengan terburu-buru,
"Nad, kok lo buru-buru banget sih?" tanya Nabila melihat Nadia terburu-buru.
"Eh, gue duluan ya, temen kak Revan jemput…"
"Oh, ya udah. Hati-hati ya,"
"Lo juga harus hati-hati, awas ketemu om om ganteng yang semalam," jawab Nadia terkekeh sambil berlalu, sedangkan Nabila hanya mendengus kesal, bergidik ngeri membayangkan om-om m***m tadi malam. Padahal wajahnya tampan dan berwibawa tetapi kelakuan kayak setan.
"Ces, gue nebeng ya?"
"Mampir dulu ke supermarket, mau?" ucap Inces pada Nabila.
"Mau beli apaan lo?"
"Pembalut, hahhaha…."
"Najis, lo itu cowok woy!" teriak Nabila melempar buku paket ke wajah Inces.
Inces menghindar dan ia terbahak melihat Nabila yang kesal padanya.
"Eyke mau beli parfum, Cyint…"
"Jangan lelet bawa motor, kalau lambat gue gulingkan motor lo!"
"Jangan dong, nanti eyke kena tabok maut nyokap,"
"Ya kan lo ini yang kena tabok, bukan gue." Jawab Nabila terkekeh.
"Jahat iyey.,."
"Emang," jawab Nabila lagi masih dengan kekehannya.
…
Gery berjalan menuju parkiran dengan tergesa, matanya tertuju pada sosok Nadia yang juga berlari menuju gerbang sekolahan.
Ia mengernyitkan dahinya, ia melihat seorang laki-laki sedang bersandar di mobilnya.
Nadia berlari ke arahnya dengan senyum lebar.
"Kak Randy," itulah yang Gery dengar dari mulut Nadia.
"Halo cantik," balas laki-laki itu.
"Pak Gery!" teriak Bu Jandawati dari arah belakang.
"Sial" umpat Gery; ia berlari masuk ke dalam mobilnya.
Langsung menancapkan gasnya keluar dari gerbang sekolahan.
Ia melirik ke arah Nadia yang juga masuk ke dalam mobil laki-laki yang ia dengan bernama Randy.
…
"Kak, thanks udah mau jemput gue," ucap Nadia terkekeh.
"Santai aja kali, gue juga lagi santai. Makanya gue jemput lo,"
"Iya, Kak. Ngomong-ngomong kita mau kemana nih?"
"Ke rumah gue bentar ya?"
"Eh? Jangan dong, nggak enak ih,"
"Santai ah, nyokap gue orangnya santai kok. Lo bisa kenalan juga,"
"Iya, deh… terserah lo aja , Kak."
Tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di rumah orang tua Randy.
Saat mereka masuk, ternyata wanita paruh baya pun menghampiri mereka.
"Wah, siapa gadis ini? Cantik banget,"
"Ma, dia teman aku. Namanya Nadia," ucap Randy pada sang mama.
"Ih, kamu punya teman secantik ini nggak bilang-bilang,"
Nadia tersenyum kikuk, bisa ia lihat jika wanita di hadapannya adalah wanita yang cerewet dan humble pada siapapun.
"Nak, jadi menantu Tante ya? Nikah sama Randy,"
"Uhuk," Randy tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan sang Mama.
"Ma, apaan sih? Aku sama Nadia itu berteman,"
"Kalian nikah muda aja ya? Nadia, kelas berapa?"
"Kelas dua, Tante…"
"Duh, harusnya kelas tiga dong. Biar lulus kalian langsung nikah," ucapnya sambil terkekeh.
"Ma, astaga…." Randy merasa geram pada sang mama yang menurutnya terlalu ceplas ceplos.
"Nad, jangan dengerin omongan mama ku ya?"
"Santai aja, Kak. Gue ngerti kok," ucap Nadia tersenyum manis. Randy pun terdiam, senyuman Nadia sangat manis. Bahkan, gigi gingsulnya sampai terlihat unyu.
"Nah, kan… kamu aja terpesona gitu," goda wanita itu pada putranya.
Randy terlihat salah tingkah, membuat Nadia dan Mama Randy terkekeh.
"Udah ah, aku ke kamar dulu. Temenin Nadia dulu, Ma."
"Iya, Sayang…" Randy pun pergi ke lantai atas, sepertinya pergi ke kamarnya.
"Nadia, kamu mau minum apa, Nak?"
"Nggak usah, Tante…"
"Kamu nggak haus?"
Nadia pun menggelengkan kepalanya.
"Tante cantik banget,"
Wanita di hadapannya ini pun terkekeh.
"Cantikan kamu, Nak. Kayaknya anak Tante jatuh cinta sama kamu,"
"Tante ngawur ah,"
"Panggil saya Tante Nia, ya sayang .."
"Oke, Tante Nia…"
"Nadia, kamu mau makan nggak? Tante udah masak loh tadi,"
"Nggak usah, Tante. Nanti malah jadi ngerepotin,"
"Nggak kok, kebetulan Tante masak banyak."
"Saya --- " ucapan Nadia terhenti, ponselnya berdering.
"Cepat keluar dari rumah itu," ucap seseorang di seberang sana saat Nadia baru menjawab panggilan darinya.
"Lah, kok?" Nadia celingukan menatap keluar rumah dan benar saja, ada seseorang melambaikan tangannya dari jauh.
"Wah, siapa tuh?" tanya Tante Nia pada Nadia.
"Itu kakak sepupu saya, Tante."
"Hah? Ngawur kamu!" Sewotnya dari seberang sana.
"Tante, saya pamit dulu ya?"
"Lah, nanti anak Tante gimana?"
"Sampaikan maaf dan aku lupa, hari ini ada acara…"
"Hm gitu, ya udah iya… kamu hati-hati dan nanti sering sering main ke rumah Tante ya?"
"Oke, Tante. Makasih ya,*
Nadia berlari menuju mobil orang yang menghubunginya, tak lupa ia matikan sambungan mereka.
"Pak, kenapa sih kok bapak tau aku ada disini?" tanya Nadia pada orang itu ternyata adalah Gery.
"Ayo ikut saya," ucapnya menarik lengan Nadia dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Mau kemana, Pak?"
"Ikut aja,"
Randy menatap kepergian Nadia dari arah kamarnya, ia mengernyitkan dahinya.
"Siapa dia? Kenapa jemput Nadia? Ada hubungan apa?" gumam Randy.
Randy menghela nafas dalam dan seperti nya, ia tak boleh terlalu banyak berharap.
…
"Pak, kita mau kemana?"
"Kita cari makan ya?"
"Iya, Pak. Saya lapar, Pak. Sudah lima hari belum makan,"
Gery hanya memutar bola mata malas.
"Minggu depan kamu ulangan, Nasia. Jangan bertingkah, banyak bakar…"
"Pak,. membosankan…"
"Apa yang membosankan?"
"Ya, aku udah kebayang belajar, Pak. Aku hafal isi bukunya,"
"Hah? Kok bisa?"
"Pak, bapak kan tau… saya itu hidup sendiri, kalau bosan ya baca buku. Gitu aja terus, sampai saya bosan seperti sekarang."
Gery pun menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau makan apa, Nadia?"
"Cari mie ayam, Pak.."
"Oke,"
Mereka berdua pun pergi mencari makan di pinggir jalan, sesuai keinginan Nadia.
"Pak, nggak risih kan makan disini?"
"Jangan sembarangan kamu, saya juga manusia biasa. Bisanya ya makan dimana aja asal halal,"
"Oh, tumben nggak ngeselin, Pak?"
"Bukan jam sekolah,"
"Oh,"
"Yang tadi itu, siapa kamu?"
"Yang mana?"
"Cowok tadi,"
"Oh, itu… kak Randy, temannya kak Revan. Masa bapak lupa yang kemarin ketemu di cafe,"
Gery pun menganggukkan kepalanya.
"Saya pikir pacar kamu,"
Nadia terkekeh mendengar ucapan Gery.
"Ngawur banget, Pak. Nggak ada keinginan buat itu, saya ingin keluarga saya utuh aja sih,"
Gery terdiam, memikirkan apa lagi yang harus ia tanyakan pada Nadia.
"Pak, tadi di cari Bu Janda," ucap Nadia terkekeh.
"Saya nggak mau,"
"Janda loh, Pak."
"Iya, saya tau…"
"Cantik kan?"
"Bukan masalah cantik yang saya mau, tapi ya masalah hati. Saya nggak bisa paksa,"
"Oh ya, benar… pak Gery kan lumayan lah, pasti banyak cewek cewek kejar kan,"
"Hati saya untuk satu orang aja,"
"Siapa, Pak?"
"Kepo!"
"Dih…"
…
Bersambung….