Bab 33

1037 Kata
Kakak masih di luar kota. Begitu pesan singkat yang Revan kirimkan untuk Nadia saat ia mengajak Revan jalan-jalan karena itu hari minggu, tapi ternyata Revan sedang tak berada di apartemenya, meskipun ia masih tak percaya dengan apa yang Revan katakan karena ia sudah dibohongi beberapa waktu ini. Belum lama ini Gery mengatakan bahwa ia bertemu dengan Revan di apartemennya padahal mereka tidak satu tempat dan bertemu saat Revan mengatakan ia sedang berada di luar kota. Ia ingin percaya Revan dan menganggap Gery bohong, tapi ia tak memiliki alasan yang jelas kenapa Gery membohonginya, untuk apa Gery melakukan hal itu. Gery tak mungkin hanya iseng mengatakan hal itu, jika benar apa ia sengaja membuatnya ingin lepas dari Revan, tapi lagi-lagi untuk apa? Gery selama ini hanya guru biasa, memang tingkahnya sedikit menyebalkan tak seperti guru lainnya, tapi sikapnya masih seperti seorang guru pada umumnya, tak melakukan hal yang macam-macam bahkan saat mereka dalam keadaan sedang berduaan saja. Nad, gue di luar. Turun lu. Nadia melihat pesan itu muncul di atas layar ponselnya, dari Nabila. Nadia menengok keluar jendela, Nabila melambaikan tangannya pada Nadia. Nadia bergegas turun dari kamarnya dan menuju luar di mana pagar masih tertutup. "Ngapain lu ke sini minggu-minggu gini?" Begitu tanya Nadia pada Nabila sambil membuka gerbang rumahnya. "Habis gue bosen banget, rumah rame banget kayak taman bermain," kata Nabila. Keduanya pun masuk ke dalam menuju kamar Nadia di lantai atas. Selama menuju ke kamar Nabila melihat sekeliling rumah Nadia, begitu sepi tak ada siapapun kecuali mereka saja, berbeda dengan rumahnya yang selalu saja ramai dan penuh dengan banyak orang, wajar saja karena dirinya keluarga besar yang memiliki banyak orang di rumah. "Sepi rumah lu, Om Hexa sama Tante Hera ke mana?" sambung Nabila sambil bertanya begitu ia sampai di kamar Nadia. Nabila menuju tempat tidur merebahkan tubuhnya sambil berguling-guling ria dan bermain ponsel, seolah itu kamar pribadinya. "Gue juga bertanya-tanya ke mana mereka, soalnya mereka gak kelihatan sejak tadi pagi," ujar Nadia. Padahal hal itu sudah biasa mereka juga memang tak pernah ada di rumah, ia tak heran karena mereka selalu saja sibuk bekerja bahkan di hari minggu seperti ini, tak ada waktu untuk keluarga dan anak sama sekali. "Mereka kerja?" "Mungkin juga." "Hmm." Nabila menjawab begitu karena melihat respon yang dingin dari Nadia saat ia menanyakan tentang orangtuanya. Dari apa yang Nabila lihat sepertinya Nadia masih belum suka jika membahas tentang orangtuanya, entah hubungan seperti apa di antara mereka yang pasti mereka tak seakrab anak pada umumnya yang begitu akur dengan Mama dan papanya juga seperti dirinya. Sejak ia berteman dengan Nadia SMP, saat itu neneknya masih ada pun Nadia sudah tak akrab dengan orangtuanya, ia yang memiliki keluarga harmonis tak tahu harus memgatakan apa untuk menenangkan Nadia jika setiap saat selalu bertengkar dengan kedua orangtuanya, yang bisa ia katakan hanyalah sabar. "Tumben keluarga lu gak ada acara, biasanya acara keluarga terus," ujar Nadia sambil bermain ponselnya di ujung tempat tidur yang sama di mana Nabila berada. "Hari ini sebenarnya kumpul-kumpul gitu, tapi gue males ramai banget," kata Nabila. "Harusnya lu seneng keluarga lu ramai, ayah ibu lu ada dan akrab sama lu. Coba lu lihat gue, sepi sendirian, orangtua gue sibuk kerja terus bahkan hari minggu gini," ucap Nabila. "Nad, dua hal yang berbeda tidak bisa disamakan. Lu bilang gitu karena tidak ada di posisi gue saat ini, gue gak bilang ini gak enak, tapi kadang gue juga pengen seperti keluarga lain pada umumnya," papar Nabila. "Papa dan Mama lu kerja kan juga buat lu. Coba lu lihat semua fasilitas yang mereka berikan, rumah, mobil, uang jajan yang melimpah, hidup lu saat ini impian anak-anak di luar sana." Nadia terdiam mendengar hal itu bukan karena apa yang dikatakan, tapi dari siapa kata-kata itu kelaur, dari seorang Nabila. Tiba-tiba saja ia menjadi orang yang begitu bijak tak seperti biasanya. "Tumben lu bijak banget," kata Nadia. "Lagi mode syariah, ala Mamah Dedeh," ucap Nabila. "Heleh, dah sana lu melakukan apa kek gitu biar rumah gue gak makin terasa sepi dan suram, lu nyanyi atau joget gitu," ujar Nadia. "Baiklah jika itu diminta oleh tuan rumah." Kemudian Nabila menyalakan musik dari ponselnya dan menghubungkannya dengan salah satu sound yang ada di kamar Nadia itu. Seketika seisi kamar riuh dengan musik dan teriakan yang cempreng dari suara Nabila saat membawakan sebuah lagu. Saat Nabila sedang begitu asyik ponsel Nadia berbunyi Robby mengirimkannya pesan yang mengatakan bahwa ia berada di luar pintu rumahnya. Nadia mematikan sound itu. "Incess di sini juga. Gue buka pintu dulu." Setelah mengatakan hal itu pada Nabila, Nadia kemudian berlalu dari kamarnya untuk keluar dan melihat salah satu temannya lagi. "Ncess lu udah sembuh?" tanya Nadia begitu ia melihat Robby di luar pintu rumahnya. Padahal kemarin ia sakit dan lemah tak berdaya seolah ingin mati. "Tadi gue mau berobat, pas lewat sini gue denger suara musik kenceng banget, badan gue gak bisa dikontrol maunya joget ya udah gue ke sini." Robby mengatakan hal itu sambil berjalan masuk ke dalam untuk mengikuti Nadia. "Oooh, itu ada Nabila di atas, dia lagi konser sekaligus launching albumnya," kata Nadia sekenanya sambil membuka pintu kamarnya. "Bil, gue ikut dong. Jadikan gue bintang tamu!" teriak Robby. "Baiklah, kita sambung the princess of primitif! Nyalakan musiknya!" seru Nabila. Nadia menyalakan musim memfasilitasi kedua temannya untuk berbuat heboh dan rusuk, biarkan saja mereka berteriak tak jelas asal rumah ini ramai tak sepi seperti kuburan terbengkalai. Keributan itu terus terjadi sampai entah berapa lagu yang sudah mereka putar, Nabila menjatuhkan diri di atas tempat tidur karena saking lelahnya, sedangkan Robby meringkuk seolah tak berdaya di lantai begitu saja. Nadia mematikan soundnya. "Ncess bangun lu, mati lu." Robby bergerak sedikit. "Help me Nad, anterin gue pulang gue gak sanggup bawa motor saking capeknya." "Dih manjanya. Bil, anter the princess of primitif ini pulang," ujar Nadia pada Nabila. Nabila menoleh kearah Nadia. "Terus nasib motor gue gimana? Masa gue tinggal di sini, besok sekolah gue make apa?" "Ya udah gue yang anterin, sekalian lu pulang gih sono." Begitu kata Nadia, kemudian ia memapah Robby keluar dari kamarnya menuju luar di mana motor Robby berada. "Pegangan lu, jadi baru tau rasa." Robby mengindahkan ucapan Nadia dan berpegang seadanya pada Nadia agar tak terjatuh. Nadia keluar dari area rumahnya diikuti Nabila yang berada di belakangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN