Bukan hanya satu dua guru yang mengatakan bahwa Nadia masuk ke kelas saat jam pelajaran mereka, tapi hampir kesemuanya. Mereka mengatakan hal yang sama, Nadia masuk ke dalam kelas dan duduk saat pelajaran dimulai meskipun dia masih sempat tidur, tapi itu sebuah awal yang baik untuknya. Nadia kini sudah tak seperti dulu lagi, jarang terlihat merokok di atas atap sekolah ataupun di wc, bahkan sering kali Gery kecele jika datang ke atas tapi Nadia tak ada. Meskipun begitu Gery malah senang dengan hal itu.
"Guru-guru bilang kamu sudah mulai masuk kelas, ya?" tanya Gery saat keduanya duduk bersama di kantin. Saat itu suasana kantin cukup sepi, wajar saja jika mereka bisa satu mereka.
"Iya, hanya ingin saja masuk ke kelas, itu bukan berarti saya luluh dengan kata-kata Bapak ya, saya masuk atas kemauan saya sendiri," kata Nadia sambil mengunyah makanannya.
"Saya gak bilang kamu masuk kelas dan belajar karena kata-kata saya. Atau mungkin itu pikiran kamu, saya yang seolah saya memikirkan begitu."
"Apa sih, Pak. Saya gak ngerti Bapak ngomong apa, yang penting saya masuk kelas dan belajar, kan? Itu yang Bapak dan guru-guru mau."
"Memang itu yang kami mau, Nadia."
"Akhirnya terkabul, kan."
Meskipun Nadia mengatakan bukan karena kata-kata Gery ia masuk kelas, tapi Gery yakin setidaknya omongannya berpengaruh pada Nadia. Gery senang jika memang begitu, bukan hanya keinginannya saja, tapi juga para guru dan kedua orangtuanya, mereka menginginkan hal yang sama sepertinya.
"Oh iya, Bapak boleh tanya sesuatu?" tanya Gery kemudian.
Nadia menyeruput minumannya sambil melihat ke arah Gery. "Apa?"
"Apa hubunganmu sama cowok yang ikut ke bar beberapa minggu lalu?"
"Cowok mana? Robby sama Ernest cowok, ikut ke bar juga."
"Cowok yang tinggi, putih, badannya bagus itu. Mobilnya warna hitam keren."
"Oh maksudnya Kak Revan, gak ada cuma sahabat dari kecil aja, Pak," kata Nadia menjawab omongan Gery. "Kenapa sih Pak, kok Bapak kepo banget."
"Enggak, Bapak sering satu lift di apartemen tiap pagi, apa mungkin dia flat sama Bapak?"
"Seapartemen? Enggak kok, daerah apartemen Bapak sama kak Revan beda arah."
"Temennya mungkin."
"Kapan Bapak ketemunya?"
"Dua hari lalu, sama seminggu yang lalu seingat saya."
"Iya mungkin temennya, Pak." Setelah mengatakan hal itu Nadia kembali mengunyah makannya, tak lama kemudian Gery berlalu pergi dari sana karena Nabila dan Ernest datang.
"Ngapain, Pak Gery? Nagih uang spp?" tanya Nabila.
Nadia menggeleng.
"Terus ngapain?" tanya Nabila lagi.
"Duduk doang, sama bilang kalau gue udah sering masuk kelas, gitu aja," jawab Nadia.
"Gue kira kenapa," ucap Nabila.
"Gue lihat lu sama Pak Gery akhir-akhir ini deket, atau jangan-jangan..." Belum menyelesaikan ucapannya, Nadia menyela.
"Jangan-jangan Pak Gery wali kelas gue. Dah lah jangan ngayal, mending kalian cepat makan bentar lagi masuk."
Nabila dan Ernest menikmati makannya dengan terburu-buru karena sekitar sepuluh menit lagi jam pelajaran akan dimulai, mereka bukan Nadia yang meskipun telat tetap saja santai tak peduli.
Selesai semuanya mereka pun masuk ke dalam kelas. Jam pelajaran dimulai, Nadia mengikuti pelajaran itu seperti biasanya, ia sudah bisa mengikutinya pembelajaran yang ada tak seperti biasanya yang sering mengantuk dan selalu ingin tidur.
Satu jam lebih pelajaran itu pun berakhir, berganti pelajaran yang lain begitu seterusnya hingga jam pelajaran berakhir dan istirahat pun tiba.
"Eh si Incess belum sembuh?" tanya Nadia saat menyadari bahwa Robby belum datang ke sekolah beberapa hari.
"Belum tuh, kita jenguk yuk habis sekolah," ujar Ernest.
"Yuk, nanti gue beli buah buat dia," kata Nabila.
"Enaknya buah, mending bawain balsem buat dia," ucap Ernest.
"Buat ngelap mulutmu tu balsem," seloroh Nabila. "Beli jajan gih di kantin, gue lagi males ke sana."
Setelah mengatakan hal itu Nabila pun memberi uang pada Ernest untuknya membeli makanan di kantin. Nadia pun malas untuk pergi ke kantin, karena pasti jam istirahat penuh dengan banyak anak-anak yang lain, apalagi anak kelas sepuluh begitu banyak.
"Nad, lu lagi ada pikiran ya?" tanya Nabila kemudian karena ia melihat sejak tadi Nadia tak seperti biasanya.
"Hah? Kelihatan ya?" tanya Nadia balik.
"Kelihatan banget, Ernest juga pasti bisa tahu tapi dia kayaknya milih diam."
"Iya, gue lagi ada pikiran lagi dan lagi."
"Soal apa atau siapa?"
"Kak Revan. Kayaknya akhir-akhir ini dia sering bohongin gue deh atau emang mau ngejauh."
"Gimana maksudnya?"
"Gue sempet mikir mungkin kak Revan ada alasan kenapa pas itu bohongin gue, tapi tadi Pak Gery bilang ketemu Kak Revan di lift apartemennya kemarin lusa, padahal kak Revan bilang ke gue dia keluar kota kegiatan kampus," papar Nadia.
"Kok Pak Gery tahu lu dekat sama Kak Revan?"
"Ceritanya panjang Bil, nanti gue ceritain itu lain kali. Yang pasti gue mikir lagi kayaknya memang ada yang kak Revan sembunyikan dari gue, tapi gak tahu apa itu."
"Gue tahu," ucap Ernest datang sambil membawa makanan. "Mungkin kak Revan gak mau lu tahu kalau dia punya pacar, soalnya kalau lu tahu pasti lu ngejauh, dia gak bisa milih salah satunya."
"Gue gak pernah mikir sejauh itu, tapi kalau pun dia ngaku punya pacar, gak ada masalah sama gue. Gue ngertiin kok, apalagi normal kan cowok punya cewek, kalau gak normal itu Incess," ujar Nadia, kemudian ia pun tertawa.
"Bersin nanti si incess," ucap Nabila. "Lu Nest, gimana hubungan lu sama Raya?"
"Hubungan apaan?" tanya Ernest berlagak bingung.
"Lu kan deket sama Raya, pacaran kan lu?" tanya Nabila lagi.
"Ngawur, gue deket doang sama Raya, kagak pacaran. Gue cuma mau bantuin Raya nanti masuk kuliah karena kita sama-sama ambil jurusan itu dipilihan pertama," papar Ernest. "Lagian Raya terlalu polos, takut gue ngapa-ngapain dia."
"Halah, takut tapi doyan, kan." Begitu kata Nadia.
"Doyan lah, orang Raya cantik dan seksi gitu. Coba kalau dia nakal dikit pasti menggoda, jatuh iman gue," ucap Ernest.
"Sejak kapan iman lu naik, lu itu cowok c***l. Lu kira gue gak tau berapa banyak video iya-iya di HP lu, udah kayak wafer, ratusan," kata Nabila sambil menoyor kepala Ernest.
"Eh lu kok buka-buka HP gue, privasi itu," ucap Ernest.
"Ya maap sengaja," ujar Nabila.
Pembicaraan tak jelas itu berlangsung cukup lama hingga jam pelajaran pun dimulai kembali, mereka pun mengikuti pelajaran. Meskipun masih ada pikiran yang menganggu Nadia soal Revan, apalagi tadi Gery mengatakan bahwa ia bertemu Revan belum lama ini sedangkan Revan mengatakan pada Nadia pergi keluar kota. Nadia tak tahu harus percaya siapa, tapi mana mungkin Gery membohonginya karena tak ada alasan Gery melakukan hal itu.
Jam pulang pun berbunyi. Nadia, Ernest dan Nabila pun pergi ke rumah Robby untuk menjenguknya yang tengah sakit. Nabila sudah membeli beberapa buah segar sebagai bingkisan.
Begitu sampai di rumah Robby mereka pun mengentuknya. Tak berapa lama seorang perempuan membukakan pintu, ibu dari Robby.
"Tenta," kata ketiganya berbarengan.
"Eh kalian, mau jenguk Robby ya?" tanya Ibu Robby.
"Iya tante, Ince eh Robby nya ada?" tanya Nadia.
"Ada lagi istirahat di kamarnya, ayo masuk."
Setelah mendengar ucapan dari ibu Robby mereka pun masuk ke dalam dan langsung menuju kamar Robby. Robby ternyata sedang beristirahat dengan menutupi setengah tubuhnya menggunakan selimut tebal.
"Tante tinggal dulu ya, bangunin aja Robbynya," sambung ibu Robby kemudian berlalu pergi dari sana.
"Eh Ncess bangun, jangan sok tidur lu," ujar Nadia membangunkan Robby, ia menggoyang tempat tidur menggunakan kakinya.
"Incess, bangun," kata Ernest pelan, kini ia berbaring di samping Robby wajahnya tepat di wajah Robby.
"Bangun, gue tau lu pura-pura!" Nabila berteriak sambil penepuk wajah Robby.
Robby terkejut dan kemudian bangkit dari tidurnya, untung saja Ernest sudah tak di depan wajah Robby, jika masih ada di sana bisa-bisa wajah mereka terbentur.
"Apaan sih lu pada, gue lagi istirahat yak, gue lagi sakit," kata Robby. "Simpati dikit kek."
"Ululu kasihannya cantikku. Kok bisa lu sakit sih?" tanya Nadia.
"Gara-gara lu, gue trauma lu bawa ngebut, motor gue sekarang di bengkel," ujar Robby, sekarang ia sudah merebahkan tubuhnya lagi.
"Ya ampun maafin gue deh, gue kemarin khilaf," kata Nadia.
"Dasar manusia, khilaf dijadikan alasan agar gak disalahkan," gerutu Robby.
"Udah gak usah ngambekan, nih gue bawain buah." Nabila memberikan seplastik buah pada Robby.
"Makasih ya, aku terima permintaan maaf kalian." Robby menaruh buahnya di atas meja.
Kemudian mereka pun bercanda bersama di dalam kamar itu, seolah Robby tak sedang sakit. Ernest bahkan sesekali melompat di atas tempat tidur seolah ia anak kecil yang hiperaktif. Sampai hampir malam mereka berada di sana kemudian pulang satu-satu persatu, Nadia di jemput sang supir karena ia yang meminta tadi.