"Jadi, gimana semalam?" tanya Amey dengan mata berbinar. Sily menggaruk alisnya untuk yang kesekian kali. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana kejadiannya, karena Sily sendiri agak lupa. Yang ia ingat, semalam ia hanya menerima apapun yang Daren lakukan. "Aduh, Sily enggak tahu gimana kejadiannya. Susah dijelasin." Amey mengerucutkan bibirnya. "Ya udah, deh. Kasih tahu aja gimana rasanya?" "Eng ... sakit." "Banget?" "Mending Amey nikah aja, deh, terus rasain sendiri. Sily bingung jelasinnya." Amey merebahkan tubuhnya, lalu memeluk boneka beruang milik Sily. "Kalo boleh nikah muda, aku bakalan nikah, Sil. Mama sama Ayah gak ngizinin. Aku harus jadi dokter dulu baru boleh nikah." Sily ikut merebahkan dirinya di sebelah Amey. Mereka berdua sama-sama menatap langit kamar dalam diam. "Eh,

