"Kok, diem aja, sih? Lo kenapa?" "Bas," panggil Daren dengan suara serak. "Gue mau bunuh diri." "HAH?! GILA LO! LO DI MANA? OKE, GUE KE SANA SEKARANG!" Panggilan terputus. Padahal, Daren belum mengatakan di mana keberadaannya. 10 menit kemudian, sebuah klakson mobil terdengar nyaring dari belakang. Daren dengan wajah sembapnya menoleh ke arah suara. Baska mengetuk kaca mobil Daren dengan keras. "Buka lo, Darek!" Bukannya membuka kaca, Daren malah membuka pintunya, membuat wajah Baska terpentok kaca mobil. "Sialan, lo!" Daren tidak menjawab. Melihat Daren diam, Baska langsung menggenggam tangan Daren. Wajah kesakitannya berubah menjadi panik dalam beberapa detik. "Lo mau bunuh diri? Jangan, dong, Ren. Nanti kalo lo bunuh diri, gue gak punya bestfriend. Nanti di rumah sakit gue gak pun

