Baska memapah Daren sampai ke depan pintu. Pria itu menahan tubuh Daren yang hampir saja terhuyung. Daren terlihat sangat berantakan. Kemejanya basah oleh keringat. Sungguh, ingin sekali Baska mengumpat karena harus mengantar Daren pulang dengan keadaan seperti itu. Padahal, Baska sudah memberinya obat agar reaksi obat perangsang itu hilang. Baska mengaduh kesakitan saat kaki Daren menginjak jari-jari kakinya. "Ah, gila! Sakit woy, Darek! Jalanan luas begini, lo masih nginjek kaki gue juga? Gak tahu terima kasih emang lo. Padahal, udah gue anterin sampe rumah." Daren hanya bergumam tidak jelas. Baska menekan bel rumah beberapa kali, hingga pintu itu terbuka, menampakkan Sily yang tengah berdiri memegang segelas cokelat panas. "Sily ... Daren barusan habis minum—" "Obat perangsang?" Sil

