"Sily enggak bisa soal Matematika, sumpah, ya!" teriak Sily sambil menarik rambut panjangnya, kemudian menatap nanar ke arah buku berisi soal PR Matematika yang masih belum diisi olehnya. Padahal, sudah 15 menit gadis itu menatap buku bersampul cokelat yang kini tergeletak rapi di atas meja. "Apaan, sih, kenapa bisa gini soalnya? Siapa yang buat?" Sily benar-benar frustrasi. Ia tidak tahu lagi harus berpikir seperti apa, karena sejak tadi otaknya seakan berhenti bekerja saat pertama kali melihat angka-angka sialan itu. Daren yang baru saja pulang dari rumah sakit, kini sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih dan celana training hitam itu duduk di sebelah Sily. "Soal mana yang susah?" tanya Daren mengambil buku bersampul cokelat itu. "Enggak! Jangan bantuin Sily! Sily mau pintar sen

