Cahaya pagi yang indah menerobos masuk di celah gorden kamar milik pasangan yang masih terlelap. Kavya merasakan kulitnya terasa hangat akibat panas mentari pagi. Tangannya bergerak menutupi wajahnya menghalangi silau membuatnya perlahan membuka mata.
Kavya menggeliat dan merentangkan tangannya meregangkan otot-otot yang kaku setelah tidur semalaman. Ada yang tidak beres kenapa Kavya merasa ada yang berat di atas perutnya, sebelum melihat apa yang terjadi ia mengusap wajahnya dulu lalu membuka selimut pelan-pelan melihat semuanya.
Sebuah tangan kekar bertengger di sana matanya membulat, lalu berganti menatap orang yang tidur nyenyak di sampingnya. Apa-apaan ini? Kenapa Kavya ketiduran padahal ia sudah bersusah payah semalam menunggui Fengying di sofa dan sekarang ia berada di atas tempat tidur. Fengying pasti telah menggendongnya untuk tidur di kamar ini.
Kavya memutar tubuhnya menghadap ke Fengying memperhatikan maha karya Allah yang sempurna tidur di sampingnya. Senyum cantik terulas mengaguminya, ia menyentuh pipi Fengying ingin merasakan hangat kulitnya. Hobi Kavya adalah menatap Fengying dalam diam.
"Fengying benar-benar sangat tampan. Aku semakin jatuh cinta padanya," gumam Kavya dalam hati tidak melepaskan pandangannya.
"Sudah puas memandangiku?" suara bariton mengagetkan Kavya hingga spontan tangannya menjauh dari area itu.
"Siapa yang memandangimu? Tadi aku hanya terkejut karena kau sudah di sampingku padahal tadi malam aku tidur di sofa sendirian." Kavya berusaha menyangkal tak ingin mengakuinya.
"Kau pandai sekali berakting sayang. Apa tadi malam kau ingat apa yang terjadi? Tadi malam benar-benar malam yang indah karena saat kau tidurpun aku tetap mendapatkan jatahku," bisik Fengying di telinga Kavya yang langsung membelalakkan mata mendengar penuturannya.
"A-apa yang kau lakukan padaku?" tanya wanita polos itu.
"Lihat saja sendiri!" perintah Fengying.
"Fengying... Fengying... kau---" potongnya setelah melihat tubuhnya di dalam selimut yang entah kemana lingerie itu pergi hanya pakaian dalam saja tertera di sana. Kavya bertanya-tanya dalam hati kalau sesuatu terjadi semalam saat ia tertidur.
"Kenapa kau meniduriku saat aku tidak sadar? Tega sekali kau mengambil keperawanan yang kujaga selama bertahun-tahun," rajuk Kavya pura-pura ngambek untuk mencuri perhatian pria itu.
"Haha... Memangnya kenapa kalau aku mengambil keperawanan istriku sendiri. Tidak seorangpun memarahiku termasuk dirimu," sahut Fengying sekarang ia memindahkan posisi tubuhnya di atas Kavya mengurung wanita itu agar tak mudah lari. Senyum hangat tersungging lagi di bibir tipis pria itu, entah kenapa ia sangat senang melihat Kavya memasang wajah kesal padahal tadi malam Fengying tak mengambil keperawanan.
"Aktingmu bagus sekali Fengying! Seharusnya kau mendapat piala nominasi aktor terbaik di Indonesia. Sekalipun aku istrimu, kau meniduriku tanpa persetujuan dariku berarti kau berbuat dzolim. Aku tidak mau tahu kau harus tanggung jawab." Kavya meladeni candaan pria itu.
"Wow, istri kecilku yang manis. Aku, kan sudah menikahimu berarti aku pria yang bertanggung jawab. Benar, kan?" pancing Fengying lagi. Adu mulut mereka semakin seru membuat Kavya tertawa lebar.
"Itu tidak cukup. Cium aku sekarang! Tanggung jawabmu adalah menciumku," cetus Kavya malu-malu membuang wajah ke samping tidak berani menatap wajahnya.
"Hanya itu?" tanya Fengying.
"Ya, hanya itu." Kavya menjawab spontan dengan antusias.
"Bagaimana kalau aku menginginkan hal lebih sebagai sarapan pagiku hari ini. Kita benar-benar melewatkannya tadi malam." Hanya suara kesepian terdengar di telinga Kavya, ia merasa bersalah karena tak memberikan malam pertama pada Fengying.
"Apapun yang kau inginkan," ujar Kavya juga tak sabar melakukan penyatuan itu juga.
"Dasar nakal! Baiklah sayang aku akan melakukannya dengan hati-hati. Bilang padaku jika kau merasa kesakitan." Suara Fengying bagai peringatan yang harus Kavya turuti. Ia tidak mau Kavya merasa tidak nyaman apalagi tersiksa saat melakukan penyatuan itu. Anggukan Kavya sebagai tanda setuju dengan permintaannya.
Pria itu senang mendapat persetujuan dari dirinya, ia memegang kedua pipi istrinya lalu mencium dengan cara yang lembut membuat Kavya terasa terbang ke awan. Gelora membara di antara mereka membuat siapapun yang merasakannya akan lupa diri, butuh beberapa lama untuk melakukan foreplay agar membuat istrinya merasa senang.
Perlahan mereka berdua melepas pakaian membuangnya ke sembarang arah, tak peduli di mana pakaian itu terlempar. Hasrat mendamba sudah membara dan bersiap di lepaskan. Fengying merasa sudah cukup dengan foreplay nya tidak menunggu lebih lama untuk merasakan surga dunia.
***
Dua jam kemudian Fengying menggeliat saat perutnya terasa keroncongan, ia menengok jam dinding yang sudah menunjukkan siang hari. Matanya terbelalak tidak menyangka ia bangun kesiangan setelah melakukan penyatuan pertama mereka yang begitu berarti bagi Fengying, mahkota kesucian Kavya hanya dia yang mendapatkannya.
Pria itu tersenyum senang menengok ke arah Kavya yang meniduri tangan Fengying sebagai bantalnya. Keringat membanjiri dahi Kavya karena melayani Fengying yang begitu ganas, pria itu meminta beberapa ronde karena tidak puas. Permainan penyatuan itu sungguh menyenangkan dan tidak akan pernah bosan sampai kapanpun.
Fengying menarik tangannya di kepala Kavya, menidurkan kepalanya di bantal. Ia mengangkat selimut menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang tanpa membangunkan istrinya. Fengying masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah mandinya cukup Fengying keluar dengan balutan handuk di pinggangnya lalu mengenakan kaos oblong putih sesuai bentuk tubuhnya dan celana pendek. Tidak lupa Fengying menyisir rambut miliknya yang sudah mulai memanjang.
Sebelum keluar dari kamar ia menghampiri istrinya dan mengecup dahinya. Kakinya terus melangkah berniat membuat kejutan untuknya, Fengying punya rencana agar menyenangkan istrinya yang mungil itu.
Fengying pergi ke dapur dan membuat sandwich berisi daging yang lezat serta segelas s**u yang cocok untuk menjaga kesehatan.
Sambil memasak Fengying bernyanyi ria tanpa mempedulikan pembantunya yang melihatnya tertawa kecil, tingkahnya seperti anak-anak dan tampak lucu.
"Tuan biar aku saja yang menyiapkan sarapan anda. Ini adalah tugasku," kata Bibi Linda ingin menggantikan posisi pria itu.
"Tidak, Bik. Aku ingin membuatkan sarapan spesial untuk istriku tercinta." suara Fengying tampak kegirangan.
"Anda sangat romantis Tuan. Seharusnya Nona muda yang menyiapkan sarapan malah anda yang melakukannya."
"Kavya masih tidur dia sangat kelelahan. Aku tidak ingin membangunkannya hanya untuk sarapan secuil ini. Aku bisa melakukannya, Bi. Istriku itu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini," jelas Fengying menuangkan sandwichnya di piring dan mematikan kompornya.
Apalagi yang harus Fengying lakukan bahkan ketika Kavya meminta hidupnya maka dengan senang hati Fengying memberikannya. Pria itu menjadi idaman semua wanita dan hanya Kavya yang beruntung mendapatkannya. Setelah menyiapkannya Fengying pergi meninggalkan Bibi Linda menuju kamar miliknya. Ia akan memberikan kejutan pada Kavya, semoga saja wanita itu menyukainya.