ikrar

1081 Kata
Beberapa menit kemudian Fengying sampai di kamarnya untuk membawakan istrinya sarapan pagi, Fengying mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Ia tak menemukan Kavya tidur di atas ranjang mereka. Hatinya mulai gelisah dan kKavyatir kalau Kavya sampai meninggalkannya, apa mungkin ini hanya pikiran bodohnya yang terlalu takut kehilangan wanita itu. Tangannya cekatan menaruh Sandwich dan s**u yang dia bawa tadi di atas nakas lalu berinisiatif mencari Kavya di kamar mandi. Fengying menarik nafas panjang saat berada di balik pintu, ia baru saja ingin mengetuknya tapi Kavya sudah lebih dulu membuka pintu. Kavya yang hanya berbalut kimuno di atas lutut dan handuk yang di gelung di atas kepalanya menandakan dia baru saja membersihkan dirinya di dalam sana. Ia cukup kaget melihat suaminya yang mematung di hadapannya, ia tahu betul ekspresi suaminya yang tampak cemas memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Ternyata kau mandi ya, sayang. Aku pikir kau tadi pergi meninggalkanku sendiri di sini," pekik Fengying menghambur ke pelukan istrinya yang tersenyum. Kavya tidak habis pikir apa ia harus sekKavyatir ini jika tidak ada di kamar padahal mana mungkin dia berani pergi tanpa seizin suaminya. "Astaga, Fengying! Kenapa kau kKavyatir padahal aku tidak pergi kemanapun. Lihatlah aku baru saja mandi!" tawa Kavya terdengar renyah di telinga Fengying. Wanita itu menutup mulutnya menahan tawa, Fengying sangat menggemaskan jika tampak kKavyatir. "Sayang, kau jangan menertawaiku! Aku hanya takut saja kau pergi tanpa izinku," keluh Fengying melepaskan pelukannya lalu mencubit pipi istrinya yang tampak pucat baru saja terkena guyuran air. "Itu tidak mungkin Fengying. Aku mana berani keluar rumah tanpa izinmu. Pergi tanpa pamit sama saja aku mengundang kutukan Allah." Tatapan mata istrinya mulai sayu, ia tahu betul aturan agama bagaimana ia harus menghargai suaminya. Fengying tersenyum mendengar jawaban itu, hasratnya yang membara tidak menyurutkan semangatnya untuk mencium puncak kepala istrinya. Fengying menuntun Kavya untuk duduk di tepi ranjang, ia menyodorkan Sandwich lalu memaksa Kavya membuka mulutnya, wanita itu menurut saja memakannya kemudian mengunyah perlahan. "Seharusnya menyiapkan sarapan pagi adalah tugasku Fengying. Aku merasa bersalah tadi pagi aku sempat tertidur dan merepotkanmu membuat sarapan ini. Aku merasa istri yang tidak berguna untukmu," kata Kavya lirih. Ia menghembuskan nafas berat, tidak terima di hari pertama kebersamaan mereka Kavya malah ketiduran. Jujur saja, badannya terasa sakit dan pegal-pegal setelah pergelutannya yang panjang. Ia benar-benar kehabisan tenaga meladeni Fengying yang terus saja memangsanya. Setidaknya Kavya bersyukur ada sosok pria yang mau menerima gadis yatim piatu dan rela menikahinya walaupun tanpa persetujuan ibunya. Pengorbanan yang Kavya lakukan tidak seberapa di banding Fengying. Ia mendapat amukan Helsi dan terus saja memintanya untuk menceraikannya. Kisah cinta mereka cukup sulit dan susah menemukan titik terang. Ia tahu betul bagaimana Helsi membencinya, kehadiran dirinya sama saja mengorek luka lama ibu mertuanya itu. "Ssssstt! Kau jangan bicara seperti itu Kavya. Istri bukan b***k yang harus mengerjakan segalanya. Tapi dia pendamping hidup seorang pria yang berhak mendapat perlindungan dan kebahagian. Aku tidak ingin selalu merepotkanmu, makanan secuil ini aku juga bisa memasaknya." Fengying menjelaskan secara rinci tidak mau istrinya terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting. Mata Kavya berkaca-kaca ia ingin terus bahagia seperti sekarang berada di samping Fengying. Semoga saja harapannya itu bisa terkabulkan. "Terima kasih, Fengying. Kau selalu membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini." Ia beranjak dari tempat duduknya, bergegas memakai pakaian. Beberapa menit kemudian ponsel Fengying berbunyi nyaring di saku celananya. Dia merogoh benda mungil itu lalu memastikan siapa nama penelpon yang tertulis di layar ponselnya. "Halo, Pa." Fengying berbicara lembut mendengarkan suara pria paruh baya itu. "Mamamu memintamu ke rumah sakit, Nak. Ia mau kau datang sendiri kemari tanpa membawa Kavya. Mamamu juga ingin kau menuruti permintaannya tadi malam. Papa lihat Mamamu masih shock setelah kejadian kemarin." Suaranya terdengar di seberang, menjelaskan pada Fengying keinginan Helsi yang cukup merepotkan baginya. Ibunya hanya ingin satu permintaan dari Fengying. Menceraikan Kavya. "Baiklah, Fengying akan segera datang kesana." Fengying menutup telepon. Ia terdiam sesaat berpikir keras atas permintaan ibunya. Dan Fengying sudah mengambil keputusan terberat. *** Fengying sudah sampai di rumah sakit, ia bergegas naik ke atas menggunakan lift masuk ke kamar inap ibunya. Perlahan ia mendorong pintu dan melihat Helsi terbaring di atas ranjang, sedangkan papanya setia duduk di sampingnya. Pasangan yang terlihat romantis itu sudah bertahun-tahun bersama dan tak ada yang tahu kapan mereka terpisah. "Ma, Fengying sudah datang," ujar Fengying duduk di kursi di samping ranjang ibunya. Ia meremas jari yang kulitnya sudah mulai berkeriput. Perlahan mata Helsi yang terpejam akhirnya terbuka lebar, dia tersenyum mengayunkan kedua tangannya memeluk anak semata wayangnya. Fengying membungkukkan badan memeluk wanita paruh baya itu. Helsi kegirangan karena tak melihat Kavya di manapun, itu berarti Fengying lebih memilihnya dan berniat meninggalkan Kavya yang sudah menghancurkan kebahagian mereka. "Aku tahu Fengying kau pasti lebih memilih Mama di banding wanita pembawa sial itu. Kau mau, kan menceraikannya demi Mama? Kabulkanlah perintah Ibu yang melahirkanmu ini." Mata Helsi berkaca-kaca ia cukup takut kehilangan anaknya karena menikahi wanita pembawa sial. Mereka melepaskan pelukan yang menyesakkan d**a. "Fengying anak Mama sampai kapanpun. Tidak seorangpun bisa menggantikan posisi Mama dan Fengying akan selalu menuruti perintah Mama kecuali menceraikan Kavya. Aku sudah menikahinya, aku sudah berikrar atas nama Allah untuk selalu melindunginya. Kami baru saja menikah, mana mungkin aku menceraikannya. Kak Radit melepas saudara satu-satunya demi aku, Ma dan aku yang memintanya untuk menikahkan kami. Aku sangat mencintai Kavya dan Mama tahu benar itu. Aku hanya mau menikah satu kali dalam hidupku." Andai saja Fengying pria yang lemah mungkin tangisnya sudah pecah sekarang karena sulit memilih antara istri dan ibunya. "Kau lebih memilihnya? Fengying, dengarkan Mama! Dia wanita pembawa sial. Orang tuanya meninggal dan saudara satu-satu Mama tewas dalam kecelakaan itu. Kau tahu kan betapa takutnya Mama kehilanganmu juga. Mama punya banyak stok wanita untukmu yang 10x lebih baik dari wanita itu. Percaya sama Mama, dia akan selalu merepotkanmu," cerocos Helsi tidak berhenti meyakinkan anaknya agar merubah haluan meninggalkan Kavya. "Semua sudah takdir Ma. Itu bukan salah Kavya, ia tidak tahu apa-apa. Fengying tidak percaya Mama masih saja mempercayai takhayul seperti itu." Fengying merasa geram, seandainya bukan ibunya yang di hadapannya ini, mungkin saja ia akan menghajarnya habis-habisan karena menghina istrinya. "Fengying! Entah apa yang ada di pikiranmu saat ini sampai-sampai kau membantah Mama. Kavya akan menyusahkanmu saja," seru Helsi membuang muka. Ia sangat kecewa atas keputusan Fengying. "Apapun yang terjadi Fengying tidak akan meninggalkannya. Dia gadis yang baik dan butuh perlindunganku. Kavya masuklah ke sini dan minta restu pada Mama," teriak Fengying meminta Kavya masuk ke dalam. Helsi terkejut tidak menyangka Fengying akan senekat ini meminta wanita yang di bencinya untuk menemuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN