Perdebatan

1032 Kata
Kavya bisa mendengar perdebatan mereka di dalam kamar, ia tahu seharusnya tidak datang ke sini. Helsi pasti akan sangat marah padanya saat melihatnya masuk di ruangan itu. Kavya terpaksa mengikuti intruksi suaminya untuk masuk ke dalam. Keringat dingin tanpa di undang seolah menusuk tulangnya, Fengying membawanya ke dalam kandang singa yang lapar. Perlahan kakinya melangkah dan mendorong pintu ruangan, semua orang tengah melihatnya sekarang. Kavya benar-benar tidak tahu pikirannya sekarang, sesampai di dalam nyawanya seakan mengembang kemana-mana. Fengying menghampirinya lalu menarik tangan Kavya mendekati Helsi yang sudah memasang wajah sangar. Tamatlah hidupnya hari ini Kavya percaya pasti tidak akan baik-baik saja di tempat ini. "Fengying mau Mama menerimanya sebagai menantu. Tidak akan ada hal buruk terjadi, Mama jangan kKavyatir. Fengying juga mau mengadakan resepsi pernikahan untuk para kolega perusahaan dalam waktu dekat. Fengying capek menyembunyikan pernikahan ini, Ma," desak Fengying yang sudah tidak tahu harus bagamaimana lagi mendamaikan mereka berdua. Helsi menatap tajam dan berkata, "kau anak Mama satu-satunya. Menikahi Kavya sama saja kau menyakiti hati Mama dan sampai kapanpun Mama tidak akan menerima wanita itu jadi istrimu. Jika kau mengadakan resepsi pernikahan, Mama tidak akan datang dan jangan sekali-sekali mengundang Mama." "Ma... Fengying sayang sama Mama. Mana mungkin aku mengadakan acara resepsi tanpa dampingan Mama. Jadi, tolong Fengying kali ini saja!" pria itu meraih tangan Helsi memohon penuh harap agar ia berubah pikiran. "Jika seperti itu, jangan adakan resepsi apapun. Mama tidak mau ada yang tahu kalau Kavya adalah menantuku dan sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya," jawab Helsi tak ingin di bantah lagi. Tidak seorangpun bisa mengerti keinginan wanita paruh baya itu. Ia sudah sangat terluka dengan pilihan Fengying menikahi Kavya, gadis itu selalu saja menghantui pikirannya. Helsi sangat menyesal tidak sengaja mempertemukan Fengying dengan Kavya di toko bunga milik menantunya. Pupus sudah harapan Fengying sekarang, jika tak ada resepsi semua orang akan berpikir kalau Kavya adalah wanita simpanannya. Sampai kapan ia akan menutup-nutupi pernikahan mereka, ia juga tidak enak hati pada istrinya dengan kejadian ini. Fengying pikir menikahi Kavya diam-diam akan mempermudah masalahnya namun apa yang terjadi, semuanya semakin sulit. Chandra yang sejak tadi diam akhirnya buka suara melihat istri dan anaknya bertengkar membuat kepalanya pusing. Anak dan Ibu ini sama-sama keras kepala. Chandra menghela nafas lalu berkata, "Fengying ... Papa pikir kau sudah dewasa sekarang, apapun keputusanmu Papa akan mendukungmu. Kau berhak bahagia dengan pilihanmu Fengying, Papa tidak akan melarangmu menikahi siapapun yang kau inginkan. Kau sudah cukup pusing dengan perusahaan Papa tidak mau membebanimu lagi dengan tidak merestui pernikahanmu. Biarkan Mamamu istirahat dulu mungkin saja dia nanti akan berubah pikiran." Chandra berbicara dengan bijaksana ia tahu betul bagaimana rasanya di posisi Fengying. Chandra rasa Kavya wanita yang baik cocok menjadi istri Fengying. Ia sudah muak dengan percekcokan mereka sejak 7 tahun lalu hanya karena Kavya. Semoga saja pilihan Fengying sudah tepat, wanita malang itu memiliki banyak banyak masalah dalam hidupnya. Dia sangat mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang tua dan masalah baru lagi istrinya yang tidak mau menerimanya sebagai menantu. "Aku tidak akan berubah pikiran, Pa," tegas Helsi menatap tajam pada suaminya. Entah kenapa suaminya tidak mau mendukungnya malah menyetujui pernikahan mereka. "Pa, terima kasih sudah mengertiku. Aku harap Mama mengerti juga seperti Papa dengan pilihanku. Mama sebaiknya istirahat dan jangan banyak beban pikiran." Fengying berkata mundur beberapa langkah sambil menggenggam tangan istrinya. Nyali Kavya ciut untuk sekedar mengeluarkan suaranya. "Mana mungkin Mama tidak banyak pikiran sumber masalahnya ada pada wanita pembawa sial yang hadir menghancurkan kebahagian keluarga kita. Seandainya kau mati saja juga dalam kecelakaan itu mungkin lebih baik daripada aku harus menanggung rasa sakit dengan melihat wajahmu itu. Kalian tidak akan mengerti rasa sakitku selama ini. Ka ... ka ... kalian benar-benar menyakiti hatiku." Suaranya terbata-bata seolah kehabisan nafas karena berteriak. "Ma, aku mohon berhenti memaki Kavya. Dia istriku, memaki Kavya sama saja menjatuhkan harga diriku." Nyaris saja emosi Fengying akan meledak mendengar penuturan ibunya. Kavya sudah terisak di sampingnya, seharusnya dia juga mati dalam kecelakaan itu agar tak merasakan kesakitan dunia ini menanggung hinaan. Kavya merasa perkataan Helsi benar ia yang menyebabkan orang tuanya meninggal. Tekanan darahnya pasti sedang naik sekarang, mereka mulai panik saat melihat Helsi terbatuk. "Sebaiknya kalian berdua keluar dan cepat panggil dokter! Kalian berdua sebaiknya pulang saja biarkan Mamamu istirahat, dengan kalian di sini kemarahannya pasti tidak akan mereda." Chandra mengambilkan segelas air untuk istrinya. Fengying dan Kavya hanya mengangguk berjalan keluar mencari dokter. Mereka kaget melihat seorang Dokter duduk di depan ruangan mereka. "Kak Leon, cepat kakak masuk tolongin Mama." Kavya tidak berpikir lagi sedang apa dokter itu duduk di depan ruangan mertuanya padahal Kavya tidak tahu kalau Leon sejak tadi duduk di sana mendengar dengan seksama pertengkaran yang terjadi di dalam. Hari ini adalah tugasnya untuk mengecheck kesehatan Helsi karena ia menggantikan dokter yang menangani Helsi yang sedang tidak enak badan dan ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. "Baiklah, kau tidak apa-apa Kavya?" tanya Leon memastikan kondisi Kavya padahal wanita itu baik-baik saja. Setelah mendapat anggukan dari Kavya Leon masuk ke dalam. "Apa itu Leon teman kakakmu?" tanya Fengying mengernyitkan dahinya memastikan siapa yang Kavya temani bicara. "Ya, dia teman kakakku. Tampaknya dia menyukaimu Kavya." Firasat Fengying tidak mungkin salah menafsirkan bagaimana ekspresi pria itu. "Sembarangan, mana mungkin dia menyukaiku. Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun dan Kak Leon tidak pernah bilang kalau menyukaiku," bantah Kavya lalu tertawa memperhatikan suaminya yang masih mengidentikasi. "Aku seorang pria, aku tahu tatapannya bagaimana menyimpan perasaan untukmu." Harus berapa kali Fengying meyakinkan istrinya kalau Leon memang memiliki perasaan padanya. "Sudahlah, sayang. Itu tidak mungkin! Kau tahu kan aku hanya mencintaimu dan akan selalu begitu." Kavya menghibur Fengying yang masih saja penuh curiga. Ia memegang tangan suaminya berusah meyakinkan pria itu. Tatapan Kavya yang menggemaskan membuat Fengying lupa kalau ia mencurigai dokter itu. Ia tidak ingin ambil pusing yang penting hubungan mereka baik-baik saja itu sudah cukup. Fengying tidak ingin menambah beban pikiran Kavya lagi, sudah cukup kesakitannya. Kalau boleh Kavya ingin berharap atas hubungan mereka yang tidak di restui oleh Helsi semoga di masa depan ia mau menerimanya sebagai seorang menantu. Kavya tidak akan menyerah ia akan berusaha mengambil hati mertuanya dan membuktikan kalau dia tidak seburuk yang Helsi pikirkan. Cinta mereka tulus dan murni tak ada yang mampu memisahkan mereka bahkan mertuanya sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN