Sepulang dari rumah sakit Fengying mengantar Kavya ke toko bunganya. Wanita itu tetap bersikukuh ingin bekerja sekalipun ia sudah menikah. Toko bunganya sangat berarti bagi Kavya, di tempat ini dia akan merasa bahagia saat melihat bunga bermekaran dengan menebarkan wangi semerbak.
"Aku masuk dulu yah, hati-hati kalau mengemudi jangan ugal-ugalan." Kavya memperingatinya sambil mencium tangan suaminya.
"Iya, sayang. Aku berangkat kerja dulu." Fengying juga pamit pergi. Kavya mengangguk bersiap keluar dari mobilnya, saat akan menutup pintu mobil Fengying berteriak lalu berkata, "Kau melupakan sesuatu."
"Apa itu?" tanya Kavya memasang wajah bingung.
"Aku belum menciummu sayang,"
"Ada-ada saja kau Fengying. Baiklah, yang mana ingin kau cium?" Kavya melongokkan kepalanya ke mulut mobil menanti Fengying menciumnya.
"Aku cuma mau cium yang ini," jelas Fengying mengecup singkat bibir istrinya. Kavya tersenyum lalu menutup pintu mobil, saat akan melangkah, Fengying berteriak lagi sambil membuka pintu kaca mobilnya.
Kavya memutar bola matanya jengah, ia sedikit jengkel karena Fengying memanggilnya lagi. "Kau sudah menciumku Fengying! Kali ini kau ingin mencium yang mana lagi?" Ia menatap suaminya yang terkekeh ria.
"Tidak, sayang. Aku memanggilmu bukan untuk menciummu. Kau terlalu percaya diri. Aku hanya ingin bertanya, jam berapa aku bisa menjemputmu?" Fengying tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang menuduhnya sembarangan sedangkan Kavya mendengar jawaban itu merasa malu, bagaimana mungkin dia menjadi wanita yang tega menuduhnya seperti ini.
"Jam 5 jemput aku di toko," jawab Kavya malu ia bergegas meningalkan suaminya, sebelum Fengying melihat pipinya seperti kepiting rebus menahan malu. Tidak salah lagi Fengying pasti akan menggodanya jika berdiam lebih lama lagi di sana.
Kavya yang tiba di toko bunganya melihat seorang wanita yang sibuk bekerja di sana, tidak lain sahabatnya sendiri. Naina. Dia adalah wanita yang sederhana penuh energik. Memiliki tubuh yang langsing membuat wanita itu sedikit imut dengan rambut sebahu. Jangan tanya kekuatan daya wanita itu bekerja, Naina tipe orang yang semangat dan mencintai pekerjaannya. Bayangkan saja taman bunga yang seluas 3 hektar Naina bisa mengelolanya sendiri, merawat tanaman itu agar tetap tumbuh. Kadang-kadang Kavya juga tidak masuk kerja jika ia tidak masuk Naina lah yang mengerjakan segalanya.
"Kavya akhirnya kau datang juga. Kemana saja kau beberapa hari ini? Ngomong-ngomong aku tadi melihatmu dan Fengying jadi lebih romantis seolah dia suamimu. Aku tidak percaya kalian akan berciuman di atas mobil." Naina sangat cerewet mengintrogasi Kavya. Naina tidak sengaja melihatnya dari dalam toko di balik kaca. Mulanya tadi ia tidak percaya bahwa temannya itu di cium seperti pasangan suami istri yang bahagia. Padahal Kavya adalah orang yang selalu menjaga image nya.
Toko bunganya ini sangat unik karena di design seluruh bangunannya terbuat dari kaca. Sehingga transparan melihat apapun yang ada di dalamnya. Seluruh bunga yang Kavya jual kebanyakan impor dan banyak pelanggan yang datang memesan bunganya di sini, karena tidak ada di toko lain seperti bunga Lily, bunga Anyelir, bunga Anggrek, bunga Mawar, bunga Matahari, bunga Daisy, bunga Dahlia, bunga foxglove, bunga lavender, bunga morning glory, dan masih banyak lagi.
"Banyak hal yang ingin aku katakan pFengyingu Naina. Sebenarnya, aku sudah menikah dengan Fengying," ucap Kavya menaruh tasnya di meja kasir sambil melihat Naina yang meneguk secangkir teh di atas meja kasir.
Mendengar hal itu Naina menyemburkan teh yang harusnya ia minum. Pernyataan Kavya membuat wanita itu melotot, bagaimana mungkin mereka bisa menikah, Naina tahu bagaimana rumitnya hubungan mereka tidak pernah mendapat restu dari Helsi.
"Bagaimana mungkin kalian menikah tanpa mengundangku? Aku sahabatmu Kavya, kita sudah berteman selama 10 tahun dan aku berkali-kali bilang pFengyingu bahwa aku ingin menjadi bridesmaid mu suatu hari jika kau menikah. Kau mengecewakanku kali ini Kavya," rajuk Naina menatap Kavya yang diam.
"Aku minta maaf Naina semuanya terjadi begitu saja. Kami menikah tanpa perencanaan apapun, tanpa resepsi dan kedua orang tua Fengying. Kau tahu bagaimana perasaanku, pernikahan yang indah dan kuimpikan sejak kecil hanya berakhir di tempat akad nikah. Aku frustasi Naina, Ibu Fengying sampai hari ini tidak mau menerima pernikahan kami." Air mata yang sudah di tahannya, tidak dapat Kavya bendung lagi. Naina pasti mengerti bagaimana kesedihannya sekarang. Berada di posisi wanita itu.
Naina yang mulanya merajuk karena tidak di undang di pernikahan mereka, akhirnya hatinya mulai melunak. Ia kasihan pada sahabatnya, pernikahan yang di impikan tidak sesuai kenyataannya. Naina memeluk Kavya, menenangkan wanita itu. Ia semakin terisak setelah mendapatkan dukungan sahabatnya, mau bagaimana lagi nasi sudah jadi bubur. Mencintai Fengying berarti ia harus menerima resiko menjadi wanita tersakiti, Kavya juga sudah tidak tahan lagi pacaran lebih lama. Ia hanya ingin kepastian bukan janji manis belaka untuk menikahinya.
"Nenek sihir itu masih saja terus membencimu padahal kau tidak pernah bersalah. Apa perlu aku membalasnya dengan memakinya juga?" tanya Naina di penuhi kemarahan mengingat bagaimana Helsi terang-terangan tidak menyukai Kavya yang sangat baik.
"Tidak usah Naina! Aku bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri. Yang penting Fengying selalu memihakku itu sudah cukup bagiku. Lagipula aku juga tidak terlalu ambil pusing karena Mama Helsi tidak tinggal bersamaku."
Ia merasa harus kuat demi menjalani hidupnya, Kavya yakin suatu saat Helsi akan berubah dan mau menerimanya menjadi menantu. Seberapa kuatkah Kavya akan bertahan? Pertanyaan itu berulang kali terulang di memori otaknya. Ia tidak siap menjalani hidup yang sulit ini.
"Kavya dengarkan aku! Jangan anggap ini masalah enteng, kenapa? banyak perceraian terjadi salah satu faktornya karena ketidakcocokan mertua dan menantu. Kamu pikir hidup berumah tangga itu singkat untuk menjalani lika liku kehidupan. Apa kau pikir Tante Helsi akan diam saja melihat kalian menikah? Aku yakin 1000 persen dia akan berusaha memisahkan kalian," Seru Naina mengguncang pundak sahabatnya. Berusaha meyakinkan sahabatnya bahwa rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja.
Mendengar penjelasannya Kavya terdiam. Perkataan Naina ada benarnya, pernikahan mereka tidak baik-baik saja. Ia tidak boleh lengah atau pernikahan mereka akan jadi taruhannya. Kavya harus tetap waspada pada mertuanya.
"Kau benar Naina! Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan hanya Fengying saja cinta sejatiku. Aku tidak mau jadi janda yang di penuhi tuduhan miring oleh tetangga julid." Tangis Kavya semakin menjadi saat mengingat bagaimana nasibnya nanti. Tak ada yang tahu masa depan, jika Fengying sampai mengkhianatinya Kavya pasti akan meninggalkan suaminya.
"Hanya ada satu jalan Kavya. Kau tidak boleh lemah dalam pernikahanmu. Jangan biarkan Tante Helsi menginjak-injak dirimu! Kau berhak mempertahankan pernikahanmu dan tidak membiarkan siapapun merusaknya." Naina memeluk sahabatnya yang terisak. Tujuh tahun menjalin hubungan dengan Fengying semakin memperumit masalah mereka. Dan Kavya tidak akan mungkin berhenti karena ia sudah memilih melangkah sejauh ini.