Seharian Kavya tidak begitu bersemangat bahkan makanpun hanya sepotong roti yang bisa di masukkan ke mulutnya. Kata-kata Naina terus menggema di pikirannya, ia terlalu takut untuk melihat bagaimana pernikahan mereka hancur jika tak segera di perbaiki. Sahabatnya benar, ia tidak boleh menganggap semuanya masalah kecil. Pernikahan tanpa restu ibunya bisa saja kandas jika tak segera di kokohkan.
Kavya hanya bisa menatap murung bunga-bunga yang sudah ia rangkai dalam buket. Biasanya hatinya akan membaik menatap keindahan bunga lily putih kesukaannya tapi tidak hari ini. Ia patah semangat, Kavya menengok jam dinding yang sudah menunjukkan sedikit lagi pukul 5 sore. Fengying pasti akan menjemputnya sebentar lagi, Kavya merapikan rambutnya yang sudah berantakan di tiup angin.
Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya karena tidak ingin Fengying menunggunya terlalu lama sedangkan Naina entah di mana keberadaan gadis itu, mungkin saja ia sedang sibuk di taman merapikan bunga-bunga yang mulai layu. Naina begitu bersemangat menggunting bunga yang layu karena ia tidak mau melihat bunga yang seharusnya di buang.
Telepon Kavya berdering dan ia kegirangan mengira Fengying yang menelponnya. Kavya mengangkatnya tanpa memperhatikan siapa nama di balik penelpon itu.
"Halo, Fengying! Aku sudah selesai, kau bisa menjemputku sekarang," seru Kavya kegirangan.
"Aku bukan Fengying. Aku Helsi." wanita paruh baya itu bicara ketus di seberang.
"Maafkan aku, Ma, aku kira Fengying yang menelponku." Detak jantung Kavya berpacu lebih cepat mendengar suara ibu mertuanya itu. Ia sungguh takut mendengar makian Helsi lagi. Kavya mulai bertanya-tanya ada apa Helsi menelponnya.
"Dasar bodoh! Apa kau kekurangan oksigen sehingga tidak melihat nama di balik nomor ponselmu? Dengarkan aku baik-baik karena kau sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidup Fengying, aku akan membuatmu menderita. Lihat saja nanti! Kamu pikir Fengying akan memihakmu? Berkali-kali aku memperingatimu, seharusnya kau mendengarkan nasehatku untuk meninggalkan Fengying tapi apa yang kalian lakukan malah menikah tanpa persetujuanku. Aku berjanji pFengyingu kau pasti akan meninggalkan Fengying, wanita sepertimu tidak cocok hidup bersama anakku," jawab Helsi berapi-api. Amarahnya benar-benar di puncak kepalanya, ia mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban Kavya seolah peringatan itu perintah untuk Kavya bersiaga.
Helsi adalah wanita keras kepala dan penuh ambisi yang hidupnya harus terarah. Ia memiliki kepribadian tegas, kenapa suami dan anaknya bisa sesukses ini. Itu karena dorongan semangat Helsi yang tidak ingin keluarganya cepat menyerah. Ia memulai usahanya dari nol dan dia bertekad harus mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Seandainya saja kejadian buruk itu menimpanya mungkin saja Helsi akan sangat menyayangi menantunya karena Fengying dan Kavya sudah di jodohkan di dalam kandungan.
Peringatan Helsi melalui telepon mengguncang hati Kavya dan membutnya terluka. Dia berlari memasuki kamar tempat istirahatnya di toko lalu menutup pintu menimbulkan suara keras. Kavya menangis sejadi-jadinya di balik pintu, kakinya terasa lumpuh. Dia perlahan duduk sambil menekuk lututnya, memasukkan wajah di antaranya. Isak tangisnya terdengar pilu meluapkam segala kesedihan. Entah kenapa Kavya menjadi wanita selemah ini yang hanya bisa terus menangis meratapi nasibnya.
Jika ia boleh meminta kembali ke masa lalu dia ingin mati saja dalam kecelakaan itu daripada harus menanggung kebencian dari saudara ibunya yang tidak lain mertuanya sendiri. Apa begitu sakit hati kehilangan saudaranya dan melampiaskan kebencian pada dirinya sendiri? Kavya terluka dengan kebencian itu.
Setelah lama menangis di balik pintu Kavya kemudian merebahkan dirinya di atas sofa. Tubuhnya benar-benar lelah mendapatkan tekanan bathin yang bertubi-tubi. Matanya mulai mengantuk, ia ingin tidur sesaat menghilangkan beban pikiran yang menumpuk di otaknya. Rasa kantuk itu mulai menguasainya dan membuatnya tidur di penuhi mimpi yang indah.
***
Naina sudah merapikan seluruh bunga-bunga itu, ia melihat arloji tangannya bahwa sebentar lagi malam akan tiba. Ia bergegas membersihkan dirinya dari kotoran yang menempel karena bergelut dengan taman. Setelah semuanya selesai Naina ingin pergi tapi ia menghentikan langkahnya saat melihat tas Kavya masih bertengger di meja kasir. Itu tandanya wanita itu masih ada di sini, Naina menegcek ke kamar memastikan apa sahabatnya itu ada di dalam.
Dan benar saja Naina melihat Kavya tertidur nyenyak di sofa. Ia seringkali melihat Kavya tertidur di sana, dia pikir Kavya sudah pulang sejak tadi tapi malah tidur di sini. Naina tahu Fengying terlambat menjemputnya hari ini. Ia ingin membangunkan Kavya meminta ijin pulang lebih dulu namun ia mengurungkan niatnya karena Kavya terlelap dalam tidurnya.
Naina hanya menulis di kertas kalau dia sudah pulang lalu menempelkan di pintu agar Kavya mudah membacanya. Setelah menempelkan di pintu, Naina langsung pergi. Entah kenapa di dalam hatinya merasa bersalah meninggalkan wanita itu sendirian tapi mau bagaimana lagi Naina juga punya urusan yang harus ia selesaikan. Salahkan saja Fengying yang tidak tepat waktu menjemput istrinya.
Beberapa jam kemudian, Kavya akhirnya terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya karena ia masih tertidur di toko bunga miliknya. Kavya bertanya-tanya dalam hati pukul berapa sekarang? Ia menengok jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kavya tidak percaya Fengying masih belum menjemputnya padahal ini sudah mulai larut malam. Ia mencari ponsel miliknya dan men-calling Fengying, ponsel pria itu berdering Kavya menunggu dia mengangkatnya.
Satu panggilan tidak di jawab oleh Fengying, ia menghubunginya berkali-kali hingga 20 panggilan tapi tetap saja pria itu tidak mengangkat telponnya. Dan ia juga sudah mengirimkan pesan singkat dan belum di balas oleh pria itu. Kavya kesal pada suaminya, dia menggerutu dan melempar ponsel itu di lantai menimbulkan suara nyaring. Di luar toko juga terdengar hujan lebat mengguyur di sertai petir menyambar. Kavya benar-benar takut sekarang.
Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Kavya ingin pulang mana mungkin dia bermalam di sini sendirian, ia ingin sekali menghubungi Radit tapi Kavya malu tidak ingin membuat kakaknya kerepotan dan ia pasti harus menjawab setiap pertanyaan Radit yang menganggap Fengying melalaikan istrinya.
Air mata Kavya tumpah seiring dengan hujan deras yang mengguyur tubuhnya. Pikirannya kalut, ia hanya ingin pulang sekarang walaupun hujan deras mengguyur tiada henti. Kavya termenung ia bergegas mengambil tasnya lalu mengunci pintu tokonya, dia terluka hari ini hatinya sangat sakit karena Fengying.
Perlahan Kavya berjalan keluar merasakan hujan yang mulai membasahinya, ia akan menunggu Fengying di sini sampai pria itu menjemputnya. Dia tidak peduli akan sakit karena hatinya sudah terlanjur terluka atas kekecewaannya pada Fengying. Kavya berdiam diri menatap kosong jalanan yang sepi satu jam berdiri menunggu membuat kakinya keram dan penglihatannya mulai buram. Kavya memang wanita bodoh tidak tahu apa yang benar dan salah.
Di jalanan seorang pria tidak sengaja lewat dan melihat wanita kehujanan di depan tokonya.
"Kavya apa yang kau lakukan?" teriak pria itu tidak di dengarkan olehnya. Lima detik kemudian wanita itu jatuh pingsan.