Leon mengemudi pelan saat baru saja pulang dari rumah sakit. Tubuhnya benar-benar lelah akibat mengambil pekerjaan yang terlalu banyak padahal dia pemilik rumah sakit. Dia bisa saja angkat-angkat kaki di rumah sambil menunggu uang transferan rumah sakitnya tapi Leon tidak mau seperti itu. Leon memilih profesi dokter karena itu cita-citanya, sejak kecil dia memiliki mimpi untuk membantu orang yang sakit agar sembuh.
Entah kenapa pikiran Leon terlintas pada kejadian tadi di rumah sakit. Saat ia tidak sengaja mendengar percakapan Kavya dan mertuanya di kamar itu, pria itu merasa prihatin atas hidup Kavya. Ya, siapapun merasa sakit hati jika di benci mertua sendiri. Ia muak ingin marah dan memaki Fengying yang tidak bisa membela istrinya, walau bagaimanapun Kavya punya hati yang harus di jaga.
Jika Fengying tidak mendapatkan restu seharusnya ia berusaha tegas pada ibunya bahwa ia benar-benar mencintai Kavya. Bahkan jika ia berada di posisi itu, Leon akan mengancam minggat dari rumah dan melepas seluruh harta kekayaannya demi Kavya. Wanita yang baik harus di jaga untuk apa di sakiti.
Entah kenapa Leon mengemudikan mobilnya di jalur yang tidak searah dengan rumahnya. Setelah tersadar ia mencari jalur balik arah, cukup lama mengemudi ia tidak sengaja melihat sosok wanita yang berdiam diri di tengah hujan di jalanan. Lampu mobilnya menyorot wanita itu dan ia cukup kaget saat melihat Kavya kehujanan dan mukanya sudah pusat pasi menandakan dia cukup lama di guyur hujan. Tanpa berpikir panjang ia berhenti dan berteriak.
"Kavya apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?" teriak pria itu tidak di dengarkan olehnya. Belum sempat Kavya menjawabnya lima detik kemudian wanita itu jatuh pingsan.
Leon panik dan me-rem mendadak mobilnya tanpa peduli hujan ia turun dari mobil memangku kepala Kavya yang sudah menutup matanya.
"Kavya sadarlah! Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini? Tolong bangunlah!" Air mata pria itu sudah menetes bersama hujan, demi apapun Leon tidak pernah menginginkan ini. Alasan dia meninggalkannya beberapa tahun lalu karena ia ingin melihat Kavya bahagia bukan malah sebaliknya.
Jika Kavya tidak bahagia dia benar-benar menyesal memberikan Fengying kesempatan. Pria b******k itu kemana saja meninggalkan istrinya di toko bunganya sendirian. Leon cepat menggendong Kavya ke mobil, ia semakin panik saat memeriksa denyut nadi Kavya mulai melemah, dan bibirnya sudah mulai membiru menahan kedinginan.
Firasat Leon benar tidak mungkin Kavya hujan-hujanan begini jika ia tidak punya masalah. Entah apa yang Fengying lakukan hingga wanita ini merasa putus asa. Pria itu menaruh Kavya di jok mobil depan membiarkannya sedikit bersandar di kursi kemudi. Ia menggosok-gosok tangan Kavya agar menghangat, tapi tak ada respon dari wanita itu. Leon cepat membawanya ke rumah sakit sambil menghubungi Radit. Saudaranya itu berhak tahu kondisi adiknya, Leon mengemudi dengan kecepatan tinggi tidak mempedulikan bagaimana keadaan di sekitar.
"A ... aku mau di bawa kemana?" Kavya sedikit membuka matanya. Ia tahu ada yang menyelamatkannya tadi sewaktu pingsan.
"Kau istirahat saja! Aku akan membawamu ke rumah sakit," jawab Leon menoleh ke samping memperhatikan Kavya yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Aku ingin pulang ke rumah Fengying. Aku tidak apa-apa. Kenapa kau lama sekali menjemputku hingga membuatku frustasi seperti ini?" Kavya mengira Leon adalah Fengying. Jantung Leon seakan berhenti berdetak Kavya salah menyebut namanya, Ia tahu Kavya masih mengigau.
"Aku Leon bukan Fengying. Aku akan membawamu ke rumah sakit bukan ke rumahmu." Leon bersusah payah menjelaskannya pada wanita itu.
"Ti-tidak kak! Aku tidak mau ke rumah sakit, aku baik-baik saja," bantah Kavya sambil meremas jas putih Leon. Sungguh wanita itu hanya ingin di rumah saja, ia tidak mau suaminya kKavyatir dan menunggunya pulang.
"Kavya kau butuh penanganan dokter."
"Kau dokternya kak. Aku tidak butuh rumah sakit. Aku mohon! Bawa aku pulang." Kavya meratap sambil menangis memohon pada pria di hadapannya.
Akhirnya Leon menyerah, ia tidak bisa melihat Kavya memohon apalagi menangis, itu sama saja menyakiti hatinya. Entah kenapa Leon menjadi pria lemah di hadapan wanita ini. Ia tahu hatinya masih tetap untuk Kavya sampai kapanpun. Sambil mengemudi tangannya mengusap kepala wanita itu, setelah memberitahu alamat apartmennya Kavya tak bersuara lagi.
Tidak sulit untuk segera sampai di apartemen itu. Leon menggendongnya masuk ke dalam lalu memencet bel pintu. Setelah pintu terbuka Bibi Linda kaget melihat orang asing membawa Nona mudanya dengan basah kuyup.
"Apa Fengying ada di rumah?" tanya Leon mengikuti langkah Bibi Linda yang menuntunnya ke kamar pribadi mereka.
"Tuan muda Fengying belum pulang. Saya pikir tadi Nona dan Tuan pergi bersama lalu mengapa Nona jatuh pingsan begini?" tanya Bibi Linda penasaran.
"Nanti saja saya jelaskan. Sebelum itu tolong ganti baju Kavya dulu nanti saya akan memeriksa kondisinya." Leon meletakkan Kavya hati-hati di atas ranjang lalu meninggalkan kedua wanita itu di kamar.
Di luar kamar Leon tidak berhenti mondar mandir menunggu Bibi Linda menyelesaikan tugasnya. Beberapa menit menunggu akhirnya dia keluar dari sana.
"Saya sudah mengganti baju Nona muda. Dokter bisa memeriksanya di dalam." Bibi Linda mempersilahkannya masuk dan mengikuti langkah Leon. Pria itu memeriksa Kavya yang masih belum sadar juga, panas badan Kavya juga tinggi.
"Tolong berikan Kavya obat penurun panas dan kompres dahinya agar demamnya cepat turun. Aku akan duduk di ruang tamu setelah memastikan Kavya baik-baik saja aku akan pulang ke rumah. Apa Bibi bisa menghubungi Fengying katakan padanya kalau Kavya sedang sakit." Leon memohon pada wanita paruh baya itu. Kavya hanya butuh suaminya dan itu sudah pasti.
"Saya sudah menelpon Tuan tapi telepon saya tidak di angkat. Mungkin dia sedang sibuk bekerja?"
"Kerjaan apa yang lebih penting daripada istrinya. Kavya sudah menunggu berjam-jam tapi Fengying tidak datang." Leon seolah terluka dengan melihat kondisi Kavya yang cukup memprihatinkan. Bibi Linda mengerti maksud Leon, pria itu ada benarnya seharusnya Fengying tidak meninggalkan istrinya padahal tadi mereka pergi bersama-sama.
"Saya tidak tahu apapun dokter. Anda basah kuyup karena majikan saya, sebaiknya anda ganti pakaian dulu. Tuan muda punya stok baju baru di sini. Anda pasti akan cocok mengenakannya," tawar Bibi Linda menatap miris pada Leon yang tidak mempedulikan pakaiannya yang basah.
"Tidak usah, Bibik. Aku masih kuat, baju ini akan kering sendiri di badanku. Bibik jangan kKavyatir."
"Terserah dokter saja, anda bisa mengecek keadaan Nona jika anda mau. Panggil saya saja dokter! Saya akan menemani anda."
Leon mengangguk mengerti Bibi Linda pasti tidak akan membiarkan mereka berduan di kamar sekalipun hanya mengecek kondisi majikannya.
Leon menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 subuh, pria itu masih berada di apartment Kavya yang sedang sakit. Ia begitu jengkel dengan Fengying yang tak kunjung pulang, istrinya demam dan Fengying susah untuk di hubungi. Pria itu berulang kali mengutuk tidak percaya kenapa Kavya memilih suami seperti Fengying yang tidak bertanggung jawab. Apa ia tidak ingat Kavya menunggunya di toko bunga sampai kehujanan? Matanya tak merasa mengantuk sedikitpun, ia hanya mau menunggu Fengying dan memberinya pelajaran.
Jika Fengying tidak mampu menjaga Kavya dengan baik, Leon siap dengan sepenuh hatinya menerima Kavya. Ia tak peduli bagaimana status Kavya menjadi seorang single parent, hatinya akan selalu menjadi milik wanita itu. Leon yang tiduran di sofa ruang tamu melipat kedua tangannya ke d**a, ia memejamkan mata erat-erat, berpikir keras apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Baju basah yang Leon kenakan sudah kering di badan, tampilannya sudah sangat berantakan.
Pagi-pagi buta Fengying pulang ke apartmennya sambil memegangi kepalanya yang pening luar biasa. Pria itu mengutuki dirinya entah kenapa seharian ini terlalu mengantuk hingga tidur di rumah orang tuanya sampai pagi buta begini. Ia begitu kesal pada dirinya sendiri yang lupa menjemput istrinya di toko bunganya, Fengying baru saja dari sana. Betapa bodohnya dirinya sampai berpikir Kavya masih menungguinya di sana. Rasa bersalah menghantui Fengying karena tidak menepati janjinya pada istrinya sendiri.
Fengying memarkirkan mobil di garasi lalu bergegas naik ke apartmen. Pria itu akan meminta maaf pada istrinya, ia juga tak dapat di salahkan sepenuhnya. Hari ini ibunya pulang dari rumah sakit dan ia mengantarnya kembali ke rumah. Fengying senang Helsi sudah sembuh dan tidak mengeluh kesakitan lagi.
Langkah Fengying yang cepat beradu dengan lantai marmer membentuk suara berisik di pagi-pagi buta. Setelah memasukkan password Fengying memasuki ruang tamunya yang sedikit gelap menatap kiri dan kanan di temani lampu temaram yang redup. Matanya tidak sengaja menangkap sosok pria tertidur di sofa. Dia tidak bisa memastikan siapa pria yang berani menginap di apartemennya. Darahnya seakan mendidih di kepalanya, pria itu tidak percaya istrinya membawa pria lain masuk ke ruangan ini.
Pria itu kesal bergegas memasuki kamar istrinya yang terlelap di atas ranjang. Fengying menarik selimut Kavya yang menutupi dirinya dan ia buang di lantai. Mata Kavya terbuka lebar dan mendapati suaminya berdiri memasang wajah sangar. Tapi wanita itu sangat kecewa malah memutar tubuhnya membelakangi Fengying, dia tak mau menggubris Fengying. Hatinya sudah cukup sakit atas janjinya yang di ingkari, kepalanya juga terasa ingin pecah tak mau berdebat dengan Fengying.
Melihat sikap Kavya yang tak biasanya, Fengying jengkel ia lalu mengambil segelas air di atas nakas tepat di sampingnya kemudian membuangnya ke lantai menimbulkan suara keras. Kavya terkejut langsung terduduk di ranjangnya menatap Fengying garang. Kesehatannya hari ini tidak cukup baik dan Fengying malah berbuat ulah di pagi buta.
"Apa begini caramu menyambut suamimu pulang dengan mengabaikannya?" tanya Fengying tidak melepaskan pandangannya pada Kavya yang terlihat lemas.
"Aku tidak mau bertengkar denganmu Fengying. Sebaiknya kau istirahat dan tidur dengan lelap," ucap Kavya tenang. Ia menyembunyikan kekecewaannya pada suaminya.
"Tidur dengan tenang katamu? Bagaimana aku bisa tidur nyenyak sementara pria lain menginap di rumah ini," teriak Fengying tidak terima dengan kenyataan yang terjadi.
Kavya yang tidak tahu maksud Fengying hanya memicingkan matanya lalu berkata, "Apa yang kau bicarakan Fengying? Aku tidak pernah membawa pria lain ke rumah ini untuk menginap." Kavya tidak mengerti maksud suaminya, wanita itu memang tidak tahu Leon menginap di apartment ini. Seingatnya Leon memang mengantarnya pulang lalu pergi.
"Biar ku tunjukkan pFengyingu siapa pria yang kau bawa ke sini." Fengying menarik tangan Kavya membawanya ke hadapan pria itu. Saat Fengying memegang tangannya ia tak memperhatikan kalau istrinya sedang demam, itu karena ia sangat marah.
Dengan tergopoh-gopoh Kavya mengikuti langkah suaminya. Wanita itu terkejut melihat Leon yang tidur di sofa sudah bangun.
"Sudah kuduga dokter ini menyukai seorang wanita yang sudah bersuami." Fengying mengejek Leon. Kavya menjatuhkan air matanya, hatinya sakit di tuduh hal yang tidak-tidak. Lagipula, Leon yang sudah menyelamatkannya. Mungkin saja ia menginap di sini karena kelelahan tapi dia benar-benar tidak tahu kalau Leon akan menjaganya.
Leon mengobarkan kemarahan mendengar bentakan Fengying, ia lalu mendekatinya dan melepaskan tinju di pelipis pria itu hingga tersungkur ke belakang. Kavya yang melihat suaminya di pukul, cepat-cepat menolongnya.
"Dasar pria br*ngs*k! Pukulan itu pantas untuk mu karena menyakiti Kavya. Bukannya minta maaf pada istrimu kau malah marah-marah tidak jelas. Apa kau tahu apa yang terjadi pada Kavya tadi malam? Tentu saja tidak! Kau hanya keluyuran tidak jelas dan baru pulang sekarang. Karena kau Kavya nyaris mati tadi malam, lihatlah tubuhnya yang pucat itu!" teriak Leon mencoba menjelaskan pada Fengying yang masih termangu di tempatnya. Pria itu menatap istrinya yang sangat pucat lalu menempelkan tangannya di dahinya, Fengying merasa istrinya demam tinggi. Di saat itu Fengying merasa menjadi orang paling tidak berguna di dunia.
"Karena menungguimu berjam-jam Kavya pingsan di tengah hujan deras di depan toko bunganya. Kau tahu benar apa yang akan terjadi jika aku terlambat menemukannya di sana. Dia akan mati. Aku membawanya ke sini dan menungguinya sadar, lalu tidak sengaja tertidur di sofa. Berkali-kali aku menghubungimu tapi kau tidak menjawabnya. Kau pria yang tidak berguna untuk Kavya," cecar Leon menarik kerah baju Fengying. Semalaman ia cukup frustasi memikirkan kesehatan Kavya yang tak kunjung baik.
Mata Fengying menatap iba pada istrinya, tidak seharusnya ia bersikap dingin pada istrinya. Kavya sedang sakit tapi ia tidak tahu dan marah-marah tidak jelas.
"Maafkan aku sayang. Aku hampir saja membunuhmu. Kemarin aku mengantar Mama pulang ke rumah dan entah mengapa aku begitu mengantuk dan baru bangun," lirih Fengying memeluk Kavya erat tanpa mempedulikan Leon yang di depannya.
"Tidak apa-apa Fengying aku mengerti kau tidak sengaja."
Leon yang tidak sanggup melihat kemesraan mereka, ia meminta izin pulang karena ia ingin istirahat di rumah.
"Fengying pastikan Kavya meminum obatnya agar demamnya turun. Jika ada apa-apa telepon saja aku." Leon mengucapkan kata perpisahan lalu keluar dari sana.
"Ini semua salahku, aku yang membuatmu jadi begini. Aku pria pecundang yang tidak bisa menepati janjiku pFengyingu," raung Fengying menatap wajah istrinya yang sudah di penuhi air mata. Kavya tidak mungkin bisa menolak permintaan suaminya.