permintaan maaf

2049 Kata
Selepas Leon pergi Fengying menatap istrinya yang terlihat lemas. Kavya memang sakit dan Fengying yang di penuhi rasa cemburu hanya mementingkan dirinya sendiri mencurigai istrinya, otaknya harusnya bisa mempercayai Kavya apalagi wanita itu sudah bersamanya bertahun-tahun. Jika memang Kavya ingin selingkuh pasti sudah di lakukannya dari dulu. Fengying tidak mempedulikan rasa sakit di wajahnya, ia langsung menggendong Kavya membawa wanita itu ke kamarnya. Kavya tidak berkata apapun hanya membuang mukanya tak ingin melihat suaminya. Lagi-lagi Kavya harus menyembunyikan rasa sakitnya, jika ingin bertahan dalam pernikahannya dia harus mengalah. Kavya tidak pernah meragukan sedikitpun cinta Fengying padanya, tapi untuk kali ini ia sangat ketakutan melihat sikapnya yang posesif. Saat tiba di kamar Fengying meletakkan Kavya di atas ranjang kemudian menyelimuti istrinya sampai ke d**a, ia berlutut di lantai mensejajarkan posisinya dengan ranjang. Tangan Fengying perlahan menyentuh kepala istrinya memasang wajah bersalah. "Aku minta maaf karena menuduhmu sembarangan. Aku juga minta maaf karena tidak menjemputmu kemarin sampai-sampai kau kehujanan menungguku. Pria sepertiku harusnya kau beri pelajaran dengan menamparku seperti ini." Mata Fengying mengeluarkan sebutir cairan lalu menarik tangan istrinya memaksa menampar pipinya, Kavya yang jengkel dengan sikap kekanak-kanakan Fengying langsung menarik tangannya, menatap marah seolah tidak suka tapi ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Sikap Kavya yang diam bagai sayatan pisau menghujam di hatinya. Wanita itu lebih menyeramkan saat ia diam daripada berceloteh asal saat memarahinya. Ia tahu kesalahannya melukai hati istrinya dan Fengying ingin di maafkan untuk kesalahannya itu. Fengying tak mampu menahan lagi untuk menceritakan kenapa kemarin tidak menjemputnya. "Kavya tolong maafkan aku! Kejadian kemarin aku tak sengaja, setelah tiba di rumah Mama aku begitu lelah dan Mama membuatkanku segelas s**u dan akhirnya aku tertidur karena kelelahan. Jika kau tidak percaya tanyakan saja pada Papa." Lanjut Fengying tetap menjelaskan masalahnya walaupun Kavya tak meminta penjelasan. Mendengar penjelasan itu Kavya menatap suaminya dengan tatapan iba. Tapi lidahnya kelu untuk mengajak pria itu mengobrol, tangan kanannya menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Fengying yang mengerti istrinya tak ingin di ganggu menarik nafas panjang merutuki dirinya sendiri. Dia mengalah dan membiarkan istrinya tak mau di ganggu olehnya. Fengying menutup pintu dan meninggalkan kamar mereka dan menuju meja makan yang sudah di siapkan sarapan pagi yang lezat oleh Bibik Linda. "Tuan Muda tidak seharusnya marah pada Nona karena ini kesalahan saya. Dokter Leon tadi malam begitu panik melihat keadaan istri Tuan yang pingsan dan membawanya datang ke mari dengan basah kuyup. Saya masih ingat tadi malam Dokter Leon tidak macam-macam karena saya yang menemaninya sewaktu memeriksa Nona, saya juga yang menggantikan pakaiannya dan Dokter Leon hanya menungguinya di ruang tamu. Saya minta maaf untuk itu tapi tadi malam saya berkali-kali menelpon anda Tuan mengabari kondisi Nona yang demam tinggi bahkan mengigau nama anda tapi Tuan tidak menjawab telepon saya. Tuan bisa memberikan saya hukuman karena kelancangan saya," jawab Bibik Linda tak kuasa menahan tangisnya. Ia sudah bersimpuh di hadapan Fengying memohon ampun. Rasa bersalah semakin menghantui Fengying mendengar penjelasannya, ia memegang kedua lengan Bibik Linda menyuruhnya berdiri, Fengying sudah menganggapnya sebagai ibunya sendiri. Dia tidak mungkin bisa menghukum orang yang sudah merawatnya sejak kecil. "Jangan minta maaf seperti ini Bibik! Ini salahku, aku yang membuat kekacauan ini dan aku harus menebusnya." Fengying berbicara dengan murung. Bibik Linda tidak mampu berkata apa-apa lagi cepat menghapus air matanya. "Anda tidak bersalah. Saya tahu anda tidak sengaja kemarin. Cinta anda pada Nona Kavya sangat besar, saya mengerti kecemburuan anda karena anda takut kehilangan istri anda." Bibik Linda berusaha menghiburnya. "Terima kasih sudah mempercayaiku. Tolong Bibik bersihkan pecahan gelas di kamarku, aku tidak mau Kavya sampai terluka jika menginjaknya. Jangan lupa bawakan sarapan Kavya juga! Sepertinya ia masih marah padaku dan tak ingin menemuiku," cecar Fengying memasang wajah sedih mengingat Kavya yang masih marah padanya. Bibik Linda hanya mengangguk menuruti perintah majikannya, ia bergegas ke kamar Kavya dan membawa menu sarapan pagi yang sudah ia buat. Sesampai di sana ia mengetuk pintu dan menaruh nampan yang berisi sarapan di atas nakas lalu mengambil sapu dan sekop membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Setelah membersihkannya Bibik Linda mengecek suhu Kavya yang masih hangat, ia lalu memanggilnya dengan lembut agar Kavya tidak terkejut. "Nona saya membawakan sarapan atas perintah Tuan. Ini bubur anda masih hangat cocok untuk sarapan pagi anda." Bibik Linda memanggil pelan hingga Kavya membuka selimut yang membungkus tubuhnya dan menatap wanita itu. "Saya tidak lapar Bik," tegas Kavya sangat malas mengisi perutnya dengan sarapan. "Dokter Leon mengatakan anda harus makan dan minum obat teratur agar anda cepat sembuh. Anda masih demam dan harus minum obat. Saya tidak mau sakit anda semakin parah." Suara wanita paruh baya itu memberikan ketegasan. Seandainya ibunya masih hidup Kavya pasti akan mendapatkan nasehat seperti ini juga. Ia bangun dan duduk bersandar mengambil semangkuk bubur yang Bibik Linda sodorkan, Kavya memakan bubur itu pelan merasakan sensasi hambar yang melewati tenggorokannya. Setelah sudah cukup Kavya menyimpan bubur itu dan meminum obat yang sudah Leon resepkan. Bibik Linda yang sudah menyelesaikan tugasnya lalu pergi lagi meninggalkan majikannya sendirian. Kavya mengambil ponselnya dan mengeceknya dan ia terkejut mendapat sebuah panggilan yang Kavya tidak duga siapa penelponnya. "Bagaimana rasanya Fengying mengabaikanmu dan kau tidur sendirian di apartment mu tadi malam? Ini baru langkah awal Kavya atas penderitaanmu, aku akan membuat Fengying lebih memilihku sebagai ibunya daripada dirimu. Dan aku akui akulah penyebab Fengying tidak menjemputmu kemarin dan kau harus tidur sendirian di sana. s**u itu bekerja dengan baik membuat anakku itu tertidur seperti pangeran dan melupakan istrinya. Haha." Helsi tertawa terbahak-bahak di balik telepon. Jantung Kavya terasa copot mendengr pengakuan yang membuatnya nyaris gila. Semua yang terjadi bukan salah Fengying tapi salah mertuanya itu. "Tega sekali Mama melakukan hal itu!" teriak Kavya. Sayangnya Helsi tidak mendengarnya karena ia sudah menutup telepon lebih dulu. Kavya melempar ponselnya di ranjang dengan kesal. Kavya merasa penyebab masalah ini adalah mertuanya, Fengying mungkin tidak percaya bahwa ibunya melakukan hal sekeji itu. Dan Kavya harus menutup rapat-rapat mulutnya lagi menjaga rahasia ini, ia harus bersikap biasa- biasa saja dan berhati-hati pada Helsi. Kavya beristirahat menunggu Fengying datang ke kamar dan ia yakin suaminya itu akan datang. Ia akan memaafkan suaminya karena ia memang tidak bersalah. Di kantor Fengying terus saja memasang wajah murung saat menjalani meeting pun dia tak bersemangat. Pikirannya selalu tertuju pada Kavya yang masih marah padanya, di ruang kantornya Fengying tidak fokus sama sekali, kepalanya di taruh di atas meja kerjanya sambil berpikir bagaimana cara membujuk istrinya. Ketukan pintu dari luar tidak Fengying gubris, tapi orang itu nyosor saja masuk tanpa menunggu persetujuan dari Fengying. Setiba di dalam orang itu nyaris berteriak melihat bos besarnya tampak berantakan padahal selama ini Fengying selalu menomor satukan penampilannya. "Mungkin ada orang gila yang salah masuk di ruangan ini menyamar sebagai bosku," teriak Dale yang sedang menatapnya sesaat lalu Fengying mengacuhkan Dale yang tersenyum mengejek. Sahabatnya itu memang mirip orang gila, bagaimana tidak dasi yang ia lepas tergeletak di lantai, jas kebesaran perusahaan di jadikan bantalan di atas meja, baju kemeja di gelung setinggi lengan dan tiga kancing atas di lepas hingga menampilkan baju dalam pria itu, dan tak lupa lagi rambut kusutnya kering dan berantakan. Dale cukup prihatin melihat sahabat semasa kuliahnya dulu tampil mengenaskan. Ia menghembuskan nafas kasar dan duduk di sofa samping kursi Fengying. "Tutup saja mulutmu Dale! Jika kau hanya datang ke sini untuk mengoceh tanpa memberikanku solusi sebaiknya kau keluar!" tegas Fengying tidak peduli atas singgungannya. "Wow! Bahkan sekarang kau sensitif sekali seperti harimau yang bunting. Tapi .... By the way, hanya satu masalah dalam hidup pria kenapa sangat kacau yaitu wanita. Pacar kesayanganmu itu pasti marah pFengyingu dan pikiranmu yang kulot menyakiti hatinya." Dale ingin menebak mungkin begitu Fengying mau menceritakan masalah sebenarnya. "Kavya bukan pacarku lagi tapi dia istriku." Kali ini Fengying berbicara jujur. Mereka saling menatap satu sama lain, Dale yang sedang minum segelas air putih menyemburkannya keluar karena kaget. Cerita Fengying pun mengalir bagai es cair yang meleleh. "Untuk kali ini Fengying aku rasa kau mengambi keputusan kurang tepat. Bagaimana mungkin kau coba menyatukan kaca yang pecah tanpa merekatkannya lebih dulu? Demi tuhan kau sedang menciptakan masalah yang lebih rumit sekarang. Apa kau tahu perasaan Kavya sekarang? Bagaimana rasanya di benci oleh mertua sendiri dan suaminya menuduhnya selingkuh? Kau harus minta maaf Fengying!" Dale menaruh gelasnya di atas meja mendengar kalimat penjelasan sahabatnya iti. "Aku sudah minta maaf tapi dia masih mengacuhkanku," "Permintaan maafmu masih tidak tulus. Kata maaf di bibir saja tidak cukup. Kau harus memberinya bunga dan menampakkan wajah menyesal agar dia luluh." Dale memberinya saran dan ia yakin akan berhasil. "Terima kasih atas saranmu aku akan mencobanya," ujar Fengying girang mendekati sahabatnya kemudian menepuk pundaknya. Ia sudah punya ide cemerlang, dia harus membeli bunga lily putih kesukaan Kavya. Pria itu masih ingat Kavya selalu mengatakan berkali-kali jika melihat bunga moodnya akan langsung membaik. "Tapi Fengying cepat atau lambat kau harus memperkenalkan Kavya di depan umum sebagai istrimu. Jika tidak, semua orang beranggapan dia hanya simpananmu dan bisa merusak citra perusahaan kita. Aku sangat tahu kalau kau hanya mencintai Kavya." "Aku masih memikirkan masalah itu," "Baiklah, semoga saja kau bisa mempunyai titik terang.Oh ya! Ini file dari seluruh cabang showroom aku ingin kau menandatanganinya." Dale menyodorkan tumpukan berkas pada Fengying. Dale adalah sahabat sekaligus sekretaris Fengying. Pria itu tidak ingin sekretaris wanita berada di dekatnya, Kavya pasti akan mengamuk. Itu sebabnya Fengying menunjuk Dale sebagai sekretaris walaupun ia tidak mau menjadi babunya di perusahaan. Yang benar saja dia memang menjadi babu di perusahaan semenjak menjadi sekretaris di perusahaan padahal jabatan manager di perusahaan lebih baik baginya, ia bisa bersantai tanpa memikirkan banyak masalah tapi dengan menjadi sekretaris membuat Dale semakin gila. "Aku sudah menandatanganinya kau bisa keluar sekarang." Fengying sudah tanda tangan satu persatu berkas yang di bawa oleh Dale. "Rapikan pakianmu bos! Kau terlihat seperti gembel yang masuk ke ruangan," cerca Dale memungut dasi bosnya lalu menggantungkan dasi itu di lehernya. "Kau cerewet sekali Dale seperti nenek lampir. Tak ada gembel seganteng diriku," jawab Fengying enteng. Dale tertawa terbahak lalu keluar dari ruangan itu Setelah mendapatkan tanda tangan bosnya. Fengying masuk ke toilet memperhatikan dirinya yang memang berantakan. Perlahan Fengying merapikan pakaian kemudian rambutnya. Setelah selesai ia keluar mengeluarkan aura biasanya. Sepulang dari kantor Fengying menelpon Helsi bahwa dia tidak akan datang ke rumahnya dulu karena istrinya sedang sakit dan ia harus menemaninya di rumah. Helsi mengiyakan saja padahal ia sedang menahan marah anak kesayangannya tidak akn pulang. Fengying masuk di kamar miliknya dan melihat Kavya masih terbaring lemah dan tak berdaya, pria itu mendekati istrinya yang tertidur dan menempelkan tangan di dahinya memeriksa demamnya apa sudah turun. Untung saja demamnya sudah turun, ia memberikan kecupan di dahi Kavya. "Aku tahu kau masih marah padaku tapi izinkan suamimu ini minta maaf. Aku membawakan bunga lily putih kesukaanmu sebagai permintaan maafku." Fengying berkata lirih terus saja memandang wajah istrinya yang menutup matanya. Fengying ingin beranjak dari tempat tidur tapi Kavya tiba-tiba membuka mata dan memeluk pinggang Fengying tidak membiarkan pria itu pergi. Fengying tersenyum senang melihat tingkah laku istrinya yang sudah memaafkan kesalahannya. Ia membalas pelukan itu dan merasakan kehangatan menjalar setiap senti aliran darahnya, baru dua hari tidak mendapatkan kenyamanan ini, Fengying merasa seperti ribuan tahun tidak bertemu Kavya. Dia tidak tahu bagaimana jadinya jika suatu hari Kavya benar-benar pergi meninggalkkannya, Fengying pasti akan gila memikirkan hal itu. "Maafkan aku telah mengabaikanmu beberapa hari ini. Aku bukan istri yang baik Fengying," kata Kavya pelan suaranya terdengar parau. Beberapa hari ini ia juga sangat merindukan suaminya menunggu pria itu menggodanya lagi membuat lelucon yang membuatnya kesal. "Ti-tidak sayang. Kau istri terbaik di dunia ini. Aku yang salah selalu menyakiti hatimu dan membuatmu bersedih. Aku janji setelah kau sembuh aku akan memperkenalkan dirimu sebagai istriku di depan publik. Mama setuju atau tidak aku akan tetap mengadakan resepsi pernikahan kita." Fengying sudah memutuskan bahwa ia bertekad menjadi pria yang berani mengambil keputusan walaupun sulit. "Benarkah itu Fengying?" "Ya, aku serius mengatakannya. Dunia harus tahu kita sepasang suami istri yang di takdirkan bersama." Fengying melepaskan pelukannya dan meyakinkan istrinya kalau ini sudah keputusan yang tepat. Kavya beranjak dari tempat tidur dan mengambil bunga Lily cantik pemberian Fengying, ia menghirup aromanya yang wangi nan segar di penciuman wanita itu. "Terima kasih Fengying. Aku sudah memaafkanmu dan mau kita saling berbaikan." Bunga Lily itu berhasil mengembalikan hati Kavya yang bersedih beberapa hari ini. Fengying tersenyum puas tinggal membicarakan rencananya pada Helsi untuk membuat acara resepsinya tetap berjalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN