Semakin romantis saja, Helsi selalu melapor pada Friska agar Amanda gerak cepat. Apalagi bisa saja nanti menantunya hamil dan Fengying semakin tidak bisa melepas wanita itu, malah tambah runyam bukan?
Sangat kesal harus serumah dengan orang yang membuat dendamnya makin besar. Padahal Helsi bisa saja memaafkan Kavya asalkan tidak melihat wanita itu lagi dalam hidupnya.
Karena merasa diremehkan kemampuannya, Amanda harus pakai cara halus yang mematikan. Dia tidak akan mudah menerobos kehidupan Fengying karena Kavya selalu saja berada di dekat pria itu hampir setiap hari.
"Sepertinya kita pernah bertemu. Aku tadi sengaja ke sini, tertarik dengan bunga-bunga yang nampak segar. Tapi setelah tahu siapa pemiliknya aku merasa tidak asing."
Amanda berjalan memutar dan melihat Kavya yang sedang mengganti tanah yang harus dibubuhkan pupuk agar lebih subur dan tumbuh tunas. Matanya penuh selidik, lupa pernah bertemu dengan wanita yang menginjakkan kaki di toko bunga miliknya.
"Benarkah? Ah, aku terlalu lupa. Apalagi setiap hari aku bertemu dengan banyak orang yang berbeda-beda."
"Kenalin, Amanda Tarigan. CEO di perusahaan Maniexty Jewellry, senang bisa berkenalan denganmu."
Kavya menerima uluran tangan wanita nanti modis itu tanpa curiga sama sekali. Malah lebih baik dong ada orang kaya yang mau mendatangi florisnya. Siapa yang tidak tahu Maniexty Jewellry? Sebuah perusahaan yang selalu berkolaborasi dengan pengrajin emas dan aksesoris di tanah air.
Karena merasa ada tamu, Naina menyajikan teh untuk kedua orang yang padahal baru saja bertemu. Dan soalnya dia tidak tertarik sama sekali dengan sosok Amanda. Aneh saja, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba saja mendekati Kavya?
Tapi Naina sama sekali tidak punya persepsi apa-apa. Hanya malas saja untuk sekedar mengenal face to face.
"Kamu sudah menikah sepertinya, cincin yang kamu pakai terlihat indah dan berkarakter."
"Ah iya, nanti kapan-kapan aku kenalkan sama suamiku. Dia kebetulan juga CEO di perusahaan bidang properti dan macam-macam peralatan rumah tangga."
"Ah, begitu."
"Kamu sendiri?"
"Masih sendiri, menikah di usia 25 tahun sepertinya sulit. Tidak mudah menemukan pria yang mungkin setia seperti suamimu, Kavya."
"Kamu bisa saja. Ah iya sampai lupa, kamu tadi mau pesan bunga apa? Biar aku sampaikan sama Naina untuk merangkainya."
"Apa ya, mungkin krisan dan beberapa bunga lyly. Aku suka warna putih, suci, tapi kita tidak tahu bukan? Banyak sekali warna putih yang mudah ternoda."
Kavya mengangguk, tidak paham dengan kata-kata majas dari Amanda. Baginya pelanggan adalah pelanggan, dan pembeli adalah ratu, sebaik mungkin Kavya memperlakukan mereka nomer satu.
Setelah urusannya selesai, barulah Amanda pergi. Dia melambaikan tangan dan berjanji akan sering mampir ke sini. Sepertinya tipe seperti Kavya pasti butuh teman, apalagi perlakuan Helsi membuat wanita itu pura-pura bahagia.
Begitu sampai di kantor, Amanda langsung mencari peluang agar bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Fengying. Pendekatan selalu diawali dengan cara jabat tangan dan jabatan bukan?
"Kenapa bu Amanda ingin berkolaborasi dengan perusahaan properti, terdengar aneh saja."
"Bosan hanya perhiasan dan rancangan untuk fashion, sekali-kali aku ingin memasang omset untuk peralatan yang akan laris di pasaran dengan memakai nama mereka. Bukankah sekarang ibu rumah tangga sering memakai alat-alat instan untuk mengerjakan pekerjaan rumah daripada menyewa pembantu?"
"Baiklah. Nanti kita rundingkan keputusan ini dan rapatkan di pertemuan selanjutnya. Sudah saatnya kita juga merambah ke bisnis lain, jiwa bu Amanda memang sangat muda."
Keihl sering memuji atasannya sendiri. Bahkan dia mengagumi wanita yang sampai sekarang tidak berminat untuk menikah ataupun menjalin hubungan. Sebenarnya banyak teman kencannya, hanya saja atasannya sangat pemilih dan sulit ditaklukkan.
"Kabari aku keputusan secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Dua hari lagi aku juga akan memberikan rancana dan ide apa saja yang akan aku garap dengan perusahaan itu."
"Baik, Bu Amanda. Kalau begitu saya permisi."
Pintu ruangannya tertutup. Amanda langsung membuka mantel blazernya, meskipun udara di kantor dingin karena AC, tetap saja panas tidak bisa dibohongi. Dia mengambil bunga yang baru saja dibeli dari toko bunga milik Kavya.
Memasukkan bunga itu ke dalam vas keramik mahal, lalu memberinya sedikit semprotan agar lebih awet kesegarannya.
***
Fengying mengetuk bolpointnya, baru kali ini ada perusahaan yang mengajaknya berkolaborasi padahal sama sekali tidak menggambarkan wajah perusahaan itu sendiri.
"Aku tahu perusahaan ini, bahkan kadang mama sering memakai perhiasaan dari mereka, kualitasnya tidak diragukan. Apa mungkin mereka sedang merambah ke bidang lain? Aku dengar, pemiliknya bahkan sekarang membuka jasa kirim barang setiap acara ulang tahun, anniversary atau semacamnya. Benar-benar mencari peluang untuk kalangan muda."
"Namanya Amanda, cantik, masih muda, ulet, lulusan luar negri dengan nilai terbaik dan berhasil mencetak kesuksesan di saat usianya 24 tahun, satu tahun yang lalu. Tidak diragukan lagi, beliau meminta untuk bertemu langsung dengan anda pak Fengying."
"Baiklah. Nanti kita atur pertemuan dengan bu Amanda. Tentukan tempat dan waktunya."
"Baik, Pak Fengying."
Siksa keluar dari ruangan, baru kali ini atasannya memikirkan kerja sama secepat itu, mungkin karena sudah tahu siapa pemilik Maniexty Jewellry, terkenal dengan gemilangnya nama CEO yang selalu dielu-elukan banyak orang.
Rapat hari ini berjalan lancar, Fengying pun bisa meluangkan waktu untuk menghampiri toko bunga istrinya. Sekalian mengajak wanita itu makan malam sebagai ganti hari saat dulu tidak jadi nonton film.
"Aku akan kembali jam dua siang. Jangan telepon."
"Baik, Pak Fengying."
Begitu memencet remote mobile, Fengying bergerak cepat ke tempat di mana Kavya berada. Wanita itu tersenyum begitu melihat suaminya.
"Sayang sekali, seharusnya aku ke sini dengan membawa bunga. Tapi kamu sudah memiliki semuanya di sini, terkesan tidak spesial kan?"
"Haha, kamu bisa saja, Mas. Sebenarnya aku tidak terlalu suka banyak bunga, lebih sayang saat dipetik. Mereka kelihatan indah saat masih menyatu dalam batangnya. Mau makan siang di mana?"
Fengying melihat Naina dan meminta izin meminjam istrinya sebentar. Tentu saja Naina memperbolehkan, hubungan Fengying dan Kavya baru saja baikan beberapa hari ini.
"Aku tinggal dulu ya, Na."
"Have fun, awas aja kalau pulang gak bawa apa-apa."
Kavya membentuk lingkaran dengan dua jemarinya, dia sangat tahu Naina suka makan meskipun sangat sulit gemuk. Tubuh langsung Naina membuat Kavya iri.
"Makan spageti mau? Aku lagi pengen makan itu, Mas. Ada restoran yang baru saja buka, beberapa hari yang lalu aku makan sama kak Radit di sana, sama Naina juga."
"Ah, kak Radit ke sini juga. Kok aku nggak tahu?"
"Dia buru-buru banget dan kayaknya lagi masa pendekatan sama Naina. Ya siapa tahu kan, Mas? Mereka meskipun kelihatan cuek, tapi Naina sebenarnya kepo seperti apa sosok kak Radit."
Fengying hanya mengangguk. Jarak yang dia tuju tidak memakan waktu. Restoran itu masih sangat baru, tercium dari interior kayu yang masih kental sekali aroma catnya.
***
Seperti yang sudah dijanjikan, ini adalah hari di mana Amanda akan bertemu dengan Fengying. Pakaiannya bahkan terlihat mahal sekali, jarang-jarang Amanda memakai dress saat ke kantor. Keihl sempat curiga, tapi mungkin atasannya ingin mengusung gaya sederhana dan friendly.
"Silakan masuk, Pak Fengying sudah menunggu."
"Terima kasih."
Siska mengagumi kecantikan Amanda. Belum pernah wanita itu memuji wanita lain selain bintang film, tapi wajah cantik Amanda memang terlihat damai sekali.
Hanya ada dua orang yakni notulen dan Fengying. Amanda hanya mengajak asistennya yaitu Keihl, pria yang sudah dipercaya menemani Amanda sejak kecil.
Tidak ada yang tahu sedalam apa perasaan Keihl terhadap wanita yang dia jaga. Tapi sudah sadar posisi, sampai sekarang dia hanya bisa menjadi pengawal sekaligus kaki tangan Amanda sampai sekarang.
"Tidak menunggu lama bukan?"
Amanda langsung duduk, sepertinya Fengying lupa kalau mereka pernah tidak sengaja saling menabrak saat makan siang. Mungkin saat itu, Fengying terlalu fokus pada istrinya sehingga tidak memeprdulikan wanita secantik dirinya menyapa dengan cara seperti itu.
"Tidak sama sekali, Bu Amanda. Anda ingin minum apa?"
"Ah, apa saja. Karena sangat panas cuacanya, jus kiwi please, asistenku juga sama. Tambahkan es batunya dan jangan terlalu creamy dan banyak gula."
Pegawai restoran langsung mencatat pesanan dan pergi dari ruangan. Fengying hanya melirik ke arah Amanda sebentar dan benar, wanita itu sangat tenang juga anggun. Pantas saja banyak sekali rekan kerja sesama pemilik perusahaan yang mati-matian ingin berkencan bahkan mengajak wanita itu jadi teman ranjang.
Tapi, kabar yang didengar, Amanda sangat sulit ditaklukkan, mungkin orang seperfect dirinya selalu detail dalam memutuskan sesuatu.
"Sebenarnya ini kali pertama saya bertemu dengan seseorang yang mengambil ide gila. Tapi melihat semua rancangan dan juga pembicaraan kita si email, semua terlihat masuk akal. Karena banyak juga merek pasaran yang menjanjikan meskipun rating dan kualitas tidak begitu bintang lima, tetap saja saya sangat menghargai usaha anda, Bu Amanda."
"Of course, aku tahu. Ah, aku terbiasa berbicara santai, kamu pun bisa bicara begitu denganku, Pak Fengying. Baru-baru ini banyak sekali para ibu rumah tangga yang mengeluh tentang beberapa alat dapur yang hanya bertahan sampai 2-5 tahun, padahal jangka suatu produk apalagi alat-alat dapur seharusnya bisa lebih awet dari itu, melihat merek yang mereka beli. Aku menyarankan untuk membuat satu set dengan kualitas yang tentu saja premium, mudah digunakan, tidak memakan tempat dan tentu saja dengan harga yang tidak mencekik. Hitung-hitung sebagai pembuka pertama dalam perusahaanku dibidang lain."
"Penjelasan yang sangat masuk akal. Aku pun sudah melihat desain beberapa panci set, dapur minimalis yang bisa diputar dan bahkan kain ataupun celemek yang multi fungsi, waterproof pula. Mengesankan. Selebihnya nanti akan aku diskusikan dengan tim desain di perusahaan kami bu Amanda."
Ternyata pandangan Amanda tentang kehidupan orang-orang rumahan sangatlah berpengalaman. Apa keluh kesah mereka dan sebagainya. Terkesan lebih mengedepankan kenyamanan dibandingkan keuntungan. Fengying tertarik bekerja sama dengan orang-orang yang tidak egois.
"Diminum dulu, aku juga sudah menyiapkan sarapan tadi. Entah kamu akan menyukainya atau tidak."
"Tenang saja. Aku tidak pemilih, banyak yang bilang aku ini selalu rutin makan yang vegetarian dan diet ketat, padahal aku sangat suka makan. Lagian kenapa repot-repot menyiksa tubuh? Aku bisa seperti ini ya karena pola hidup sehat dan berolahraga."
"Ah, begitu. Baguslah, masih muda dan cantik harus sayang badan kan?"
"Terima kasih pujiannya pak Fengying."
Sedangkan Keihl hanya bisa terdiam, duduk di antara orang-orang yang punya jabatan tinggi membuatnya bukanlah siapa-siapa. Baru kali ini melihat Amanda yang tidak malas saat membahas pekerjaan. Padahal biasanya wanita itu selalu sopan dengan siapa pun, apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka. Terkesan aneh saja.
Setelah menghabiskan sesi sarapan, Amanda langsung pamit dan berjanji akan mengunjungi perusahaan Fengying kapan-kapan.
"Terima kasih jamuannya. Aku akan sering-sering mampir ke tempat ini, makananya enak."
"Ah iya, istriku yang merekomendasikan tempat ini."
"Begitu."
Mendengar Fengying menyebut kata istri kata tak suka langsung terbit dalam mimik wajahnya. Pastilah Kavya sangat punya peran penting, dan mungkin saja pertemuan ini sudah diketahui oleh wanita itu.
Lihat saja, Amanda akan membuat siapa pun luluh dengan caranya.
"Menurutmu, Fengying itu bagaimana orangnya, Keihl?"
"Pak Fengying?" Keihl yang sibuk menyetir agak heran, bukankah ini adalah pertemuan pertama mereka? Dan sekarang malah mendengar wanita itu memanggilnya dengan nama saja, seakan - akan sudah mengenal Fengying begitu akrab.
"Entahlah. Aku kurang bisa membaca sifat orang, tapi sepertinya dia orang yang kompeten."
"Sepemikiran."
Amanda tidak bertanya lagi, ada jadwal bertemu dengan tante Friska. Tentu saja, wanita itulah yang memang dari dulu menyuruhnya macam-macam. Alasan mengapa Amanda sulit sekali membuka hati dan perasaannya karena dikendalikan seseorang.
Seandainya Keihl tahu seberapa liciknya Friska, sayangs sekali setiap mereka bertemu Keihl tidak pernah ikut. Aneh saja harus ikut kumpul bersama geng wanita, nanti bakalan ada isu yang tidak enak.
"Sampai sini saja. Aku nanti ke kantor agak siang, mau berenang juga. Kamu ke kantor dulu."
"Baiklah. Jaga dirimu, dan kabari aku jika terjadi sesuatu."
"Iya-iya, bawel. Aku sedang di negara yang sudah merdeka, bukan mau perang. "
Keihl sudah melajukan mobilnya dan meninggalkan Amanda di depan apartemen mewah tempat tinggal Friska. Amanda langsung menaiki lift menuju kamar wanita itu.
Meskipun saudara jauh, tapi Friska selalu memperhatikan Amanda dan siapa saja yang dekat dengan keponakannya. Dulu sekali, Friska melarang Amanda untuk terlalu dekat dengan Keihl karena pria itu seakan menjadi benalu dan terlihat menyukai Amanda.
Takut kalau cinta akan membuat buta keponakannya. Tapi Amanda menegaskan kalau Keihl tidak pernah berbuat yang macam-macam dengannya. Kerja Keihl selalu saja memuaskan dan bisa dimanfaatkan kebaikannya. Mereka juga berteman sudah sangat lama semenjak kematian ibu kandung Amanda.
"Halo manis. Tante kangen banget sama kamu. Sudah bertemu Fengying?"
"Sudah dong. Bahkan aku repot-repot harus berteman dengan istri kolotnya. Sok dramatis, puitis, ah bosan."
"Baiklah. Mau makan apa sayang?"
"Aku baru saja nyarap sama Fengying tadi, di sebuah restoran dan sekaligus membicarakan kerja sama perusahaan, Tan. Ah, Reno mana?"
"Dia sekolah dong. Ini kan udah masuk sekolahnya, nanti kapan-kapan kita dinner bareng. Aku tahu, kamu pasti sudah menyiapkan rencana matang untuk menaklukkan Fengying."
Amanda hanya tertawa, ini adalah jalan hidup paling nekat yang dia tempuh dari rencana-rencana hidup yang pernah dijalaninya.