Terlalu baik

2010 Kata
Rencana kerja sama Amanda dan perusahaan milik Fengying semakin berjalan lancar. Hanya mengambil jangka waktu tiga bulan, Amanda sebisa mungkin untuk sering bertemu dengan Fengying, hampir setiap hari. Tentu saja dengan dalih agar kolaborasi mereka berakhir menguntungkan. Di kantor Fengying, Amanda sering sekali melihat-lihat semuanya. Mungkin kalau orang mengira mereka layaknya pasangan yang baru saja meresmikan hubungan. "Ruanganmu luas juga, apalagi ada kamar di sini. Kamu sering tidur di kantor?" "Ah itu, aku hanya sering beristirahat sebentar setiap punggungku merasa capek. Kadang memang punggungku pegal-pegal, kalau di rumah biasanya ada Kavya yang memijat ya sudah kubuat berbaring saja." Menyebutkan sebuah nama, Amanda pura-pura terkejut dan bahkan mengangkat alisnya. "Istrimu namanya Kavya?" "Iya. Nama kami seakan sepasang bukan?" "Iya juga." Amanda tak ambil pusing. Baginya Fengying hanya pria lurus yang mudah dipengaruhi oleh orang yang paling dekat dengannya yaitu Kavya. Dengan begitu Amanda akan terus menempeli pria itu sampai bergantung padanya. Misinya adalah memenangkan hati Fengying dan membuat Kavya sama sekali tidak mencurigainya. Berkedok teman, Amanda akan berubah wujud menjadi musuh dalam selimut yang mematikan. Keihl tentu saja tidak tahu masalah ini, kalau tahu pasti akan marah besar dan mengadukan semuanya kepada tuan Hiro, kakek Amanda. "Mengenai kerja sama kita, aku bakalan sering lihat perkembangan dari tim desainmu. Jujur aku suka dengan rancangan mereka, tidak pasaran dan memang seperti itu yang disukai ibu-ibu yang sering berkutat di dapur. Tapi alangkah bagusnya lagi menggunakan pegangan setiap sisi dengan kayu jati, selagi mempertahankan kualitas tapi juga identitas. Kayu jati terkenal awet sampai bertahun-tahun bahkan puluhan tahun kan?" "Iya. Nanti bisa kita rundingkan. Kamu mau minum apa? Jakarta memang selalu panas, untung saja kamu berada di ruanganmu karena ruangan ini memiliki AC paling dingin di antara semua ruangan di sini." Amanda memang sok kegerahan. Dia membuka blazernya dan hanya mengenakan blouse tanpa lengan dengan ikat pinggang bermerek mahal. Kecantikan yang akan membuat pria manapun klepek-klepek. "Sepertinya setiap kita bertemu kamu selalu menyuruhku entah makan atau minum. Bisa-bisa aku bakalan menggendut setelah ini. Tapi baiklah, aku paling suka jus jeruk saat memang panas begini. Kalau tidak ada terserah, aku omnivora. Tidak ada kamus diet ketat di hidup seorang Amanda." "Oke. Aku telepon OB dulu." Hanya mengangguk dan duduk. Bahkan Amanda sengaja mengangkat sedikit kakinya agar paha mulusnya terekspos. Sedangkan Fengying memang belum menyadari betapa indahnya tubuh Amanda. Jauh di atas Kavya yang sedikit berisi, Amanda layaknya model papan atas yang sering berjalan di atas red carpet awards. *** Sejauh ini, Kavya selalu melupakan siapa saja pelanggan floristnya. Di antara mereka kebanyakan hanya para pria yang akan menyatakan cinta pada kekasih atau calon pasangannya atau para keluarga yang hendak menjenguk pasien di rumah sakit. Kadang Kavya mendengarkan curhatan banyak orang dengan berbagai masalah. Dan biasanya dia akan menjadi pendengar yang baik. "Hai, aku datang lagi. Ada bunga lyly kan?" Amanda tersenyum dan memberikan coffe yang dia beli sebelum mampir ke sini. Rencananya harus mulus sempurna. Membuat Kavya sama sekali tidak mencurigainya dan membuat Fengying sedikit-sedikit mulai membuka pintu hati untuk wanita lain. "Sepertinya kamu sangat suka bunga itu, Manda." "Aku hanya suka yang warnanya putih. Mana tekan kerjamu? Kamu kerja sendirian?" "Ah Naina maksudmu. Dia sih tadi berangkat tapi mendadak pulang karena ada masalah dengan pencernaannya. Ini kopi untukku? Wah, kamu gak perlu repot-repot, tapi terima kasih." Akhirnya Kavya sudah mulai menerima Amanda bukan hanya sekedar nama saja. Membuat Kavya mengakui Amanda menjadi teman bukanlah hal sulit, hanya memakai trik murahan dan dengan begitu Amanda akan membuat Kavya semakin menderita. Mereka saling mengobrol satu sama lain. Kavya kebanyakan menceritakan tentang Fengying dan juga kebaikan suaminya yang selalu membuatnya merasa tersanjung setiap hari. "Kamu sangat stylish. Apa sih rahasianya bisa punya kulit sebagus ini, Manda?" "Harus rajin-rajin ke salon. Kamu sih kerja dengan bunga dan tanah, tapi ya pekerjaan juga gak mempengaruhi kok. Aku malah bosan hanya duduk-duduk saja di kursi, melihat perkembangan barang baru, pengeluaran dan pemasukan. Itu yang kulakukan setiap hari." Sungguh! Kavya iri sekali bisa berkarir sesuai passion. Apalagi semua wanita sangat suka dengan perhiasan. Amanda sangat cantik dan Kavya yakin pasti banyak pria yang mengantri di belakang wanita itu untuk menjadi suaminya. "Ya mau bagaimana lagi. Meskipun sekarang pendidikan bukanlah segalanya jalan menuju sukses, tapi aku nggak mau buat malu semisal nanti punya karyawan sendiri." Padahal dulu Kavya tidak pernah minder dengan kemampuannya. Tapi semenjak mengenal Amanda, dia merasa tidak punya kemampuan apa-apa selain menjadi istri yang baik di rumah juga berhobi sambil sibuk di florist. "Tapi kamu cantik, Kavya. Pasti suami kamu sering bilang begitu." "Aneh mendengar pujian dari yang lebih cantik, terima kasih. Ini waktu jam senggang kamu ya? Dan bunga ini, untuk apa?" "Aku menaruhnya di dekat meja agar ada Kavya segar. Bahkan atas saranmu aku mulai membeli tanaman hias, supaya ruanganku tidak pengap. Ini memang waktu senggangku, sebelum Keihl meneriakiku pemalas." "Keihl? Siapa?" "Asisten pribadi. Kami dekat sejak kecil dan dia orang kepercayaan kakek. Lumayan cerewet dan suka mengatur." Merasa sudah selesai urusannya di sini, Amanda pamit pergi dan berjanji akan berkunjung hampir tiap hari. Ya, tentu saja dia akan selalu menunjukkan kecantikannya. Dan dengan begitu Kavya akan semakin menciut sebagai seorang wanita. Naina yang baru saja datang kembali setelah menyelesaikan urusan perutnya heran, kenapa wanita yang tidak begitu akrab dengan Kavya malah ke sini hampir setiap hari? Sangat tahu kalau dari dulu Kavya tidak pernah punya prasangka yang buruk dengan orang lain. "Dia membeli bunga lagi?" "Iya. Sepertinya dia akan menjadi pelanggan tetap. Perutmu sudah baikan? Kenapa malah balik lagi sih?" "Boring aku di rumah. Lagian kan aku memang mules aja tadi, salah makan atau gimana gak tahu. Kamu percaya begitu saja sama wanita itu?" "Maksudmu, Amanda? Memang kenapa dia? Dia baik, Na, bahkan ramah sekali." "Ya, ya, ya." Naina tidak melanjutkan. Karena baginya Kavya sudah dewasa dan bisa memilih juga memilah siapa yang pantas dijadikan teman. Tapi yang pasti, Naina tidak mudah begitu saja percaya pada wanita yang bernama Amanda itu. Kebaikannya terlalu mencurigakan. Apalagi dia adalah orang kaya. Bukankah keluarga kaya selalu punya cara agar kesenangannya membuat orang yang lebih rendah dari mereka menderita? Dan hal itu sering terjadi juga dianggap biasa. *** Rumah mewah Amanda begitu luas, dia punya segalanya dan bahkan memiliki privat room yang terdiri dari bioskop pribadi juga tempat membaca dengan fasilitas buku yang hebat dari seluruh dunia. Ya, begitulah kehidupan Amanda. Sempurna, tanpa cacat dan cela. Tapi anehnya, sampai sekarang dia belum merasakan bahagia. Hanya semua dan di atas kertas saja. Dengan malasnya, Amanda memasuki bathup tanpa sehelai pakaian, menaburkan aroma body wash kesukaannya. Bermain buih dan air, menyentuh bagian bahu dan membasuhnya pelan-pelan. Melihat ponselnya berdering, Amanda memencetnya dan menerima panggilan. "Kamu di mana?" "Sedang berendam." "Tuan Haikar akan pulang, aku hanya sekedar memberi tahu." "Terserah, toh ini juga rumahnya bukan? Jangan ganggu aku lagi." Klik. Ya, nama pria yang membuat Amanda merasa kesal setiap mendengarnya. Pria yang merasa Amanda adalah barang yang bisa diinvestasikan pada banyak orang dengan harga jual tinggi. Haikar Winandratama, pria yang merupakan ayah kandungnya. Bahkan Amanda lupa kapan terakhir kali memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Kekesalannya muncul setelah tahu bahwa ibunya meninggal karena sakit, dan Haikar malah sibuk dengan wanita lain. Amanda bullshit akan dunia pernikahan. Dan karena kejadian ini, dia selalu menganggu hubungan orang dengan cara yang licik, permainan yang mematikan. Begitu rasa lelahnya luntur, Amanda mengambil baju dengan asal. Toh nanti akan dirapikan oleh pembantu rumahnya. Dia paling malas makan di rumah, bukan karena masakan pembantu yang buruk hanya saja selera makannya sering sekali hilang tiba-tiba karena kedatangan tamu tak diundang. "Syukurlah kamu ada di rumah. Nadine, tadi kamu membuatkan apa?" Haikar sama sekali tak peduli dengan raut wajah bosan putrinya. Baginya yang dia pedulikan adalah segera menikahi Nadine, wanita yang sudah memikat hatinya setelah kematian almarhumah istrinya. Tentu saja Amanda muak. Terlalu tua untuk memiliki mama baru dan rasanya sangat menyebalkan. Dengan sengaja dia mengabaikan Nadine, wanita yang dulu hanyalah asisten pribadi ayahnya di kantor. "Tadi karena buru-buru aku membuatkan masakan kesukaanmu. Katanya kamu sangat suka pasta dengan saus pedas, ini masih ada banyak." "Taruh saja di situ, nanti bi Lim akan membuang sampah." "Manda!" Haikar hampir menampar pipi putrinya tapi Keihl sudah buru-buru menangkis tangan ayah atasannya. Hatinya begitu sakit melihat Amanda yang sudah bosan dengan kelakuan Haikar selama ini. "Lepaskan tanganmu. Siapa kau berani sekali mencampuri urusanku heh! Dasar babu! "Saya diutus langsung tuan Hiro untuk menjaga Amanda, Pak. Jadi Amanda adalah tanggung jawab saya." Haikar tidak bisa berkutik. Dia hanya anak angkat pria tua bangka itu dan baginya Amanda juga cucu angkat, tapi kenapa Hiro bisa sesayang ini pada putrinya. Sedangkan Nadine yang sejak tadi menahan tangis hanya berusaha untuk menutupi kekesalannya. Capek-capek membuat pasta tidak ada gunanya juga. Mereka berdua naik ke atas dan Amanda sudah tidak peduli lagi. Ke kantor pun malas rasanya. "Terima kasih, Keihl. Tapi lain kali aku akan melawannya sendiri. Aku hanya sedang makan dan tidak mau selera makanku hilang karena ada dia di depanku. Setelah ini temani aku jalan-jalan ya?" "Ke mana?" "Membeli bunga." "Ah baiklah. Akhir-akhir ini memang kulihat kantormu ada bunga lyly, kupikir kamu sudah tidak mau menyentuh bunga kesukaan almarhumah nyonya." "Ah kamu selalu saja cerewet." Keihl lega akhirnya Manda bisa tersenyum kembali. *** Rumah Helsi terasa biasa-biasa saja. Bahkan Helsi sering marah-marah gak jelas saat Kavya berusaha pulang dengan membawa tanaman hias. Menurutnya membosankan saja dan malas untuk merawat bunga-bunga itu. "Kamu pikir, rumahku adalah tempat pembuangan tanamanmu. Ngapain punya toko bunga kalau masih numpang di sini?" "Kupikir semua wanita suka bunga, Ma. Maaf, besok bakalan aku pindahkan sendiri." "Bagus kamu sadar. Itu, masih ada jemuran yang belum kamu ambil, nanti keburu petang. Kamu ini, bisanya cuma makan tidur, padahal anakku harus ke kantor demi menghidupimu." Ya Tuhan, kalau bukan wanita ini yang melahirkan Suaminya ke dunia pasti Kavya sudah menampakkan mulut mertuanya sendiri karena kesabaran juga ada batasnya. Kavya memang wanita yang lemah lembut, tetapi kalau sampai kesabarannya diuji setiap hari tentu dia pasti akan memuncak juga. Tapi Kavya hanya bisa pasrah dan akhirnya berjalan ke belakang rumah karena memang sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Untung saja ada pembantu rumah yang segera membantu. Dia sendiri heran, apa salah menantu malang itu sampai - sampai setiap hari majikannya selalu marah dan marah saja. "Mbak Kinar, makasih loh udah dibantuin." "Sama-sama, Non. Ini kan memang pekerjaan saya, malah gak enak. Tapi ya gimana, nyonya besar galak banget gak berani bantah saya." "Ah, ternyata bukan aku aja ya yang ngebatin dia begitu. Sabar aja mbak, nanti juga bakal luluh sendiri. Ini ditaruh di ruang setrika sekalian kan, Mbak?" Kinar mengangguk. Mereka menggotong royong mengangkat keranjang yang sudah dipenuhi pakaian bersih kering. Beruntung tepat saat masuk pintu dapur, teras rumah mertuanya bersuara gemericik hujan. Tapi naas, karena terburu-buru, salah satu rok Helsi terjatuh karena memang tertumpuk paling tinggi. Kinar berusaha mengambilnya dan akan mencucinya nanti malam. Keburu ketahuan oleh Helsi dan langsung menyalahkan Kavya. "Kerja enteng begitu saja gak becus kamu ini. Apa sih yang kamu bisa? Sehari aja gak bikin masalah bisa gak sih? Mau kamu bikin mertuamu ini masuk rumah sakit gara-gara darah tinggi punya menantu gak berguna macam kamu!" "Ma, rok mama cuma jatuh, gak rusak. Nanti biar Kavya cuci," Kavya kaget karena Helsi bersuara begitu keras kepadanya. Mengata-ngatainya dengan kecaman yang menyakitkan. Namun Helsi tetaplah Helsi, mana peduli dia akan perasaan Kavya yang mungkin saja menangis setiap malam memikirkan perlakuan mertuanya sendiri. Kinar hanya geleng-geleng kepala dalam hati karena pasti kalau dia berada di posisi Kavya sudah tidak tahan dan memilih keluar dari rumah ini. Tapi Kinar tahu, betapa sangat cintanya Kavya terhadap Fengying dan memilih untuk bersabar menghadapi Helsi yang memang keterlaluan. Begitu menaruh semua pakaian, Kavya langsung duduk. Dia masih tidak punya tenaga karena dikata-katai seperti itu. "Non, ini minum dulu." "Makasih ya, Mbak. Mbak baik banget sama aku." "Karena Non Kavya juga baik, Non gak pantes diperlakukan seperti itu. Kenapa Non gak melawan, Non gak salah apa-apa bukan? Non bahkan kadang membantu mbak Kinar di dapur, kadang juga ke pasar. Mana kurangnya Non Kavya?" Kavya tersenyum, setidaknya ada seseorang di rumah ini yang bisa melihat sedikit saja kebaikannya. Dia tidak butuh dipuji, Kavya hanya ingin dihargai sebagai keluarga di rumah orang tua suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN