Orang ketiga

2026 Kata
Karena malas melihat wajah yang sudah berani masuk ke dalam keluarganya, Amanda memilih pergi ke tempat Friska. Satu-satunya kerabat yang sedari dulu mendukung apa pun yang dilakukannya. Janda beranak satu itu sering menghibur dan mengajak Reno sebagai alasan. Sebenarnya Friska bukan orang jahat, hanya suka mengompori orang-orang di sekitarnya seperti Amanda dan Helsi. Kebencian harus tetap ditumbuhkan. Dia trauma lantaran pernikahannya tidak bisa dipertahankan. Seandainya Keihl tahu Amanda dimanfaatkan seperti itu, pria itu pasti tidak akan tinggal diam saja bukan? "Hari ini Reno baru saja jatuh dari sepeda, tapi dia bilang didorong teman mainnya. Kamu tahu apa yang dia lakukan?" Amanda terdiam sambil mengamati bocah yang sedang menonton TV. "Apa, Tan?" "Balas dendam. Reno membuat sepeda temannya bannya kempes, kurasa dia juga tidak suka orang berbuat sesuka mereka." Sedangkan Amanda hanya tersenyum. Padahal salah, tidak baik kejahatan dibalas kejahatan bukan. Entah Nadine, sekarang Kavya. Siapa mereka? Hanya saja bagi Amanda mereka adalah penghalang jalan hidupnya dan Amanda tidak suka diganggu sama sekali. Mungkin setelah ini Amanda akan mencari cara bagaimana membuat Nadine bisa pergi dari sisi ayahnya. Muak melihat wanita yang tidak setara dengan keluarganya karena dia tahu pasti Nadine tidak punya perasaan apa-apa terhadap pria yang usianya lebih tua 7 tahun dari wanita itu. "Aku semakin membenci wanita itu karena bahkan hampir setiap hari dia mampir ke rumah. Membuat nafsu makanku jadi tidak berselera." "Siapa?" Friska bertanya begitu karena tidak mungkin secepat itu Kavya berani ke rumah Amanda. "Nadine, Tan. Wanita yang dulu menjadi asisten pribadi ayah dan sekarang malah mendekati karena mungkin hanya mengincar harta ayah." Ah, Friska ingat. Sempat tak sengaja berpapasan saat dulu saudaranya masih hidup. Hubungannya dengan Haikar tidak bisa dibilang dekat, hanya bertemu saat acara makan keluarga itu pun sudah sangat jarang sekali. "Aku tidak menyangka kalau ayahmu ternyata seleranya serendah itu. Tapi biarlah, itu urusan nanti. Bahkan aku dengan mudah bisa membuat wanita itu pergi begitu saja tanpa kamu harus berurusan dengannya." Amanda percaya kalau Friska bisa membuat kacau hidup seseorang. Dan karena dekat dengan tantenya, kini Amanda bukan Amanda yang dikenal. Jadi lebih ambisius tanpa memperdulikan perasaan orang lain. *** Akhirnya tim rancangan kolaborasi yang sudah dipilih Fengying memberitahu kalau desain mereka akan berani dimunculkan ke depan publik. Tinggal menunggu bagaimana produk itu akan diminati oleh banyak orang terutama ibu rumah tangga. "Bukankah seharusnya kamu menghubungi wanita itu?" "Siapa, Amanda?" "Bukan. Tapi istrimu, kerja keras kita ternyata bisa terselesaikan secepat ini. Aku baru saja mengabari Dinda, lega juga kerja sama dengan perusahaan sebesar Maniexty berjalan dengan lancar. Kalau bu Amanda, pasti ada sekretarismu yang mengiriminya lewat email kan. Masa iya, bos harus menunggu kabar dahulu. Kupikir, wanita seperti Amanda berarti hanya menerima dan menyuruh saja di kantornya." Fengying heran, kenapa bisa-bisanya dia kepikiran Amanda dan tidak istrinya. Bahkan Fengying berjanji kepada istrinya kalau kolaborasinya sudah hampir 80% pasti akan mengajak wanita itu liburan ke pantai sebagai refreshing akhir bulan. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua, Fengying yakin kalau wanita itu pasti juga jenuh di rumah dan hanya berkutat dengan toko bunganya hampir setiap hari. "Baiklah. Nanti aku menjemput Kavya. Karena sepertinya pekerjaan kita bisa dilanjutkan besok, aku pulang dulu. Titip salam buat istrimu, Ngga." Angga mengangguk dan keluar dari ruangan sahabatnya. Dia adalah orang pertama yang sangat mendukung Fengying menikahi Kavya. Sangat tahu kalau Kavya adalah wanita penyabar, bahkan tak jarang keduanya sering makan malam dan Dinda juga bilang Kavya adalah teman mengobrol yang baik. Mengambil setelannya, Fengying menelpon nomer istrinya tapi tidak diangkat. Mungkin wanita itu sedang sibuk mengurusi tanaman-tanaman yang kadang diajak bicara, Fengying tahu kalau istrinya sangat mahir merawat bunga-bunga dan bahkan sampai sekarang banyak sekali pelanggan setia yang sering order dengan istrinya. Sambil melajukan mobil dan menyetel musik, Fengying menerima pesan dari sekretarisnya. Mengabari kalau nanti malam ada undangan ke acara tunangannya pak Gunawan, salah satu pemilik saham yang sangat mempercayai Fengying sebagai penerimanya. "Ya ampun, kenapa aku bisa lupa? Ah, sebaiknya nanti aku mengajak Kavya ke untuk membeli baju setelan." Dari kejauhan, Fengying sudah bisa melihat gesture tubuh Kavya yang mengangkat pot-pot sendirian. Mungkin itu adalah pot baru yang baru saja datang. Kavya memang memesan dari tempat langganannya karena bisa request waran dan bentuknya. "Butuh bantuan, Nona?" "Ah tidak, terima kasih." Kavya menoleh dan tersenyum. Mungkin karena sibuk dia tidak menyadari suara suaminya sendiri. "Ya ampun mas Fengying. Kenapa gak bilang sih kalau mau ke sini?!" Kavya memukul bidang d**a suaminya dan lupa kalau sebagian telapak tangannya baru saja berurusan dengan tanah dan pupuk. Beruntung kemeja suaminya tidak kotor. Dia tidak masalah mencucinya atau membawa ke penatu, tapi kadang-kadang mertuanya memiliki mata yang jeli untuk mencari kesalahannya yang kasat mata. "See? Aku sudah tiga kali menelpon kamu sayang. Tapi kamu gak menjawabnya, Naina juga. Kalian sepertinya lebih sibuk dariku. Mana dia?" Ah, benar sekali. Hari ini kebetulan banyak bibit baru dan beberapa tanaman cangkok, Kavya ingin membuat model bonsai yang dia pelajari dari beberapa orang yang memang handal. Lagipula cita-citanya selain memiliki toko bunga dengan cabang di mana-mana, Kavya juga ingin mendirikan toko bue. "Dia ada di belakang. Kamu tahu, sepertinya Naina sedang PDKT dengan Kak Radit. Tapi mereka sembunyi-sembunyi, dan belum mau mengatakan apa-apa sama aku. Heran deh kayak sama siapa saja!" Melihat istrinya cemberut, sudah pasti Fengying tahu cara membujuknya. "Itu urusan mereka sayang. Lagipula katamu kamu ingin melihat Naina menikah tahun ini. Bukankah ini kabar baik, hm? Jadi doakan saja, pendekatan itu juga bukan hal yang mudah. Ah, kamu masih lama? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." "Ke mana, Mas?" Fengying menarik tangan Kavya dan membersihkannya di saluran air yang memang ditancapkan Kavya dekat pintu masuk. Kavya tersenyum melihat perhatian suaminya, lelah yang menimpa bahunya mendadak hilang begitu saja. Memang, dari dulu Fengying selalu membuatnya merasa nyaman dan senang. "Segera tutup toko bunganya, Naina juga jangan bekerja sendirian. Ini sudah terlalu siang, dan sudah waktunya kamu membagi waktu dengan suamimu. Boleh?" Kavya mengangguk lalu mengecup pipi Fengying. Bahkan lupa kalau mereka masih di depan toko bunga. "Na, kita disuruh pulang nih." "Sama siapa?" Naina langsung menyembuhkan kepalanya dari kerumunan tanaman dan langsung cemberut setelah melihat Fengying. "Ah, kalian mau kencan? Ya udah sana kencan deh! Aku udah biasa pacaran sama bunga-bunga." "Kamu juga pulang, Na. Gak tega liatnya." Fengying berusaha sebaik mungkin untuk tidak tertawa. Mereka benar-benar pergi, Fengying bahkan tidak memberitahu akan ke mana. Hanya menjelaskan kalau tempat tujuan mereka adalah tempat yang biasanya disukai para wanita. Begitu sampai, Kavya tidak menyangka kalau suaminya akan mengajak ke butik yang selama ini diidam-idamkan. Meskipun Kavya bukan penggila fashion ataupun belanja tentu saja semua wanita pasti akan suka ketika Suaminya mengajak ke tempat seperti ini. Apalagi Kavya jarang sekali membeli baju, bukankah dia tahu kalau membeli barang-barang yang tidak perlu hanya membuang-buang duit saja. Lagian pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang mengharuskan berpenampilan mewah dan elegan yang penting nyaman bukan? "Ayo masuk." "Iya, Mas. Untung saja sandalku tidak kotor banget tadi. Bisa-bisa kita diusir dari sini gara-gara mengotori lantai." Pasti, siapa pun orangnya akan tertawa melihat pasangan yang berbeda. Kavya yang dekil dan Fengying necis, berdasi pula. Tapi Fengying sama sekali tidak malu dengan keadaan istrinya karena cinta memang buta bukan? Begitu melihat barisan dress dengan bahan terbaik, Kavya tak sanggup untuk berkedip. Bahkan Fengying baru kali ini melihat istrinya berwajah riang. "Maaf ya sayang, aku jarang melihat kamu sesenang ini. Apakah kita sangat jarang berbelanja?" "Tidak juga, Mas. Aku tahu kamu sibuk, lagipula kan aku juga bisa belanja sendiri. Tapi mungkin karena aku malas, Naina juga kurang suka membeli sesuatu kalau benar-benar tidak penting." Akhirnya pilihan Kavya jatuh pada dress berwarna mocca dengan sedikit tile di bagian lengan. Fengying juga memiliki setelan seperti itu tinggal membeli tuxedo saja sebagai pelengkap. "Kamu tahu kan, Pak Gunawan. Anaknya akan tunangan malam ini, Aku sengaja mengajakmu ke butik agar nanti kita bisa memakai pakaian yang sama ke sana. Kamu mau kan menemaniku sayang?" "Tentu saja. Mas, kalau boleh aku mau salon, sekali-kali gak apa-apa kan berpenampilan modis, kadang aku mau membuat make upku terlihat bagus." Fengying mengangguk, dia juga pasti butuh seseorang untuk merapikan rambutnya. Kavya memang mahir soal itu, tapi alangkah baiknya untuk kali ini biar orang lain saja yang melakukannya. Akhirnya Kavya masuk ke dalam bilik ruangan, membiarkan Fengying duduk dan menunggu istrinya berganti baju. Siapa tahu ukurannya terlalu sempit dan kurang cocok. Ada beberapa orang yang keluar masuk, ini adalah salah satu butik terkenal di dekat daerahnya, harganya memang mahal tapi kualitasnya tidak usah diragukan lagi. Setelah melihat ke cermin, Kavya semakin menyadari betapa anggunnya dirinya saat memakai pakaian mahal seperti ini. Bahkan dia bisa yakin kalau tubuhnya bisa lebih langsung semisal mau berolahraga dan diet. "Kamu lihat tadi, pria yang berpakaian rapi. Sepertinya dia orang penting di kantornya, datang bersama seorang wanita. Yeah, kamu tahulah banyak sekali pria kaya yang mau dengan wanita biasa saja. Mungkin wanita itu mendekati pria kaya tadi dengan tampangnya." "Penampilannya enggak banget kan?" imbuh teman yang lain. Meskipun mereka setengah berbisik, Kavya sangat bisa mendengarnya. Apa-apa mereka, apakah di dunia ini keseteraaan hanya bisa dipadukan sesuai derajat sosial saja? Kavya sakit hati karena sering mendengar beberapa orang di kantor Fengying menyebutnya beruntung. Padahal mereka saling mencintai, Kavya juga yakin suaminya tulus mencintai Kavya. "Kayaknya aku harus memfiller wajahku deh biar bisa menggaet pria kaya." "Hahahaha. Bisa saja kamu, bahkan sekelas aktor bakalan kepincut sama kecantikanmu. Yaudah yuk keluar." Suara mereka tidak lagi terdengar, barulah Kavya memberanikan diri dan mengawasi setelah mereka pergi. Dadanya sesak, dia kesal karena kesabarannya masih diuji, bahkan mereka tidak tahu seperti apa Kavya. Sampai sekarang Kavya hanya bisa bersabar mendengar banyak orang membicarakan hubungannya dengan Fengying. "Mas, penampilanku bagaimana?" Fengying yang menunggu dari tadi langsung berdiri dan mendekati istrinya, melihat dari segala sisi. "Tentu saja cantik. Kamu terlihat seperti bidadari, bidadari yang ada di bumi. Bukankah aku adalah pria yang sangat beruntung mendapatkanmu?" Kalau saja bukan karena pujian Fengying, sudah pasti Kavya masih menyimpan dendam pada orang-orang yang mempertanyakan ketulusannya mencintai suaminya sendiri. Kavya pun menawarkan diri untuk membeli dress lagi, Fengying boleh-boleh saja. Toh istrinya memang bukan tipe yang harus berbelanja setiap bulan bukan? "Setelah dari sini kita cari restoran buat makan malam ya. Nanti aku mau telepon mama pulang terlambat. Kita langsung blabas saja, atau kalau perlu menginap di hotel. Pasti butuh mandi juga kan sayang?" "Aku ngikut kamu saja, Mas. Yaudah yuk bayar." *** Acara tunangan anak pak Gunawan diselenggarakan di sebuah hotel bintang lama. Tentu saja banyak orang penting yang datang, Fengying hanya kenal beberapa dari mereka karena mungkin mereka adalah pemimpin perusahaan seperti dirinya juga. Bahkan dia menyapa beberapa kolega kerja, memperkenalkan Kavya dan menyapa istri-istri mereka. Dari sini Kavya semakin sadar kalau kelas mereka berbeda dengannya. Istri para pemimpin itu terlihat sangat elegan, dengan memakai pernak pernik mahal. Sedangkan Kavya hanya memakai cincin pemberian Fengying saat dulu menikah. "Kavya bukan?" Dia kaget ada yang mengenalinya di tempat ini. Jujur ini adalah pertama kalinya Kavya ikut suaminya ke acara sepenting ini. "Kupikir aku salah mengenali orang tadi. Kamu ke sini juga?" Fengying lebih terkejut lagi karena Amanda mengenal istrinya, dia berjabat tangan dan tidak menyangka mereka akan bertemu di sini. "Ah, bu Manda." "Malam Pak Fengying. Ternyata Kavya adalah istri yang sering kamu bicarakan ya? Kavya, kamu tahu, kami tengah bekerja sama mengenai suatu produk rumah tangga dan akhir bulan ini akan segera rilis." Akhirnya Kavya cukup lega mereka bisa berbincang-bincang karena sejak tadi memang Kavya hanya tersenyum saja semenjak dia masuk ke gedung ini. Tidak tahu apa saja obrolan yang dibicarakan oleh orang-orang penting. "Kamu berarti sering bertemu dengan mas Fengying. Oh iya, Mas, Manda adalah pelanggan setia di florist, hampir setiap hari dia membeli bunga lily untuk diletakkan di vas bunga di kantornya. Aku senang kalian ternyata sudah saling kenal bahkan saling bekerja sama." Amanda tersenyum, dia menyodorkan minuman pada kedua orang yang merupakan pasangan suami istri itu. Sangat tahu kalau Fengying mencintai istrinya, meski begitu dia sangat tidak sabar melihat perpecahan antar keduanya. Bahkan Amanda sangat tidak sabar membuat Kavya diceraikan. Ah, bukankah dia adalah model teman dalam selimut? Diam-diam mematikan. "Bagaimana kalau kita ke sana, obrolan pria selalu menyebalkan." ajak Amanda. Kavya menurut, padahal akan semakin banyak orang yang memandangnya sangat jauh dari Amanda yang berkelas. Karena itu merupakan tujuan Amanda Jalan bersisi yang di samping Kavya agar orang-orang makin membandingkan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN