Sedang berbincang dengan seseorang yang penting, Fengying sesekali mengawasi arah toilet. Kavya memang menyelesaikan urusannya, tinggal Fengying bersama Amanda saja.
Pesta anaknya pak Gunawan hampir selesai, setelah ini mungkin Fengying akan mencari restoran ataupun warung pinggir jalan. Perutnya lapar setelah berjam-jam ke sana ke mari sejak datang ke sini.
"Aku pergi dulu ya, Dam. Ah iya, istrimu cantik sekali, kamu sangat pintar pilih pasangan."
Tatapan Pak Leo terarahkan pada Amanda. Fengying menjelaskan agar salah satu kenalannya tidak salah paham. Sayang sekali Pak Leo harus buru-buru pulang karena memang jaraknya rumahnya hampir perbatasan Jakarta.
Sedangkan Amanda tidak masalah dengan anggapan itu. Toh suatu hari nanti dia akan biasa dengan sebutan istri setelah menikahi Fengying, atau lebih tepatnya merebut pria itu agar menjadi miliknya.
"Maaf, Manda. Kamu malah dikira yang enggak-enggak."
"Tidak apa-apa, mungkin karena kamu tampan. Kavya sangat beruntung bukan mendapatkan pria sepertimu?"
"Tidak juga, justru sebaliknya akulah yang merasa sangat beruntung memiliki istri sehebat Kavya."
Cih, apa hebatnya? Hanya wanita biasa yang tidak punya orang tua. Pendidikan juga tidak tinggi-tinggi amat, apalagi dari segi fisik Amanda jelas tidak level dengan Kavya.
Wanita yang dibatin baru saja keluar dari toilet, Amanda pura-pura memasang wajah ramah. Padahal rasanya dia ingin membuat wajah Kavya tidak cantik lagi agar Fengying berpaling padanya.
"Kamu tahu pria itu? Dia pemilik perusahaan yang tengah naik daun namanya, mereka berkolaborasi. Lihatlah, wanita yang memakai gaun warna putih gadung, namanya Amanda. Dia pernah tinggal di luar negri, sangat stylish ya? Kupikir mereka sangat serasi."
Kavya yang mendengarnya rasanya ingin marah. Apakah semesta tidak pernah sekali saja memahami betapa dia sangat ingin diakui. Kavya juga cantik, dia juga merasa sangat pantas bersanding dengan Fengying. Lalu, di manakah salahnya?
"Iya, memang cantik sekali. Aku iri dengan wajah asianya, kulit yang mulus. Membuatku merasa jadi wanita gagal."
"Sudahlah, lebih baik kita ke sana saja. Aku lapar, mumpung belum benar-benar selesai acaranya."
"Ya udah yuk."
Ssgeomgolan gadis-gadis muda yang mungkin saja pegawai kantor pak Gunawan itu tidak menyadari ada Kavya yang tertahan di dekat mereka. Bodohnya Kavya malah berhenti dan mendengarkan suara-suara tak bertanggungjawab itu.
Tentu saja Kavya kesal. Tidak mama mertuanya, Orang-orang di kantor Fengying dan sekarang orang-orang yang datang ke pesta salah satu kenalan suaminya. Sungguh, rasanya bumi sangat tidak adil.
"Maaf, Mas, membuatmu lama menunggumu. Jadi pulang kan?"
"Jadi dong. Aku lapar, gak terlalu nafsu makan di sini, kita nyari nasi goreng biasanya yuk?!"
Memandang wajah riang suaminya, Kavya bisa bernapas lega. Kekesalannya tidak meluap seperti tadi. Satu-satunya alasan dia mampu bertahan sampai sejauh ini adalah karena ketulusan.
Amanda hanya diam. Maksudnya mereka berdua akan meninggalkannya? Apa-apa ini, kenapa dia merasa Kavya tidak ingin suaminya lebih lama di sini?
"Aku tadi ke sini diantarkan supir. Tapi kalau boleh, bisakah aku nebeng kalian? Kurasa rumah Fengying melewati sekitar jalan Pattimura VII kan?"
"Bukankah kamu bisa memesan taksi?"
Amanda tidak menyangka Kavya malah bereaksi seperti itu. Aneh sekali, ada apa dengannya? Kenapa mendadak berubah dingin?
Karena merasa tidak diijinkan, Amanda memilih tidak bicara lagi. Hanya tersenyum, dia tahu jam sekarang Keihl sama sekali belum tidur. Pria itu pasti tetap menunggunya.
"Bisa saja sih. Atau kamu mau ikut makan nasi goreng dengan kami? Kamu pernah makan makanan pedangan kaki lima? Ah, rasanya sangat juara."
Hampir melihat respon Kavya yang tidak setuju, Amanda cepat-cepat menganguk. Dia sering diajak Keihl makan keliling sekitar perumahan, bukan masalah besar. Lagian dia sangat jarang sekali makan makanan di jalanan, takut tidak higenis.
Merasa kesal, Kavya hanya diam saja. Mengikuti suaminya bersalaman dengan yang empunya acara. Kali ini dia harus menunjukkan kalau dialah istri sahnya Fengying. Bukan siapapun terlebih Amanda.
Mobil Fengying beruntung terparkir di bagian depan, tidak susah mengeluarkannya dari gedung hotel bintang lima.
"Kamu tinggal bersama siapa, Manda?"
"Ah, ayah. Tapi dia sering punya urusan di luar kota, juga Keihl, salah satu orang kepercayaan kakekku yang jadi pengawasku sejak kecil. Kamu ingat pria yang dulu berdiri di sampingku saat pertemuan pertama kita? Nah, dia adalah Keihl."
"Oh iya, aku ingat."
Mereka tertawa sebentar lalu fokus lagi, sedangkan Kavya hanya menatap ke arah luar jendela. "Jadi maksudnya kamu tinggal bersama pria, begitu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa sih. Tidak heran juga karena dulu kamu kan tinggal di luar negri."
Amanda semakin tidak mengerti kenapa Kavya jadi sinis begini. Baiklah, toh dengan mudah dia akan menunjukkan sisi liarnya nanti. Kavya bukanlah wanita yang sebanding dengannya. Beraninya dia bersikap seperti ini.
Sampai di dekat barisan jajanan kaki lima, Kavya segera turun. Dia tidak ingin Amanda duduk di samping Fengying karena kadang situasi membuat banyak orang duduk sembarangan. Terlebih karena murah, banyak orang pula mengantri. Nasi goreng langganan mereka memang banyak peminatnya.
"Kamu suka pedas?"
"Sedikit."
"Baiklah, tunggu. Kalian cari tempat duduk biar aku yang memesan."
Kavya segera mencari tempat duduk dan menyisakan tempat duduk untuk suaminya. Sampai sekarang dia tidak berani melihat ke arah Amanda. Ya, Kavya mengakui kalau wanita itu memang cantik, berkelas. Kavya jadi kKavyatir tentang kedekatan Fengying, apalagi pria itu memang berkolaborasi dengan perusahaannya. Itu sama saja mereka akan sering-sering bertemu bukan?
"Apakah aku membuat kesalahan? Sepertinya kamu tidak ingin melihat aku pergi bersama kalian."
"Tidak, hanya perasaanmu saja kali."
"Kurasa aku benar, kamu sedang tidak ingin aku dekat-dekat suamimu. Kenapa, Kavya? Aku salah apa?"
Hanya bisa menghela napas panjang. "Sebelumnya maaf, tapi aku merasa kurang nyaman saja dengan kesempurnaanmu. Kita beda kelas dan orang-orang sering beranggapan kalau kalian sangat serasi, itu menyakiti harga diriku. Makanya aku tidak mau suamiku terlalu akrab denganmu, jadi tolong kamu sadar diri ya?"
Sialan! Beraninya Kavya berkata seperti itu? Memangnya siapa dia? Hanya wanita yang dinikahi Fengying dan punya ikatan resmi di atas kertas saja bukan?
Amanda hanya tersenyum saja, tapi hatinya getir. Dia tidak suka disuruh oleh orang yang bahkan tidak lebih hebat darinya.
Pesanan sudah datang, Amanda terlihat tidak peduli dengan kata-kata Kavya. Berusaha menikmati nasi goreng.
"Aku akan mentraktir kali ini, Fengying. Bukankah waktu itu kamu mentraktirku, bahkan sekarang aku dan Keihl sering ke sana."
"Ya, itu juga restoran yang disukai Kavya. Memang enak sih, setiap bulan pasti ada saja menu baru. Selamat makan."
Kavya merasa kesal karena sejak tadi tidak diajak bicara suaminya. Keberadaan Amanda benar-benar mengkKavyatirkan.
***
Ini adalah rapat ketiga kalinya dengan perusahaan Maniexty, Fengying baru saja bertelepon dengan istrinya yang sibuk di toko bunga. Tapi dia merasa istrinya jadi agak aneh dan cemburuan.
"Aku hanya bertemu dan membicarakan bisnis, Sayang. Kamu kenapa sih? Bukankah kalian berteman?"
"Tidak lagi semenjak dia tahu aku sangat tidak rela kalau kamu berpaling, Mas. Mas, tidakkah kamu tahu kalau Amanda itu mulai menyukai dan menunjukkan rasa ketertarikannya sama kamu?"
"Kita bicarakan ini nanti. Kamu pasti sudah tahu kalau aku hanya cinta sama kamu, love you, Kavya."
Klik.
Sambungan terputus. Kavya yang sedang mengaduk tanah dan mencampurnya dengan pupuk kompos tidak sadar kalau tanah itu keluar sampai ke mana-mana. Dia belum pernah merasa kKavyatir tentang kedatangan orang lain.
Padahal, dulu Helsi sering sekali mengancam akan mencarikan wanita yang cocok dari bibit, bobot dan bebetnya.
"Sepertinya kamu lagi banyak pikiran. Tumben gak fokus? Berantem sama Fengying?"
Naina bukan tipe perempuan yang mencampuri urusan rumah tangga seseorang, tapi dia juga tahu kalau Kavya hanya melampiaskan kekesalannya lewat cerita.
Kalau wanita itu tidak mau cerita, Naina yakin Kavya masih butuh waktu untuk terbuka. Mereka sudah saling percaya satu sama lain, Naina sangat tahu seperti apa sifat Kavya. Baginya Kavya sudah seperti kakaknya, apalagi sekarang dia benar-benar dekat dengan Radit.
"Kamu mungkin akan menertawakanku, Na."
"Tidak. Kali ini tidak, Kavya. Cerita aja gak apa-apa, tapi ya terserah. Kamu bisa cerita kalau perasaanmu sudah membaik."
Naina menyodorkan minuman kepada Kavya agar wanita itu rileks. Dan akhirnya Kavya mulai cerita detailnya, dia yakin kalau Amanda memang sengaja saat kemarin di pertunangannya anaknya Pak Gunawan.
Entahlah, apa motif Amanda bersikap seakan agar suaminya bisa lebih peduli pada wanita yang serba ada itu. Apakah menjadi kaya dan punya segalanya tidak membuatnya bahagia?
"Tuh, kan? Apa aku bilang! Wanita itu memang kelihatan sejak pertama datang ke sini, Wa. Sok akrab dan sok tahu. Cih, sok cantik banget dia. Memangnya kalau berwajah cantik bisa gitu bersikap seenaknya? Sombong banget, banyak kok yang lebih cantik bukan dari dia. Cuma ya kita gak kenal saja."
"Atau mungkin aku yang salah paham aja kali ya, Na."
Naina menggeleng. Dia bisa begitu cepat membaca watak seseorang. Pasti tahu kalau Amanda setiap hari ke sini hanya ingin membuat Kavya bisa menerimanya sebagai teman meskipun itu tidak tulus.
Baginya, cantik bukanlah segalanya. Ada poin yang lebih penting dari itu bukan? Yaitu akhlak yang baik, Kavya punya itu dan tentu saja baginya Kavya jauh lebih baik daripada wanita bermuka dua.
Karena toko sepi, Naina bisa melampiaskan kekesalan Kavya juga. Mereka memang kadang seperti ini berbagi masalah masing-masing.
Tidak menyangka kalau ternyata Amanda mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. Ah, Kavya sudah mulai sadar dengan adanya dirinya di sekitar Fengying. Malah baguslah, biar wanita itu sadar diri bukan?
"Sepertinya kalian sedang membicarakanku?"
Kavya menoleh cepat dan tidak tahu kalau ada Amanda di sini. "Ngapain kamu ke sini lagi? Bukankah sudah cukup jelas kalau mulai sekarang aku tidak ingin punya hubungan apa-apa dengan orang seperti kamu."
Amanda malah tersenyum dan mendekat ke arah dua orang wanita yang ternyata menggosipkannya. "dalam kehidupan ada yang namanya kalah dan menang. Aku dari dulu memang tidak pernah mengalah ataupun kalah, beda sama kamu yang mungkin sering melakukannya karena kamu tidak bisa sehebat aku. Tentang suamimu, sepertinya kamu salah paham. Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan juga Fengying suami kamu."
"Heh, wanita muka dua. Dari sini aku malah semakin yakin kamu punya niat yang nggak baik sama Kavya."
Amanda memandang tak suka ke arah Naina, "jangan sok tahu kamu tidak mengenalku. Tadinya Aku kesini ingin membeli bunga seperti biasanya tapi mungkin kamu sedang tidak ingin berurusan denganku. Jadinya aku permisi. Terima kasih atas waktunya."
Merasa sangat puas sudah membuat wajah Kavya seperti tadi. Dia sangat ingin melihat pertengkaran yang hebat antara pasangan suami istri itu, lalu Amanda menghubungi Friska dan menceritakan segalanya yang barusan terjadi.
Sampai sekarang, Keihl belum tahu tentang rencana-rencana Amanda. Pria itu tahu kadang nonanya melakukan tindakan yang diluar nalar. Tapi sampai memecahkan pernikahan orang lain, Keihl tidak akan tinggal diam saja dan langsung bisa melaporkan hal ini kepada Tuan Hiro.
"Kamu di mana, Tan? Aku mau mentraktirmu makan. Ajak Reno juga ya?"
"Baiklah. Ada restoran yang lumayan hits sekarang, mau ke situ nggak?"
Amanda menurut, dia hanya ingin merayakan kepuasannya karena membuat Kavya naik pitam. Ini baru permulaan, lihat saja nanti pasti wanita itu akan nangis darah setelah suaminya direbut dengan mudah.
Sedangkan Kavya sejak tadi sangat kesal. Baru kali ini Naina melihat Kavya yang minum cepat, meneguk air sampai tandas. Dia juga sama kesalnya dengan Kavya melihat sikap Amanda tadi. Dasar wanita ular, hanya modal kecantikan saja mendekati pria yang sudah menikah.
"Kalau aku jadi kamu aku pasti sudah lama menyiramkan air di gelas itu tepat di muka wanita yang selama ini sok berwajah baik di depan kamu, Kavya."
"Ah, aku tidak kepikiran tadi karena yang aku inginkan adalah dia cepat-cepat pergi dari sini."
"Kamu akan menceritakan sama Fengying tentang kejadian tadi? Kurasa jangan, karena Amanda pasti akan merasa kalau dia bisa menekanmu. Dia tahu kelemahanmu, jangan sampai kamu mengalah sama dia. Aku akan sebisa mungkin membantu kamu agar Amanda tidak lagi bertingkah semaunya."
Rasanya telinga Naina geli mendengar mulutnya menyebut nama wanita itu. Meskipun dia tidak terlihat sama sekali dengan Amanda, tapi sebagai seorang wanita tetap dia tahu keresahan apa yang dirasakan oleh Kavya.
"Aku hanya akan berusaha sebaik mungkin agar suami tidak tergoda dengan wanita lain. Baiklah, aku sedang malas ngapa-ngapain kita pesan makanan yang super pedas aja."
Naina setuju, saat emosi naik hanya makanan pedas saja yang bisa membuat moodnya baikan. Melalui aplikasi pesan antar, Naina memesan aneka olahan daging wagyu. Apalagi mereka memang punya peralatan panggang di sini.
Sebentar lagi kebetulan Radit akan datang, sekalian mengunjungi dan tahu kabar terkini tentang adiknya juga ingin lebih dekat dengan Naina.
"Apakah kalian sudah jadian? Kenapa sih main rahasia-rahasiaan? Padahal pada akhirnya juga bakalan cerita kan?"
"Hehehe. Aku sangat tahu kalau kakakmu itu pasti banyak mikirnya, aku juga. Dan karena sama-sama mikir ke jenjang yang serius aku sama Radit Ingin lebih dekat secara pribadi. Jadi, apa pun nanti yang terjadi aku harap kamu mendoakan yang terbaik, Kavya."
Sedangkan Kavya hanya mengangguk saja, kemarahannya sudah sedikit mereda.