berjalan lancar

2058 Kata
Mengenai wanita yang bernama Amanda, jujur, Fengying merasa was-was. Siapa tahu wanita itu bersikeras mendekati suaminya. Bukankah dia tahu kalau suaminya pasti bisa saja tergoda dengan wanita yang sangat cantik dan juga berkelas seperti Amanda. Melihat kerisauan pada diri Fengying, Naina berusaha menenangkan dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dia sangat mengenal Fengying dan bisa dipastikan pria itu tidak akan mengkhianati sahabatnya. "Percaya sama aku kalau suami kamu itu setia. Fengying, sejak kapan kamu jadi ragu seperti ini?" Fengying menunduk, dia tidak tahu kenapa punya pikiran kotor tentang suaminya dan Amanda. Baginya wanita itu terlalu pintar cari muka sejak pertama bertemu. Bahkan, Baru kali ini Fengying tidak semangat bekerja. Tidak ingin melihat sahabatnya terus-terusan bersedih, akhirnya Naina pergi sebentar untuk membelikan makanan yang manis ataupun coklat. "Nih, konon katanya kalau kita lagi nggak baik-baik aja makanan manis ataupun minuman dingin bisa melegakan perasaan. Makan gih, udah capek-capek juga kan aku keluar tadi." "Makasih. Kamu memang sahabat yang paling mengerti aku." Kepalanya mendadak pusing. Dia meresahkan kerjasama antara suaminya dan juga Amanda yang terbilang sukses, siapa tahu nanti wanita itu akan meminta berkolaborasi lagi dengan perusahaan suaminya. Tentu saja, meskipun cantik tetapi kalau suka mengganggu kehidupan seseorang Bukankah mereka bisa disebut pelakor? Fengying sampai kapanpun tidak akan pernah mengikhlaskan suaminya menikah lagi kecuali memang itu keinginan Fengying. Baru saja menghabiskan ice cream pemberian Naina, Fengying kaget karena mengenali suara yang menyapanya. Ya, Leon, pria itu mampir ke sini dengan dalih membeli bunga untuk pasien. Karena katanya, bunga akan membuat pasien baikan. "Leon, aku sangat menghargai usaha mau pergi untuk bertemu sama aku meskipun kamu punya alasan membeli bunga. Tapi.." Ragu-ragu Fengying mengatakannya karena takut melukai perasaan Leon. Mereka sahabat baik sejak dulu, bahkan Seandainya bisa memilih Naina pasti akan memilih Leon sebagai suami Fengying karena lebih pengertian dan tidak suka cemburuan. Tapi namanya cinta pasti tidak akan bisa dipaksakan kan dengan siapa memilihnya? "Aku tahu. Aku sangat tahu kalau suami kamu melarang untuk bertemu denganku. Padahal Aku sama sekali tidak punya niat buruk, hanya menyapa teman lama yang dulu selalu ada, Fengying. Status kamu membuat pertemanan kita menjadi berantakan dan kamu melupakan semuanya. Tidakkah kamu tahu kalau aku sangat merasa kesepian?" Ada rasa penyesalan yang menyelinap masuk ke dalam hati Fengying. Ya, tentu saja karena setiap ada kesulitan Leon selalu ada untuknya. Tapi sekarang, setelah menikah dia harus melupakan untuk sekedar makan atau pun mengobrol dengan Leon karena takut suaminya akan tunggu di belakang bahkan mengancam yang tidak tidak seperti sebelumnya. "Baiklah. Kalau dirasa aku menganggumu. Ini, aku ada sesuatu yang belum sempat aku berikan. Terserah mau kamu apakan. Mungkin setelah ini kita akan sangat jarang bertemu, Fengying. Terima kasih ya?" Hampir pamit dan melangkah keluar dari florist, Fengying mendadak menghalangi jalan dan bertanya akan ke manakah Leon? Apakah akan pergi jauh lagi? "Aku ada jadwal di kota Bali. Dan mungkin akan tinggal di sana selama beberapa tahun, jadi aku mungkin akan jarang menemuimu. Salam untuk Fengying dan juga Radit." "Maaf, Leon." "Kamu gak salah apa-apa, Fengying. Aku sangat tahu posisi kamu saat ini." Akhirnya pria itu benar-benar pergi dari hadapan Fengying. Naina memberi elusan ringan pada bahu sahabatnya. Karena sangat tahu bagaimana kehidupan Fengying setelah menikah, jadi lebih kesepian dan kekurangan teman. Dari jarak jauh, seorang wanita Yang sepertinya akan memanfaatkan situasi ini untuk melapor kepada Fengying sangat senang melihat Fengying didekati pria lain. Alis Helsi terangkat, jalan menuju kehancuran kehidupan rumah tangga Fengying dan Fengying semakin dekat. Meskipun nama Mereka adalah pasangan abadi tetapi Helsi tidak akan tinggal diam saja. Pasti berusaha untuk membuat anaknya bercerai. Begitu pulang, Helsi merasa puas dengan foto yang dia ambil beberapa kali. Foto di mana Fengying menghalangi Leon dengan memegang tangannya. Timing yang pas sekali bukan? Lihat saja, setelah ini pasti akan ada pertengkaran hebat di antara mereka berdua. "Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu bahagia, Ma." ulas Chandra. "Tentu saja. Mama sangat-sangat bahagia. Papa sudah makan?" "Sudah. Mbak Kinar masak lebih awal tadi, mama dicariin ke mana aja?" "Urusan sebentar, Pa. Ya udah, mama mau ke meja makan dulu. Mumpung selera makanku sedang bagus-bagusnya bukan?" Chandra sama sekali tidak curiga, hanya berusaha menebak apa yang sedang terjadi. Biasanya, istrinya bahagia saat mendengar kabar arisannya menang ataupun banyak diskon belanja bulanan. *** Baru saja menggerakkan punggung ke kanan dan kiri, Fengying memijat leher. Dia capek sekali karena harus ke kantor cabang yang ada di luar kota. Bahkan kerja sama dengan Amanda akan berakhir kontrak minggu ini, dia baru pulang dari pertemuan dengan wanita itu. Ponselnya berkedip, Fengying dengan malas membuka ponsel. Matanya membulat sempurna karena melihat foto dari nomer yang tidak dikenal. Apakah wanita itu benar-benar istrinya? Ya Tuhan! Kenapa Fengying begitu tega saat Fengying capek-capek bekerja istrinya malah berduaan dengan pria lain. Marah? Tentu saja. Dia langsung mengirimkan foto itu kepada Fengying dan meminta penjelasan. Begitu mengirimkan dan terbaca, Fengying langsung menelepon. "Mas, itu nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Leon gak resmi bertemu, dia yang tiba-tiba ke sini katanya mau membeli bunga untuk pasiennya. Aku.." "Kamu percaya begitu saja? Hah?" "Aku berusaha sebaik mungkin tidak banyak bicara dengannya. Dia hanya pamit akan pergi, kupastikan setelah ini kami enggak akan bertemu lagi, Mas. Aku bahkan nggak pernah punya komunikasi sama dia, percaya sama aku, Mas." "Sudahlah. Toh semuanya udah terjadi, minta maaf enggak akan mengembalikan semuanya, Fengying. Nanti lagi, aku ada rapat." Telepon langsung terputus dan Fengying hampir saja membanting ponselnya karena saking marahnya melihat foto di mana Istrinya memegang tangan pria lain dengan wajah kFengyingtir. Kenapa dari dulu Leon selalu menjadi duri dalam rumah tangganya? Kesal lantaran sikap Fengying yang merasa tidak bersalah sama sekali, Fengying males pulang dan mungkin akan mengatakan kalau dia bekerja lembur untuk malam ini. Kebetulan memang Amanda mengajak makan malam sebagai perayaan suksesnya kolaborasi mereka. "Aku akan ke sana nanti setelah jam 8 malam." Fengying tidak pernah menyangka dia lebih memilih makan bersama wanita lain daripada mendengarkan penjelasan istrinya sendiri saat nanti pulang ke rumah. Tidak ada lagi yang bisa dia pikirkan aku sekarang karena untuk saat ini ada benar-benar sangat cemburu. Karena tahu akan bertemu Fengying malam ini, Amanda langsung mengkonfirmasi pihak butik dan memilih pakaian yang menunjukkan aura cantiknya. Dia tahu, pria yang akan dia temui nanti adalah pria yang sudah menikah. Tapi Amanda sama sekali tidak peduli, karena ketika anda menginginkan sesuatu di harus mendapatkannya. Sambil menyiapkan beberapa set make up, Amanda melihat wajahnya yang sangat cantik. Dia memanggil Keihl untuk menyiapkan mobil. "Mau ke mana, kamu?" "Bertemu Fengying." "Pak Fengying? Lagi?" Amanda mengangguk. "Tapi kali ini, bukan soal pekerjaan tetapi ajakan makan malam. Anggap saja dia adalah teman kencanku, Keihl. Nanti antarkan aku ke butik Aurora, oke?" Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekarang dia sudah tahu kenapa Amanda ingin bekerja sama dengan Fengying. Pasti ada maksud lain di belakang proyek yang sedang mereka kerjakan. Begitu jam yang sudah ditentukan ada di hadapannya, Amanda bersiap-siap untuk masuk ke bathup dan berendam. Dia harus berani karena bertemu dengan pria yang sangat di idam-idamkan selama beberapa bulan ini. Karena bagi Amanda, wangi adalah wajah seorang wanita. Bagi Keihl, ini sama sekali tidak benar. Dia tahu kalau Fengying yang sudah menikah dan wanita yang menjadi istri Fengying bukanlah wanita jahat. *** Restoran Maudee menjadi incaran banyak orang, beruntung Amanda punya nama besar di sini. Dia sama sekali tidak harus bersusah payah untuk reservasi tempat. Penampilannya luar biasa dengan dress warna merah maroon tanpa lengan, tambahan liontin kecil berbentuk bulan sabit. Sangat cantik. Ada ide licik yang dia tanamkan dalam otaknya. Tentu saja Friska adalah dalang dari ide yang dia punya sekarang. Dari jauh, Amanda melihat pria yang sangat dinantikannya. Fengying. Pria itu sudah berganti setelan pula, berwarna sedikit jingga dengan penampilan yang lebih segar. Ya, Fengying sangat tampan. Tapi aneh, biasanya sebelum jam 7 , Fengying selalu sudah pulang. Apakah terjadi sesuatu antara Fengying dan Fengying? Kalau iya, kebetulan sekali. Ini adalah momen yang tepat bukan? "Kamu sudah lama menunggu, Manda?" "Tidak, Fengying. Duduklah, Tentu saja aku menunggumu untuk memesan makanan. Bagaimana kalau kita pesan pasta mawar? Nanti akan ada menu spesial juga, aku bahkan penasaran dengan menu terbaru mereka." Fengying mengangguk. Dia tidak paham menu-menu terkenal di restoran karena jujur, Fengying lebih suka diajak ke tempat yang sederhana dan ada di pinggiran-pinggiran, tidak mewah seperti ini. Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Amanda mengulas senyum dan menampilkan auranya. Jujur, sejak tadi Fengying tidak kuasa melihat ke arahnya, apakah penampilannya aneh malam ini? "Kenapa Kamu lihatin aku sejak tadi? Penampilanku aneh ya? Atau kamu merasa risih karena aku sangat berbeda dengan istri kamu yang sangat tertutup dan sopan?" Fengying adalah wanita yang selalu menutup bagian tubuhnya. Hanya dengan Fengying dia memperlihatkan apa yang seharusnya dia perlihatkan. "Jujur, Kamu sangat cantik sekali Amanda. Aku sampai tidak berkedip sama sekali karena terpukau dengan kecantikanmu." Ini adalah pertama kalinya dia mendengar dari mulut Fengying soal penampilannya, karena sebenarnya itu lah yang Amanda tunggu-tunggu sejak tadi yaitu pujian tentang dirinya yang sangat cantik. Makanan yang mereka pesan sudah datang, Amanda tidak akan menganggu Fengying lagi, hanya sesekali melirik pria yang sangat menarik baginya. Pria sopan dan perhatian. Saling pandang satu sama lain, Fengying hanya sedikit tersenyum. Ini adalah hal baru baginya, tentu saja dari dulu Fengying tidak pernah sekalipun oleng terhadap wanita lain. "Kenapa kamu bisa mencintai Fengying, Fengying?" "Mungkin dulu tidak. Ada cerita tersendiri sampai dia harus menikah denganku. Tapi lama kelamaan, aku mulai mencintai dia dan kesederhanaannya. Kalau kamu, kenapa tidak segera menikah? Kamu sangat disukai banyak pria, Manda. Kamu tahu itu bukan?" Amanda sudah menghabiskan makanannya. Dia memanggil pramuniaga untuk memesan hidangan penutup. Bagi Fengying, Amanda sangat punya pengalaman dan modern. Begitu modis dan banyak pengetahuannya, baik secara pekerjaan ataupun kehidupan orang-orang terkenal. "Aku sering kenal dengan banyak pria, tapi rata-rata dari mereka terlalu mengecewakan. Aku sangat tinggi kepada Fengying karena bisa mendapatkan tubuh yang super baik sepertimu." "Aku tidak sebaik itu, Amanda. Aku banyak kurangnya." Lagi-lagi obrolan mereka terhenti karena hidangan penutup sudah datang. Amanda memang menambahkan sedikit minuman dengan campuran sesuatu agar dia bisa bermalam dengan Fengying. Meskipun nekat, tapi Amanda harus menempuh jalur ini demi bisa mendapatkan pria itu seutuhnya. "Minumlah, Fengying. Kita harus berkembang atas keberhasilan kerjasama Kita, banyak rating tinggi dari komentar para pengguna alat peralatan rumah tangga yang kita ciptakan beberapa bulan terakhir ini." "Baiklah. Cheers, Manda. Senang bekerja sama denganmu." Tatapan Amanda begitu puas, setelah ini tentu saja semua kerja kerasnya akan terbayarkan. Lihat saja, siapa yang akan mendapatkan Fengying setelah ini. Fengying atau Amanda? *** Ini sudah jam 12 malam, tapi Fengying belum pulang saja. Biasanya lembur paling mentok jam 10 malam. Sebenarnya apa yang dikerjakan oleh pria itu sampai - sampai ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Dan Fengying tidak mau berhenti keluar jam seperti ini karena sangat tahu kalau nanti mertuanya akan semakin julid. Pintu kamarnya terketuk, Fengying senang karena mengira itu adalah Fengying, tapi ternyata Helsi. Pasti akan ngomel-ngomel lagi. "Bukankah ini sudah terlalu malam? Mana anakku? Kenapa dia belum pulang-pulang? Kamu berantem kan dengannya makanya dia malas pulang? Jujur saja, Fengying." Fengying tidak mungkin mengaku karena setelah ini dia pasti akan semakin dibenci oleh mertuanya sendiri. "Fengying dan mas Fengying baik-baik saja, Ma. Kami nggak bertengkar kok, katanya mas Fengying lagi lembur tapi biasanya gak pernah selarut ini. Ma, boleh gak aku pinjem motor mama dan ke sana?" Helsi langsung melototi wanita yang semakin ngelunjak. Padahal kan niat Fengying baik, siapa tahu terjadinya hal-hal buruk pada suaminya di kantor dan tidak ada seorangpun di sana yang membantu Fengying keluar dari kesusahan. "Kamu itu harus sadar diri, Fengying. Fengying kerja keras dan kamu malah memikirkan yang enggak-enggak. Kalau suami kamu bilang lembur ya udah lembur aja. Kenapa malah mau ke sana dan nyusul? Udah, mendingan kamu tidur aja jangan cari gara-gara sama mama." Hanya bisa berdiam diri sambil menunggu kabar terkini dari suaminya. Dia tentu saja tidak bisa tidur kalau belum tahu kabar apa-apa dari Fengying. Seandainya Fengying tahu apa yang terjadi dengan pria yang sangat mencintainya, dia pasti akan patah hati yang hebat. Sedangkan di kamar hotel, pesanan Amanda, wanita itu mulai melakukan aksinya dan membuat dunia seolah-olah terjadi dengan tidak sengaja. Ya, Amanda akan membuat siapa pun mengira mereka sudah melakukan hubungan seperti suami istri. Hanya ada rencana licik di pikirannya, tentu saja semua mimpi dan keinginannya harus berhasil agar ia dapat mencapai tujuannya tanpa hambatan lagi. Akan ada badai besar setelah ini, Amanda yakin Fengying pasti akan marah dan menceraikan Fengying tanpa kata lagi. Sungguh, Amanda ingin semuanya berjalan lancar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN